Substansi

Ingin jadi wartawan, nyasar jadi guru


Leave a comment

Kebab di Belanda

Kapsalon & Durum

Durum dan kapsalon

Tulisan ini sudah direncanakan lama sekali. Gambar-gambarnya saja diambil mungkin sudah lebih dari empat tahun yang lalu. Apa daya, rasa malas dan ketertarikan untuk menulis yang lain mengalahkan motivasi untuk menulis kuliner ini.

Aneh juga kalau dipikir. Padahal, selama tinggal di Belanda, kebab adalah salah satu makanan favorit. Kepopuleran kebab sepertinya berlaku universal di kalangan pelajar dari Indonesia. Selain rasanya yang nikmat, kegemaran teman-teman bersumber dari kehalalannya. Walaupun sebetulnya, hal ini tidak pernah terbukti dengan pasti. Saya tidak ingat ada label halal di warung-warung kebab. Di beberapa gerai makanan cepat saji seperti wok (identik dengan makanan Cina), justru malah ada label halalnya. Continue reading


Leave a comment

Buku Bacaan SD Jaman Orde Baru

Anak-anak KarimataAkhir bulan April 2019 saya pulang ke rumah orangtua di Jember. Saat bongkar-bongkar lemari buku, menemukan beberapa bacaan saat SD. Oke, saya harus akui bahwa ini bukanlah sebuah hal yang baik. Buku-buku itu dari perpustakaan SD dan tidak saya kembalikan. Nanti kalau pulang lagi, insya Allah akan saya laporkan ke guru SD saya dulu. Mau dikembalikan ke sekolah, SD saya sudah ambruk (literally).

Petualangan, kemandirian, moralitas

Saya paling terkesan dengan buku yang berjudul ‘Anak-anak Karimata’, karangan Bagin. Pengarang berkisah tentang kehidupan sehari-hari anak-anak di Kepulauan Karimata, Kalimantan Barat. Continue reading


Leave a comment

Sepuluh Buku Fiksi Terfavorit

Photo 03-06-2018, 7 49 04 amGenre buku yang paling saya suka adalah fiksi. Saya mulai membaca novel sejak SD. Setelah dua dekade menyaring puluhan novel dan buku cerpen, inilah karya-karya fiksi berbahasa Indonesia (bukan terjemahan) yang paling saya suka. Saya tuliskan ringkasannya berdasarkan kesan dan ingatan yang sudah mulai berkarat.

10. Kasih Tak Sampai – Sitti Nurbaya (Marah Roesli)

Tidak ada yang benar-benar istimewa dari penokohan dan pengembangan karakter. Alur ceritanya pun mudah ditebak. Kisah cinta muda dan mudi yang dihalangi oleh saudagar kaya. Hal yang luar biasa adalah kritik si pengarah terhadap budayanya sendiri di Sumatera Barat pada awal abad ke-20. Roesli mengkritik habis bangsawan-bangsawan Muslim Minang di masa itu yang bergonta-ganti isteri. Membelanjai isteri dan anak-anaknya pun tak jadi soal, karena mamak (paman) yang bertanggung jawab terhadap kemenakan. Sama seperti Samsul Bahri, sang protagonis, Roesli pun berpendidikan dan berpandangan Eropa, sesuatu yang mendapat tentangan kuat di masa itu yang konservatif. Saya membaca karya klasik jaman Balai Pustaka ini di perpustakaan SMA saat bosan dengan pengajaran di kelas yang monoton. Continue reading


Leave a comment

Mengajarkan kepunahan binatang ke balita

Photo 11-05-2019, 10 44 36 amKinan (4 tahun 3 bulan) sudah lama tertarik dengan binatang dan keanekaragaman hayati. Tempo hari dia bertanya,
K: Ayah, punah itu apa?
 
R: Punah itu berarti sudah tidak ada binatangnya di dunia ini. Misalnya badak mungkin sudah hampir punah, karena tinggal sedikit.
 
K: Ooo, badak sudah hampir punah. Kalau kucing belum punah?
 
R: Kucing masih banyak.
 
K: Kenapa kalau badak hampir punah, tapi kucing masih banyak?
 
R: Ada yang bilang karena badak diburu. Itu betul, tetapi sebetulnya, ada alasan yang lain. Badak hamilnya lama, 17 bulan baru keluar bayi badak. Itu pun biasanya cuma satu, lahir kembar jarang-jarang. Coba kalau kucing, tiga bulan sudah lahir bayi-bayi kucing. Sekali lahir bisa tiga, atau bahkan lima ekor bayi.
 
Setelah saya jelaskan begitu ternyata dia belum terlalu mengerti. Wajar, apa yang saya terangkan adalah logika matematika sederhana. Di umur empat tahun, anak-anak sudah banyak yang bisa mengerti angka dan menghitung sedikit-sedikit. Tetapi untuk soal abstraksi, belum semua mengerti.

Continue reading


Leave a comment

Studi banding

Beberapa hari ini saya dan isteri sering membicarakan hal ini:

Bakal sulit mengetahui pengelolaan kesehatan di negara maju, kalau tidak pernah mengalaminya secara langsung. Kalau tidak pernah tinggal Belanda, rasanya kami akan sulit membayangkan, bahwa setelah bayi lahir, posyandu yang akan datang ke rumah untuk melakukan pengecekan, dan setelahnya ada perawat yang membantu di rumah selama seminggu. Hal-hal lain seperti orangtua yang diberikan hotel (gratis) kalau anaknya dirawat di NICU, surat dari posyandu setiap kali menjelang jadwal imunisasi, dan kontrol dokter yang dijadwalkan dua bulan sebelum, bakal terdengar seperti hal yang tidak lazim. Apalagi perintah posyandu untuk “membiarkan” anak menangis, guna melatihnya tidur sendiri dan duduk di car seat, akan terdengar aneh, karena tidak sesuai dengan kebiasaan orang-orang tua. Padahal di negara maju, hal seperti itu justru menjadi standar pelayanan yang seragam di seluruh negeri. Continue reading


1 Comment

Kabar dari dokter genetika

Saya masih dan selalu kagum dengan pelayanan kesehatan di negeri Belanda. Rigid, prosedural, dan tidak memfasilitasi pasien manja. Namun tulus dan sungguh-sungguh dalam melayani.

Seperti diketahui, anak kami, Kinan lahir di Groningen, Belanda, dengan penyakit yang bernama ichthyosis. Ini merupakan penyakit genetik bawaan dengan peluang hanya 1 per 600.000 kelahiran yang sampai saat ini seluruh dokter dan para ahli di dunia belum menemukan obatnya. Penyakit ini membuat kulit Kinan mengelupas lebih cepat dari orang normal, dan selalu kering. Seperti banyak congenital disease, ichthyosis bakal berlangsung seumur hidup. Kinan bisa terkena penyakit ini karena saya dan Intan sama-sama membawa gen resesif. Jadi memang sudah takdir. Karena probabilitas terbawanya gen itu independen (boleh ikut kelas saya, Teori Probabilitas, kalau mau penjelasan lebih lanjut soal ini 😄), maka di setiap kelahiran yang akan datang, peluang anak-anak kami terkena ichthyosis selalu sama, sebesar 25%. Continue reading


Leave a comment

Kuliner Jawa di Lampung

Mas Yanto. 1

Burung dara goreng

Sejak semester lalu saya ditugaskan mengajar di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), di Bandar Lampung. ITERA bersama dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITEKA) adalah proyek pemerintah untuk memperbanyak perguruan tinggi teknik di luar Jawa. ITERA di bawah binaan ITB, dan ITEKA diasuh oleh ITS. Sebelum kampusnya jadi, mahasiswa ITERA sempat kuliah tahun pertama (TPB) di kampus ITB Jatinangor.

Saya rasa ini adalah program yang bagus dari pemerintah. Majunya industri sebuah negara tergantung dari ketersediaan dan kualitas SDM di bidang teknik dan sains. Siapa yang membangun pabrik dan jembatan kalau bukan orang teknik. Begitu juga, kita selalu ketinggalan berinovasi karena kekurangan peneliti bermutu di bidang sains. Continue reading