Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Belajar dari “Negara” TI ITB

1 Comment

Kalau Program Studi Teknik Industri (Prodi TI) ITB dianggap sebagai sebuah negara, maka negara mini tersebut dapat dibilang sukses dalam mengelola sistem manajemen informasinya. Bagaimana tidak? Dengan peralatan dan fasilitas informasi yang serba terbatas, penduduk (baca: mahasiswa) “negara” TI ITB hampir selalu mendapatkan dan mencerna informasi dari pemerintah (baca: petinggi Prodi) dengan baik. Misal, ada informasi mendadak mengenai perubahan jam kuliah, hampir tidak ada yang tidak tahu info tersebut, walau waktu diberikannya info hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan.

Kunci keberhasilan dari manajemen informasi di “negara” TI ITB adalah “kreatif” dan “saling percaya”. Kreatif karena di masing-masing propinsi (baca: angkatan) memiliki caranya masing-masing dalam mendistribusikan informasi, misal via jarkom, milis, dsb. Saling percaya karena sudah bersama-sama selama bertahun-tahun, jadi informasi yang disampaikan dengan cara dan dalam waktu yang semepet apa pun tetap dapat diserap dan dilaksanakan dengan baik, dan disampaikan ke temannya yang lain.

Cerita dari “negara” TI ITB ini bertolak belakang dengan cerita dari negara yang benar-benar ada yaitu Republik Indonesia. Sistem manajemen informasi kita untuk Pemilu sekarang karut-marut. Komisi Pemilihan Umum (KPU), baik di pusat maupun daerah mengeluhkan minimnya biaya sebagai alasan sosialisasi yang tidak berjalan dengan mulus. Hasilnya, masih banyak warga yang tidak tahu bahwa pemilu sekarang tidak mencoblos lagi. Gawatnya, ternyata yang tidak tahu kapan pemilu dilaksanakan juga masih banyak.

Kalau “negara” TI ITB berhasil mengelola manajemen informasinya dengan pendekatan “kreatif” dan “saling percaya”, kenapa itu tidak dicoba diterapkan untuk manajemen informasi pemilu sekarang? Nyatanya, “kreatif” dan “saling percaya” tersebut tidak makan banyak biaya. Kalau soal “kreatif”, bangsa ini kan tidak pernah kehabisan akal. Masalah “saling percaya”, bukankan kita selalu menggembor-gemborkan kalau Indonesia adalah bangsa yang penuh tenggang rasa, solider, dll.

Katanya Indonesia punya struktur kemasyarakatan dengan sistem kekeluargaaan yang baik. Kekeluargaaan kan pasti dilandasi rasa saling percaya, kenapa distribusi informasi pemilu tidak dimulai dari sini? Sejak masa orde baru banyak dibentuk organisasi kemasyarakatan; misal karang taruna, posyandu, PKK, dan itu masih aktif sampai sekarang. Kalau KPU bisa melakukan pendekatan kepada mereka, informasi pemilu rasanya bakal lebih cepat menyebar dibandingkan dengan memasang baliho di jalan yang belum tentu dilihat orang.

Hasil yang bagus belum tentu didapatkan dari harga yang mahal. Salah satu amtenar (baca: dosen) di “negara” TI ITB pernah berujar: “segala sesuatu yang baik itu dimulai dari yang sederhana, jangan mikir yang complicated”. Tidak perlu kita ributkan kurang biaya, kurang tenaga, dsb. Masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan selama “kreatif” dan “saling percaya”.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Belajar dari “Negara” TI ITB

  1. okey, ikut ngomen…getek, hahaha

    masalahnya manusia itu beragam,
    untuk mengondisikan rasa “saling percaya”////
    itu butuh leader yang dasyat!

    kakak bersedia jadi the next leader di sub2 pemerintahan negara kita?

    tetap optimis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s