Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Arisan Berantai

Leave a comment

Kira-kira sebulan yang lalu saya beruntung memenangkan TTS di Harian Kompas. Seminggu sesudah nama dan alamat rumah saya muncul di Kompas Minggu, saya mendapat sepucuk surat dari nama yang tidak dikenal. Isi surat itu mengajak saya untuk mengikuti arisan berantai. Dengan iming-iming yang cukup menggiurkan semisal: “Dapatkan Milyaran Rupiah Hanya Bermodalkan 50 ribu” atau “Ingin Hidup Sukses Menjadi Milyarder Serta Mewujudkan Impian Anda?”

 

Sampai sekarang saya sudah mendapatkan sekitar 7 surat yang sejenis. Tentu semuanya tidak ada yang saya acuhkan, alias langsung masuk ke tempat sampah. Tetapi, saya jadi teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih SD dan menang lomba menulis cerpen di Majalah Bobo. Waktu itu pun kejadiannya mirip seperti sekarang, ketika nama dan alamat rumah saya muncul di Bobo, belasan pucuk surat mampir ke rumah. Isinya pun sama, mengajak untuk ikut arisan berantai.

 

Karena waktu itu saya masih SD, tentu belum sepintar sekarang. Jadi saya bertanya ke Ibu: “Ini apa sih? Boleh ikutan ga? Sepertinya asyik bisa dapat uang banyak dengan modal sedikit”. Ibu saya cuma tersenyum dan menjawab: “Tidak perlu ikutan, nanti kalau ingin dapat uang banyak, sekolah yang pintar, kerja keras dan berdoa sama Tuhan”. Karena saya anak yang penurut maka saya cuma mengangguk-angguk, dan surat-surat itu semua masuk ke tempat sampah.

 

Pembaca yang budiman, saya menulis artikel ini bukan untuk membahas baik-buruknya, halal-haramnya, atau penting-tidaknya si arisan berantai ini. Tetapi, fakta bahwa pada tahun 2009 ini saya mendapatkan lagi surat-surat sejenis yang saya dapatkan waktu kelas 4 SD –tahun 1996– sungguh menggelitik pikiran saya. Sudah 13 tahun, dan surat-surat arisan berantai tersebut masih tetap beredar sampai sekarang. Itu kan berarti arisan berantai tersebut memang berjalan dan ada yang mengikutinya. Kalau tidak, rasanya mustahil ada orang-orang iseng mengirim surat arisan berantai itu hanya untuk iseng.

 

Saya malas menghitung berapa potensi uang yang berputar di arisan berantai ini setiap bulannya. Tetapi saya sedih juga karena dengan masih berjalannya arisan berantai ini, menunjukkan bangsa kita yang mudah sekali dibujuk oleh mimpi-mimpi indah. Apakah tidak lebih menyenangkan dapat uang dari hasil kerja keras dibanding menanti hal-hal ajaib yang belum tentu juga akan datang?

 

Yah, saya sih tidak melarang atau menyalahkan orang yang membuat dan mengikuti arisan berantai ini. Silakan saja kalau mau ikut. Cuma menurut saya, daripada mengirim uang 50 ribu untuk arisan yang tidak jelas ini, apa tidak lebih baik kalau disumbangkan ke tetangga yang tidak mampu? Daripada bermimpi dapat uang milyaran apa tidak lebih baik untuk memulai bekerja keras? Ingat, kebanyakan bermimpi itu tidak bagus. Mimpi itu cepat melambungnya, tetapi cepat juga jatuhnya.

 

Terakhir di tulisan ini, ada bagian di surat arisan berantai itu yang bikin saya tertawa. Begini tulisannya: “Berlakulah jujur, sebab kejujuran diatas segala-galanya, agar uang yang kita peroleh benar-benar halal dan diridhoi Tuhan Yang Maha Esa.” Hahaha, bisa aja kamu pengelola arisan berantai bikin kalimat seperti itu. Selamat tinggal surat arisan berantai. Selamat masuk tempat sampah, seperti puluhan teman-temanmu yang lain.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s