Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Masyarakat yang (Belum) Mati

Leave a comment

Akhir-akhir ini saya makin apatis saja terhadap Indonesia, terutama terhadap masyarakatnya. Perilaku masyarakat sudah jauh dari apa yang pernah kita pelajari di PPKn dahulu. Gotong-royong, tenggang rasa, tolong-menolong; ah, itu semua cuma omong kosong. Tidak mungkin muncul kepedulian kepada yang lain jika setiap orang ingin bertindak semaunya; buang sampah di jalanan, menerobos lampu merah, menyerobot antrian, dan masih banyak lagi perilaku yang membuat jengkel kalau melihatnya.

 

Saya hampir yakin bahwa masyarakat kita sudah mati. Mati hatinya, mati perasaannya, mati kepekaannya; sampai saya mengalami sesuatu hal beberapa waktu yang lalu. Kejadian yang sangat sederhana, tapi cukup untuk menimbulkan secercah asa bahwa masih ada yang bisa diharapkan dari bangsa ini.

 

Kejadiannya terjadi di jalanan, saat motor yang saya kendarai tiba-tiba mati. Setelah di cek, ternyata bensinnya habis (saya tidak tahu perkiraan jumlah bensin yang tersisa karena jarum penunjuknya mati). Walhasil, saya pun harus mendorong motor untuk mencari SPBU terdekat.

 

Di tengah-tengah rasa mendongkol karena harus berpanas-panas mendorong di jalan yang menanjak, tiba-tiba ada suara dari belakang: “Mas, motornya mogok ya? mau dibantuin dorong?”. Saya pun langsung menerima tawaran dari sang penolong tersebut. Saya dan sang penolong naik motor masing-masing, dan dia mendorong motor saya dari belakang.

 

Sepanjang perjalanan “mendorong” menuju SPBU, rasa heran, kagum, dan syukur membuncah dalam perasaan saya. Heran karena memikirkan kira-kira apa motif dari orang tersebut untuk menolong saya. Padahal, waktu itu saya tidak sedang meminta pertolongan. Heran juga karena jika saya meminta pertolongan, belum tentu orang-orang akan memberikan bantuannya.

 

Kagum karena sang penolong tersebut begitu ikhlas dalam memberikan bantuannya. Disaat orang-orang yang lain cuek, dan disaat dia dapat dengan mudah untuk meneruskan perjalannnya, sang penolong memilih untuk membantu saya. Hanya menolong, tidak mengharapkan imbalan atas apa yang dikerjakannya. Rasanya sudah sangat jarang terdapat manusia-manusia seperti ini.

 

Yang paling utama, saya bersyukur karena di Indonesia masih ada orang hebat seperti sang penolong ini. Jika banyak orang Indonesia seperti dia, tidak akan ada kemiskinan, karena yang mampu akan ringan tangan untuk menolong yang miskin. Tidak akan ada penindasan karena setiap orang akan sadar akan fitrahnya untuk menolong saudaranya yang lain.

 

Saya berharap semoga sang penolong tersebut dan tulisan ini dapat menginspirasi pembaca (dan saya pribadi) untuk selalu berbuat yang lebih baik dan ikhlas, dan menularkan sikap tersebut ke keluarga, teman, dan siapapun. Jika itu terjadi, saya yakin di negara ini masih ada masyarakat yang (belum) mati.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s