Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Pendidikan yang Teraniaya

4 Comments

Pendidikan dibentuk dari kata mendidik, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “memelihara dan memberi pelatihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran”. Menilik pada definisi ini, dalam sebuah sistem pendidikan mestinya terdapat interaksi yang erat antara pendidik (guru) dengan yang dididik (murid), sehingga proses pelatihan akhlak dan pembentukan kecerdasan tersebut dapat berjalan dengan baik.

 

Apakah pendidikan di Indonesia sudah memenuhi definisi KBBI tersebut? Marilah kita ambil contoh pada pendidikan menengah di Republik ini. Sekarang ini hampir semua siswa SMA di seluruh Indonesia fokus pada dua hal; Ujian Nasional (UN) dan seleksi masuk perguruan tinggi.

 

UN yang menentukan “nasib” siswa SMA telah dirasakan sebagai beban, sehingga semua energi siswa terkuras untuk persiapan ujian yang satu ini. UN SMA yang akan dilaksanakan pada akhir April 2009 telah menjadi momok yang amat menakutkan, sehingga bukan hanya murid yang panik, tetapi guru dan sekolah juga ikut-ikutan panik, dengan berlomba-lomba untuk menjejalkan keterampilan pengerjaan soal UN dalam berbagai macam program pemantapan di sekolah (Kompas, 14 Februari 2009).

 

Beban dari UN ternyata masih belum cukup menghantam siswa. Badai yang kedua adalah kepanikan siswa untuk meraih impiannya masuk perguruan tinggi ternama. Seleksi masuk perguruan tinggi yang sudah banyak diadakan dari awal tahun ini membuat siswa merasa perlu untuk melakukan persiapan ekstra. Muncul paradigma yang mengkhawatirkan; karena sekolah sudah pusing dengan program pemantapan untuk UN, lembaga bimbingan belajar (LBB) adalah tempat yang sesuai untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi (Kompas, 18 Februari 2009). LBB pun tidak berbeda dengan sekolah, menjejalkan berbagai keterampilan pengerjaan soal ke anak didiknya.

 

Kemudian muncul pertanyaan, “apakah semua itu berguna?”. Jika tujuannya hanya untuk mengejar kelulusan -UN atau ujian masuk perguruan tinggi-, tentu berbagai program itu berguna. Tetapi kemudian, dimana pertanggungjawaban kita terhadap esensi dari pendidikan itu sendiri. Apakah dalam program-program latihan keterampilan pengerjaan soal itu, plafon dasar dari kegiatan pendidikan sudah terpenuhi? Dimana terdapat proses pembimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan terhadap murid, jika yang diajarkan hanya mengenai terampil mengerjakan soal semata.

 

Jika tujuannya hanya agar siswa terampil mengerjakan soal, sehingga siswa dapat lulus ujian dengan baik; tidak ada guru pun tidak masalah. Siswa dapat memperoleh kemampuan itu dari berbagai buku latihan soal, atau belajar mandiri dari internet, yang jauh lebih pintar dari guru mana pun di dunia.

 

Adanya pendidikan, sehingga ada guru yang mendidik murid, tentu memiliki maksud yang lebih jauh dibandingkan terampil mengerjakan soal semata. Guru ada untuk memenuhi hakikat dari tujuan pendidikan itu sendiri, membimbing murid untuk mencapai kemuliaan akhlak dibarengi dengan kecerdasan pikiran. Proses pendidikan tanpa “roh” dari pendidikan hanya akan menimbulkan kegersangan dalam hati murid dan guru, karena tidak ada ikatan batin untuk mencapai tujuan kemuliaan akhlak dan kecerdasan.

 

Kemuliaan akhlak dan kecerdasan pikiran itu didapatkan dari wejangan-wejangan guru yang memotivasi murid, beserta proses sintesis, analisis, dan pemikiran yang mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi. Bukan kejar tayang untuk mengerjakan ratusan soal ujian tahun-tahun yang lalu. Bukankah lebih “indah” dan “mengena” jika murid dikisahkan mengenai  bagaimana hebat dan tekunnya Sir Isaac Newton sehingga dapat dirumuskan dasar dan logika dari Hukum II Newton; dibandingkan sekedar menjelaskan kepada siswa bahwa untuk soal fisika tipe ini, maka rumus yang dipakai adalah F = m x a.

 

Pendidikan harus dikembalikan pada treknya. Jika tidak, kita patut khawatir, bahwa generasi siswa yang “terampil mengerjakan soal” ini akan membawa sikap ini sampai ke akhir hayatnya. Bagaimana nanti saat mereka kuliah juga hanya mengejar keterampilan mengerjakan soal ujian -untuk bisa mendapatkan nilai A- tanpa mengerti hakikat permasalahan yang sedang dikerjakan. Bagaimana nanti jika 20-30 tahun lagi saat mereka sudah menjadi bos di tempat kerja masing-masing, mereka hanya tahu yang penting proyek ini bisa jalan, tanpa tahu hakikat benar-salahnya Itu semua mungkin untuk terjadi, karena mereka tidak mendapatkan latihan kepekaan tersebut sejak semasa sekolah.

 

Semoga pendidikan kita dapat kembali pada kaidah yang benar. Guru membimbing murid untuk mencapai kemuliaan akhlak dan kecerdasan pikiran. Tidak seperti pendidikan sekarang. Teraniaya, karena tidak mampu menjalankan apa yang seharusnya dijalankan.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

4 thoughts on “Pendidikan yang Teraniaya

  1. btul pak. kasian sy sm generasi muda kita yg potensial dlm explorasi ilmu. entah siapa yg salah, apakah sistem pendidikan kita yg sudah terlanjur menggila, ataukah si anak sendiri yg kurang memperjuangkan haknya dlm mendapatkan esensi ‘pendidikan’ yg sesungguhnya(which is nt only bout ‘F=m.a’ or d other textbook equations)..??
    tapi percuma terlalu mikirin siapa yg salah, sm wasting timenya kyk mikirin ‘mana yg duluan-ayam atau telur-?’ kinda stuff.
    sy sedih, saat otak ini bukannya merasa puas menikmati jamuan ilmu yg disuguhkan pendidikan formal kita, tp malah jd kering kerontang dan terlanjur kekurangan gizi, sampai berfikir untuk mencari jamuan lain utk memenuhi kelaparan otak sy saja, rasanya sudah jadi begitu melelahkan.
    ya, otak ini kelaparan. lapar akan pendidikan yg sebenarnya.

    • waw, so deep comment of you
      betul nid, apa ya yang salah di pendidikan kita ini. hmm, mungkin yg bisa kita lakukan sekarang adalah terus mencari jawabanannya.
      sambil terus memperjuangkan apa yg kita bisa perjuangkan.
      mungkin klise, ya gimana lagi, to be honest gw jg blm tau langkah konkrit yg harus dijalankan utk perbaiki our education, hehe.

  2. rul, jadi dosen ya rul..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s