Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Nasi Goreng yang Lebih Mahal

2 Comments

Terakhir kali saya pulang ke kampung saya di Jember, saya sempat membeli nasi goreng (nasgor) dan saya mengeluarkan 4500 rupiah untuk satu piring nasgor tersebut. Sangat murah, karena di Bandung saya harus mengeluarkan minimal 6000 rupiah untuk nasgor yang sama. Fenomena perbedaan harga antara Jember-Bandung ini pun terjadi untuk beberapa jenis makanan yang lain. Bahkan, terjadi juga untuk berbagai jenis barang dan jasa selain makanan.

Saya masih kurang begitu mengerti kenapa bisa terjadi fenomena seperti ini. Saya tidak mendalami ilmu ekonomi, costing, dsb, tapi saya coba untuk memaparkan beberapa hal yang bisa menjelaskan pangkal dari fenomena tersebut. Karena sekali lagi saya tidak mendalami ilmu yang terkait dengan hal tersebut, penjelasan saya berikut lebih merupakan narasi dibandingkan dengan sebuah pemaparan dalam sebuah artikel ilmiah.

Jadi, sebenarnya bukankah harga pokok dari nasgor di Jember dan di Bandung itu sama saja? Bahan utama untuk membuat nasgor adalah beras dan telor. Baik di Jember maupun di Bandung harga beras adalah 6000 rupiah/kg dan harga telor adalah 12000 rupiah/kg, dimana 1 kg telor berisi kurang lebih 12 telor. Jika 1 piring nasgor butuh 0,25 kg beras, 1 butir telor dan tambahan biaya lain yang saya asumsikan sebesar 1500 rupiah, maka baik di Jember maupun di Bandung harga pokok sepiring nasgor adalah 3250 rupiah.

Jika di kedua kota tersebut harga pokok sepiring nasgor adalah sama-sama 3250 rupiah, kemudian mengapa harga jual di Bandung adalah 6000 rupiah, dan di Jember cuma 4500 rupiah? Apakah kemudian penjual nasgor di Bandung menjadi lebih untung dibandingkan penjual nasgor di Jember? Wajar kalo timbul logika seperti ini karena hitung-hitungannya, penjual nasgor di Bandung akan menikmati keuntungan sebesar 2750 rupiah/piring nasgor, sementara rekannya di Jember cuma mendapatkan untung 1250 rupiah.

Kalau menurut saya jawabannya adalah “tidak”. Keuntungan yang didapatkan penjual nasgor, baik di Bandung maupun di Jember akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Dan karena harga kebutuhan pokok di Bandung lebih mahal daripada di Jember, maka sisa uang yang diperoleh penjual nasgor di Bandung tidak akan terlalu berbeda jauh dibandingkan jika ia berjualan nasgor di Jember.

Saya masih tidak mengerti ujung dari fenomena ini. Tetapi, saya jadi teringat penuturan dari Prof. Agus Salim Ridwan waktu kuliah Pengantar Ekonomi dulu semasa masih semester 5. Beliau bilang kira-kira seperti ini “harga yang tinggi di suatu lokasi itu tidak selalu berarti buruk, karena harga yang tinggi dapat berasal dari berbagai kombinasi kenaikan harga barang/jasa yang lain dan ujungnya akan menaikkan daya beli masyarakat di lokasi tersebut”.

Meskipun sampai sekarang masih belum mengerti benar maksud dari tuturan itu, saya coba mengaitkannya dengan fenomena nasgor di atas. Jadi kesimpulannya, nasgor di Bandung lebih mahal dibandingkan di Jember bukan karena harga pokoknya yang lebih tinggi dan bukan pula karena penjual di Bandung ingin mendapatkan untung yang lebih tinggi dibandingkan penjual di Jember. Tetapi, karena struktur harga barang/jasa di Bandung lebih tinggi daripada di Jember, maka mau tidak mau penjual nasgor di Bandugn harus menaikkan harganya. Jika mereka bertahan dengan harga jual di Jember –walaupun secara matematis masih untung–, penjual di Bandung tidak akan dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, karena harga kebutuhan hidup di Bandung lebih tinggi daripada di Jember.

Kemudian kalau begitu, apakah berarti struktur harga yang tinggi tidak selalu lebih buruk dibandingkan dengan struktur harga yang murah? Kalau menurut saya jawabannya adalah “iya”. Struktur harga di Bandung lebih tinggi daripada di Jember karena berbagai multiplier factor, diantaranya kegiatan ekonomi yang lebih banyak dan ujung-ujungnya daya beli dan nilai keekonomian masyarakat Bandung akan lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jember. Kalau kita lihat di luar negeri fenomena ini juga nampak. Contohnya, harga satu porsi makanan di Amsterdam pasti lebih tinggi dari satu porsi makanan di Jakarta, dan terbukti daya beli masyarakat Amsterdam lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jakarta.

Tetapi bukan berarti pula saya mendukung kenaikan harga, nanti saya bisa disangka pendukung neo-liberalism, bisa panjang urusan. Tulisan ini cuma buah dari rasa penasaran saya, dan menjadi salah satu penarik saya untuk lebih mempelajari ilmu ekonomi. Akhirnya, karena sekali lagi saya tidak mendalami ekonomi dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ini, mohon maaf dan tolong dikoreksi jika terdapat pemaparan yang salah.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Nasi Goreng yang Lebih Mahal

  1. rul, harga beras dan telor di Jember dan di Bandung bukannya juga berbeda?

    • sama aja bat, kalopun berbeda paling cuma Rp. 500/kg. ga make sense kan sm perbedaan harga yg mencapai Rp. 1500/piring?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s