Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Dari Sepuluh Siswa SD Hanya Dua yang Bisa Kuliah

5 Comments

Dari sepuluh siswa SD di Indonesia, kelak hanya dua yang bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah SMA”. Itu adalah intisari berita yang saya baca tahun lalu. Meskipun belum dibuktikan dengan pengujian ilmiah, saya berani menyatakan bahwa data yang diajukan koran tersebut valid. Pembuktiannya mudah, dari pengalaman saya sendiri. Kebetulan saya lulus SD di daerah kecamatan yang jauhnya kira-kira 36 km dari ibukota dan pusat dari Kabupaten Jember, Jawa Timur. Seingat saya, teman kelas 6 SD saya berjumlah sekitar 25 anak. Pertemuan dengan teman kelas 6 SD tersebut hampir tidak pernah lagi terjadi, tetapi tahun lalu saya sempat bertemu dengan guru saya waktu kelas 6 dan beliau cerita lumayan banyak perihal teman-teman SD. Sejauh pengetahuan beliau, kebanyakan teman perempuan berkeluarga sebelum berumur 21 tahun dan tanpa pernah mengecap pendidikan pasca-SMA, beberapa teman laki-laki cukup beruntung setelah SMA/SMK dapat pekerjaan di pabrik, beberapa yang lain tidak cukup beruntung sehingga harus bekerja yang kasar –golongan ini biasanya malah tidak sempat sekolah setingkat SMA-, satu orang cukup berprospek untuk kuliah, namun toh akhirnya berwiraswasta selepas SMA. Tidak heran, beliau sangat senang begitu mengetahui saya bisa kuliah di ITB.

Dari kejadian inilah saya berani membuktikan kalimat pertama pada tulisan ini adalah benar. Bahkan sekarang hipotesisnya menjadi lebih dramatis, “dari dua puluh lima siswa SD di Indonesia, kelak hanya satu yang bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah SMA”. Daerah tempat saya lulus SD tersebut adalah daerah dengan kelas ekonomi menengah, tidak miskin tetapi juga tidak kaya. Mungkin kalau diadakan survei akan didapatkan rata-rata penghasilan per keluarga sebesar 1-2 juta rupiah per bulan, berada pada rentang pendapatan per kapita nasional. Angka tersebut memang memberatkan orang tua untuk menguliahkan anak. Taruh kata untuk mencari biaya termurah, diputuskan sang anak kuliah di Universitas Jember (Unej). SPP di Unej sekarang 1 juta/semester, biaya buku, fotokopi bahan kuliah sekitar 1 juta/semester, dan kalau si anak bersedia untuk sangat mengirit, dia cukup diberi uang saku 1,5 juta/semester. Kalau dijumlahkan, biaya yang dikeluarkan orang tua per semester adalah 3,5 juta atau kira-kira 600 ribu per bulan. Angka ini sudah 30% dari pendapatan orang tua, baru untuk membiayai satu orang anak, dan tentu dia, istri dan anaknya yang lain tidak dapat kenyang hanya dengan sudah menguliahkan satu orang anaknya!

Pernah saya mendengar pernyataan seorang pejabat yang segera saya gelari sebagai seorang amtenar karena pernyataannya berikut ini: “seringkali terjadi bahwa keputusan orang tua untuk tidak mendukung anak  sampai ke pendidikan tinggi dikarenakan adanya stigma bahwa pendidikan itu tidak penting”. Dari hasil paparan saya di dua paragraf pertama, saya justru curiga bahwa “stigma” tersebut terbentuk karena ketidakberdayaan masyarakat kita dari segi ekonomi untuk mencapai pendidikan tinggi kemudian menimbulkan keputusasaan sehingga seolah-olah mencari dalih lain untuk menutupi keberdayaan tersebut. Budaya orang Indonesia –khususnya Jawa– memang seperti itu. Contohnya, abad ke -16 muncul wabah penyakit ganas di Pantai Selatan Yogyakarta. Tidak ada yang sanggup mengatasi wabah tersebut,  terciptalah mitos Nyi Roro Kidul. Masyarakat berusaha menghibur diri sendiri dengan seolah-olah menyatakan bahwa wabah tersebut memang tidak bisa padam karena datangnya dari sesuatu yang ada diluar kuasa manusia. Begitu pula dalam hal pendidikan tinggi. Karena ketidakmampuan ekonomi untuk mencapai pendidikan tinggi, dengan tidak sadar terciptalah stigma masyarakat akan pendidikan tinggi.

Bapak dan Kakak saya pernah bilang kalau pendorong seseorang untuk mencapai pendidikan tinggi ada tiga sumber yaitu kemampuan dan motivasi anak, dukungan orang tua dan sumber dana. Ketiganya sama pentingnya dan saling berkaitan. Kalau hanya soal kemampuan, di pelosok Papua pasti juga ada anak dengan kecerdasan tinggi dan motivasi besar. Namun, apakah orang tuanya mendukung dan punya uang itulah masalahnya. Begitu pula dengan saya dan Anda yang lain. Siapakah yang berani menjamin bahwa apa yang sudah kita capai murni karena kepintaran dan motivasi kita sendiri? Teman-teman kita yang lain mungkin lebih pintar dan bersemangat. Mungkin orang tuanya juga bersemangat dan mendukung begitu melihat semangat anaknya. Namun, dana yang tidak dapat diusahakan oleh si orang tua akhirnya lambat laun membuat si orang tua harus pasrah dengan kenyataan melihat anaknya menjadi kuli bangunan.

Mungkin saya membuat catatan kecil ini didorong oleh kejadian dua hari yang lalu. Ibu yang membersihkan rumah kontrakan kami bilang “Mas, kalau ada saya pinjam 100 ribu. Rina mau beli buku buat ujian nasional, sepatunya juga sudah jebol”. Ibu ini sudah 5 tahun lebih bekerja di kontrakan kami jadi saya cukup mengetahui bahwa Rina ini sebenarnya cukup pintar. Saya jadi terenyuh karena mungkin sekali Rina ini kelak tidak dapat mencapai jenjang pendidikan tinggi sebagaimanapun semangatnya dia, hanya karena orang tuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan di negara kita tercinta ini pasti masih banyak Rina yang lain.

Bapak-bapak petinggi pemerintahan, saya tidak tahu, apakah sudah ada kebijakan yang jelas untuk mengatasi hal ini? Saya berani bertaruh nasib negara kita tidak akan lebih baik selama jumlah orang yang bisa mengeyam pendidikan tidak meningkat. Hampir setengah abad yang lalu Pramoedya Ananta Toer sudah mengingatkan akan pentingnya pendidikan. “Bukan kekayaan untuk bermegah dan memuaskan bandit yang dibutuhkan bangsa kita. Ilmu dan pengetahuan, kesadaran akan perubahan, terutama manusia baru berjiwa baru yang rela bekerja untuk bangsa dan negerinya. Maka bocah-bocah harus dipersiapkan untuk menerima pendidikan modern. Dana yang sangat, sangat besar harus dibangun. Upeti untuk para bandit harus dihentikan. Sekolah-sekolah modern harus berdiri, sekarang dan untuk seterusnya. Kalau tidak, hanya seperti inilah kiranya wajah negeri kita seratus tahun mendatang”. Saat ini hanya catatan kecil ini yang bisa saya buat. Tetapi saya akan terus berusaha sehingga suatu saat di koran akan muncul berita ini: “Dari sepuluh siswa SD di Indonesia, kelak delapan diantaranya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi setelah SMA”.

Bandung, 30 Nopember 2010

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

5 thoughts on “Dari Sepuluh Siswa SD Hanya Dua yang Bisa Kuliah

  1. terima kasih. artikel yang sangat bagus. izin share ya 🙂

  2. Amin pak…
    Setuju sekali
    Teman2 SD saya di nias dari jumlah 30 anak, yg bisa melanjut Pendidikan tinggi hanya sekitar 5 orang, puji Tuhan saya salah satunya.
    Padahal anak2 itu cerdas dan bersemangat, namun harus jadi ibu atau pekerja rendahan di usia muda. Semoga pemerintah kita lebih memperhatikan pendidikan.

  3. Saya rasa ini memang benar. Saya sendiri juga berasal dari Jawa Timur. Dari 23 siswa SD ada 22 siswa yang melanjutkan SMP/MTs. Kemudian dari 22 siswa, enam siswa melanjutkan SMA, 10 siswa melanjutkan di SMK, sisanya tidak melanjutkan pendidikan. Dari 16 siswa SMA/SMK yang melanjutkan kuliah hanyalah dua orang saja. Itulah yang terjadi pada angkatan saya. Padahal saya sendiri kelahiran ’97. Kalau di Jawa saja seperti ini, bagaimana dengan nasib saudara-saudara yang di lain di luar Pulau Jawa? Sungguh miris. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s