Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kejadian Paling Berkesan Tahun 2010 (Dalam Negeri)

Leave a comment

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, dan pada bagian ini saya akan memaparkan beberapa kejadian di Indonesia yang paling berkesan pada Tahun 2010. Seperti yang telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, momen-momen yang terpilih berdasarkan subjektivitas saya belaka. Jadi jika ada yang keberatan karena momen pilihannya tidak masuk, ada momen pilihan yang saya masukkan dan dirasa kurang pantas untuk masuk, silakan berkonfrotasi dengan saya.

Kejadian paling berkesan pertama adalah kasus mafia hukum, tepatnya kasus Gayus. Selama tahun 2010, Gayus seolah sedang menampilkan “one man show” yang menunjukkan betapa bobroknya masalah hukum di negeri ini. Bayangkan, bagaimana ceritanya seorang tahanan bisa pelesir ke Bali –dan belakangan ini diketahui juga bahwa yang bersangkutan juga pergi keluar negeri–. Dan anehnya kenapa juga para pengambil keputusan seolah-olah lepas tangan terhadap kasus ini. Tidakkah mereka malu akan adanya kasus ini. Hukum Indonesia memang sangat lemah, dan saya jadi teringat perkataan salah satu dosen saya “Di Amerika, hukum menjadi jurusan yang paling bergengsi, lulusan SMA berlomba-lomba masuk hukum, di Indonesia, orang baru masuk hukum kalau tidak diterima di ITB”.

Momen kedua adalah rentetan bencana di Indonesia. Dimulai dari banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai dan bencana Gunung Merapi di Yogyakarta. Tidak perlu saya ulang kedahsyatan ketiga bencana tersebut. Pun tidak perlu saya ceritakan lagi penderitaan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa rasa solidaritas bangsa Indonesia masih eksis. Berbagai bantuan datang berbondong-bondong tanpa pamrih dari seluruh negeri. Tetapi yang cukup membuat kecewa adalah bapak-bapak pejabat di pemerintahan. Selama ini mereka saling mengumbar komentar dan terkesan “show-off” selama dinamika politik. Tetapi hampir tidak ada komentar yang menyejukkan hati selama terjadi bencana. Menurut saya, pemerintah tidak berhak mengklaim bahwa mereka telah berhasil menjalankan sistem penanganan pasca-bencana dengan baik. Kredit adalah untuk para relawan, donatur dan masyrakat yang terlibat dengan aksi konkrit.

Momen terakhir terjadi di penghujung 2010, kali ini bidangnya adalah olahraga, tepatnya sepakbola. Meskipun pada akhirnya gelar Piala AFF gagal diraih, namun angkat topi tetap wajib diberikan kepada seluruh pemain, pelatih, dan ofisial Tim Nasional Indonesia. Serta tidak lupa kredit setinggi-tingginya kepada seluruh masyarakat yang telah menjadi suporter Timnas, baik yang langsung datang di stadion, maupun yang mendoakan dari depan televisi. Pastilah dukungan itu sangat menggetarkan. Saya mengutip kata salah satu pemain “saat keluar dari lorong ruang ganti pemain, terdengar gemuruh suara suporter yang mengelu-elukan timnas, itu bikin merinding dan bangga, uang di seluruh dunia tidak akan bisa menggantikan perasaan itu”. Hal yang juga membuat saya kagum adalah suporter kita yang sudah bisa menunjukkan kedewasaan untuk bisa menerima kekalahan dengan ksatria dan tertib. Namun, seperti pada kasus nomor dua, disini pemerintah (dalam hal ini PSSI, elit politik dan organ pemerintah yang terlibat) tidak berhak mengklaim kesuksesan ini. Sangat mengecewakan, karena bukannya dukungan, malah mereka membuat sesuatu yang sudah berjalan di trek yang seharusnya menjadi kacau. Penjualan tiket yang bermasalah, penjejalan agenda non-teknis kepada timnas dan campur tangan politik yang sangat tidak penting. Saya heran, semua orang sudah menjadi dewasa dan memberikan dukungan kepada Timnas, kenapa mereka tidak?

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s