Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Riset dengan Cinta

5 Comments

Suatu sore sebelum rapat proyek dimulai saya berbincang-bincang dengan project supervisor saya. Beliau adalah dosen senior di Teknik Sipil ITB, lahir dan besar di Sumatera Utara tetapi keturunan Jawa dan masih sangat kelihatan Jawa-nya. Dan sama seperti dalam menghadapi orang-orang tua dari Jawa, sikap saya ke beliau pun secara otomatis mengikuti pakem tatakrama yang harus dilakukan orang Jawa yang lebih muda ke orang Jawa yang lebih tua; tidak boleh mengumbar adat, harus sopan, berbicara jika diminta/diperlukan dan tidak terlalu sering menatap mata lawan bicara. Selain saya dan beliau, di ruangan rapat juga terdapat satu dosen lagi. Dan untuk membunuh waktu karena rapat belum kunjung dimulai, beliau membuka obrolan yang kira-kira isinya seperti ini:

Dosen:

Bagaimana novel Anda, sudah selesai? Apa judulnya? “Pengharapan” ya?

Saya:

“Penantian” Pak. Hampir selesai. Tetapi saya baru menargetkan untuk selesai tahun depan dan syukur-syukur kalau bisa terbit.

Dosen:

Sudah sering Anda menerbitkan tulisan?

Saya:

Novel belum pernah. Kalau cerpen dan artikel sudah terbit beberapa.

Dosen:

Senang Anda menulis?

Saya:

Iya Pak. Waktu SMA saya sempat mepertimbangkan untuk masuk Sastra.

Dosen:

(berkata kepada Dosen Lain) Harusnya begini mahasiswa teknik. Biar seimbang. Tidak hanya pandai menghitung.

Dosen Lain:

Tetapi teknik juga memerlukan kemampuan menulis Pak. Banyak orang teknik dengan temuan-temuan yang bagus, tetapi karena tidak bisa menulis, hasil penelitiannya tidak bisa diterbitkan di publikasi ilmiah.

Dosen:

Saya setuju. Dan menurut saya seharusnya orang (akademisi) itu menulis (hasil riset) seperti dia (saya). Menulis karena hobi, karena memang suka menulis. Sekarang saya lihat rata-rata orang (akademisi), apalagi yang diluar sini (ITB) menulis hanya untuk mengejar kum (poin penilaian di jenjang karir akademik).

Dosen Lain:

Betul. Dan karena tujuan utamanya adalah kum, penelitian yang dipublikasikan terkesan asal masuk dan asal banyak. Ujung-ujungnya penelitian itu juga tidak bisa diaplikasikan.

Dosen:

Di luar negeri, terutama di Amerika (Serikat) dan Eropa yang saya tahu, orang melakukan riset karena mereka memang cinta akan riset tersebut. Dan dengan didasari rasa cinta itu, kesadaran akan pentingnya riset tumbuh. Dibuatlah kerjasama-kerjasama antara industri atau pemerintah dengan dunia akademik. Dari kerjasama itu, dua kutub (akademisi dan praktisi) saling mendapatkan keuntungan. Industri memperoleh masukan dan akademisi bisa memunculkan teori dan doktor-doktor baru. Kalau Indonesia bisa melakukan riset dengan didasari cinta, saya yakin dunia penelitian kita akan maju. Tidak seperti sekarang. Apa yang dikerjakan pada disertasi mahasiswa S3 tidak ada benang merahnya dengan rencana industri atau pemerintah.

Obrolan terhenti sampai disini karena setelah itu pimpinan rapat datang dan rapat pun dimulai. Poin menarik yang saya ambil dari obrolan ini adalah asumsi Dosen tersebut bahwa dasar dari seorang akademisi untuk melakukan riset adalah karena suka dan senang dengan pekerjaan riset. Kalau dasar tersebut sudah dimiliki, majunya dunia penelitian nasional adalah keniscayaan yang tinggal menunggu waktu.

Selama ini saya berhipotesis bahwa dunia riset Indonesia tidak maju karena tidak adanya keinginan yang kuat baik dari akademisi, pemerintah maupun industri untuk mendukung kemajuan penelitian. Dukungan itu bisa dalam bentuk fasilitas maupun integrasi antara dunia akademik dan praktis yang dalam hal ini diwakili oleh industri dan pemerintah. Sebagaimana galibnya yang terjadi di negara-negara maju, permasalahan yang sedang dihadapi oleh industri dan pemerintah sering diberikan ke kampus-kampus untuk dicarikan jawabannya lewat penelitian yang biasanya dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa S3 sebagai disertasi mereka. Mekanisme yang seperti itu belum saya jumpai di Indonesia. Apa yang dikerjakan dalam proyek-proyek konsultansi di kampus sangat jarang bisa dimunculkan dalam bentuk hasil riset akademik.

Tetapi selain hipotesis yang telah saya tuturkan dalam paragraf sebelumnya, Dosen tersebut menggarisbawahi bahwa yang lebih penting lagi untuk memajukan penelitian adalah rasa cinta terhadap penelitian itu sendiri. Saya coba memikirkan pendapat beliau, dan saya rasa itu memang sangat tepat. Kalau coba kita cermati, orang-orang dengan temuan hebat di masa lampau melakukan penelitian karena mereka memang suka akan hal itu. Nobel pada akhirnya bisa menemukan peledak karena rasa suka yang ditanamkan keluarganya sejak kecil ke dirinya meresap benar di dalam hatinya. Faraday yang menemukan prinsip-prinsip listrik tidak mau ketika ditawari posisi yang lebih menjanjikan kekayaan karena dia takut rasa cintanya akan penelitian bisa terganggu. Dan Newton pada akhirnya dikenal sebagai ilmuwan kelas utama karena dia memang tertarik dengan penelitian fisika dan matematika dan mendalaminya dengan tekun sejak dia belum berumur 10 tahun.

Rasanya memang belum pernah saya jumpai penelitian-penelitian hebat yang didasari atas nafsu serakah seperti petualang-petualang Eropa dulu yang ingin memperlebar daerahnya dengan menjajah bangsa-bangsa lain. Dan menurut pendapat saya pribadi, hasil penelitian terbukti lebih awet dibandingkan negara jajahan. Sebagai contoh, Indonesia, Mesir dan bekas negara-negara jajahan yang lain paling tidak sudah berganti 3-4 tuan negara penjajah. Tetapi sampai kapanpun nama Nobel, Faraday dan Newton akan tetap terukir di karyanya masing-masing.

Soal pentingnya penelitian, saya rasa hal ini sudah cukup gamblang. Mengapa bola lampu ditemukan di Amerika Serikat bukan di Indonesia? Mengapa bukan Indonesia yang menemukan mesin cetak tetapi Jerman? Jawabannya sederhana, tentu karena mereka yang melakukan penelitian sedangkan kita tidak. Dan kalau sikap ini masih terus terjadi, 30-40 tahun lagi saat banyak temuan-temuan baru bermunculan, jangan mengeluh kalau lagi-lagi itu tidak terjadi di Indonesia.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

5 thoughts on “Riset dengan Cinta

  1. rul, nulis itu susah ya. nulis blog ternyata 180 derajat bedanya dengan nulis paper ilmiah.

    btw i am waiting for your first novel, ruuul 🙂

  2. totally different bat. gw sekarang sedang belajar bagaimana menulis (ilmiah) yg baik. doakan saja cepat selesai novel gw. nanti gw kasih gratisannya (tapi cm ebooknya), haha 😀

  3. yoi laah, moga2 cepet selese.
    gratis 1 buku buat aku yo mas. hehe

  4. Sangat mendasar sekali, Mas Rully.
    Terimakasih atas tulisannya yang mencerahkan. 🙂

  5. Dasar mental gratisan kamu bril…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s