Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Menyongsong Integrasi Regional dan Global

1 Comment

Dalam periode kurang dari satu dasawarsa ke depan, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk tiga buah agenda penting. Di tingkat regional adalah Integrasi Bidang Logistik ASEAN tahun 2013 dan Integrasi Pasar Tunggal ASEAN tahun 2015. Sedangkan pada tingkat global kita harus bersiap untuk memasuki Integrasi Pasar Global tahun 2020. Kecenderungan global adalah fenomena yang tidak terhindarkan. Konsumen yang semakin cerdas memberikan tuntutan lebih kepada produsen agar mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi namun berbiaya murah. Salah satu jalan untuk mencapai hal ini adalah bergesernya paradigma produksi terpusat menuju sistem dengan sentra-sentra produksi yang berpencar. Sebagai contoh, komponen-komponen utama dari perangkat elektronik masih diproduksi di Amerika Utara dan Eropa. Tetapi perakitannya dialihkan ke daerah Asia. Logika kebijakan ini sangat sederhana. Perakitan adalah tahapan produksi yang paling labor intensive. Asia dengan upah buruh yang relatif rendah adalah pilihan menggiurkan bagi para pelaku produksi multinasional.

Dengan keunggulan dari tren global seperti yang telah dipaparkan di atas, pertanyaan menarik adalah: apakah hal ini memberikan keuntungan bagi Indonesia? Sebagian pakar mengiyakan karena dengan pasar yang bersatu berarti tidak ada hambatan masuk untuk barang-barang produksi. Hal ini berarti konsumen –dalam hal ini penduduk Indonesia– sangat diuntungkan karena bisa mendapatkan produk dari banyak alternatif, dan pada gilirannya akan mendapatkan barang dengan harga yang paling murah.

Pada sisi yang sebaliknya, pendapat yang muncul menyatakan bahwa integrasi global justru membahayakan bagi Indonesia. Contoh terkini adalah lumpuhnya produsen-produsen dalam negeri karena serangan produk impor dari China. Masuknya produk-produk China sungguh gencar. Sebagai contoh, harga sebuah jam tangan merk China yang dijual di pinggir jalan kira-kira Rp. 12.500. Dengan margin keuntungan, biaya ekspor, transportasi, dll berarti harga pokok produksi jam tangan tersebut tidak akan lebih dari Rp. 5.000. Indonesia rasanya belum mampu untuk memproduksi jam tangan dengan kualitas yang sama dengan biaya produksi semurah tersebut. Ilustrasi sederhana ini menggambarkan bagaimana sisi negatif dari integrasi global yang memberikan ancaman besar terhadap kegiatan produksi dalam negeri.

Daya beli konsumen bukanlah ukuran tunggal untuk mengukur dampak dari sistem global. Kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia tetap harus menjadi prioritas utama. Perlu ada aksentuasi tambahan bahwa masyarakat bukan hanya konsumen akhir, tetapi produsen-produsen yang kelangsungan usahanya sedang terancam oleh serangan produk impor juga adalah masyarakat Indonesia. Sederhananya, pelaku-pelaku produksi tersebut juga membutuhkan daya beli untuk kelangsungan hidupnya. Hal yang mana tidak dapat terjadi jika kegiatan produksi mereka tidak dapat berjalan lagi. Total benefit untuk mengevaluasi kinerja dari integrasi global selayaknya diukur secara menyeluruh, bukan hanya dilihat secara parsial dari segi keuntungan yang didapat oleh konsumen akhir semata. Melainkan juga harus dilihat apakah keuntungan dari meningkatnya daya beli konsumen disisi lain harus dibarengi dengan lumpuhnya produksi dalam negeri. Tentu hal ini tidak diharapkan.

Jika kondisi saat ini tidak juga dibenahi, Indonesia memang sangat rawan sebagai objek penderita pada saat berbagai skema integrasi regional dan global tersebut berlaku efektif. Kekuatan produksi dalam negeri masih sangat lemah. Padahal dengan kekayaan alam yang melimpah, seharusnya dapat menjadikan Indonesia sebagai “supply side” dan berpotensi besar sebagai pemain dominan di bidang industri-industri olahan. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Indonesia masih pada tahap “demand side”. Populasi sejumlah 240 juta penduduk adalah buah ranum bagi produsen-produsen multinasional. Sebagaimana kita pahami bersama, hal paling sulit dalam rangkaian aktivitas produksi adalah penciptaan pasar. Siapa yang tidak tergiur untuk mencicipi pasar yang begitu besar di Indonesia. Lalu pertanyaannya, apakah kita sendiri akan tinggal diam di kandang sendiri. Dari sebuah studi, didapati kenyataan bahwa komoditas-komoditas strategis di Indonesia (baja, semen, daging ayam, telur ayam, daging sapi, susu) semuanya memiliki harga yang lebih mahal sekitar 20-40% dibandingkan dengan harga komoditas-komoditas sejenis di negara-negara ASEAN dan China. Tentu fakta ini adalah ancaman besar. Sembilan tahun bukanlah waktu yang lama. Jika kita melihat ke belakang sembilan tahun terakhir ini –dimana rasanya tidak ada kemajuan signifikan dalam bidang produksi domestik–, mestinya kita patut khawatir menyongsong tahun 2020.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Menyongsong Integrasi Regional dan Global

  1. Gue menyalahkan rantai pasok barang di Indonesia. Banyak distributor/pengumpul yang membuat harga akhir yang ditawarkan ke konsumen tinggi. Kita apakan ya Rul?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s