Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Force Majeure (dari Sudut Pandang Mahasiswi)

Leave a comment

Salah satu kejadian menarik semester ini adalah waktu saya mengajar salah satu materi di mata kuliah Penelitian Operasional (OR) II, yaitu project management. Materi yang dibahas adalah tentang teknikcritical path method (CPM) dan project evaluation and review technique (PERT). Saya menjelaskan bahwa inti mempelajari kedua teknik tersebut adalah agar proyek bisa dikelola dengan baik, sehingga keterlambatan waktu penyelesaian proyek bisa diminimalisasi. Seperti pada umumnya diketahui, jika pelaksana proyek (dalam hal ini biasanya adalah kontraktor) terlambat menyelesaikan proyek, maka akan dikenakan denda yang berbanding lurus dengan hari keterlambatan.

Berdasarkan atas penjelasan saya ini, ada mahasiswa yang bertanya: “apakah pelaksana proyek akan selalu didenda jika waktu penyelesaian proyek terlambat dari yang dijanjikan?”. Saya pun menjawab: “tentu, kecuali dalam kondisi force majeure (kahar), dalam kondisi tersebut, semisal gempa, perang, dan bencana alam, pelaksana proyek tidak akan didenda walaupun terlambat menyelesaikan pekerjaannya”. Selesai saya menjelaskan, sebagian besar mahasiswa mukanya bingung, rupaya banyak yang belum memahami apa maksud dari istilah yang baru saja saya jelaskan, force majeure.

Supaya mudah dipahami, saya menjelaskan dengan analogi. Misal ada sepasang pacar yang janjiannge-date di mall yang terkenal di Bandung, Parijs van Java (PVJ). Mereka janjian ketemu di PVJ jam 19.00 dan jam 18.45 si cewek sudah berada di lokasi yang ditentukan. Si cowok karena sedang mengerjakan tugas, maka dia berangkat dari kampus naik motor. Mereka sudah sering sekali pacaran di PVJ dan karena seringnya itu si cowok bisa mengestimasi bahwa waktu yang dibutuhkan untuk naik motor dari kampus ke PVJ adalah 30 menit. Karena tidak ingin mengecewakan pacarnya, si cowok berangkat lebih awal lagi, dia mulai naik motor dari kampus jam 18.20. Namun, ternyata di hari itu, di jalan menuju PVJ ada banyak pohon tumbang, dan karena tidak ada alternatif jalan lain, terpaksa si cowok menunggu pohon-pohon yang tumbang selesai disingkirkan, dan akibatnya dia baru sampai PVJ jam 19.30. Si cowok ini adalah pacar yang baik, maka dia memberi kabar ke pacarnya tentang kondisi yang sedang terjadi.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, saya bertanya ke peserta kelas: “kalau Anda jadi si cewek apakah Anda akan marah karena pacar Anda terlambat datang 30 menit?”. Spontan 80 persen mahasiswi di kelas menjawab dengan lantang: “Maraaah”. Mendengar jawaban tersebut sontak saya kaget. Maksud awal saya memberikan ilustrasi tersebut adalah supaya peserta kelas paham bahwa kondisiforce majeure adalah suatu kondisi dimana terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dimana hal-hal tersebut berada di luar kuasa kita, sehingga kita sama sekali tidak boleh marah. Saya pun tertawa dan balik bertanya ke anak-anak: “kenapa harus marah? kan bukan salahnya di hari itu banyak pohon tumbang? dan toh dia sudah meng-update berita itu ke pacarnya”. Mereka pun menjawab lagi “ya tidak marah, tapi bete“.

Saya tersenyum dan akhirnya menjelaskan definisi force majeure ke peserta kelas seperti yang sudah saya tulis di paragraf sebelumnya. Saya yakin pada akhirnya peserta kelas bisa memahami dengan baik apa itu force majeure. Tetapi poin menarik dari kejadian ini adalah saya yang sampai pada kesimpulan bahwa memang perempuan dan laki-laki itu sifatnya sudah berbeda dari sono-nya. Buat seorang laki-laki yang hampir selalu mempertimbangkan sesuatu hal dari logika, sangat aneh saya mendapati jawaban seseorang harus marah atau bete pada kondisi seperti itu. Kalau saya tentu berpikir, yasudah lah, toh kita bisa apa kalau banyak pohon tumbang. Tetapi mengingat bahwa hampir semua populasi mahasiswi yang menjawab marah, tentu hal ini memang sudah menjadi sifat perempuan bahwa hal-hal yang menurut laki-laki bisa pakai logika tidak akan bisa sama sekali dilogika oleh perempuan. Yah, tidak apa-apa, memang sudah kodratnya perempuan beda dengan laki-laki, kalau sama malah bakal repot kan, hehe.

ditulis di Groningen, 22 Desember 2012

tempat kejadian di Bandung, sekitar Nopember 2012

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s