Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Menyusuri Warung Makan di Cisitu dan Sekitarnya

4 Comments

Kawasan Cisitu dan sekitarnya adalah daerah yang sangat berkesan bagi saya. Tercatat saya mulai tinggal di daerah ini mulai bulan Agustus 2004 sampai dengan September 2012, atau selama delapan tahun satu bulan, sebuah waktu yang cukup kalau Anda ingin menempuh dua pendidikan sarjana. Setahun pertama, saya tinggal di Sangkuriang bersama dua teman seperjuangan dari Jember, Yandy dan Oky. Mempertimbangkan kontrakan di Sangkuriang yang cukup sempit, di bulan Juli tahun 2005 kami bertiga, ditambah satu adik angkatan anggota baru, Babol, mencari kontrakan baru dan akhirnya dapat di Jalan Cisitu Lama V/42 B1. Rumah inilah yang saya tempati sampai berakhir waktu tinggal saya di Cisitu.

Singkat cerita, teman-teman saya satu per satu lulus dan memulai karier di tempat masing-masing. Saya bertahan di rumah itu karena saya melanjutkan pendidikan magister dan memulai karir menjadi dosen di almamater tercinta, dan akhirnya saya meninggalkan kontrakan begitu saya menikah di bulan September tahun 2012, dan sekarang saya sudah ada di Belanda untuk menempuh pendidikan doktoral. Penghuni kontrakan tersebut berganti-ganti, dari mulai Edu, Mas Dimas, Ustadz Uca, Oman, Doni, Iqbal, Zain, dan terakhir Amir.

Tentu banyak sekali hal-hal menarik selama saya tinggal disitu, yang lain kali akan saya tuliskan menjadi beberapa artikel tersendiri. Di tulisan kali ini, saya ingin menuliskan tempat-tempat makan yang menjadi favorit saya (dan mungkin juga favorit teman-teman) selama saya tinggal di Cisitu dan sekitarnya. Sebagai mahasiswa, tentu kami harus mencari makan sendiri, dan untuk urusan ini di Cisitu dan sekitarnya cukup banyak pilihan yang tersedia. Saya akan tuliskan sepuluh tempat makan yang menurut saya paling berkesan, makin kecil nomor urut menunjukkan bahwa tempat makan tersebut makin favorit. Sayang sekali saya tidak punya foto-foto masing-masing warung, nanti di bulan Juni 2013 ketika saya ke Bandung insha Allah akan saya foto satu per satu.

10. Ayam Penyet Koboi

Tempat makan ini adalah salah satu stand yang ada di Pujasera Koboi dekat Alpina yang merupakan cabang dari Ayam Penyet Pak Kumis di Simpang Dago. Sebenarnya saya baru makan disini sekitaran tahun 2007-2008, tetapi begitu pertama mencoba langsung cocok, sepertinya gara-gara sambal tomatnya yang cukup pedas dan pakai terasi sedikit. Menu favorit saya adalah ayam penyet, tempe, tahu. Makan menu tersebut adalah salah satu tindakan saya kalau saya lagi kurang nafsu makan, dan biasanya hasilnya mujarab. Harganya terakhir makan sekitar Rp. 12.000 untuk porsi yang saya sebutkan tadi. Namun, kurang sukanya saya makan disini adalah tempatnya agak jorok.

9. Tenda Biru/Bu Kodok

Warung makan ini berada tepat di mulut gang masuk ke kontrakan saya. Pemilik warung memberi nama Tenda Biru, namun di kalangan mahasiswa lebih terkenal dengan Warung Bu Kodok. Ini gara-gara si Ibu pemilik warung sering latah menyebutkan kata “kodok” ke mahasiswa-mahasiswa pelanggannya. Menu disini variatif, dari mulai sop, sayur lodeh, mendoan, dll. Harga disini yang paling murah, untuk menu makan yang lengkap tidak akan lebih dari Rp. 8.000. Bahkan di awal-awal kuliah saya bisa makan disini dengan harga Rp. 3.000. Namun, kekurangan disini adalah tempatnya yang terkesan tidak higienis, maka dari itu teman-teman saya, terutama Yandy, Uca, dan Iqbal sangat menghindari makan disini, hehehe.

8. Nasi Goreng ABG

Mulanya saya makan disini atas rekomendasi seorang teman. Tempat makan ini bukanlah warung, melainkan hanya gerobak nasi goreng yang setiap malam mangkal di depan Asrama Bumi Ganesha (ABG) dari jam 18 s/d 23. Untuk orang yang tidak terlalu hobi makan nasi goreng, yang membuat saya memasukkan tempat makan ini di list ini adalah rasanya yang tidak terlalu manis dan pedasnya (kalau request) mantap. Saya paling suka nasi goreng pedas yang telor dadarnya dipisah, dan biasanya Oky dan Babol yang malas keluar cari makan sering menitip. Saking seringnya beli, mang penjualnya sampai hapal selera saya. Harganya murah, terakhir Rp. 8.000 sebungkus. Tetapi sayang sekali, sekitar awal tahun 2012 mang penjualnya sudah tidak ada, saya tanya ke mang penjual penggantinya, katanya beliau pindah ke Garut atau Tasikmalaya untuk mencoba peruntungan yang baru.

7. Bakso Adem Ayem Wonogiri

Kalau disebutkan nama ini, pasti banyak penghuni Cisitu yang tidak tahu. Tetapi kalau disebutkan warung bakso di sebelah Indomaret, pasti semua langsung ngeh. Warung ini awalnya ada di dekat kontrakan saya yang lama di Sangkuriang, kemudian setelah sukses buka warung yang lebih besar di pinggir jalan Cisitu. Lagi-lagi, karena seringnya beli, penjualnya hapal kalau menu favorit saya mie bakso tanpa bihun, sayur banyak, pedas, bakso urat. Meskipun di tahun-tahun terakhir saya lebih sering makan yamin manis. Penjualnya orang Wonogiri, saya sering ngobrol dalam bahasa Jawa. Harga terakhir antara Rp. 9.000 s/d Rp. 12.000 per porsi. Saya cukup sering juga bungkus makanan ini kalau lagi ingin makannya sama nasi. Tetapi Uca tidak suka bakso ini karena katanya ada indikasi pakai Borax (ah, yang penting enak Ca 😀).

6. Warung Gaul Kamemeut Vool Gedoor

Posisi keenam ditempati oleh Warung Gaul Kamemeut Vool Gedoor. Namanya keren, dan ini lebih tepat disebut sebagai warung kopi. Kalau rata-rata mahasiswa yang tinggal di Cisitu mengidolakan warung kopi Ariel, saya lebih suka di Kamemeut, karena pertama, tentu lebih dekat dari kontarakan saya, dan kedua menurut saya tempatnya lebih enak. Sebagaimana umumnya warung kopi di Bandung yang dimiliki oleh orang Kuningan, disini menu yang paling laris dari mulai Indomie, bubur ayam, kopi, telor setengah mateng, dll. Saya paling sering makan Indomie goreng telor dengan ekstra sayur dengan harga Rp. 5.000 saja. Saya sendiri heran kenapa sering makan disini padahal kalau cuma Indomie bisa bikin sendiri. Lumayan sering juga malam-malam makan sambil ngopi disini, karena warung ini buka 24 jam (vool gedoor, saya yakin ini salah satu kesalahaan ejaan orang Sunda menyebutkan full jadi vool, hehehe). Salutnya, di bulan Ramadhan warung ini benar-benar tutup di waktu pagi sampai sore hari.

5. Sabar Menanti

Seperti namanya, kalau Anda mau makan disini harus punya kesabaran lebih karena antriannya panjang, meskipun alhamdulillah saya selalu cepat dilayani, mungkin karena saya sering berbasa-basi pakai bahasa Jawa halus dengan Ibu pemilik warung (meskipun gara-gara perlakuan beda ini saya sering dipleroki pengantri lain yang urutannya saya dahului, hehe). Panjangnya antrian bukan cuma dari pembeli yang datang ke warung, tetapi juga dari penghuni Asrama Bumi Ganesha (ABG) yang memakai jasa delivery service. Warung ini letaknya memang di parkiran motor ABG. Disini uniknya semua serba pakai tepung. Saya sendiri paling suka ati-ampela, tahu, tempe dengan harga kira-kira Rp. 10.000. Sambelnya lumayan meskipun buat lidah saya terlalu manis. Saya hampir tidak pernah makan disini, selalu dibungkus dengan nasi cuma setengah porsi, karena itu saja sudah banyak.

4. Sate Madura

Di, kontrol Di, itu belum dikasih minum”. Ini adalah quote yang selalu terkenang ketika suatu kali saya, Yandy, dan Oky makan di Sate Madura Cisitu. Kalimat itu diucapkan oleh Pak Haji Usman sang pemilik kepada Saidi pegawainya yang memang agak mbalelo. Banyak juga teman-teman yang yang ingat kalau Pak Haji selalu bilang “siap” setiap kali menerima pesanan. Sate ini memang satu-satunya makanan jenis sate yang ada di Cisitu. Ada dua cabang, di bawah dan di atas. Saya lebih suka yang di bawah karena ada gulai kambingnya. Menu favorit saya adalah sate kambing lima tusuk tambah gulai kambing setengah porsi, satenya pakai bawang merah mentah. Menu “setengah-setengah” itu saya pilih karena dulu waktu mahasiswa tentu berat di ongkos kalau harus ambil menu full dua-duanya. Tetapi waktu sudah bekerja saya nyatanya juga masih pakai opsi ini karena ternyata kalau ambil menu full perut ini tidak sanggup menghabiskan. Saya juga sering bungkus gulai kambing untuk paginya dihangatkan buat sarapan, nyaman cak kalau kata orang Madura. Satu hal yang saya agak komplain ke Pak Haji ini adalah seringnya menaikkan harga, terakhir makan disini harganya kalau tidak salah Rp. 13.000 seporsi. Oiya, bagi yang belum tahu, sate Pak Haji Usman ini adalah hub bagi semua penjual sate keliling di Cisitu dan sekitarnya loh, dan hebatnya pegawai Pak Haji ini semua orang Madura yang banyak sekali jumlahnya, sepertinya satu kampung dibawa.

3. Ayam Cobek

Warung ini adalah tempat makan yang legendaris dan menjadi favorit banyak orang. Rasanya hampir semua mahasiswa yang tinggal di Cisitu tahu warung ini. Saya termasuk generasi pertama yang menangi makan ayam cobek di tenda sampai kemudian si pemilik warung pindah ke tempat permanen di depan Indomaret. Mengetahui juga evolusi keberagaman menu dari awalnya cuma ayam cobek dan soto ayam, berkembang pesat tambahannya seperti ayam pop, sop buntut, sop ayam, rawon, gulai, iga bakar, dll. Sebenarnya nama resmi tempat makan ini adalah “Warung Aneka II”, diberi embel-embel “II” karena warung yang di Cisitu merupakan cabang dari warung yang di Simpang Dago. Ayam cobek yang empuk dengan sambal merahnya memang mantap, meskipun setelah menu ayam pop diperkenalkan, saya lebih suka ayam pop yang juga empuk dengan sambel hejo nya yang pas di lidah. Menu sop buntut saya juga sering beli untuk dibawa pulang dan dipakai buat makan malam atau sarapan, sering juga saya beli untuk makan sahur waktu bulan Ramadhan Sejak ada menu rawon, menu ini cukup menjadi favorit saya. Memang rawonnya tidak seenak di Jawa Timur, tetapi masih lebih mending daripada rawon di gerbang belakang ITB dan di Gelap Nyawang. Harga di warung ayam cobek ini terus naik, terakhir sekitar 12-13 ribu rupiah per porsi. Namun menurut saya masih worth it, sehingga saya tetap makan disini, dan pernah suatu kali waktu lagi makan ketemu para mahasiswa saya di TI, hehe.

2. Warung Sebelah

Pasti banyak yang mengerutkan dahi begitu mendengar nama warung ini, tapi tidak bagi penghuni kontrakan kami. Ya, warung ini adalah tempat makan yang cuma berjarak tiga rumah dari kontrakan saya, letaknya di Cisitu Lama gang V sebelah Masjid Ar-Rahim. Pertama kali makan disini waktu kuliah tingkat pertama, ketika itu saya masih tinggal di Sangkuriang. Ketika itu teman saya kira-kira bilang, “makan yuk, deket sini ada warung ibu-ibu PKK”. Memang warung ini dikelola ibu-ibu. Setelah saya pindah ke Cisitu Lama V/42 B-1, baru saya tahu kalau “pemimpin” ibu-ibu tersebut adalah adik dari bapak kos saya, Pak Haji Djanuar, atau adik ipar dari Bu Hajjah Lilis. Awalnya warung ini terletak di depan rumah Ibu itu (maaf Bu, sampai sekarang saya tidak tahu nama Ibu), kemudian setelah beberapa tahun pindah ke bangunan permanen di sebelahnya. Sebenarnya warung ini sangat biasa, makanannya tidak ada yang istimewa, kata teman-teman malah tidak begitu enak. Tetapi, setelah sekian tahun tinggal di kosan “Jomblo”, saya sadar bahwa warung ini telah menjadi favorit, terbukti dengan frekuensi kedatangan saya yang repetitif. Beberapa menu yang saya suka adalah sayur daun singkong, tumis tauge tahu (meskipun Yandy sangat tidak suka menu ini), gepuk, tumis usus, dan telor balado. Harganya standar warung makan mahasiswa, sekali makan habis 8-12 ribu rupiah. Warung ini juga buka waktu sahur bulan Ramadhan. Soal beli makan sahur ini ada cerita menarik. Para mahasiswa pasti tahu kalau antrian waktu beli makan sahur sangat panjang, saya malas mengantri karena saya suka bangun mepet-mepet menjelang Imsak. Maka, saya ke warung itu biasanya sudah membawa sepiring nasi dari rumah, dan saya langsung maju ke barisan depan. Saya pikir, toh memang yang mengantri itu buat yang mau bungkus kan, kalau yang makan di tempat kan tidak perlu mengantri, hehehe. Awalnya saya dicibir sebagai orang yang oportunis oleh Yandy, Oky, dan Babol, tetapi lama-kelamaan mereka juga mengikuti jejak saya. Bahkan mereka lebih ekstrim lagi, yang dibawa dari kosan cuma piring kosong (MT koen rek!).

1. Pecel Lele Sangkuriang

Anda boleh tidak setuju dengan pilihan saya untuk urutan yang paling favorit ini. Anda mungkin bilang kalau makanan disini tidak istimewa, standar pecel lele. Mungkin juga bilang tidak higienis, minyaknya pakai oli kalau versi Babol dan Iqbal, memang minyak disini dipakai terlalu repetitif sampai menghitam. Versi Mas Agus penjualnya, minyak hitam itu gara-gara dipakai untuk menggoreng kol. Rupanya Mas Agus ini terlalu polos menganggap kami para mahasiswa ITB akan percaya begitu saja. Bisa juga Anda menyangkal bahkan warung ini letaknya bukan di Cisitu, tetapi di Sangkuriang. Memang benar, tetapi kan dari awal saya sudah kasih batasan area Cisitu dan sekitarnya. Kembali ke soal konten, di warung ini menurut saya rasanya masih Jawa, makanya saya cocok. Sambalnya pas, lauknya diungkep dengan bumbu-bumbu Jawa, kol gorengnya crunchy, dan teh tawarnya enak diminum panas-panas, meskipun nasinya saya tidak terlalu suka karena pakai beras kualitas nomor dua. Menu yang paling saya suka usus, ati ampela, kepala ayam, tahu, tempe, kol goreng (baru saya sadari kalau saya memang suka jerohan, pantas istri saya sekarang melarang makan jerohan banyak-banyak, hehe). Untuk menu yang saya sebutkan itu, di tahun 2012 kemarin Anda cuma keluar uang 8-9 ribu rupiah, bahkan di tahun 2004 harganya cuma 4-5 ribu rupiah. Saking seringnya makan disini, Mas Agus sudah hapal betul selera saya, semua serba digoreng kering, termasuk juga lele sampai garing. Saya sadar kalau tempat ini memang favorit, karena setiap kali makan disini saya hampir selalu bisa menghabiskan seporsi nasi yang banyak. Kalau diingat-ingat, waktu sampai Bandung bulan Agustus tahun 2004, disinilah pertama kali saya makan malam, waktu itu saya diajak Mas Yudi, dan waktu itu saya pesan menu bebek yang ternyata kerasnya minta ampun. Sudah lama sekali saya makan disini, indikator paling gampang adalah melihat anak si Bapak dan Ibu penjual, yang juga berarti adiknya Mas Agus. Pertama kali saya makan dia saya taksir masih kelas 4-5 SD, terakhir saya kesitu dia sudah jangkung dan sudah jadi pelajar SMA, kalau melihat dia mau tidak mau saya percaya kalau time really flies. Awalnya petugas disitu bukan Mas Agus, tetapi sepupunya Mas Agus, tetapi rupanya sepupunya itu mencoba peruntungan di tempat lain. Mas Agus sendiri masih ingat dengan teman-teman, terutama Yandy, yang dia selalu sebut dengan “Mas Yan”. Terakhir saya makan disini beberapa hari sebelum berangkat ke Belanda, dan ternyata saya dapat cerita dari Ibu dan Mas Agus kalau si Bapak sudah meninggal dunia 40 an hari yang lalu. Saya ikut sedih dengar berita duka ini, semoga Bapak diterima di sisi-Nya dan diampuni segala kekhilafannya. Bagaimanapun Bapak banyak jasa ke saya, menyediakan makanan murah bagi saya selama saya S1, S2 dan awal-awal karir jadi dosen, hehehe.

Itulah sepuluh tempat makan paling favorit selama saya tinggal di Cisitu dan sekitarnya. Mungkin banyak yang mempertanyakan kenapa tempat-tempat makan seperti Ayam Bu Slamet, Warung Bu Olis, Warung Jawa dekat ABG, Ayam Goreng Sabana, Bakso Barokah, dan Tong Seng Lada hitam tidak masuk daftar. Bahkan mungkin juga ada yang heran kenapa saya tidak memasukkan nasi goreng depan gang yang legendaris, yang kalau pesan tinggal bilang “Jomblo”, nanti langsung diantarkan ke kontrakan kami. Mungkin juga Uca akan mempertanyakan kenapa Pujasera ABG tidak masuk daftar, kalau yang ini memang saya tidak suka, dalam hal makanan saya dan Uca memang sering berseberangan selera, hehehe. Tempat-tempat makan tersebut memang juga punya kesan-kesan masing-masing, tapi untuk saya tetap sepuluh tersebut yang bisa saya kategorikan terfavorit. After all, ini kan hanya versi saya, tentu Anda boleh bikin daftar terfavorit versi Anda sendiri.

Ditulis di Groningen, Belanda, Minggu 17 Februari 2013 jam 10.11 CET

Link: Tempat-tempat kuliner di berbagai daerah yang sudah dikunjungi.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

4 thoughts on “Menyusuri Warung Makan di Cisitu dan Sekitarnya

  1. bro nggak nyoba nasi goreng mang diman di cisitu lama 8? deket asrama kidang pananjuang. itu enak banget bro…

  2. Rull, piye kabarmu? Ketemu d kene malah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s