Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Bende Mataram vs Legend of the Condor Heroes, Siapa yang Meniru Siapa?

4 Comments

Pertama kali saya membaca kedua cerita silat ini adalah waktu kelas dua SMA tahun 2002. Syaiful, teman satu kosan saya waktu itu adalah orang yang meracuni saya dengan kedua novel dan komik laris ini. Bende Mataram adalah yang terlebih dulu saya baca. Waktu itu Syaiful meminjam novel ini dari Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember yang kebetulan cuma berjarak dua gedung dari sekolah kami, SMAN 1 Jember. Awalnya saya hanya iseng membaca sekilas, tetapi ternyata ceritanya sangat menarik. Jadilah saya menamatkan membaca sampai buku ke-15, bahkan beberapa seri saya niatkan untuk mengoleksi. Bende Mataram adalah novel yang ditulis oleh Herman Pratikto di sekitar tahun 1980an. Sebelum dituangkan dalam bentuk novel, terlebih dahulu cerita ini mengudara lewat siaran radio.

Setelah tamat dengan cerita silat di tanah Jawa, sekitar tahun 2003, Syaiful memperkenalkan lagi cerita silat yang baru, judulnya Legend of the Condor Heroes. Cerita ini bentuknya komik yang seingat saya waktu itu terbit sebulan sekali. Kami patungan untuk meminjam komik ini dari tempat penyewaan komik, dan beberapa seri ada yang saya beli sendiri. Ketika saya lulus tahun 2004 dan melanjutkan kuliah di Bandung, komik yang terdiri dari 37 seri ini belum tamat. Jadilah saya menamatkan seri-seri terakhir waktu kuliah tingkat pertama. Seperti Bende Mataram, saya pun sangat menikmati cerita silat di komik Legend of the Condor Heroes yang berlatarbelakang di negeri Tiongkok. Komik ini dibuat oleh Lee Chi Ching yang merupakan adaptasi dari novel laris karangan Chin Yung tahun 1959. Bagi yang besar di tahun 1990an pasti ingat dengan serial ini yang ditayangkan di salah TV swasta (kalau tidak salah Indosiar) setiap sore hari.

Sejak pertama kali membaca kedua cerita silat ini, hal yang sangat menggelitik benak saya adalah kemiripan cerita keduanya. Bagi yang belum tahu, berikut coba saya berikan paparan ringkas babak pembukaan dari kedua cerita ini.

“Bende Mataram bercerita tentang lika-liku dua saudara angkat yang akhirnya saling memusuhi, Sangaji dan Sanjaya. Orangtua keduanya adalah sahabat karib yang terpaksa bercerai-berai akibat geger perebutan pusaka Bende Mataram dan keris Kyai Tunggulmanik. Ayah Sangaji dibunuh oleh Pangeran Bumigede, sedangkan ayah Sanjaya tidak ketahuan dimana rimbanya. Sanjaya dan Ibunya dibawa dan diasuh oleh Pangeran Bumigede, sedangkan Sangaji dan ibunya pada akhirnya tinggal di tangsi Kompeni Belanda di Jakarta. Merasa bersalah melibatkan orangtua Sangaji dan Sanjaya ke dalam huru-hara, Ki Hajar Karangpandan mengikat perjanjijan dengan Wirapati dan Jaga Saradenta untuk mengajari masing-masing anak silat dan mengadu keduanya dua belas tahun kemudian.

“Legend of The Condor Heroes bercerita tentang petualangan Kwee Ceng dan Yo Kang di dunia persilatan. Orangtua keduanya adalah saudara angkat yang terkena musibah kerusuhan negeri Song dan Kim. Ayah Kwee Ceng mati dibunuh orang-orang suruhan pangeran Kim, Wanyen Hong Lieh, dan ibunya terpaksa melarikan diri sampai ke Mongolia dan melahirkan puteranya disana. Ibu Yo Kang diculik oleh Wanyen Hong Lieh yang akhirnya memperisterinya dan merawat Yo Kang yang lahir di istana negeri Kim. Merasa bersalah melibatkan keluarga Kwee dan Yo, rahib Khu Chi Kee mengikat perjanjian dengan Kang Lam Liok Koay untuk mengajari kungfu ke kedua anak tersebut dan mengadu keduanya berpibu delapan belas tahun kemudian.

Ringkasan babak pembukaan ini secara gambang memperlihatkan bahwa terdapat relasi erat antara dua cerita ini. Pembaca dapat dengan mudah menebak bahwa Sangaji-Kwee Ceng dan Sanjaya-Yo Kang adalah dua tokoh dengan personifikasi yang sama. Cerita-cerita selanjutnya juga memiliki hubungan yang sangat erat. Sangaji dikisahkan dijodohkan dengan Sonny De Hoop, puteri seorang komandan Kompeni di Jakarta, Mayor De Hoop; di cerita satunya, Kwee Ceng dijodohkan dengan Gochin, yang merupakan puteri dari Temuchin, sang pemimpin Mongolia a.k.a. Jenghis Khan. Sangaji menganggap Sonny De Hoop tidak lebih sebagai teman mainnya, sedangkan Kwee Ceng menganggap Gochin tidak lebih dari adiknya sendiri. Pada akhirnya Sangaji bertemu pujaan hatinya Titisari, dan Kwee Ceng tertambat hatinya ke Oey Yong Jie. Keduanya dipersonifikasikan sebagai gadis yang sangat cantik, memiliki kecerdasan rata-rata, sedikit liar, dan anak pendekar besar. Titisari adalah anak Adipati Surengpati, Oey Yong Jie adalah anak Oey Yok Su si Sesat Timur.

Sangaji yang silatnya biasa-biasa saja kemudian bertemu tokoh sakti si jembel Gagak Seta dan diajarkan ilmu Kumayan Jati adalah cerita yang sangat sejalan dengan Kwee Ceng yang dungu dan kemudian menjadi tangguh saat bertemu si pengemis berjari sembilan Ang Cit Kong dan diajari jurus Hang Liong Sip Pat Ciang (18 jurus penakluk naga). Cerita juga diakhiri dengan babak yang sangat mirip. Sangaji dihadapkan pada pilihan harus bertarung di sisi Kompeni Belanda melawan tanah airnya sendiri atau meninggalkan Kompeni yang sudah merawat dia dan ibunya belasan tahun. Sedangkan Kwee Ceng menghadapi dilema saat Jenghis Khan menitahkannya untuk menyerang tanah airnya, Negeri Song, atau mengkhianati Khan yang sudah merawat dia dan ibunya selama dua puluh tahun.

Setelah melihat rentetan berbagai kemiripan cerita dari kedua cerita silat tersebut, wajar jika kemudian saya mempunyai dugaan bahwa pasti terdapat keterkaitan antara keduanya. Dulu waktu SMA, saya menduga bahwa kemiripan tersebut mungkin diakibatkan adanya pertukaran kebudayaan di masa lalu antara Sriwijaya/Majapahit dengan kerajaan Tiongkok jaman dahulu. Seperti yang kita ketahui, hubungan antara dua negara seringkali berimbas pada akulturasi kebudayaan, termasuk sastra. Contohnya, si Kera Sakti Sun Go Kong dari Tiongkok ceritanya juga dikenal di Jepang, meskipun ada beberapa perbedaan, dan terdapat hubungan yang erat antara Tiongkok dan Jepang pada masa lalu. Begitu pula cerita Panglima Hang Tuah yang juga dikenal di Malaysia dan Sumatera. Dalam kasus Bende Mataram dan Legend of the Condor Heroes, alur cerita sangat mirip, namun dibungkus dengan latar belakang yang berbeda. Cerita pertama berlatar belakang abad ke-19 yang mengetengahkan permusuhan antara pribumi Keraton Yogyakarta melawan penjajah Kompeni Belanda. Sedangkan cerita kedua dibalut pada abad ke-13 dengan lakon permusuhan antara pribumi Song dengan penjajah Kim dan Mongolia.

Dugaan-dugaan yang saya paparkan di paragraf sebelumnya itu juga dilatarbelakangi aksentuasi yang selalu dimunculkan oleh Herman Pratikto bahwa novelnya tersebut diilhami dari Babad Tanah Jawa. Sumber ini seperti kita tahu penuh dengan sejarah dan mitos yang bisa saja dipengaruhi oleh budaya Tiongkok hasil interaksi Jawa dengan Tiongkok di masa lalu. Namun, setelah akhir-akhir ini saya membaca ulang komik Legend of the Condor Heroes, hipotesis awal saya tersebut mulai buyar, dan jadilah saya mengemukakan hipotesis tandingan bahwa keterkaitan kedua cerita silat ini terletak pada pencontekan ide semata, atau dalam bahasa ilmiahnya disebut plagiasi, satu pengarang mencontek ide dari pengarang yang satunya. Sekarang pertanyaannya, siapa yang mencontek dan siapa yang dicontek? Lagi-lagi saya mengungkapkan dugaan bahwa Herman Pratikto lah yang mencontek Chin Yung. Alasannya sederhana, novel Chin Yung terbit 20 tahun lebih dahulu dari novel Herman Pratikto. Dugaan ini coba saya jelaskan dengan beberapa alasan di paragraf-paragraf selanjutnya.

Pertama, waktu terbit, seperti yang sudah saya jelaskan. Dua puluh tahun (dari tahun 1959 ke tahun 1980-an) jelas waktu yang cukup bagi Herman untuk mengambil ide utama dari novel Chin Yung, menambahkan idenya sendiri, dan membungkusnya dengan sejarah Jawa. Tahun-tahun tersebut juga masa dimana akses informasi tidak semudah sekarang. Dengan keterbatasan akses masyarakat Indonesia untuk membaca novel Chin Yung, Herman pun jadi cukup “leluasa” untuk mengambil ide dari novel Chin Yung. Kedua, kalau benar Bende Mataram ceritanya murni diambil dari Babad Tanah Jawa, terlalu banyak kejadian ataupun tokoh di novel itu yang tidak dikenal oleh sejarah. Kalau pembaca cermat mengamati, Sangaji, Sanjaya, Titisari Gagak Seta, Adipati Surengpati, Kapten De Hoop dan Kyai Kasan Kesambi tidak pernah disinggung dalam sejarah. Fenomena ini cukup aneh, Gagak Seta, Adipati Surengpati, dan Kyai Kasan Kesambi adalah pendekar-pendekar nomor wahid. Sebagaimana lazimnya pendekar jaman dahulu, mereka juga menggalang pasukan untuk melawan Kompeni Belanda, tetapi jejak ketiganya tidak ada di catatan sejarah. Himpunan Sangkuriang yang disebut dipimpin oleh Sangaji pun tidak pernah terdengar di catatan sejarah. Herman Pratikto memang menyebutkan beberapa tokoh yang kita kenal baik di sejarah seperti Mangkubumi I, Pangeran Samber Nyawa, Kyai Tapa dan Ratu Bagus Boang, tetapi peran mereka di novel tersebut sangat minim, dan keempatnya diceritakan sudah meninggal. Sedangkan untuk Legend of the Condor Heroes, terasa bahwa nuansa sejarah lebih digarap dengan baik oleh Chin Yung. Relasi antara Dinasti Song, Dinasti Kim dan Mongolia bisa ditelusuri dengan baik di sejarah. Begitu pula beberapa tokoh seperti Ong Tiong Yang, Rahib It Teng, Temuchin, Jebe dan Mukhali dicatat di buku-buku sejarah.

Ketiga, terlalu banyak rincian cerita pendukung di Bende Mataram yang sungguh mirip dengan plot di Legend of the Condor Heroes. Misalnya, persyaratan yang diajukan Adipati Surengpati kepada Sangaji dan Dewaresi untuk menentukan siapa calon suami Titisari adalah sangat mirip dengan persyaratan yang diajukan Oey Yok Su kepada Kwee Ceng dan Auwyang Hok untuk memperebutkan Oey Yong Jie. Persyaratan tersebut adalah adu kungfu, pengetahuan lagu tradisional, dan hapalan jurus silat. Kemudian gerakan bergulingan di tanah Gagak Handaka waktu melawan Adipati Surengpati adalah persis seperti gerakan yang sama yang dilakukan Ciu Pek Thong waktu melawan Oey Yok Su. Gagak Seta yang mau menurunkan ilmunya ke Sangaji karena terpikat kepandaian memasak Titisari tentunya diilhami dengan cerita Ang Cit Kong yang mengajari Kwee Ceng jurus tangguh setelah sang guru makan masakan-masakan enak Oey Yong Jie. Begitu pula dengan adegan dimana Titisari ingin menusuk mata Nuraini karena cemburu juga mirip dengan cerita dimana Oey Yong Jie ingin menusuk mata Bok Liam Cu, kalau Titisari akhirnya dipergoki Gagak Seta, Oey Yong Jie dipergoki oleh Ang Cit Kong.

Berdasarkan ketiga alasan tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa memang terdapat indikasi yang kuat Herman Pratikto mengambil ide dari novel karangan Chin Yung. Tetapi bukan berarti dengan kesimpulan ini saya lantas mendiskreditkan Herman Pratikto. Tidak, sama sekali tidak. Bende Mataram adalah salah satu novel favorit saya, dan ini pastilah karena pengarangnya yang brilian. Menjiplak ide dari novel sebesar Legend of the Condor Heroes tidak langsung menjamin cerita hasil jiplakan akan bagus juga. Apalagi dalam hal ini Herman harus mengejawantahkan cerita silat Tiongkok tersebut ke dalam latar belakang cerita bernapaskan Jawa, tentu tidaklah mudah. Herman dengan sangat baik mengadaptasi novel Chin Yung ke dalam tataran Jawa, dari mulai menyinggung bahwa pusaka Bende Mataram, Keris Kyai Tunggulmanik dan Jala Karawelang sebagai pusaka tanah Jawa, intrik perebutan kekuasaan di Keraton Yogyakarta, dan pemberontakan terhadap Belanda. Selain itu, tentunya Herman juga telah berhasil menanamkan rasa nasionalisme Indonesia di dalam novelnya. Terbukti dengan babak dimana Sangaji berpindah ke Jawa Barat untuk memimpin Himpunan Sangkuriang, adegan ini mengajarkan bahwa sudah sepatutnya perjuangan melawan penjajah Belanda dilakukan oleh segenap wilayah di Indonesia. Puncaknya, novel ini sudah penuh berisi semangat kejantangan dan budi pekerti luhur yang terekam dengan baik dari interaksi berbagai tokohnya. Membaca novel Bende Mataram seperti melihat miniseri dari cerita wayang Jawa yang napasnya juga kurang lebih sama, dan hal inilah yang menurut saya telah membuat novel ini menjadi legenda bagi masyarakat Indonesia.

Groningen, 23 Mei 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

4 thoughts on “Bende Mataram vs Legend of the Condor Heroes, Siapa yang Meniru Siapa?

  1. memang pertama kali saya tahu bende mataram, adalah lamat lamat..sekitar akhir tahun 80 an…seiring novel yg berebut hati masyarakat saat itu yg masih jernih di mata saya yaitu SENOPATI PAMUNGKAS (Arswendo Atmowiloto),,NAGA SASRA dan SABUK INTEN (S.H Mintardja)..dan Lagi BENDE MATARAM (Herman Pratikno)…adapun 2 pertama baru saya baca versi komplet skitar tahun 2005….(Senopati Pamungkas sudah di cetak ulang oleh GRAMEDIA)….Untuk Bende mataram saya mengenalnya sewaktu di buat komik strip dan di muat di halam BERNAS sekitar pertengahan tahun 90an…namun saat itu saya belum tertarik…ketika itu saya masih kelas 4 SD….baru beberapa tahun terakhir minat saya kembali ke novel silat indonesia…yang sedang tenar saat ini adalah NAGA BUMI (Seno Gumira Atmaja)…. Semua novel diatas tadi merupaka novel silat dengan latar belakang kehidupan masyarakat masa lalu dengan jelas…beberapa novel memang ada sejarahnya Senopati Pamungkas dengan Awal Majapahitnya, Naga sasra dengan Demak nya dan bende mataram dengan Kraton Jogja dan surakarta …namun tentu saja tetap ada bumbu2 fiksi..hal ini memang sengaja di buat agar novel tersebut tidak monoton seperti halnya pelajaran sejarah…adapaun Bende mataram memang mirip sekali dengan legend condor hero nya CHIN YUNG (saya baca versi komik)…terlepas dari plagiat atau tidak ,tidak perlu di perdebatkan siapa mencontek siapa, karena toh andaikata Bang Herman yang plagiat ,dia toh menyuguhkan plagiat tidak semata mata plagiat karena saya rasa beliau cukup berhasil mengemas kembali “CONDOR HERO” versi Indonesia….begitu menurut saya.. satu hal yang saya tunggu tunggu…kapan novel novel tersebut mau diangakat ke layar lebar?!….atau klo bisa runut seperti dalam novelnya dalam versi sintron…(daripada sinetron menayangkan produksi yang tidak jelas)….

    • wah, terima kasih sharing-nya, Pak. saya baru baca Bende Mataram. Kalau yang lain seperti Senopati Pamungkas, Naga Sasra, dll gak ada euy saya cari di toko-toko buku. Iya betul, menurut saya Herman Pratikto sangat cerdas. Dia bisa menerjemahkan cerita dari The Legend of Condor Heroes ke dalam latar belakang Jawa abad ke 18 dan 19. Menurut saya mungkin lebih cocok dibuat serial (sinetron) ya. Tetapi tentu dengan artis-artis pilihan dan jadwal siarannya jangan kejar tayang setiap hari. Dibuat tayang seminggu sekali, rasanya akan awet serialnnya bisa sampai 3-5 tahun. Semoga ada produser yang melirik novel silat legendaris Indonesia ini.

  2. waktu saya sd saya udah membaca bende mataram thn 1968 an pengarangnya lupa bentuk bukunya spti api di bukit menoreh

    • Salam kenal Pak Bebeng. Saya baru membaca waktu SMA Pak, tahun 2002-2003. Pertama kali membaca langsung jatuh cinta, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s