Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Menelaah Sistem Pendidikan Indonesia

2 Comments

Pendidikan adalah motor penggerak kemajuan suatu bangsa. Hal ini sudah terbukti dimana negara-negara maju kemungkinan besar memiliki sistem pendidikan yang sudah solid. Paling mudah hal ini dipaparkan dengan perbandingan. Berdasarkan peringkat sistem pendidikan yang terakhir dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2009, lima negara dengan sistem pendidikan terbaik adalah Selandia Baru, Finlandia, Denmark, Australia, dan Kuba. Sementara, negara-negara yang menempati posisi lima terbawah adalah Afghanistan, Chad, Mali, Burkina Faso, dan Niger. Kecuali Kuba, negara-negara yang berada pada klaster pertama memiliki pendapatan per kapita minimal sebesar USD 36.000. Sedangkan pada klaster kedua, pendapatan per kapita tertinggi adalah USD 891. Indonesia sendiri sistem pendidikannya berada pada peringkat ke-104 dari 181 negara yang disurvei. Negara kita memiliki pendapatan per kapita sebesar USD 3.797.

Pemeringkatan sistem pendidikan yang dilakukan oleh PBB tersebut dilakukan berdasarkan tingkat melek huruf, dan gross enrollment ratio (GER), yaitu rasio antara semua penduduk yang pernah menyelesaikan sekolah dasar dengan yang akan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kita juga masih kalah jauh. Singapura, Thailand, dan Malaysia masing-masing duduk di peringkat ke-53, 71, dan 98.

Bisa saja kita menyangkal bahwa laporan Human Development Report yang dikeluarkan PBB tersebut tidaklah valid. Tetapi dari apa yang sudah dipaparkan, sedikit banyak dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang dikemukakan di awal paragraf ini bisa dibuktikan. Negara-negara dengan sistem pendidikan yang baik, memiliki ekonomi yang kuat, terbukti dengan pendapatan per kapitanya yang tinggi, yang mengindikasikan bahwa penduduknya sangat makmur. Kondisi sebaliknya terjadi untuk negara-negara dengan sistem pendidikan yang buruk, dengan pendapatan per kapita USD 891, berarti rata-rata penghasilan harian tidak lebih dari Rp 23.000, tentu ini sangat mengenaskan.

Bangsa Indonesia sadar atau tidak telah membuktikan bahwa pendidikan sangat penting. Pintu gerbang kemerdekaan Indonesia tidak dibuka dengan senapan atau meriam yang lebih canggih, tetapi oleh pikiran yang lebih maju, dimana kondisi itu didapatkan dengan pendidikan. Sebelumnya, dalam tempo sekitar tiga ratus tahun para pejuang gagal untuk mencapai cita-citanya. Namun hal ini berubah hanya dalam kurun waktu lima puluhan tahun sejak Pemerintah Hindia Belanda membuka akses pendidikan bagi bangsa Indonesia. Lanjutan cerita sudah tertulis di buku sejarah dimana para dokter-dokter Jawa mendirikan Budi Utomo, Sukarno yang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) memimpin pergerakan di dalam negeri dan Mohammad Hatta dan kawan-kawan yang sedang menempuh studi di Belanda mengobarkan semangat perjuangan dari tanah Eropa.

Mengingat pentingnya pendidikan, maka wajar jika kita cukup prihatin dengan kondisi sistem pendidikan di Indonesia. Peringkat 104 dari 181 negara jelas bukanlah sebuah prestasi yang membanggakan, dan melihat kondisi terkini, rasa miris itu semakin mengiris tajam. Di awal tulisan ini sudah disebutkan bahwa salah satu kriteria pemeringkatan sistem pendidikan oleh PBB adalah GER, dan untuk hal ini, kita bisa menyaksikan di lingkungan sekitar bahwa memang banyak anggota masyarakat kita yang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Ironisnya, hal ini tidak selalu diakibatkan oleh ketidakmampuan siswa dari sisi penguasaan mata pelajaran. Pada beberapa kasus, siswa yang seharusnya bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi dari awal memutuskan untuk tidak kuliah karena takut tidak bisa membayar biaya pendidikan.

Hal ini bisa dimaklumi, sebagai contoh, untuk kuliah di ITB, sekarang paling tidak orang tua membutuhkan biaya tidak kurang dari Rp 800.000 per bulan, karena SPP di ITB sudah sekitar Rp 5.000.000 per semesternya. Angka sebesar ini tentu sangat besar buat warga di desa dengan rata-rata pendapatan tidak lebih dari Rp 2.000.000 per bulan. Sebenarnya nanti pada saat masuk kuliah akan banyak beasiswa yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa, tetapi buat orang di kampoug, informasi biaya sebesar itu sudah membuat takut terlebih dahulu.

Di negara-negara maju, prinsip yang digunakan oleh pemerintah adalah membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi mereka yang berminat. Untuk itu, banyak negara maju yang menggratiskan pendidikan tinggi. Tentu sulit bagi Indonesia saat ini untuk meniru sistem seperti itu, karena seperti diketahui, negara kita belum cukup kaya untuk bisa menyelenggarakan pendidikan tinggi gratis. Meskipun pendapatan domestik bruto (PDB) kita sekarang nomor tujuh belas terbesar di dunia, harus diingat bahwa PDB itu dibagi untuk lebih dari dua ratus juta penduduk Indonesia. Namun, kalaupun belum mampu untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi gratis, seharusnya Indonesia bisa meniru beberapa negara memiliki mekanisme pinjaman untuk belajar (student loan). Dengan mekanisme ini, pelajar yang tidak memiliki biaya namun memiliki motivasi yang tinggi dapat meminjam dulu sejumlah dana untuk membiayai pendidikannya, yang nantinya pinjaman tersebut akan dikembalikan pada saat yang bersangkutan sudah lulus dan bekerja.

Usulan pinjaman untuk belajar ini sudah bergulir lama, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya. Untuk itu, kita boleh kecewa akan lambatnya aksi pemerintah. Namun, kita yang sudah mengenyam pendidikan tinggi tidak boleh berpangku tangan begitu saja. Bagaimanapun kita harus mengakui bahwa tidak semata kepintaran kita yang membuat kita bisa menempuh pendidikan tinggi, tetapi lebih dari itu, kesempatanlah yang membuat kita bisa merasakan bangku kuliah. Maka, kalau dipikir kita punya tanggung jawab terhadap mereka yang tidak bisa merasakan kesempatan tersebut karena faktor biaya. Kita yang mengaku terpelajar harus berbuat semampu kita, walaupun itu remeh. Paling mudah adalah mengumpulkan dana alumni. Penulis mengisiasi gerakan kecil ini dari lingkungan sekitar, teman-teman semasa kuliah. Bagi alumni perguruan tinggi besar seperti ITB, cukup mudah bagi kami untuk mengeluarkan lima puluh sampai seratus ribu seorang, dan kami bisa mengumpulkan sekitar dua sampai tiga juta rupiah sebulan untuk disalurkan ke pelajar-pelajar yang membutuhkan. Dana sejumlah itu baru dari satu angkatan dan satu jurusan sejumlah kira-kira seratus lima puluhan orang. Bayangkan masifnya potensi dana yang terkumpul jika bisa mengelola dana dari seluruh alumni perguruan tinggi di Indonesia.

Kita memang harus peduli dan bergerak menyikapi kondisi pendidikan Indonesia. Mengharapkan aksi pemerintah terlalu lama, dan daripada hanya menyesali kondisi yang ada, setiap insan yang peduli akan masa depan Indonesia harus peduli untuk ikut memikirkan perbaikan sistem pendidikan di Indonesia. Semangat untuk menempuh pendidikan tinggi harus selalu kita sebarkan kepada siapapun. Bukan karena untuk memotivasi bahwa dengan pendidikan tinggi maka seseorang pasti terjamin kelak hidupnya akan makmur kaya raya. Bukan pula dengan pendidikan tinggi seseorang nanti akan mendapat strata sosial yang tinggi di masyarakat. Itu semua hanya efek samping dari pendidikan. Tetapi, hal yang terpenting dari pendidikan adalah sesuai dengan peribahasa latin; non vitae, sed scholae discimus. Jika diterjemahkan bebas maka artinya “kita sekolah bukan untuk mendapatkan gelar, tetapi belajar arti hidup”. Setiap orang yang menempuh pendidikan tinggi pasti bisa memahami apa maksud kalimat bijak ini. Memang bukan semata soal ilmu dan gelar yang hendak ingin kita raih, tetapi lebih dari itu, mentalitas yang baik dan kuat adalah keluaran utama dari pendidikan.

Masalah ilmu dan keterampilan itu bisa dipelajari dimana saja. Kekayaan pun jika memang sudah rejeki dari Tuhan maka tidak akan kabur, tetapi mentalitas itu dibangun lewat pendidikan. Negara-negara maju bisa mengatur negaranya dengan mudah karena masyarakatnya tertib. Ketertiban tersebut bukan merupakan sifat dasar dari bangsa mereka, tetapi adalah akumulasi tahunan dari apa yang mereka ajarkan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas. Bangsa Eropa mendidik betul perihal kedisiplinan dan kejujuran. Siswa sekolah harus menerima untuk dimarahi oleh gurunya pada saat terlambat sekolah atau menyontek pada saat ujian. Begitu pula seorang pelajar diajari untuk selalu menghargai kerja keras dan mandiri sejak mereka pertama kali masuk bangku sekolah. Hal inilah yang belum muncul di Indonesia. Seringkali penulis berpikir apakah mungkin budaya kita yang memiliki toleransi terlalu tinggi yang membuat kita tidak bisa menanamkan nilai-nilai seperti itu. Di Indonesia, mungkin orangtua murid akan tersinggung jika anaknya dimarahi oleh gurunya, walaupun memang terbukti anak itu salah.

Sedangkan dari sisi konten pendidikan, hal yang menarik untuk digarisbawahi adalah konten mata pelajaran di Indonesia terlalu sulit. Di Eropa dan Amerika Serikat, siswa baru belajar membaca pada saat umur tujuh atau delapan tahun. Sementara sekarang tren yang sedang terjadi di Indonesia adalah orangtua merasa malu pada saat anaknya lulus taman kanak-kanak (TK) tetapi belum lancar membaca.

Di Belanda, pelajaran yang diajarkan jauh lebih mudah dari kurikulum di Indonesia. Siswa di Belanda tidak perlu berpusing-pusing seperti siswa di Indonesia. Kalau kita mau berpikir logis, seharusnya kita dapat menyimpulkan bahwa dengan muatan kurikulum yang lebih ringan, Belanda tetap memiliki sumber daya yang lebih unggul dibandingkan Indonesia, dan kemampuan sumber daya itu tentu dibentuk dari sistem pendidikan mereka. Pendidikan di Indonesia, terutama dari dasar sampai menengah, terkesan terlalu dipaksakan. Siswa dijejali oleh materi yang sangat banyak, dan pada akhirnya mereka akan hanya menghapal, tanpa memahami apa konsep dibalik materi itu.

Berdasarkan sistem pendidikan yang ada sekarang, penulis jadi berpendapat jika di Indonesia siswa dituntut untuk ahli di segala macam bidang, mulai dari Matematika, Sejarah, sampai Bahasa. Fenomena ini sangat aneh, karena tidak sesuai dengan kodrat manusia. Di Eropa dan banyak negara maju, pendidikan sangat memanusiakan peserta didik. Siswa hanya dituntut untuk memahami dasar-dasar dari setiap pelajaran dengan baik. Bahwa setiap siswa memiliki ketertarikan masing-masing, maka kemudian siswa mendalami pelajaran yang betul-betul menjadi minatnya. Matematika dengan kadar kerumitan seperti di Indonesia tentu juga dipelajari di Belanda, tetapi hanya untuk siswa yang berbakat dan tertarik, bagi yang tidak tertarik mereka tidak perlu mendalami.

Sistem pendidikan seperti di Belanda tersebut sangat manusiawi, karena setiap orang hanya dituntut untuk menjadi ahli di bidang yang dia memiliki minat mendalam. Dengan mekanisme seperti ini juga, siswa menjadi lebih bertanggung jawab terhadap pilihannya. Tidak seperti di Indonesia, dengan beban pelajaran yang semakin berat, pada akhirnya siswa hanya memiliki orientasi untuk mendapatkan nilai akhir yang bagus, tanpa peduli seperti apa prosesnya walaupun mungkin itu dengan jalan yang tidak baik. Kejadian ini lumrah ditemui, dan kita tidak hanya bisa menyalahkan siswa, bisa jadi hal tersebut terjadi karena sistem pendidikan kita yang salah. Tentu mentalitas seperti ini sangat berbahaya, bayangkan jika mereka menjaga mental berorientasi hasil tersebut sampai mereka terjun ke masyarakat, tentu akibatnya sangat fatal.

Belum lagi jika kita berbicara masalah “keseimbangan derajat” antara pendidikan eksak dengan pendidikan sosial. Penulis masih ingat betul kejadian yang dialami pada saat penulis duduk di bangku sekolah menengah. Pada waktu itu, penulis ingin melanjutkan kuliah di bidang sastra atau sejarah karena memang sejak sekolah dasar penulis selalu mendapatkan nilai bagus untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah. Tetapi, guru-guru waktu itu menyarankan agar penulis mengambil pendidikan teknik karena mata pelajaran eksak seperti Matematika, Fisika, dan Kimia penulis masih mampu mendapatkan angka tujuh atau delapan. Pada akhirnya penulis memang bisa diterima di perguruan tinggi teknik dan bisa lulus dengan baik, bahkan melanjutkan pendidikan sampai tingkat magister dan doktoral. Namun, penulis menyadari bahwa sebetulnya itu adalah bakat yang dipaksakan. Artinya, jika waktu itu penulis mengambil pendidikan sastra atau sejarah, mestinya penulis bisa mendapatkan hasil studi yang lebih bagus lagi, karena memang disitulah terbukti bakat dan minat penulis berada.

Penulis mengerti jika di waktu itu guru-guru sama sekali tidak berniat buruk mengarahkan penulis untuk menempuh pendidikan teknik. Tentu beliau semua berpendapat dengan mengambil pendidikan teknik maka peluang karir lebih terbuka lebar daripada jika mengambil pendidikan sastra atau sejarah. Namun, pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian tersebut adalah secara tidak sadar di alam pikiran masyarakat Indonesia sudah terbentuk stigma negatif terhadap pendidikan sosial. Bahwa pendidikan sosial adalah pendidikan kelas dua, dan juga bahwa pendidikan sosial tidak bisa menjanjikan masa depan yang lebih cerah dibandingkan dengan pendidikan eksak. Hal ini bisa menjadi preseden yang buruk. Kita tidak boleh memandang suatu ilmu lebih unggul atau lebih rendah dari ilmu yang lain. Tidak ada komparasi antar ilmu, masing-masing ilmu sifatnya adalah melengkapi. Hal yang tidak kalah bahayanya adalah karena mungkin siswa mengambil pendidikan yang tidak mencerminkan bakat dan minatnya, maka kemampuan dari setiap individu jadi tidak bisa tereksplorasi dengan baik. Tentu ini adalah kerugian bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Pada akhirnya, tentu banyak hal yang harus dibenahi terkait dengan sistem pendidikan di Indonesia. Tanggung jawab untuk membenahi sistem tersebut ada di pundak kita semua, kita semua yang peduli bahwa nanti bangsa Indonesia harus berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa yang sudah maju tanpa perlu kita punya perasaan inferior. Untuk mencapai itu semua, sekali lagi pendidikan adalah kunci, no other national resources more valuable than human minds.

Ditulis di Groningen, Belanda

Senin, 25 Februari 2012

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Menelaah Sistem Pendidikan Indonesia

  1. Namun apa yang terjadi disekolah Indonesia?!?!?! Kegiatan utama hanya untuk menghafal dan menghafal tanpa memahami makna dasarnya. Pendidikan tentang moral (budi pekerti/Akhlak) juga kurang mengena, karena anak dituntut untuk menghafal bukan praktek.
    Segalanya berbeda jauh dengan konsep sekolah di luar seperti dipaparkan penulis.
    Karena itu saat ini sekolah di Indonesia menjadi salah satu Mesin Pembunuh minat dan bakat buah hati tercinta.,,
    Karena sekarang ini untuk masuk sekolah kudu wajib ikutan berbagai test guna mengetahui keMAMPUan calon murid. Mulai test calistung sampai test IQ.
    Lha.,,.kalo udah mampu dan paham tentang semua hal ngapain sekolah ?!?!?!
    Ya.,,.daripada ribet memikirkan ataupun meratapi carut marut dunia pendidikan nasional mending kita mencari solusi bagi kita dan keluarga tercinta.,., paling tidak kita mulai dari keluarga kita masing-masing.
    Ayo berbagi SOLUSI demi Indonesia Yang LEBIH BAIK !!!!!
    Kalau Kita MAU.,.,Pasti BISA !!!!
    Kalau Bukan KITA.,.,SIAPA Lagi ?!?!?
    Kalau Bukan SEKARANG.,,.KAPANG Lagi ?!?!?
    Let’s Make Indonesian Strong from Home.,.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s