Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Holycow Steakhouse: Lembutnya Daging Wagyu

Leave a comment

Jalan Bakti No. 15, Senopati, Jakarta Selatan; Rp 150.000–200.000

Steak sirloin dengan saus jamur.

Steak sirloin dengan saus jamur.

Belakangan ini steak daging wagyu sangat populer di dunia kuliner warga Jakarta dan sekitarnya. Saya dan isteri pun tidak terkecuali menjadi bagian dari gelombang pecinta kuliner yang ingin mencoba apakah steak jenis ini memang selezat sesuai dengan popularitasnya. Sejak saya masih di Belanda, isteri sudah bilang ingin mencoba, dan atas rekomendasi teman, kami akhirnya memilih Holycow Steakhouse di Senopati, Jakarta. Lokasi cukup mudah dicapai, dari Senayan Anda masuk ke Senopati dan lurus terus sekitar 1,5 km sampai menemukan Jalan/Taman Mpu Sendok di kiri jalan. Setelah itu, Anda akan menemukan Jalan Bakti I dan belok kirilah maka restoran Holycow akan Anda temui di sisi kiri jalan.

Warna merah yang mendominasi.

Warna merah yang mendominasi.

Begitu sampai, saya agak terkejut karena ternyata ukuran restoran cukup kecil, kapasitasnya kira-kira 30-40 kursi saja, dengan dapur berada di bagian depan seperti pada restoran masakan Cina. Meskipun demikian, tempatnya bersih dan ditata dengan cukup baik. Warna merah mendominasi dinding dan lampu. Saya memang pernah membaca bahwa merah banyak dipilih sebagai warna favorit tempat makan, karena warna ini bertipe merangsang selera makan.

Singkat cerita, kami berdua pun disodori menu. Ternyata tidak cumasteak daging wagyu yang ada di restoran ini, ada juga angus beef dan steak daging sapi dari Australia. Setelah berpikir beberapa saat, kami berdua memilih wagyu. Saya pilih sirloin, yang memang merupakan bagian daging favorit saya, dan isteri memilihtenderloin, daging tanpa lemak, masing-masing seberat 200 gram. Pelanggan bisa memilih tingkat kematangan daging steak dibakar. Saya pilih medium, karena memang daging yang bermutu seharusnya dinikmati dalam kondisi yang segar, sehingga citarasa dagingnya keluar, sedangkan isteri, karena tidak suka masih ada bau daging memilih well done. Saya memilihmushroom sauce yang merupakan chef recommendation, dan isteri memilih barbeque sauce. Untuk pelengkapnya, saya memilih mashed potatoes dan buncis, isteri memilih fried potatoesdan bayam. Untuk minumnya kami memilih ice green tea dan ice lemon tea.

Menu.

Menu.

Tidak sampai dua puluh menit, pesanan pun sampai ke meja, segera kami menyantapnya. Begitu masuk ke mulut, tagline yang ditulis di menu bahwa pelanggan daging wagyu “are already addicted with its tenderness” memang tidak bohong. Daging meresap lembut di lidah. Sampai suapan terakhir, saya tidak menemui bagian daging yang alot. Steak di restoran ini merupakan jenis yang “less tasty”. Artinya, daging steak dipanggang dengan bumbu minimalis, sejauh yang bisa ditangkap oleh lidah saya, daging dipanggang dengan minyak (mungkin zaitun), merica dan garam. Kadang orang Indonesia kurang akrab dengan metode pembumbuan steak seperti ini, karena bagi kita yang akrab dengan makanan berbumbu, banyak ditemui daging steak yang dipanggang dengan terlebih dahulu dicelupkan ke bumbu saus lebih digemari orang-orang.

Steak tenderloin saus bbq

Saya sendiri suka dengan steak yang “less tasty” karena kelezatan daging jadi lebih menonjol. Untuk rasa, bisa didapatkan dari saus dan pilihan saya akan mushroom sauce tidak salah, sausnya lezat, lebih enak dari barbeque sauce yang dipilih isteri saya. Namun, saya agak mengeluhkan komposisi lemak yang terlalu banyak di daging sirloin, sehingga steak jadi sangat berair. Saya mencoba sedikit steak tenderloin isteri dan rasanya juga enak. Mashed dan fried potatoes yang menemani steak juga nikmat. Namun, buncis dan sayur yang ditumis dengan bawang putih menurut saya agak aneh. Dengan daging yang sudah enak, lebih baik kalau sayuran disajikan juga dengan “less tasty”, sehingga semua jadi senada. Untuk urusan minum,ice tea nya biasa, namun sisi positifnya adalah Anda dapat mengisi ulang (refill) dengan gratis sepuasnya.

Selesai makan, kami pun membayar. Untuk semua menu yang sudah disebutkan, harga yang harus dibayar sebesar Rp 352.908. Cukup mahal untuk kantong kami, tetapi sekali-kali makansteak disini setiap 3-4 bulan masih boleh lah.

Jakarta, 1 Juni 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s