Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Waroeng Kencur: Oasis di Panasnya Jalur Pantura

Leave a comment

Jalan Raya Banjarsari Km 91, Probolinggo, Jawa Timur; Rp 20.000–25.000/porsi

Luas, bersih, adem.

Luas, bersih, adem.

Sewaktu kunjungan terakhir ke Jember bulan Nopember tahun lalu, saya agak menyesal, karena tidak sempat sarapan di Bandung, kami terpaksa harus brunch begitu sampai di Bandara Juanda, dan akibat perut sudah kenyang, kami tidak bisa makan lagi di perjalanan dari Bandara Juanda ke Jember. Oleh karena itu, di kunjungan kemarin, saya dan isteri sudah meniatkan bahwa kami harus sarapan dulu di Bandung, supaya nanti di tengah perjalanan darat bisa menikmai kuliner di jalur Pantura.

Begitu sampai Juanda, Ricky, sohib sekampung saya sejak SMP sudah bersiap menjemput. Di perjalanan, saya bertanya ke Ricky, nanti baiknya makan siang dimana. Dia menyarankan di Waroeng Kencur. Saya pun setuju karena saya juga sudah mendengar reputasi baik tempat makan ini dari Embong, teman saya SMA, dan Pak Asmoro, teman kuliah di Rijksuniversiteit Groningen.

Lalapan iwak pe (ikan pari asap).

Lalapan iwak pe (ikan pari asap).

Kami start dari Juanda sekitar jam 10 pagi, dan jam 12 siang kami sudah sampai di Waroeng Kencur. Lokasi sangat mudah diidentifikasi karena tepat berada di pinggir jalan besar. Jika Anda mengarah ke timur (Jember, Banyuwangi, Situbondo, dsb) pasti menemukan warung ini. Lokasinya kira-kira beberapa saat sebelum Anda masuk Probolinggo.

Begitu sampai lokasi, saya terkesan dengan suasana Waroeng Kencur. Ekspektasi awal saya adalah restoran biasa sebagaimana umumnya tempat persinggahan yang banyak didapati di jalur Pantura. Tetapi Waroeng Kencur ini lain. Suasana yang diusung adalah tempat terbuka dengan atap yang tinggi. Meja dan kursi diatur dengan jarak yang memadai sehingga menciptakan suasana lega. Restoran didominasi warna coklat, ditambah dengan dengan meja dan kursi panjang dari kayu-kayu kuno seberat ratusan kilogram, makin mengesankan nuansa Jawa klasik.

Menu yang digantung di dinding.

Menu yang digantung di dinding.

Semua kombinasi tersebut membuat kesan adem tertanam di benak pengunjuk. Saya salut dengan pilihan desain pengelola restoran, jalur Pantura terkenal dengan daerah panas, menciptakan suasana adem jelas daya tarik yang sangat menggoda bagi pengunjung. Faktor lain yang juga tidak kalah penting adalah kebersihan. Saya orang yang cenderung malas untuk makan di restoran-restoran jalur Pantura, karena biasanya tempatnya agak jorok. Tetapi di Waroeng Kencur berbeda. Saya tidak menemui puntung-puntung rokok dan bekas tisu yang berserakan di meja atau lantai. Waktu saya ke toilet, surprisingly juga sangat bersih.

Kami bertiga pun mencari menu dan memesan makanan. Sekali lagi saya salut, sebagaimana pembaca dapat melihat di foto, pengelola restoran memasang papan menu besar di tembok, sehingga pengunjung tidak perlu lagi disodori menu sebagaimana umumnya di restoran. Tentu ide ini tidak baru, tetapi harus diakui Waroeng Kencur mengemas ide ini dengan sangat baik. Papan menu disebar di beberapa tempat, sehingga pengunjung yang duduk di posisi manapun dapat melihatnya dengan jelas. Pemilihan ukuran huruf dan gradasi warna juga tepat. Contohnya, tanpa dijelaskan pun pengujung dapat menebak bahwa menu-menu yang diberihighlight warna kuning pastilah merupakan chef recommendation. Ini adalah contoh aplikasivisual display yang amat baik bagi mahasiswa Teknik Industri.

Lalapan ayam kampung goreng.

Lalapan ayam kampung goreng.

Singkat cerita, pilihan menu makanan jatuh ke Penyetan Ayam Kampung Goreng, Lalapan Ala Kencur, Dadar Jagung, dan Soto Madura Jerohan. Untuk minumnya, kami memilih Es Dawet, Es Jeruk, dan Es Buah Segar. Tidak berapa lama kemudian pesanan datang. Lalapan Ala Kencur terdiri dari ikan pe (ikan pari yang diasap), tempe, tahu, dan terong yang dipenyet ke sambel terasi, begitu pula dengan Lalapan Ayam Kampung Goreng. Sebagaimana umumnya lalapan ala Jawa Timur, sayuran pendamping berupa kubis dan kacang panjang direbus terlebih dahulu, hanya kemangi dan timun yang disajikan mentah. Sedangkan Soto Madura disajikan dengan soto yang sudah bercampur nasi, sebagaimana umumnya di Jawa Timur. Untuk minumannya, menurut kami segar di tengah siang yang panas, tetapi anehnya es buah tidak memakai susu, mungkin untuk menonjolkan kesegaran dari buah.

Warung tetap ramai saat jam 1 dini hari.

Warung tetap ramai saat jam 1 dini hari.

Saya membayar di kasir dan disodori harga Rp 73.000. Harga yang sangat murah untuk orang yang sudah terbiasa hidup di Jawa Barat. Sewaktu kembali menuju Juanda empat hari kemudian, saya dan isteri kembali mampir ke Waroeng Kencur. Waktu itu sudah jam 00.30 dini hari. Perlu pembaca ketahui, restoran ini buka 24 jam non-stop, sebagaimana galibnya tempat makan di jalur Pantura. Di malam itu kami memesan nasi goreng kampung pedas dan tahu petis. Pesanan datang dan kami agak kecewa dengan makanan. Nasi gorengnya tidak panas dan yang paling aneh bumbu tahu jelas bukan petis, tetapi hanya kecap bercampur cabe rawit.

Walaupun demikian, dengan suasana restoran yang tetap nyaman di dini hari, overall kami tetap merasa puas dengan dua kali kunjungan ke Waroeng Kencur. So, bagi Anda yang sedang lewat jalur Pantura sekitar Pasuruan-Probolinggo, saya sangat merekomendasikan untuk mampir ke tempat kuliner yang satu ini.

Probolinggo, 5 Juni 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s