Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mie Kocok Bandung? Ya Mang Dadeng

Leave a comment

Jalan Banteng No. 67, Bandung, Jawa Barat; Rp 20.000–25.000/porsi

Mih kocok

Mih kocok

Kalau Anda bertanya ke orang Bandung mie kocok mana yang enak, rasanya hampir semua akan merekomendasikan ke Mang Dadeng. Ya, kuliner ini memang sudah endeared di kalangan warga ibukota bumi Parahyangan. Begitu juga malam itu, setelah dari BEC, awalnya saya ingin makan berat, tapi karena Uca bilang masih kenyang, maka meluncurlah kami ke Mang Dadeng yang mie kocoknya sudah legendaris ini.

Banyak rute menuju lokasi, tetapi bagi Anda yang belum pernah kesini paling mudah adalah lewat jalan Riau (R.E. Martadinata) supaya tidak tersasar. Dari persimpangan jalan Dago-Riau, susurilah terus jalan Riau, Anda akan bertemu perempatan Ahmad Yani, perempatan Gatot Subroto, dan teruslah sampai bertemu jalan Pelajar Pejuang, di jalan ini, sebelum belokan ke Buah Batu Anda akan bertemu Hotel Horison di sisi kiri jalan. Di seberang hotel, ada jalan, itulah jalan Banteng tempat mie kocok Mang Dadeng. Kalau ingin naik angkot, Anda bisa naik angkot biru Kalapa-Buah Batu ke arah Buah Batu, angkot akan lewat jalan Banteng tepat di muka warung.

Waktu itu kami sampai warung sudah hampir jam 8 malam, tetapi sebagaimana pembaca dapat melihat di foto, pembeli masih menyesaki warung, ini menunjukkan betapa terkenalnya kuliner ini di Bandung. Suasana warung tidak bisa dibilang ekslusif, sangat sederhana malah, hanya terdiri dari meja panjang dan kursi biasa. Jangan berharap ada air conditioner, hanya ada kipas angin. Oleh karena itu, di waktu warung penuh dengan pengunjung, dan mengingat lokasi warung yang ada di Bandung bagian selatan, Anda akan mendapati suasana yang cukup panas.

Warungnya kecil dan agak panas

Warungnya kecil dan agak panas

Namun, semua hal itu tidak mengurangi semangat pengunjung untuk mencicipi lezatnya mie kocok, termasuk kami berdua malam itu. Kami memesan mih kocok biasa, minumnya es teh tawar dan es teh manis. Sebenarnya menu spesial dari warung ini adalah mih kocok dengan sumsum, tetapi karena sudah malam, kami harus kecewa kehabisan menu andalan itu.

Ustadz Uca yang berkharisma, berwibawa, dan multi-talenta

Ustadz Uca yang berkharisma, berwibawa, dan multi-talenta

Menu diracik di bagian depan warung dan tidak berapa lama pesanan sampai di meja kami. Bagi Anda yang belum pernah makan mie kocok Bandung, isi dari kuliner ini adalah mie pipih panjang, tauge, kikil sapi, disiram dengan kuah kaldu dan ditambahi pelengkap bawang goreng dan seledri. Saya menyeruput kuah dan sensasi pertama yang masuk ke lidah adalah segarnya yang mantap, tetapi tetap ada cita rasa kuah kaldu sapi yang istimewa. Dilanjutkan dengan menyendok kikil dan ternyata kikilnya sangat empuk, ini menunjukkan bahwa proses memasak tidak sembarangan. Berdasarkan pengalaman saya memasak, dua hal, yaitu empuknya daging (dalam hal ini kikil) dan gurihnya kaldu adalah dua variabel yang tidak mudah secara bersama-sama dioptimasi. Anda bisa membuat kaldu yang sangat gurih, tetapi kikil menjadi lembek karena terlalu matang, atau sebaliknya, Anda membuat kikil yang tidak terlalu lembek tetapi kaldunya kurang gurih. Mih kocok Mang Dadeng bisa memadukan keduanya, kikil yang empuk dan tidak lembek juga kaldu yang gurih, ini yang membuat cita rasanya istimewa.

Sebagaimana umumnya masakan Sunda, filosofinya berbeda dengan masakan Jawa. Kalau masakan Jawa mengandalkan bumbu yang kaya, masakan Jawa Barat justru memakai bumbu yang minimalis, yang ditonjolkan adalah kesegaran bahan-bahannya. Begitu pula dengan mih kocok Mang Dadeng, Anda akan dimanjakan dengan cita rasa segar, untuk urusan bumbu, tidak terlalu terasa. Bagi Anda yang ingin lebih berbumbu, tersedia garam, kecap, cuka, dan sambal di meja.

Kami menyantap mih kocok dengan kerupuk aci (kanji), dan tidak terasa dua mangkuk kami habiskan dengan cukup cepat. Waktu hendak pulang saya membungkus satu mih kocok lagi untuk Ibu mertua. Untuk semua pesanan itu, saya membayar Rp 63.500. Harga yang worth ituntuk mih kocok legendaris di Kota Kembang.

Bandung, 20 Juni 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s