Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Warung Nasi Tradisional Khas Sunda Bu Tatang: feels like home

Leave a comment

Sekeloa, Sekitar Dipati Ukur-Tubagus Ismail, Bandung; Rp 10.000–15.000/porsi

Dapur dan tempat makan yang jadi satu

Dapur dan tempat makan yang jadi satu

Pagi itu saya berangkat dari rumah mertua Ciwastra menuju Kampus ITB untuk dua tujuan, pertama adalah transaksi di bank dan kedua silaturahim dengan teman-teman dosen di TI ITB. Sampai lokasi perut terasa lapar, wajar karena saya berangkat sebelum jam 7 pagi tanpa sempat sarapan terlebih dahulu. Saya pun segera mengontak para Laskar Pajang mahasiswa-mahasiswa “senior” KMJB yang masih tersisa di Bandung; Uca, Zain, dan Brili untuk sarapan bersama, mereka mengusulkan untuk sarapan di Bu Tatang.

Bicara soal warung Bu Tatang, dari dulu saya selalu penasaran. Waktu masih indekos di mabes Jomblo di Cisitu Lama, teman-teman seringkali bilang soal warung ini, dari mulai makanannya yang enak, sambelnya yang maknyus, dsb, tetapi entah kenapa saya sekalipun tidak pernah singgah di warung tersebut. Maka, begitu kemarin ada kesempatan, segera kami berempat meluncur ke tempat makan yang katanya jadi favorit mahasiswa ini.

Kami berempat naik motor, dan terus terang bagi Anda yang tidak tinggal di kawasan Dago-Coblong, Kota Bandung, Anda akan cukup kesulitan untuk menemukan lokasi yang dituju. Ancer-ancer paling mudah adalah masuklah ke jalan Dipati Ukur dari perempatan Simpang Dago (McD). Sekitar 1 km berjalan, Anda akan ketemu pom bensin di kanan jalan, di seberang pom bensin ada jalan ke kiri, itulah jalan menuju Sekeloa. Masuklah ke jalan itu, setelah beberapa saat Anda akan bertemu Indomaret di sisi kiri jalan dan di depannya ada persimpangan, ke kiri dan ke kanan. Jangan ambil arah ke kiri, karena itu menuju Tubagus Ismail, ambil ke arah kanan dan berjalanlah terus ikuti jalan sampai bertemu pengkolan, tidak jauh sekitar 300 m Anda akan bertemu warung Bu Tatang di sisi kanan jalan. Meskipun jalan menuju warung dapat dilalui mobil, saya tidak menyarankan Anda pakai mobil, karena akan susah parkirnya.

warung yang sederhana

warung yang sederhana

Setelah blusukan dan sampai di warung, kami segera memilih menu. Pembaca dapat melihat di foto bahwa tempat penyajian menu bersatu dengan dapur. Waktu itu kami memilih ikan kembung, ikan mujair, udang, ayam goreng, sayur bayam, sayur sop, dan printilan dadar jagung, tempe, tahu dan jumlahnya belasan. Untuk minumnya kami minta es teh manis, teh anget manis dan teh tawar. Brili yang datang terlambat memilih udang, tempe dan tahu, serta teh anget manis. Waktu itu kami datang jam 8 pagi, beberapa sayur masih sedang dimasak dan Uca yang ingin makan empal juga harus kecewa karena empal dagingnya belum matang.

Sambil menunggu makanan dihangatkan, kami mencari tempat duduk dan mengobrol. Anda bisa duduk di meja panjang, di sofa sambil nonton TV atau lesehan, kami memilih yang terakhir supaya lebih santai. Uca memulai percakapan bahwa yang paling dia suka dari warung Bu Tatang adalah rasa masakannya yang sangat rumahan, terutama sambel terasinya yang juara. Zain menyambung bahwa semua teman-temannya yang datang kemari tidak ada yang kecewa, dan dia juga bilang bahwa harga-harga disini amat murah, contohnya es teh  manis yang cuma 1.000 rupiah per gelas, setengah dari harga pada umumnya. Brili menutup pembicaraan bahwa saking larisnya, jam 11 semua makanan disini sudah habis. Saya hanya mengangguk-angguk sambil melihat-lihat lokasi warung. Ternyata memang warung ini sangat bersahaja, berada di sebuah rumah sederhana, namun tetap tercipta kesan nyaman dan bersih.

menu rumahan yang menggugah selera, sambel terasinya maknyus

menu rumahan yang menggugah selera, sambel terasinya maknyus

Pesanan kami pun datang. Nasi disajikan dalam bakul, dan lauk pauk ditempatkan dalam wadah beralaskan daun pisang. Tidak ketinggalan lalapan dan sambelnya. Saya menciduk nasi, dan setelahnya saya mencocolkan tempe goreng ke sambel, ternyata memang sambelnya sesuai reputasinya, enak tenan. Langsung saja saya sikat dengan ikan mujair dan udang, yang ternyata juga gurih. Dadar jagungnya juga maknyus, sampai teringat bikinan Ibu di rumah. Sayur sop dan bayam datang belakangan, dan kesegarannya sangat terasa begitu melewati kerongkongan.

Setelah makan, kami membayar, dan total harga yang harus dibayar sebesar Rp 55.000. Tentu harga ini sangat murah untuk makanan empat orang, apalagi Zain masih menambah segelas es teh manis. Sekarang saya paham apa yang membuat teman-teman kerasan makan di Bu Tatang. Selain harganya yang murah, menunya juga bisa mengobati kerinduan akan cita rasa makanan di rumah di kampungnya masing-masing. Sebagai contoh sambelnya, meskipun terasinya tidak sama persis dengan di Jember, tetapi perpaduan terasi, cabe, tomat, garam, dan gula nya sangat pas. Sambelnya bisa mengobati kebosanan akan sambal pecel lele yang cenderung hambar. Begitu pula sayur sop yang memadukan dengan pas antara kesegaran sayur dengan panasnya merica. Sayur bayam, meskipun saya tidak menemukan rasa bumbu rempah-rempah kunci (ini bahasa Jawa, saya tidak tahu bahasa Indonesia nya), rasanya tentu lebih enak daripada sayur bayam di warung-warung yang lain. Semua itu membuat mahasiswa dari berbagai latar belakang suku datang ke warung Bu Tatang, yang rasanya memang nyaman ongguh. Sayangnya skala usaha Bu Tatang ini masih kecil. Nanti selesai S3 dari Belanda coba saya dekati beliau, siapa tahu kami bisa membuka usaha kuliner yang besar di Kota Kembang, hehehe.

Bandung, 21 Juni 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s