Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Bakmi Jowo DU67: Mengobati kerinduan orang Jawa di Bumi Parahyangan

Leave a comment

Jalan Dipati Ukur No. 67, Bandung, Jawa Barat; Rp 25.000–30.000/porsi

Bakmi jawa pedas

Bakmi jawa pedas

Yen wong lagi gandrung, ra peduli mbledose gunung, yen wong lagi naksir, ra peduli perang nuklir (kalau orang sedang kasmaran, tidak akan peduli gunung meletus, kalau orang sedang naksir, tidak akan peduli perang nuklir). Begitulah penggalan lagu campursari yang diputar di Bakmi Jowo DU67 waktu saya dan istri mampir kesana di penghujung bulan Juni 2013 lalu. Sore itu hujan turun cukup deras, kondisi cuaca yang seperti itu makin menguatkan keinginan kami untuk makan bakmi, tentu nikmat kalau di cuaca yang dingin makan bakmi panas. Memang kami berdua sering makan disini, bahkan awal-awal masih pedekate juga dulu saya mengajak istri (waktu itu masih calon pacar) untuk makan disini, ternyata dia juga suka. Tetapi tanpa bumbu romantisme masa muda pun cita rasa di restoran ini memang istimewa, inilah yang coba diulas di tulisan kali ini.

Saya mengenal tempat makan ini sejak masih mahasiswa, karena seringkali lewat jalan Dipati Ukur, lama-kelamaan saya melihat ada restoran ini di pinggir jalan. Bagi Anda yang bukan orang Bandung, ancer-ancernya adalah dari McD di Simpang Dago. Dari situ masuklah ke Jalan Dipati Ukur, teruslah berjalan ke bawah kira-kira 1 km sampai bertemu ITHB dan toko pakaian Vilour di kiri jalan. Di depan Vilour ada jalan ke kanan, beloklah kesitu, Bakmi Jowo DU67 tepat berada di ujung belokan. Parkir motor tersedia di sebelah restoran. Untuk parkir mobil, Anda harus agak bersusah payah untuk mencari tempat parkir di pinggir jalan di sekitar situ. Kalau Anda tidak membawa kendaraan pribadi, Anda bisa naik Angkot Cicaheum-Ciroyom atau Riung-Dago, dua angkot itu lewat Jalan Dipati Ukur, minta saja diturunkan di ITHB, dari situ tinggal berjalan sedikit.

Suasana warung yang sangat "Jawa"

Suasana warung yang sangat “Jawa”

Sampai di lokasi, Anda akan mendapati suasana yang sangat Jawa. Dari bangunannya yang didesain seperti rumah bambu jaman dahulu, lagu campursari yang diputar, sampai ke pegawai restoran yang bermuka dan berlogat Jawa. Begitu pula dengan menunya, serba Jawa dengan bakmi sebagai andalannya. Saya dan istri sama-sama menyukai Bakmi Godhog, istri memesan bakmi godhog pedas, saya memesan bakmi godhog sedang dengan tambahan ati. Godhog dalam bahasa Jawa berarti rebus, dan bakmi godhog adalah bakmi dengan kuah yang banyak. Kalau Anda tidak suka terlalu banyak kuah, bisa memilih yang nyemek atau sedikit kuah, atau bisa juga sekalian bakmi goreng. Untuk minumnya, kami memesan the tawar panas. Bagi Anda yang ingin minuman Jawa, andalan dari restoran ini adalah teh poci dengan gula batunya. Oiya, waktu itu kami datang sudah menjelang sore, maka dari itu kondisi restoran lengang, tetapi kalau Anda ingin datang di jam makan siang atau setelah Maghrib, maka bersabarlah, karena Anda akan mendapati restoran yang dipadati oleh pengunjung.

Camilan di meja

Camilan di meja

Pesanan Anda akan dimasak di bagian depan restoran. Terdapat beberapa koki yang memasak menggunakan kompor berbahan bakar arang. Memang makanan yang dimasak dengan arang citarasanya istimewa, meskipun secara kesehatan sebenarnya kurang baik. Pesanan pun datang. Pembaca dapat melihat di foto bahwa isi dari bakmi adalah mie yang lebar dan panjang, telor, suwiran ayam, sawi, semacam bahan dari kanji, cabe rawit, dan seledri. Anda akan menemukan sensasi yang luar biasa ketika menyeruput kuahnya, sungguh gurih. Perpaduan bumbunya begitu pas. Anda jangan bayangkan mie yang digunakan adalah mie telor seperti di tukang nasi goreng. Mie yang dipakai disini adalah mie bikinan sendiri dengan tepung kualitas pilihan. Bagi Anda yang ingin menambahkan rasa, di meja sudah disiapkan garam, merica, sambal dan cabe rawit mentah. Selain itu juga terdapat berbagai macam pelengkap, waktu itu kami memilih karak gendar (kerupuk beras) dan telor puyuh.

Selesai menyantap makanan, kami sholat dulu, karena ketika itu sudah masuk waktu Ashar. Pemilik menyediakan mushola di bagian belakang. Ketika membayar, kami disodori harga Rp 57.000 sudah termasuk pajak restoran. Harga ini menurut saya pantas untuk kenikmatan dan suasana yang nyaman. So, bagi Anda yang ingin icip-icip bakmi, restoran ini sangat layak dikunjungi. Bagi orang Jawa, tempat ini sungguh bisa mengobati kerinduan akan kampung halaman, dan bagi yang bukan orang Jawa, tempat ini masih bisa menciptakan romantisme yang tersendiri, seperti sambungan lagu campursari waktu itu. Senadjan lagi bokek, direwangi nrethek-nrethek, jarene wis jodho, opo-opo duwek’e wong loro (walaupun sedang bokek, dibela-belain berhutang, kalau sudah jodoh, apa-apa sudah punya berdua).

Bandung, 28 Juni 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s