Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Benarkah cinta itu yang terpenting di sebuah pernikahan?

Leave a comment

Kira-kira dua minggu lalu, saya ditanya oleh seorang teman. Pertanyaanya sederhana, “Bagaimanakah kita bisa mendapatkan keyakinan bahwa seseorang itu adalah orang yang tepat untuk menjadi suami/istri/pasangan hidup kita?”. Pertanyaan ini klasik, dan sudah milyaran kali muncul di dunia ini. Teman saya ini belum menikah, dan karena saya sudah menikah, tentu ekspektasinya saya bisa menjawab pertanyaan dia. Saya coba berpikir sebentar, tetapi tetap saja sulit menjawabnya dalam kalimat yang sederhana.

Sebenarnya mudah saja bagi saya menjawabnya. Kalau dari pengalaman saya, tentu harus ada ketertarikan dulu dari kita ke calon pasangan, kemudian ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi oleh calon istri. Seagama, pembicaraan nyambung, lulusan ITB (lulus cum laude lebih diutamakan-), sifat-sifatnya bagus untuk mendidik anak-anak nanti, kira-kira cocok dengan keluarga, mendukung cita-cita saya, dsb, itu semua kriteria saya. Kemudian saya sholat istikharah. Jika petunjuk dari Allah positif maka lanjut, jika negatif ya berarti belum jodohnya.

Penjelasannya sederhana, tetapi bagi yang belum menjalankan sulit untuk membayangkan. Maka saya balik melontarkan pertanyaan, “Kamu tentu tahu orang yang sangat Islami, mereka ta’aruf, tidak pacaran, kemudian jika cocok langsung menikah 2-3 bulan kemudian. Ada juga orang-orang Jawa jaman dahulu, dijodohkan oleh orangtuanya dengan calon yang belum dikenal sama sekali, kemudian langsung menikah. Mereka yang masuk dua kelompok itu nyatanya bisa langgeng pernikahannya, kira-kira kenapa?”. Teman saya itu menjawab, “Mungkin karena keyakinan mereka begitu kuat, sehingga mereka bisa menjalani dan menerima pasangannya dengan ikhlas”.

Saya mengiyakan. Jawaban dia memang sangat tepat. Keyakinan (keimanan) adalah faktor kunci sehingga kita mendapatkan kemantapan hati bahwa memang seseorang itulah jodoh kita. Untuk orang yang sangat Islami tadi, keimanan terhadap Tuhannya membuat dia mantap bahwa Yang Di Atas telah mengatur jodohnya. Sedangkan untuk orang Jawa jaman dahulu, mereka yakin sekali bahwa pilihan orangtua terhadap masa depan anaknya tidak mungkin keliru.

Kalau diamati, ada sinergi antara kelompok orang Islami dengan orang Jawa jaman dulu. Keyakinan mereka itu adalah ketergantungan terhadap kekuatan (power) di atas hirarki mereka, dalam hal ini Tuhan dan orangtua. Nah, masalahnya, kita yang berpendidikan tinggi, relatif tidak mempunyai ketergantungan akan sesuatu tersebut. Bisa dibilang kita sangat bebas (independen) dalam memilih. Ternyata kebebasan itu terkadang justru membuat kita bimbang, benar tidak apa yang sedang kita putuskan ini.

Sampai disitu saya coba melangkah ke penjelasan selanjutnya, tetapi teman saya memotong, “Tetapi orang bule, mereka tidak beragama, mereka juga independen dari orangtuanya, bagaimana mereka bisa mendapatkan keyakinan jika mereka tidak bergantung kepada sesuatu?”. Sejenak saya tertegun. Kawan saya ini memang IPK-nya masuk persentil 95 sejak jaman kuliah, pandangannya sungguh tajam.

Saya pun lanjut menjawab. “Dalam kasus orang bule, dan kasus orang-orang yang berpendidikan tinggi seperti kita, akhirnya masalah keyakinan terhadap calon pasangan hidup itu kembali ke masuk tidaknya dia ke kriteria yang kita tetapkan, selanjutnya tinggal dijalani”. Teman saya meng­­-counter, “Tetapi kriteria itu kan kita sendiri yang menetapkan. Bagaimana kalau suatu saat kriteria itu berubah, sehingga kita tidak cinta lagi ke pasangan kita, malahan bisa jadi kita jatuh cinta lagi ke orang lain?”.

Saya terdiam lagi, kawan saya ini sungguh cerdas. Saya jawab, “Justru pernikahan itulah proteksi supaya kriteria itu selalu benar, supaya kita tidak jatuh cinta lagi. Karena dalam pernikahan, tidak selalu cinta itu menjadi pondasinya”. Teman saya tampak kebingungan. Saya pun coba menjelaskan lagi. “Seringkali kita temui suami yang payah, sehingga istrinya yang harus bekerja keras. Kenapa tidak semua istri dalam kondisi seperti itu berbondong-bondong meninggalkan suaminya? Karena setelah sekian tahun hidup berumah tangga, cinta itu bukan lagi satu hal yang tunggal. Istri itu punya rasa kasihan, siapa yang akan mengurus suaminya nanti kalau dia tinggalkan, ada anak, dst. Istri itu punya semacam tanggung jawab bahwa dia dulu memilih suaminya dalam keadaan sadar, dan sekarang harus dijalani konsekuensinya, baik buruk harus dicari solusinya berdua”. Teman saya tampaknya mulai mengerti.

Memang, dalam pernikahan, banyak sekali faktor di luar cinta yang terlibat. Bukan lantas cinta tidak penting, tentu sangat penting. Tetapi menjadi munafik kalau kita harus selalu mengembalikan semuanya ke cinta. Perhatian, rasa iba, tanggung jawab, dsb itu juga faktor-faktor yang tidak kalah pentingnya. Ada suatu kisah. Khalifah kedua, Umar bin Khattab pernah memarahi seorang Muslim yang hendak menceraikan istrinya hanya dengan alasan dia sudah tidak cinta. Menurut Umar ini jelas tidak bisa dibenarkan, apa hak kita menceraikan hanya dengan alasan sudah tidak cinta lagi? Lalu dimana letak perhatian dan segala perawatan setelah hidup bertahun-tahun bersama? Apalagi jika sudah memiliki anak. Ini adalah contoh yang sungguh bagus. Berbeda dengan ajaran Barat, dimana cinta itu seolah adalah segalanya, sehingga dua orang yang sudah berumah tangga puluhan tahun pun dapat berpisah hanya karena alasan sudah tidak cinta lagi.

Sekarang kembali ke pertanyaan awal, bagaimana kita bisa mendapatkan keyakinan. Kalau menurut saya, itu tetap susah dijelaskan. Tetapi kembali, kita sayang ke calon pasangan, kita punya kriteria, dan selama calon pasangan kita itu masuk kriteria, dan kita cocok (klik kalau bahasa anak muda sekarang), jalani saja dahulu. Sementara itu kita bisa terus minta pertimbangan, ke keluarga, ke teman dekat, ke guru, dan tentu ke Yang Maha Kuasa. Keyakinan akan muncul dengan sendirinya kalau memang jodohnya. Sekalinya keyakinan itu muncul, maka menikahlah. Pernikahan yang dijalankan dengan benar adalah proteksi supaya keyakinan itu terus terjaga selamanya, sampai kakek-nenek, sampai meninggal, sampai nanti tetap bersama-sama di alam akhirat..

Groningen, 24 Juli 2013, jam 18:57 CEST

Tulisan lanjutan dari opini ini dapat dilihat disini.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s