Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Korelasi antara durasi pacaran dengan harmonisnya pernikahan

Leave a comment

Tulisan ini merupakan lanjutan dari opini saya sebelumnya.

Saya hanya mengenal sedikit ilmu statistika, tetapi saya berani bilang bahwa durasi masa pacaran itu tidak berkorelasi dengan tingkat keharmonisan waktu sudah menikah nanti. Artinya, suami-istri yang dulu masa pacaran (atau kenalan) nya singkat tidak selalu kalah harmonis dibandingkan mereka yang dulu pacarannya lama, vice versa. Bukti empirisnya mudah. Ada yang kenalan hanya beberapa bulan, menikah, ternyata harmonis sampai kakek-nenek. Di sisi lain, ada yang pacaran bertahun-tahun, keburu putus duluan sebelum menikah. Artinya, semua itu terjadi dengan acak.

Saya dulu sering mendengar soal ini. Awalnya saya menyangkal pendapat ini. Logika saya mengatakan bahwa keyakinan untuk menjadikan seseorang itu pasangan hidup kita didapatkan setelah kita mengenal betul sifat-sifatnya dengan baik. Pengenalan itu dimungkinkan setelah melewati waktu yang lama dalam berpacaran. Ibarat hendak berperang, kita harus pelajari serinci mungkin medan yang akan dihadapi.

Suatu saat, dosen (sekarang sudah menjadi teman kerja) mengulangi pernyataan yang sama ke saya, bahwa pacaran lama itu tidak menjamin nanti waktu sudah menikah akan lancar. Saya tertegun mendapati beliau berkata seperti itu. Saya tahu beliau tipe orang yang sangat rasional seperti saya. Maka saya pun balik bertanya, “Kenapa bisa seperti itu?”. Beliau menjawab, “Karena problematika orang pacaran itu jauh berbeda dengan masalah yang dihadapi ketika nanti sudah menikah. Ibarat kuliah, seorang mahasiswa mati-matian sebulan belajar Statistika. Ternyata begitu hari tes, yang diujikan adalah Proses Manufaktur. Jadi, mahasiswa itu punya pengetahuan, sayangnya tidak bisa diaplikasikan, karena kasus yang dia hadapi beda dengan apa yang dia sudah pelajari”. Saya hanya manggut-manggut, karena waktu itu masih jauh dari pikiran bahwa saya akan segera menikah dalam waktu dekat. Sekarang saya sudah hampir setahun menikah, dan saya kembali teringat pernyataan dosen tersebut, ternyata memang tepat.

Menurut saya, kenapa sih kok sebagian dari masa muda itu kita isi dengan pacaran? Waktu awal-awal masa pacaran, mungkin masa SMA, atau sebagian di awal masa kuliah, jelas karena kita ingin mencoba dan merasa butuh. Ingin mencoba karena melihat teman-teman lain yang sudah berpacaran, dan merasa butuh karena di sekitar umur 17-20 sudah kodrat manusia untuk ingin memiliki seseorang yang selalu dekat dengannya, yang bisa memahami dirinya, dst. Kebutuhan batin ini menurut saya manusiawi.

Kemudian berlanjut ke fase setelah lulus kuliah atau kira-kira umur 22-24 tahun. Di fase ini berlanjutlah ke jenjang yang menurut anak muda jaman sekarang dikenal sebagai “pacaran serius”. Serius disini bukan berarti hubungan secara fisik, namun dari sisi psikologis. Kalau sebelumnya pacaran hanya diisi dengan makan bareng, nonton film bersama, sekarang sudah menjurus ke diskusi, “Hubungan kita ini mau dilanjutkan seperti apa”, “Apa rencana masa depan kamu”, “Keluargaku sudah ingin ketemu kamu”, dsb. Masa-masa ini orang sudah semakin dewasa, timbulah keinginannya untuk menikah.

Lantas sebenarnya apa tujuan utama dari kita pacaran? Ya itu, ingin kenal calon pasangan hidup kita. Kalau tujuannya itu, apakah benar informasi itu bisa kita dapatkan dari berpacaran? Hmm, kalau dari pengalaman saya, ada informasi yang bisa kita dapat, tetapi tidak banyak. Sisanya kita akan belajar dari awal lagi begitu sudah menikah.

Apa sebenarnya definisi dari pacar itu? Menurut saya, pacar itu hanyalah teman yang lebih dekat, tidak lebih dari itu. Terus, sebagai teman dekat, apa yang kita bisa pelajari dari seorang pacar? Beberapa sifat bisa kita gali. Misal, layaknya orang pacaran, romantis tidak dia, mau tidak dia jemput pacarnya malam-malam, mau tidak mengorbankan waktu hangout dengan teman-temannya untuk menemani pacarnya nonton konser, dll. Apakah informasi dari kejadian-kejadian itu cukup sebagai bekal untuk menilai pacar itu orang cocok buat jadi suami/istri kita nanti? Apakah informasi itu jaminan kita akan mengarungi kehidupan pernikahan dengan lancar nantinya? Jawabannya, sama sekali tidak.

Anda boleh tidak setuju dengan saya. Namun, saya punya analisis seperti ini. Apakah waktu pacaran kita mengelola waktu dan perasaan untuk orangtua pacar kita? Apakah kita mau membiayai pacar kita kalau dia sedang kehabisan uang? Apakah kita mendiskusikan bagaimana bisa punya rumah nanti? Apakah kita membicarakan bagaimana cara mengasuh anak? Tidak, itu semua baru muncul nanti kalau sudah menikah. Terus, apakah itu bisa kita pelajari dari pacaran? Ya jelas tidak, pacar mana yang mau sampai segitunya untuk terlibat hal-hal seperti itu? Tidak akan ada, kembali, pacar hanyalah teman yang lebih dekat.

Ada yang bilang, dari sejak pacaran kita sudah bisa mempelajari, pacar kita ini termasuk yang mau berbagi kesusahan atau tidak. Betul, tetapi kesusahan yang seperti apa? Kesusahan di kehidupan pernikahan jauh berbeda tipenya dengan masa pacaran. Istri yang mengorbankan tabungannya untuk mendukung cita-cita suaminya, suami yang melunakkan hati istri untuk ikut merawat ibunya, memutuskan pendidikan anak, itu semua far beyond dari yang bisa dipelajari selama pacaran. Tambahan lagi, dengan status “hanya” sebagai teman dekat, mana mau seorang pacar untuk berbagi kesusahan sejenis itu.

Lalu, kalau pacaran itu pada akhirnya tidak bisa mempelajari secara rinci calon pasangan kita, bagaimana bisa yakin bahwa dia itulah yang terbaik buat kita? Kembali ke tulisan saya sebelumnya, ini kompleks, yang terbaik adalah selalu istikharah (minta petunjuk) ke Yang Diatas. Menurut Ustadz Zain (teman saya), pada saat masa pacaran/perkenalan, suatu saat setelah kita merasa “cukup” kenal, akan timbul rasa jenuh, apakah sebaiknya lanjut atau tidak. Inilah critical point dimana Anda biasanya harus memutuskan saya akan menikah dengan dia tidak ya. Yah, masalah hubungan dua insan manusia memang tidak semudah Statistika yang bisa pakai nalar, maka sebaik-baiknya sikap adalah terus berusaha dan menyerahkan semuanya ke Yang Maha Kuasa 🙂

Groningen, 26 Juli 2013, jam 20:38 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s