Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Masakan Jawa Timur Pak Sadi: Enak Tenan Rek

Leave a comment

Jalan Talaga Bodas No. 46, Bandung; Rp 25.000–30.000/porsi

Rujak cingur.

Rujak cingur.

Terakhir kali saya makan rujak cingur rasanya sudah lama sekali. Kejadian itu mungkin waktu saya mudik Lebaran tahun 2012 ke Jember, atau sudah lebih dari setahun. Waktu saya dan istri pulang ke Jember bulan Juni 2013, kami tidak sempat mencicipi masakan khas Jawa Timur ini. Rangkaian kejadian ini membuat keinginan saya ketika pulang ke Indonesia awal bulan Nopember 2013 menjadi tidak terbendung lagi.

Tetapi, mengingat ketika itu tujuan kepulangan saya hanyalah Bandung dan Jakarta, maka kehendak tersebut tidak gampang-gampang terpenuhi. Sejak di Bandung dari tahun 2004, saya baru menemukan tiga tempat yang menjual rujak cingur, dan semuanya tidak enak. Salah satu bahkan ada yang bumbunya pakai kecap. Hal ini bisa dimaklumi. Rujak cingur adalah makanan khas Jawa Timur yang mungkin tidak terlalu digemari oleh orang yang lidahnya tidak asli Jatim.

Untungnya saya ingat satu tempat, Soto Ayam Ambengan Pak Sadi, yang juga menjual masakan Jawa Timur. Jadilah pada hari itu saya dan istri meluncur ke lokasi tujuan. Lokasi berada di Jalan Talaga Bodas No. 46, Bandung. Setahu saya tidak ada angkot yang lewat jalan ini. Mungkin Anda harus naik angkot yang mengarah ke Jalan Palasari, setelahnya jalan kaki. Jika membawa kendaraan sendiri, dan Anda dari arah Dago, maka lewatlah Jalan Riau (Martadinata) dan lurus terus sampai bertemu Jalan Laswi dan Jalan Pelajar Pejuang. Anda akan menemui Hotel Narapati di sisi kiri jalan. Setelahnya ada perempatan, belok kanan ke Jalan Talaga Bodas. Lokasi tujuan ada di sisi kiri jalan, nomor 46.

Di dalam restoran.

Di dalam restoran.

Dapat dilihat di gambar bahwa lokasi restoran adalah rumah yang tata letaknya dimodifikasi menjadi beberapa meja dan kursi. Waktu itu kami mengambil posisi di teras supaya lebih lega. Melihat suasananya, sepertinya pemilik memang membidik konsumen yang setidaknya dari golongan menengah.

Kami pun disodori menu. Sebelumnya saya sudah pernah sekali kesini. Waktu itu saya makan soto ambengan. Soto asal Surabaya yang sudah terkenal. Namun, kali ini hasrat untuk menyantap rujak cingur sudah sedemikian besar. Saya pun memesan seporsi rujak cingur. Sebagaimana umumnya di Jawa Timur, saya ditanya tingkat kepedasan yang diinginkan, saya pun menjawab pedas. Sedangkan istri yang masih awang-awangen (ragu-ragu) untuk makan cingur, memesan menu yang lebih familiar, rawon sapi. Untuk minumnya, kami memesan dua gelas es jeruk nipis.

Rawon.

Rawon.

Pesanan pun datang. Saya segera menyendok rujak. Rasanya maknyus, jadi teringat dengan kampung halaman yang nun jauh disana di ujung timur Pulau Jawa. Rujak cingur yang disajikan di restoran ini adalah versi biasa. Artinya, selain bahan-bahan yang sudah matang seperti tahu-tempe goreng, cingur, sayuran yang direbus, ditambahkan juga buah-buahan mentah seperti bengkuang, mangga muda, nanas, dan kedondong. Versi ini populer di Surabaya dan sekitarnya. Sedangkan di Jember, yang lebih populer adalah rujak cingur versi matengan. Artinya, tidak ada tambahan buah-buahan mentah. Rujak cingur sendiri menggunakan bumbu petis yang dicampur dengan gula merah, cabe rawit, kacang tanah , pisang batu (kluthuk), dan air asam. Sedangkan cingur adalah moncong/mulut sapi (Madura: congor). Mungkin karena ini, beberapa orang merasa jijik untuk memakan cingur.

Cingur yang disajikan di restoran ini tidak berbau, juga tidak kenyal. Perpaduannya dengan segarnya sayuran dan buah serta legitnya bumbu petis membuat badan ini nggregesi. Sedangkan menu pilihan istri, saya sempat mencicipi sedikit. Rawonnya berbumbu pekat, namun tidak pahit. Pastilah ini karena penggunaan keluek yang pas. Rawon disajikan dengan taoge pendek dan sambal yang membuat rasanya segar dan gurih.

Kami pun membayar dan disodori bon sekitar enam puluhan ribu rupiah. Mengingat rasanya yang mantap dan suasana yang oke, harga itu menurut saya wajar. Dadi, bek menowo sampeyan wong Jawa Timur sing lagi nang Bandung lan kangen panganan kampung halaman, panggonan iki monggo sampeyan cubo, rasane enak tenan.

Bandung, 4 Nopember 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s