Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Sate Tegal Kambing Muda Casmadi: surganya penikmat kambing

Leave a comment

Jalan Kuningan Barat, Jakarta Selatan; Rp 50.000–60.000/porsi; +6221-5272379

Sate kambing muda

Sate kambing muda

Pertama kali saya mencicipi sate ini adalah waktu diajak dosen-dosen TI yang sedang dalam perjalanan dinas ke Jakarta. Sejak saat itu saya langsung jatuh cinta dan selalu ingin mengulangi makan disini setiap ada kesempatan. Maka, begitu kemarin sedang ke Jakarta, saya langsung mengajak istri untuk mencoba kuliner kambing yang sudah terkenal ini. Istri saya belum pernah mencoba kuliner ini, jadi harus disempatkan sebelum kami berdua berangkat ke Belanda.

Patokan paling mudah untuk mencari lokasi Sate Tegal Kambing Muda Bapak H. Casmadi adalah Wisma Mulia (Telkomsel) di Kuningan. Semua supir taksi rasanya tahu gedung ini. Kalau Anda mau naik busway, pakailah koridor 9 ke arah Pinang Ranti dan turun di halte Gatot Subroto Jamsostek. Dari situ berjalanlah ke arah perempatan kuningan sampai bertemu dengan Wisma Mulia. Di sebelah Wisma Mulia terdapat Jalan Kuningan Barat. Masuk jalan itu kira-kira 200-300 m. Lokasi warung ada di sisi kiri jalan setelah BATAN.

Suasana warung yang bersahaja

Suasana warung yang bersahaja

Seperti pembaca dapat lihat di foto. Lokasi warung sangat bersahaja. Waktu itu kami datang jam 12.30. Suasana warung sepi karena waktu itu sedang tanggal merah. Di hari-hari kerja, apalagi di jam makan siang, Anda harus bersabar untuk mendapatkan tempat duduk karena banyak pekerja kantor yang makan disini. Dengan kondisi warung yang kecil, suasana akan terasa sangat panas pada saat kondisi penuh. Namun disitulah serunya. Menikmati sate di tengah udara panas bercampur dengan asap bakaran sate dari sebelah warung. Default jam buka warung ini adalah dari pagi sampai malam. Namun tergantung dari jumlah pengunjung di hari tersebut. Saya pernah datang jam 17 sore dan semua menu sudah habis.

Menu yang ditawarkan di warung Sate Tegal Kambing Muda Bapak H. Casmadi hanyalah sate dan sop kambing. Saya memesan seporsi sop kambing dan sate kambing campur hati dan gajih lima tusuk. Sedangkan istri memesan sepuluh tusuk sate kambing polos dagingnya saja. Kami juga meminta irisan cabai rawit mentah karena kami berdua suka pedas.

Begitu makanan datang, kami segera menyantapnya dengan nasi putih yang ditaburi bawang merah goreng. Rasanya benar-benar maknyus. Daging satenya lembut, membuktikan bahwa warung ini memang memakai bahan kambing muda. Seperti umumnya sate dari Jawa Tengah, bakaran sate disajikan dengan bumbu kecap, irisan bawang merah dan tomat hijau mentah. Dari rasanya, jelas sate ini dibakar dengan sebelumnya dilumuri kecap terlebih dahulu, berbeda dengan Sate Hadori yang dibakar polos. Anda juga dapat memesan sate dengan bumbu kacang. Tetapi menurut saya sayang, karena rasa asli dan kesegaran daging kambing muda jadi terkalahkan dengan rasa bumbu kacang.

Sop kambing yang segar dan tidak amis

Sop kambing yang segar dan tidak amis

Sopnya juga nikmat. Bagi Anda yang tidak terlalu hobi daging kambing, percayalah, sopnya tidak berbau daging kambing. Hal bisa jadi dikarenakan dua hal. Pertama, daging kambing direbus dulu dengan irisan jahe. Kedua, memang daging kambing muda (calf/veal sheep) tidak terlalu berlemak seperti daging kambing yang sudah tua. Buat saya yang suka sop berlemak, faktor kedua ini sebenarnya saya tidak terlalu suka. Tetapi, warung Bapak H. Casmadi menyiasatinya dengan juga mencampurkan bagian iga kambing di sop, sehingga rasa gurih tetap bisa didapatkan.

Selain kambing, sop juga berisi wortel, kentang, tomat dan emping goreng. Benar-benar perpaduan rasa yang mantap. Kuah sop berwarna pekat, yang mestinya adalah dari merica. Daging kambing sangat empuk, sampai tulangnya bisa dipatahkan dengan mudah pakai gigi dan tulang rawannya dapat dinikmati. Proses memasak seperti ini tidak bisa memakai panci presto, karena kaldu akan hancur. Tidak juga bisa memakai api yang besar, karena daging akan lepas. Menurut analisis saya, Bapak H. Casmadi memasak sopnya dengan merebus daging dan tulang kambing selama berjam-jam dengan api kecil. Ini adalah teknik memasak yang membutuhkan ketekunan tersendiri.

Akhir cerita, semua pesanan kami akhirnya tandas. Kalau tidak ingat kolesterol, sebetulnya saya masih mau menambah lagi. Untuk semua pesanan tersebut, ditambah dengan sebotol air mineral dan dua bungkus emping besar, harga yang harus kami bayar adalah Rp 105.000. Harga yang sangat wajar untuk sebuah warung yang menurut saya menjadi surganya penikmat kuliner kambing.

Jakarta, 5 Nopember 2013

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s