Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Pendidikan yang Mengubah Segalanya

29 Comments

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Saya memiliki tiga orang saudara kandung. Kakak saya yang pertama (kelahiran 1970) lulusan Teknik Elektro, UB. Kakak kedua (kelahiran 1976) lulusan Teknik Sipil, ITS. Adik (kelahiran 1995) sedang kuliah di Akuntansi, UB. Saya sendiri (kelahiran 1986) lulusan Teknik Industri, ITB.

Kadang saya tidak habis pikir bagaimana bisa kami semua mengenyam pendidikan sarjana di perguruan tinggi negeri. Bagaimana tidak, saudara-saudara kami dari Bapak tidak ada sama sekali yang kuliah. Saudara-saudara dari Ibu ada yang kuliah, tetapi tidak banyak, dan semuanya di perguruan tinggi swasta. Orangtua kami jangan ditanya. Bapak (kelahiran 1942) hanya tamatan SD, sedangkan Ibu (kelahiran 1954) malah hanya sempat bersekolah sampai kelas tiga SD.

Kami memang tidak berasal dari kota. Kami lahir dan besar di sebuah desa bernama Semboro, tiga puluh enam kilometer sebelah Barat pusat kota Jember. Sebuah daerah hampir di ujung timur Pulau Jawa. Daerah tersebut tidak terlalu terbelakang, tetapi juga tidak maju. Ekonomi desa ditopang oleh pertanian dan sebuah pabrik gula warisan Belanda. Jangan bayangkan kami bersaudara bisa mengenyam pendidikan tinggi karena kami anak orang kaya. Bapak hanya menerima warisan dari kakek berupa sebidang tanah tidak lebih dari 110 m2 yang sekarang menjadi rumah kami. Sedangkan Ibu adalah perantauan dari Nganjuk yang tidak mempunyai apa-apa.

Semasa mudanya, karena tidak ada keahlian lain dan juga karena tidak punya sawah, Bapak bekerja sebagai tukang kayu dan tukang batu di Semboro. Suatu saat Bapak bertemu dengan guru Mas Hari (kakak pertama) dan guru itu berujar, “anakmu pinter, sekolahno sing duwur (anakmu pintar, sekolahkan dia sampai ke pendidikan tinggi)”. Waktu itu Bapak hanya menanggapi sambil lalu. Beliau berpikir, bagaimana mungkin bisa menyekolahkan anak sampai tinggi dengan pendapatan tukang yang pas-pasan (dengan nominal sekarang, seorang tukang di Semboro mungkin dibayar Rp 50.000-60.000/hari). Dorongan dari lingkungan dari saudara juga tidak memungkinkan. Kebanyakan warga Semboro juga berpendidikan rendah dan berprofesi sebagai petani atau tukang bangunan. Bapak pernah bercerita bahwa dulu beliau hanya menginginkan Mas Hari kelak menjadi supir truk atau semacamnya.

Apakah cucuku akan menjadi tukang becak?

Cerita pun berlalu dan beberapa saat setelah Mbak Eni (kakak kedua) lahir, Bapak memutuskan untuk merantau ke Surabaya, keluarga ditinggal di Semboro. Bapak di Surabaya juga bekerja di bidang bangunan, namun sudah naik kelas jadi mandor. Di Surabaya, beliau mendapati fenomena bahwa atasan-atasannya rata-rata lebih muda dari beliau. Bapak pun heran dan bertanya ke teman-temannya, “lha kuwi kok iso arek-arek cilik wis dadi bos? (itu kok bisa anak-anak muda sudah jadi bos?)”. Teman-temannya pun menjawab, “lha wong sekolahe duwur (orang mereka berpendidikan tinggi)”. Bapak bertanya bagaimana supaya bisa dapat pendidikan tinggi. Teman-temannya menjawab, caranya dengan kuliah.

Sejak kejadian itu Bapak memikirkan hal itu. Suatu saat beliau berpikir, “lha lek anakku ora sekolah duwur, putuku sokmben lak dadi tukang becak (kalau anakku tidak sekolah tinggi, nanti cucuku bisa jadi bakal jadi tukang becak)”. Mulai saat itu Bapak punya cita-cita bahwa anaknya harus kuliah, bagaimanapun caranya. Ibu saya jelas lebih abstrak lagi soal ide kuliah ini.

Sejak saat itu orang tua kami menyusun rencana konkrit supaya anaknya bisa kuliah. Di Semboro tidak ada sekolah SMA yang bagus, maka Bapak merencanakan supaya Mas Hari bisa bersekolah di SMAN 1 Jember, SMA terbaik di daerah kami. Mas Hari lulus SMP dengan NEM kedua tertinggi di seluruh Kabupaten Jember (Baca: cerita tentang Mas Hari). Namun, karena waktu itu ada kebijakan rayonisasi, Mas Hari tidak bisa bersekolah di SMAN 1 Jember dan harus bersekolah di rayonnya, SMAN 1 Tanggul. SMA itu tidaklah bagus, dan Mas Hari tidak kerasan. Jadilah dia pindah sekolah ke Jember, tetapi bukan di SMAN 1 (karena terhalang kebijakan rayon), tetapi di SMKN 2 Jember. Karena tidak memungkinkan untuk pulang-pergi, Mas Hari tinggal bersama paklik (paman) kami di Jember.

Waktu itu sebenarnya Bapak sudah putus asa. Bagaimana mungkin kalau sekolahnya di SMK bisa diterima di UMPTN (sekarang SNMPTN). Keputusasaan Bapak ini masuk akal. Materi pelajaran sekolah kejuruan memang tidak dirancang untuk meneruskan ke pendidikan sarjana. Tetapi, Mas Hari tetap berusaha keras untuk bisa menembus UMPTN. Menjelang UMPTN 1989 Mas Hari berujar ke orang tua saya, “njenengan nopo nggadah satus ewu, kula pengen ndherek bimbingan belajar (apa ada seratus ribu, saya ingin ikut bimbingan belajar persiapan UMPTN)”. Waktu itu orang tua saya tidak punya uang sebanyak itu. Entah dengan cara apa uang itu didapatkan, akhirnya Mas Hari bisa ikut bimbingan belajar. Mas Hari pun tembus UMPTN, diterima di Teknik Elektro UB.

Meskipun sudah diterima kuliah di UB, keinginan itu tidak gampang dilaksanakan. Pertama, dari lingkungan keluarga besar tidak ada contoh yang pernah kuliah. Ide untuk mengkuliahkan anak juga dirasa aneh waktu itu di Semboro. Suatu saat ada yang bilang ke orang tua kami, “kowe laopo larang-larang nguliahne anak, luwih penak digawe nyewo sawah, asile akeh (kamu buat apa mahal-mahal mengkuliahkan anak, lebih enak dibuat menyewa sawah, hasil (uang)nya banyak”. Orang tua kami dicibir banyak orang karena dianggap buang-buang uang. Namun orang tua kami tetap tegar dengan omongan orang-orang. Bapak berprinsip bahwa kesuksesan anaknya adalah nomor satu. Anak-anaknya harus sukses supaya lebih baik dari orang tuanya.

Kedua, meskipun sebagai mandor taraf kehidupan Bapak sudah membaik, mengkuliahkan Mas Hari yang harus indekos di Kota Malang tetaplah sangat berat. Menjadi mandor bukanlah pegawai tetap. Pendapatan hanya ada ketika ada proyek. Dalam hal ini, Ibu berperan sangat penting. Beliau bisa sangat pengertian bahwa sekarang anaknya sedang berjuang, dan Ibu harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Keuangan di rumah menjadi sangat ketat. Belum tentu dua minggu sekali kami di rumah bisa makan dengan lauk ayam/daging. Prioritas utama adalah kuliah Mas Hari. Saya ingat suatu saat ketika kecil (mungkin sekitar 1990-1991) saya menangis karena tidak dibelikan jajanan seharga Rp 50. Tetapi bagaimana lagi, waktu itu Ibu benar-benar tidak mempunyai uang sepeser pun (baca “Hadiah untuk Ibu“). Setelah sekarang dewasa, saya bisa membayangkan bagaimana nelangsanya perasaan Ibu sebagai orang tua kala itu.

Dalam hal pendidikan anak di rumah, peran Ibu pun signifikan. Ibu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Bapak berpesan ke Ibu, “kowe kudu telaten ngrumat anak-anakmu(kamu harus tekun mendidik anak-anakmu)”. Ibu melaksanan pesan itu dengan sangat baik. Anak-anaknya dididik untuk selalu jujur, bekerja keras, tidak neko-neko dan selalu semangat dalam mengejar cita-cita.

Masa-masa itu amatlah sulit. Waktu sudah berhasil Mas Hari bertanya ke Ibu, “njenengan nopo tasih utang beras? (Ibu apa masih pernah hutang beras?)”. Ternyata dulu saking tidak adanya uang di rumah, beberapa kali Ibu pernah berhutang beras. Tentunya demi menjamin bahwa anak-anaknya di rumah bisa makan.

Akhirnya Mas Hari pun berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan baik di tahun 1994 (dengan IPK 3,8). Setelahnya dia dapat pekerjaan yang bagus dan mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan magister dengan beasiswa dari kantornya. Lulusnya Mas Hari mendorong adik-adiknya untuk meraih cita-cita yang sama. Mas Hari juga berperan sangat besar terhadap dukungan moral dan finansial untuk pendidikan adik-adiknya. Tanpa kesuksesan Mas Hari, saya yakin adik-adiknya tidak akan menjadi seperti ini. Peran Mas Hari tidak kalah besar dari peran orang tua kami.

Alhamdulillah kami semua sekarang berhasil memenuhi mimpi orang tua kami. Taraf kehidupan keluarga meningkat. Kami pun bisa merasakan banyak hal yang mungkin orang tua kami dulu bahkan tidak terbayang. Cucu-cucu Bapak juga insha Allah tidak akan menjadi tukang becak sesuai apa yang beliau khawatirkan dulu. Semua itu berkat satu hal yang disebut pendidikan. Kami sangat bersyukur dilahirkan dari kedua orang tua yang visioner, bekerja keras dan selalu mendukung anak-anaknya. Bapak sekarang sudah 72 tahun dan Ibu 60 tahun. Kami berharap beliau berdua berumur panjang sehingga kami masih selalu sempat untuk membahagiakan mereka. Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiroo (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasih sayangilah mereka, sebagaimana mereka mengasihsayangi aku ketika kecil).

Groningen, 7 Februari 2014 jam 10:26 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

29 thoughts on “Pendidikan yang Mengubah Segalanya

  1. very very inspiring berooooh!

  2. Sebuah kisah yg menyentuh. Pendidikan adalah Katrol peradaban …

    • Terima kasih Pak Andi sudah berkunjung ke blog saya. Memang betul kata bapak, pendidikan adalah katrol peradaban. Btw, saya baca sekilas CV Bapak, kebetulan saya staf dosen di jurusan Teknik Industri ITB. Saya sedang mengambil S3 di Rijksuniversiteit Groningen, Belanda. Saya juga menekuni bidang maritim, namun lebih ke arah logistik maritimnya. Salam kenal.

  3. Hallo..salam kenal 🙂

    Jd inget ortu sy, mereka sering bilang “barang mah bisa dibeli nanti nanti, kapanpun selalu ada di toko, yg penting tuh sekolah, krn sekolah ga bisa ditunda-tunda. Nggak mungkin kan usia itu dimundurin?”. Bersyukuuur sekali ya punya ortu yg seperti ini :’) Boleh izin share? 🙂

    • salam kenal juga mbak dianita. yup, betul sekali itu, pendidikan adalah bekal utama. silakan kalau mau dishare 🙂

  4. very nice story,,mengingatkan kisah hidup saya..

    harus semangat lagi nih buat ngejar S2,sebagai hadiah untuk orang tua..

    semoga semakin sukses mas rully..semoga orang tuanya semakin bahagia, aamiin

  5. Salam kenal
    Saya dari umbulsari 🙂
    Sekarang menyesal saya kenapa gak mau kuliah, setelah baca ini 😦

    • Salam kenal Mas Sigit. Wah, kita tetangga. Umbulsari mana? Saya Semboro dekat pasar, selatan Bank BRI.

  6. subahanllah ..! sangat menginspirasi . saya dari ambulu . mohon doanya juga mas saya sekarang juga berjuang menyelesaikan kulliah di universitas jember

    • Aamiin, semoga lekas selesai kuliahnya. Ambil jurusan apa? Ambulu-nya dimana? Saya banyak kawan dari Ambulu yang kuliah di ITB.

  7. Pingback: Hadiah untuk Ibu « to improve is to change

  8. salam kenal dulur..saya dari umbulrejo
    mantep dulur……
    ligistik maritim mksudnya gmn??
    mohon pnjelasanya..?
    matur nuwun

    • logistik maritim adalah ilmu untuk mengadakan (purchase), menyimpan (store), dan menyalurkan (distribute) barang yang melewati jalur air. contoh transportasi barang yang diangkut lewat peti kemas.

  9. Alhamdulilah sama punya ortu yg mementingkam pendidikan. Mereka memanh org berkecukupan dapat mewariskan banyak uang dan properti tp apa yg mereka bilang “mama papa tidak akan mewariskan uang tp kami wariskan pendidikan setinggi tingginya krn hal itu jauh lbh penting dr materi” materi dapat hilang bgt saja namu tidaj untuk pendidikan. InsyaAllah aku akan bgt jg ke anak nanti.

  10. Reblogged this on zarrina and commented:
    Bismillah untuk Bapak & Ibu

  11. subhanallah.. sangat menginspirasi sekali 😀

  12. Jadi ingat pesan nenek yang selalu berpesan beliau tidak bisa mewariskan harta apapun hanya pendidikan yang beliau wariskan karena itu yang tidak akan habis dimakan waktu

  13. Kisahnya menyentuh dan hampir mirip dgn kisah saya dan adik saya pak, ibu saya seorang tukang jahit dan bapak kerja serabutan.. Tp ibu saya dari saya kecil sudah wanti2 berpesan bahwa biar kita orang kecil, pendidilan harus tinggi biar jd orang besar, waktu jaman kuliah ibu sering dicibir orang dgn umpatan “anak perempuan ngapain sekolah tinggi2,ntar ujungnya kedapur juga” ( maklum kami dari keluarga betawi )tp berkat kerja keras dan doa ibu bapak alhamdulillah saya sudah S2 dan adik saya bs kuliah di Univ Brawijaya malang… Salam laskar pemimpi…

  14. Sangat sangat menginspirasi, semoga teman2 yg lainnya membaca artikel yg menginspirasi ini. Salam sukses.

  15. luar biasa, Mas. Sangat inspiratif 🙂

  16. terimakasih. sangat menginspirasi. 🙂

  17. Inspiring true story pak

  18. Halo salam kenal mas, saya juga asli jember bagian antirogo dan sekitarnya..

    Inspiratif sekali.. saya jadi terpacu untuk menulis dan belajar lebih banyak lagi..
    jujur saya jadi malu buat membuang waktu belajar… 🙂

    salam dari yogyakarta, karena saya sedang aktif kuliah di jogja
    semoga bisa menyusul ke Belanda juga untuk studi disana.

  19. Subhanalllah…. semoga saya bis amengikuti jejak dengan prestasi terbaik dan di universitas terbaik seperti mas hari, smean mas yg nikah, dan mbk eni, sehingga saya juga bisa membahagiakan, membanggakan dan mengangkat derajat orang tua saya. Amin…..

  20. Tulisan yg sangat menginspirasi mas. Semoga study PhD nya segera selesai mas. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s