Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Angkringan Mas Jo: Tenang dan Sederhana

Leave a comment

Jalan Gelap Nyawang, Bandung; Rp 8.000–12.000/porsi

Kopi hitam dan milo hangat.

Kopi hitam dan milo hangat.

Setelah sebelumnya membahas mengenai Angkringan Magelang, kali ini saya akan membahas mengenai angkringan lain yang ada di Bandung, kebetulan letak kedua angkringan ini tidak begitu jauh satu sama lain. Malam itu saya baru sampai rumah setelah Diklat Prajabatan selesai. Besoknya pagi-pagi sekali saya harus medical check up di RSHS dan untuk melakukan hal ini ada surat dari kampus yang harus saya bawa. Saya menitipkan surat itu di Akbar dan kami janjian di depan kampus ITB. Setelah surat didapatkan, diri ini rasanya malas kalau harus langsung kembali ke rumah di Ciwastra yang agak jauh dari ITB. Jadilah saya mengajak Akbar untuk ngopi, dan pilihan pun jatuh ke Angkringan Mas Jo.

Angkringan ini terletak di Jalan Gelap Nyawang. Anda dapat naik angkot Cicaheum-Ledeng dan menuju Cicaheum dan mintalah diturunkan di BNI Jalan Tamansari, dari sini Anda akan melihat banyak tenda warung makan di ujung Jalan Gelap Nyawang, dan angkringan akan dengan mudah ditemui dari plangnya yang berwarna merah. Berbeda dengan Angkringan Magelang yang ramai, di Mas Jo kesannya lebih sepi. Selain tempatnya lebih kecil, disini posisi lesehan lebih tersembunyi sehingga lebih memunculkan suasana privat. Hal yang saya agak keluhkan disini adalah penerangannya yang cukup kurang. Waktu saya kesana pengunjung angkringan tidak terlalu banyak, sehingga keramaian tidak terekam.

Tempatnya tenang. Cocok untuk ngopi lama-lama.

Tempatnya tenang. Cocok untuk ngopi lama-lama.

Seperti pada umumnya di angkringan, menu yang tersedia adalah nasi kucing, gorengan dan aneka sate. Selain itu tersedia aneka jenis minuman ala warung kopi dan juga kopi joss yang jadi andalan. Waktu itu saya dan Akbar masih kenyang. Jadilah kami hanya memesan kopi hitam, milo panas dan gorengan. Tidak beberapa lama pesanan pun datang dan kami menikmati minuman dan gorengan sambil ngobrol-ngobrol. Menikmati suasana Bandung yang waktu itu mendung setelah hujan sangatlah enak ditemani minuman panas. Hal inilah yang dicari kalau kita nongkrong di warung-warung sederhana seperti angkringan ini. Tempat boleh sederhana, harga boleh murah, namun tidak mengurangi ketenangan yang didapatkan setelah seharian beraktivitas.

Bakmi godhog.

Bakmi godhog.

Setelah beberapa saat, ternyata saya merasa lapar juga. Akhirnya saya memesan bakmi godhog yang bersebelahan dengan angkringan. Bakminya adalah versi Jawa dimana terdiri dari mie lebar, kaldu ayam, suwiran ayam, sayur. Bakmi dimasak di atas arang membara sehingga memberikan aroma khusus. Namun, saya agak kurang puas dengan rasa mie nya yang menurut saya agak mirip dengan mie yang dibeli di toko, bukan mie bikinan sendiri. Secara umum, dari sisi kualitas, bakminya masih kalah jauh dengan bakmi yang pernah saya bahas disini.

Waktu pun berlalu, dan tiba saatnya kami berdua untuk pulang. Semua pesanan itu dihargai kira-kira Rp 25.000. Harga murah, perut puas, dan hati pun terasa senang.

Bandung, 7 April 2014

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s