Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Asyiknya Belanja Daging di Groningen, Halal dan Toyib

2 Comments

Daging. 1

berbagai varian yang dijual

Satu hal yang saya banyak belajar sejak tiba di Groningen adalah belajar memasak. Keterampilan ini sangat penting, karena tanpa memasak bisa dipastikan keuangan saya yang hanya mengandalkan uang beasiswa akan jebol. Jangan bayangkan di Belanda ada warung-warung tegal yang murah seperti di Indonesia. Harga seporsi makanan disini pada umumnya sekitar 6-8 Euro (Rp 96.000-128.000). Tentunya kami para mahasiswa tidak mampu kalau setiap kali makan harus mengeluarkan uang sejumlah itu. Jadilah memasak sendiri menjadi opsi yang tidak dapat dihindari.

Bicara memasak, tentu harus ada bahannya. Harga bahan makanan Indonesia seperti tempe, tahu, tauge mahal di Belanda. Sedangkan daging justru kebalikannya, lebih murah daripada bahan-bahan itu. Sebagai perbandingan, tempe satu papan yang bakal jadi 15 iris  harganya 1,6 Euro. Sedangkan sekilo daging kualitas paling bawah hanya seharga 5,5 Euro. Maka menjadi wajar jika daging menjadi menu sehari-hari para mahasiswa. Jadinya sedikit lucu. Kami kalau sedang “miskin” makan daging, sedangkan kalau sedang “kaya” justru makan tempe, hehe.

Saya sendiri selama di Indonesia sama sekali tidak pernah belanja daging. Terus terang saya agak segan. Sewaktu kecil saya sering diajak Mak’e (Ibu) ke pasar. Beberapa kali kami lewat toko daging. Nuansa yang terekam di memori saya selalu sama. Toko daging yang cenderung kotor, bau kurang sedap, daging bergeletakan, dan banyak lalat. Waktu kuliah di Bandung pun sama saja. Beberapa kali waktu masih ngekos saya masak sendiri, karena bosan dengan makanan warung. Saya ke toko kecil dekat kosan untuk membeli beberapa bahan. Toko itu juga menjual daging, dan kesannya tidak higienis, membuat saya malas untuk memasak makanan yang membutuhkan bahan daging.

Begitu sampai di Groningen bulan Desember 2012, waktu itu istri belum ikut, saya segera mencari informasi tentang toko daging di Groningen. Sebetulnya daging yang sudah dikemas banyak dijual di supermarket seperti Albert Heijn, Aldi, LIDL, dll. Tetapi saya ragu untuk membeli di situ, karena kecil kemungkinan daging itu halal. Jadilah saya harus tanya sana-sini untuk mencari tahu dimana toko daging halal. Hasilnya cukup mengejutkan, ternyata paling tidak ada lima toko daging halal. Jumlah ini tentu banyak mengingat Groningen hanyalah sebuah kota kecil dengan populasi sekitar 200.000 jiwa.

Toko daging halal umumnya dikelola oleh warga Belanda keturunan Maroko atau Turki. Begitu sampai di toko, kesan yang didapat jauh berbeda dengan toko daging di Indonesia. Toko daging di Belanda bersih, teratur dan rapi. Biasanya mereka meletakkan panggangan ayam di bagian depan toko. Satu ekor ayam panggah utuh biasanya dijual dengan harga 5-6 Euro. Selain menjual daging, dijual pula berbagai macam sosis, kornet, dll. Selain itu ada pula olahan zaitun sebagaimana umumnya makanan orang Arab. Untuk yang ini, saya tidak pernah beli.

Jualan utama toko daging halal di Groningen tentu adalah berbagai jenis daging, yang paling umum adalah daging sapi, daging domba, dan daging ayam. Jangan bayangkan daging yang dijual diletakkan bergeletakan seperti di toko daging di Indonesia. Daging ditata dengan rapi di dalam etalase kaca sesuai dengan bagian-bagiannya. Saya sendiri tidak terlalu paham bagian daging, tetapi biasanya yang dijual adalah rundvlees (beef), schenkel (sengkel), kalfribben (iga sapi muda), kalf dikke lende (pantat sapi muda), lamsgehakt (daging domba giling), lamsnek (leher domba), lamskotelet (daging domba cincang), lamsbout (paha domba), drumstick (paha ayam), chicken wings, dsb. Jerohan, baik sapi, domba, maupun ayam jarang dijual di toko-toko daging Belanda. Kalaupun ada biasanya hanya tiap hari Jum’at atau Sabtu. Pada hari itu dijual kippen maag (ampela ayam), kippen lever (hati sapi), kippen hartjes (jantung sapi), dll.

Daging. 2

daging yang disimpan di etalase kaca

Saya paling suka daging sapi dan domba muda. Daging jenis ini jarang ditemui di Indonesia. Rasanya amat lembut dan lezat, meskipun harganya lebih mahal. Daging sapi muda biasanya seharga 9 Euro/kg, sedangkan daging domba muda harganya 13 Euro/kg. Harganya berbeda cukup jauh dengan daging sapi biasa yang sekitar 5,5-7,5 Euro/kg dan daging domba biasa sekitar 9-10 Euro/kg. Sedangkan daging ayam harganya sekitar 2,5-3 Euro/kg. Harganya murah. Jangan dikonversikan ke Rupiah, karena akan jadi bias. Satu Euro sekarang senilai Rp 16.000, tetapi setahun lalu 1 Euro hanya Rp 12.000, sementara harga daging paling banter hanya naik 5-10 sen/kg.

Selain bersih dan rapi, pelayanan di toko-toko daging di Belanda juga prima. Sapi dan domba yang sudah disembelih digantung dulu di atas tiang dan gantungan besi. Tentunya hal ini untuk menjamin supaya darah keluar, sesuai dengan prinsip pemotongan hewan secara halal. Kalau pembeli minta daging dipotong lagi, penjual juga dengan senang hati akan memotongkan, tanpa biaya tambahan.

Daging. 3

berbagai jenis daging

Kalau dipikir-pikir lagi, toko-toko daging di Indonesia, selain tidak bersih, sebetulnya kita tidak tahu apakah daging yang dijual disitu benar-benar dipotong secara halal. Kita hanya tahu, daging tersebut dipotong di rumah potong hewan (RPH) tertentu, tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi di balik proses pemotongannya. Di Belanda, pedagang tidak sembarangan mencantumkan label halal, karena kalau ketahuan bohong dendanya besar. Maka, konsumen disini percaya bahwa daging yang dijual memang halal.

Tidak hanya umat Muslim yang membeli daging di toko-toko daging halal. Banyak juga warga Belanda yang menjadi pelanggannya. Memang betul kata Bapak mertua saya, karena dagingnya dipotong dengan cara “halal”, hasilnya juga jadi “toyib” (baik). Tidak hanya baik secara fisik, namun juga baik dari sisi pelayanan, dan pada ujungnya juga bisa menjaring konsumen yang banyak dan loyal.

Saya dan isteri tidak pernah kecewa membeli daging di toko-toko daging halal di Groningen. Bahkan hal ini menjadi pengalaman baru yang menarik bagi kami. Hal ini juga menginspirasi kami, ketika kelak kembali di Bandung kami ingin membuka usaha dengan konsep yang serupa, toko daging yang seluruh prosesnya halal dan toyib 🙂

Groningen, 12 Mei 2014, jam 20.52 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Asyiknya Belanja Daging di Groningen, Halal dan Toyib

  1. Di Indonesia kalau mau beli ayam dan daging yang halal dan higienis banyak kok di supermarket seperti carrefour, giant, dll. Penataannya tentu beda dengan yang di pasar tradisional. Hehe.. Bahkan setahuku ada beberapa toko khusus (lupa namanya) yang menjual ayam dan olahannya (seperti sosis dan nugget). Di komplek rumahku ada, di toko itu diperlihatkan juga video gimana mereka beternak ayamnya sampai proses pemotongan, pengepakan, dll. 😀

    • I know. Tetapi kalau toko daging (e.g. Nazar, ISA) dibandingkan dengan Carrefour, Giant kan tidak apple to apple Cha. Mereka bandingannya adalah dengan Albert Heijn, LIDL, Aldi. Poinnya adalah, di Belanda toko daging yang bagus ada dimana-mana. Sementara di Indonesia, yang bisa diakses oleh semua orang adalah toko daging di pasar, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s