Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mudik Bareng Bandung-Jember, Kenangan Tak Terlupakan

Leave a comment

teman-teman KMJB di kereta waktu mudik bareng tahun 2005

teman-teman KMJB di kereta waktu mudik bareng tahun 2005

Beberapa waktu ini di grup Facebook Keluarga Mahasiswa Jember di Bandung (KMJB) cukup ramai dibahas soal mudik bareng. Mulai dari tiket kereta yang sudah dijual, pengurus KMJB yang kurang inisiatif untuk mengkoordinasi pembelian tiket, dll. Keramaian ini jadi mengingatkan saya akan fenomena yang dulu saya alami sendiri sewaktu menjadi mahasiswa S-1.

Sebagai mahasiswa dari Kabupaten Jember yang kuliah di Bandung, kami memiliki wadah organisasi bernama KMJB. Anggota KMJB sekitar 70-90 orang yang tersebar di ITB, Unpad, ITT, Unikom, IPDN, dll. Organisasi ini cukup penting maknanya. Konsekuensi kuliah di Bandung, yang jaraknya lebih dari 800 km dari Jember, adalah tidak bisa pulang sering-sering. Berbeda dengan teman-teman yang kuliah di Surabaya yang pulang seminggu sekali juga bisa, kami pada umumnya setahun hanya pulang tiga kali, waktu libur semester ganjil, libur semester genap, dan Lebaran. Oleh karena itu, kumpul-kumpul dengan teman-teman dari satu daerah cukup bisa mengobati kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman.

Salah satu acara besar kami adalah mengadakan mudik bersama. Sebagaimana kita tahu, angkutan umum di Indonesia pada saat menjelang Lebaran sangatlah ramai. Maka kami harus pintar-pintar mengatur supaya kepulangan ke Jember berjalan dengan lancar. Saya masuk kuliah bulan Agustus tahun 2004. Pada waktu itu, Hari Raya Idul Fitri jatuh pada bulan Nopember. Sejak bulan Oktober, kira-kira seminggu sebelum bulan Ramadhan dimulai, kami sudah bersiap-siap untuk membeli tiket, karena memang PT KAI membuka pembelian tiket sejak H-30 dari tanggal keberangkatan. Kami menghubungi teman-teman dan merundingkan beberapa hal mulai dari penentuan tanggal keberangkatan, pendataan peserta mudik, dan pengumpulan uang tiket.

Setelah uang terkumpul, kami mengumpulkan pasukan untuk membeli tiket ke Stasiun Bandung. Kami harus berangkat sejak Subuh, karena pembeli tiket mudik antriannya luar biasa panjang. Biasanya peserta mudik bareng KMJB sekitar 40 orang. Biasanya total harga tiket sekitar Rp 200.000. Terbayang, kami memegang uang sekitar 8 juta Rupiah. Mengkoordinasikan dan membeli tiket ini tentu capek. Tetapi para pengurus KMJB melakukannya dengan sukarela dan ikhlas, karena memang demi kepentingan bersama. Oiya, dengan peserta mudik sejumlah 40-an orang, kami biasanya jadi menguasai hampir satu gerbong kereta.

Setelah tiket terbeli, kami menunggu satu bulan sampai hari-H mudik ke Jember. Biasanya waktu sebulan itu tidak terasa, di tengah-tengah kesibukan kuliah di bulan Ramadhan dan juga beli oleh-oleh ini itu buat keluarga. Pada hari-H, kami berkumpul sejak pukul dua siang dan beberapa orang akan mencari angkot untuk dicarter ke stasiun. Hal ini kami lakukan supaya pemberangkatan ke stasiun lebih mudah. Biasanya KMJB menyewa dua angkot, dan sampai di stasiun sekitar pukul empat sore.

Kereta Mutiara Selatan jurusan Bandung-Surabaya Gubeng berangkat pukul 17.00. Dimulailah perjalanan panjang kami. Tas dan kardus diletakkan di atas. Kereta di musim mudik sangatlah ramai, beberapa orang yang tidak kebagian kursi bahkan rela lesehan di lantai. Kami pun mencari posisi duduk yang enak sambil menunggu buka puasa. Untuk berbuka, pada umumnya teman-teman membungkus dari kosan, karena kalau beli di kereta harganya mahal untuk ukuran kantong mahasiswa.

Setelah berbuka, biasanya setelah masuk daerah Tasikmalaya biasanya suasana mulai cair. Mulailah guyonan dan obrolan khas Jawa Timuran muncul diantara kami. Kereta yang kami naiki adalah kelas bisnis, jadi kalau mau pindah sana-sini dan agak ribut tidak terlalu sungkan seperti kalau di kelas eksekutif. Bisa dibilang kami sangat ribut. Namanya juga anak muda, hehe. Bercanda sana-sini, saling ledek-ledekan, main kartu, ngusilin teman. Suasana itu yang bikin akrab diantara anggota KMJB. Kalau ingat hal-hal itu sekarang, benar-benar bikin kangen jaman mahasiswa dulu.

Setelah memasuki Banjar, perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, sekitar jam sebelas malam, beberapa orang sudah mengantuk dan tertidur. Biasanya kami terbangun ketika kereta memasuki Yogyakarta sekitar pukul setengah dua dini hari. Selain memang berhentinya agak lama, di Stasiun Tugu Yogya kami memiliki kepentingan untuk membeli makanan sahur. Menunya tidak repot. Tinggal beli dari mbok-mbok penjual di stasiun yang menjual gudeg. Rasanya lumayan enak, dan yang paling penting murah. Waktu itu harganya sekitar empat atau lima ribu rupiah sebungkus.

Setelah makan sahur sebagian besar bakal tidur lagi dan baru terbangun ketika memasuki waktu Subuh di daerah Madiun. Saya termasuk orang yang susah tidur di perjalanan, maka biasanya saya melewatkan waktu melalui daerah Nganjuk, Kertosono, Jombang, Mojokerto sebelum akhirnya sampai Surabaya. Entah kenapa perasaan saya melewati daerah-daerah itu berkesan bungah (gembira). Mungkin karena sudah memasuki daerah Jawa Timur, jadi semakin merasa dekat ke kampung halaman. Di daerah-daerah ini biasanya banyak pedagang asongan yang menawarkan aneka dagangannya. Mereka menggunakan bahasa Jawa dialek Jawa Timuran, semakin menambah kesan sedulur dewe (saudara sendiri).

menunggu di stasiun gubeng waktu mudik tahun 2006. mas imam konser

menunggu di stasiun gubeng waktu mudik tahun 2006. mas imam konser

Perjalanan kereta Mutiara Selatan berhenti Stasiun Surabaya Gubeng biasanya sekitar pukul 7 pagi. Disini mulai terlihat beberapa muka teman-teman tidak sesegar sewaktu berangkat dari Bandung. Namun kami tetap gembira dan terus saling ngobrol atau guyon (bercanda). Sambil menunggu kereta ke Jember, beberapa orang mencuci muka, beberapa yang lain keliling stasiun, dan sebagian besar tentu menikmati hiburan utama di Stasiun Gubeng, grup band yang sudah dari tahun ke tahun “manggung” disitu. Kalau ingat hal ini jadi ingat Mas Imam Santoso, TA’03 yang pernah ikut dengan semangat menyanyi diiringi band tersebut, hehe.

Kereta Mutiara Timur ke Jember berangkat dari Gubeng pukul 9 pagi. Kereta ini tujuan akhirnya ke Banyuwangi. Di kereta ini pun kami juga menguasai hampir satu gerbong. Karena sudah siang, hampir tidak ada orang yang tertidur. Kami pun saling mengobrol, bercanda, main kartu, dll. Pokoknya bikin gaduh kereta, hehe. Namun hal itu ternyata justru membuat perjalanan tidak terasa panjang. Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul pun terlewati dan tidak terasa pada pukul 1 siang kami sampai Stasiun Jember.

Total kami menghabiskan 20 jam di perjalanan. Sampai Jember kondisi badan sudah lecek. Namun begitu di stasiun melihat Bapak, Ibu, Kakak, Adik yang menjemput, hati ini rasanya senang sekali. Saya sendiri selalu turun di Stasiun Tanggul, 30 kilometer sebelum Stasiun Jember, karena rumah saya di Semboro. Begitu sampai rumah, biasanya disambut Ibu, rasa capek serasa menguap. Apalagi setelahnya bertemu dengan anggota keluarga dan teman-teman. Mengingat bahwa sore itu kami akan berbuka dengan keluarga masing-masing makin menambah kegembiraan.

Itulah cerita mudik KMJB jaman saya dulu menjadi mahasiswa. Saya tinggal ngekos sampai tahun 2012, dan terakhir saya ikut mudik bareng rasanya tahun 2009. Setelahnya saya mudik pakai pesawat, karena sudah punya penghasilan sendiri, dan memang harga tiket pesawat makin murah. Begitu pula adik-adik KMJB cukup banyak yang beralih ke pesawat.

Mudik bareng, walaupun cuma setahun sekali menurut saya artinya sangat penting bagi mahasiswa perantauan seperti kami. Rasa senasib sepenanggungan benar-benar terasa. Suasana guyub (keakrakaban) juga melekat erat di memori, jadi kangen dengan masa-masa itu. Semoga tradisi ini tetap dipertahankan KMJB ke depannya.

Groningen, 14 Mei 2014, jam 21:34 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s