Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Berterima Kasihlah kepada Istrimu

6 Comments

Seorang teman kuliah (perempuan) pernah berkata kepada saya, “Menjadi kalian (lelaki berpendidikan tinggi) itu sebetulnya sangat mudah. Istri kalian bisa mencari uang sendiri, yang mereka butuhkan hanyalah kasih sayang”.

Mendengar ucapannya saya terdiam. Apa yang ia ucapkan memang betul. Sebagai para lelaki yang mengenyam pendidikan tinggi, maka biasanya para perempuan yang berhasil kami persunting sebagai istri adalah mereka yang berpendidikan tinggi juga. Dalam kasus saya dan teman-teman di ITB, istri-istri kami tidak jauh dari alumni ITB juga, dokter Unpad, atau para perempuan yang mengenyam pendidikan di unversitas-universitas yang bagus.

Melihat latar belakang pendidikannya, wajar jika kemudian mereka mendapatkan kesempatan untuk memperoleh karir yang bagus. Dalam hal karir, para perempuan itu tidak perlu merasa kalah dari para lelaki. Asalkan memiliki kinerja bagus, posisi setinggi apapun di tempat kerjanya sangat mungkin diperoleh.

Namun, ada satu hal yang terkadang bisa “menghambat” karir istri, yaitu pernikahan. Sebagai orang timur, sebagian besar dari kita menganut paham bahwa, “langkah perempuan itu tidak panjang”. Artinya, pada umumnya istri akan mengikuti suami. Misalnya ternyata suami harus pindah pekerjaan ke luar daerah, maka biasanya istri akan “mengalah” dan mengikuti suami. Dalam hal ini tentu istri berkorban sangat besar karena bisa jadi dengan kepindahan itu dia harus meninggalkan pekerjaannya. Kalaupun bisa mendapatkan pekerjaan baru, tidak ada jaminan bahwa di tempat barunya itu dia bisa mendapatkan karir yang sama bagusnya dengan karir di tempat asalnya.

Saya sendiri paham betul dengan hal ini. Ketika menikah di tahun 2012, saya yang masih baru memulai karir sebagai dosen di ITB harus berangkat ke Belanda untuk menempuh pendidikan doktor. Saya dan istri ingin agar kami tidak berpisah terlalu lama. Terdengar mudah bukan? Istri saya tinggal menyusul ke Belanda maka kami pun akan dapat berkumpul kembali. Permasalahan selesai.

Sayangnya kenyataan tidak semudah itu. Waktu itu istri saya masih terikat kontrak di tempat kerjanya sehingga dia baru bisa menyusul hampir setahun kemudian. Tetapi bukan cuma itu permasalahannya. Istri saya sering berpikir. Nanti kalau di Belanda apa yang akan ia kerjakan? Apa aktivitas yang bisa dia punya? Bagaimana jika tidak bisa bertemu teman-teman dan keluarganya dalam jangka waktu lama?

Apakah salah jika seorang istri mempunyai pikiran sedemikian rupa? Tentu tidak. Saya pun sering punya pikiran yang sama. Lelaki akan menjadi makhluk yang sangat egois jika ia berpikir bahwa istrinya harus menurut sepenuhnya mengikuti dirinya kemanapun karir membawanya. Istri saya waktu itu masih baru beranjak 23 tahun. Ia lulus cum laude dari Teknik Industri ITB dengan persentil 94 di angkatannya. Sebuah prestasi yang tidak semua orang bisa dapatkan. Waktu itu dia sedang bekerja di salah satu BUMN terbesar di Indonesia dan hampir selalu unggul dari sisi penilaian kinerja.

Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, dalam beberapa tahun mungkin dia akan bisa mendapatkan posisi yang sangat bagus di tempat kerjanya. Kalau saja istri saya tidak perlu ikut ke Belanda, dia bisa dengan mudah membeli beberapa barang yang teman-temannya bisa beli. Kalau saja ia tidak perlu ikut ke Belanda, secara materi mungkin kami akan lebih baik dan kami tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana nanti mencicil rumah, mobil, pendidikan anak, dsb.

Dan atas segala kesempatan bagus yang istri saya lewatkan untuk dengan ikhlas mengikuti suaminya, apakah saya harus jengkel kalau ia mempunyai sebersit rasa khawatir tentang masa depannya di Belanda? Tentu tidak. Istri saya punya rasa khawatir karena dia berpendidikan tinggi, karena dia pintar. Dengan itu dia sebetulnya punya kesempatan yang besar untuk bisa sukses. Tetapi dia dengan rela meninggalkan itu demi suaminya. Apakah ini bukan wujud cinta yang tulus dari seorang istri ke suaminya? Lagipula kalau dipikir, memang kriteria pendidikan tinggi dan pintar adalah kriteria yang saya tentukan dengan sadar ketika hendak memilih istri. Maka rasa khawatir itu adalah konsekuensi yang harus siap saya terima.

Wahai para suami. Istri-istrimu yang berpendidikan tinggi memiliki rasa khawatir kalau harus meninggalkan karirnya bukan karena ia takut kehilangan uang banyak, bukan juga karena takut kehilangan status sosial. Penyebabnya adalah ia tidak terbiasa harus diam di rumah pada saat sebelumnya disibukkan dengan berbagai kegiatan pada saat kuliah. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita untuk ikut memikirkan solusinya.

Saya sering merasa berdosa kalau saya harus “merampas” masa muda dan kesempatan istri saya hanya karena ia harus mengikuti saya. Saya selalu berusaha memberikan pengertian bahwa yang penting dapat berkumpul bersama dulu. Yang penting bahwa istri itu harus pintar dan berpendidikan tinggi supaya anak-anak kami mendapatkan pendidikan dasar yang bagus. Maka saya sangat bersyukur ketika istri berhasil mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di Rijksuniversiteit Groningen mulai bulan September 2014. Paling tidak dia juga mendapatkan nilai tambah dengan ikut saya ke Belanda.

Pada akhirnya, memang fitrah seorang istri untuk selalu mengikuti suami. Tetapi posisi sebagai pemimpin keluarga tidak lantas membuat kita egois dan tidak ber-empati kepada istri. Maka para suami,

Jangan hanya memikirkan karirmu. Istrimu mungkin meninggalkan karirnya demi majunya karirmu

Jangan tersinggung kalau didebat istrimu. Itu tanda kalau ia pintar, dan ia mendapatkan kepintaran itu dari pendidikan yang kalian para suami tidak mengeluarkan uang sepeserpun

Jangan pelit kepada istrimu. Dia rela mengorbakan kesempatannya untuk mengikuti dirimu. Padahal tidak ada jaminan bahwa dirimu akan lebih sukses darinya

Jangan pelit untuk mendoakan istrimu. Setiap sehabis sholat istrimu selalu mendoakan dirimu

Jangan bersikap kasar kepada istrimu. Suatu saat kamu akan ingat, bahwa selain ibumu, dia lah orang yang paling lembut sikapnya terhadapmu

Jangan tinggalkan istrimu karena suatu saat kamu sukses. Pada saat sekarang kamu belum sukses, hanya istrimu lah yang tulus mencintaimu

Berterima kasihlah kepada istrimu. Ia sudah cukup banyak berkorban untukmu dan tidak pernah meminta ucapan terima kasih

Groningen, 21 Juni 2014 jam 21:01 CEST

untuk Istriku tercinta

If I have to die a thousand times, I will always choose you on every re-birth 🙂

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

6 thoughts on “Berterima Kasihlah kepada Istrimu

  1. Romantis bgt gan! Selamat ya kalo udah bareng istri! 🙂 Happy for you!

  2. Entah fenomena atau bukan, yang jelas kisah di atas tidak jauh berbeda dengan yang saya alami. Namun hingga saat ini kami masih berjauhan. Hal tersebut masih kami pikirkan solusinya, yang jelas saya berusaha sesering mungkin untuk bisa bertemu dengan keluarga kecil kami. Hal yang sama juga dialami oleh beberapa sahabat saya… Dia karir di Kalimantan, istrinya lanjut studi di New Zealand. Kakak tingkat dapat beasiswa di Belanda, suaminya berkarir di Jakarta. Yang jelas, doa dan ikhtiar selalu kami lakukan agar takdir terbaik kami peroleh bersama keluarga kecil kami.

    Salam kenal Bung Rully…

  3. Mencerahkan sekali tulisannya bang, Excellent…

  4. Aaahhh…baca groningen langsung teringat adikku yg baru lulus s2 dan lanjut s3 univ groningen…smoga bahagia bersama istri disana…insyaAllah betah..kota yg indah..

  5. Pingback: It’s nice to be read. « bangkusenja

  6. Terharu, membanggakan, dan terimakasih, sukses terus ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s