Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Bagaimana cara menentukan pemenang Pilpres? Diundi saja!

Leave a comment

Saya gerah sekali dengan situasi politik tanah air akhir-akhir ini. Sudah pada dasarnya tidak terlalu suka politik, ditambah dengan sikap pendukung kedua kubu calon presiden (capres) yang sudah kelewat batas. Sebetulnya sih mungkin kedua capres, Pak Prabowo dan Pak Jokowi santai-santai saja. Tetapi para pendukungnya itu, yang entah kerasukan apa, sehingga sepanjang waktu selalu membahas soal pilpres. Semua orang tiba-tiba menjadi ahli. Serang sini, serang sana. Ambil info dari sumber manapun tanpa cek dan recek dulu. Pokoknya bikin gerah deh.

Untungnya kegilaan ini (mungkin) bakal sampai tanggal 22 Juli saja. Setelah diumumkan, semoga semua kembali mereda. Tetapi melihat kondisi belakangan ini, kok saya malah jadi takut ya. Dukungan dari kedua kubu yang mengalir terus tanpa henti menimbulkan kekhawatiran nanti kalau salah satu dinyatakan kalah, para pendukungnya bisa jadi tidak terima dan berujung ke hal-hal yang tidak kita inginkan. Bukannya mendoakan buruk, tetapi dari rekam jejaknya, masyarakat Indonesia itu belum bisa terlalu legowo untuk menerima kekalahan. Lihat saja, kalah main bola ngamuk, kalah pilkada ngamuk, turun gaji ngambek, dll.

Melihat hal ini, saya jadi teringat kejadian unik waktu jaman kuliah dulu. Alkisah, di tahun 2008, waktu saya duduk di semester 8 ketika S-1, ada undangan untuk mengikuti Lomba Keilmuan Teknik Industri (LKTI) yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia (UI). LKTI UI adalah lomba yang bergengsi, kalau di pertandingan bola kira-kira setara dengan Liga Champions Eropa. Mengingat mahasiswa ITB adalah sekumpulan manusia yang kompetitif, berbondong-bondonglah kami membentuk tim, termasuk saya dengan ketiga teman saya.

Alhasil, terkumpulah sekitar 8 tim. Hal itu menjadi masalah, karena jatah ITB hanyalah 2 tim, artinya harus ada 6 tim yang dieliminasi. Waktu itu ada sedikit miskom sehingga kami harus melakukan eliminasi itu hanya 1-2 hari sebelum batas waktu penyerahan nama-nama tim ke panitia LKTI UI. Sekali lagi, kami adalah manusia-manusia yang kompetitif. Jadi jangan bayangkan kami akan saling tidak enak dengan misalnya bilang, “eh, tim kita kan kemarin udah ikut lomba X, sekarang gak usah ikut LKTI deh, biar yang lain aja, gantian“. Atau misalnya dengan bilang, “eh, biar timnya si Anu aja deh yang ikut, soalnya anak-anaknya kan pada pinter-pinter, kita ngalah aja“. Itu semua tidak terjadi. Hal yang kami lakukan ketika itu adalah berembuk. Kami semua berkumpul di himpunan (MTI) untuk menentukan siapa 2 tim yang paling layak untuk maju ke LKTI UI, tentunya dengan cara fair.

Kami semua pun berkumpul di himpunan dengan memilih dua orang yang netral sebagai hakimnya. Perundingan dimulai. Usul pertama adalah seleksi menggunakan makalah. Setiap tim membuat makalah dengan tema yang sudah ditentukan dan kemudian dievaluasi oleh dosen. Dua tim dengan makalah terbaik berhak maju ke LKTI UI. Usul ini baik, dan beberapa orang setuju. Namun banyak juga yang tidak setuju. Kubu yang kontra mengemukakan alasan bahwa waktu terlalu mepet, sedang banyak tugas kuliah yang lain, dll. Setelah melalaui perdebatan, akhirnya alternatif ini gugur.

Alternatif berikutnya adalah seleksi menggunakan IPK. Dua tim yang rata-rata IPK anggotanya paling tinggi berhak mewakili ITB ke LKTI UI. Usul ini masuk akal, dan juga adil, karena memang IPK adalah alat ukur kemampuan akademis mahasiswa selama di bangku kuliah. Namun, karena waktu itu kami adalah masih anak-anak muda yang baru berumur 21-22 tahun, banyak yang mendebat usul ini, hehehe. Alasannya adalah IPK belum tentu merepresentasikan kemampuan (kontradiktif dengan penjelasan sebelumnya, hehe). Setelah melalui perdebatan yang panjang, usul ini akhirnya mental juga.

Setelah pusing karena lama berdebat, munculah ide dari beberapa teman, “udah, diundi aja.“. Sebetulnya ide ini sempat muncul di awal perundingan. Namun, karena terkesan tidak serius, ide ini sempat dimentahkan. Tentu ide ini kembali didebat, tetapi teman-teman yang mengajukan ide ini langsung menyambung, “daritadi kan kita berdebat, nyari 2 tim yang paling pantas. tetapi daritadi kita sendiri juga bilang kalau kita-kita ini kalau mau dipukul rata kemampuannya juga sama saja sebenernya“. Kemudian disambung, “terus kita sendiri juga yang bilang kalau kita ini tujuannya adalah untuk mewakili TI ITB. kalau memang semua kemampuannya sama dan demi membawa nama TI ITB, yaudah toh, mau siapa saja yang maju ke LKTI UI juga sama saja“.

Dua pertanyaan itu tepat sekali. Kami semua tidak bisa membatahnya. Selain itu, setinggi-tingginya ego mahasiswa ITB, kalau sudah demi membawa nama institusi, rasanya malu kalau masih mempertahankan ego semu tersebut. Akhirnya, kami pun melakukan pengundian, dan terpilih dua tim. Kami dengan hati yang ikhlas mengucapkan selamat untuk dua tim terpilih dan mendoakan kesuksesan mereka. Ketika pada akhirnya maju ke LKTI UI, dua tim itu meraih Juara 1 dan Juara 3. Kami semua ikut berbangga, dan kami juga senang metode pengundian kami ternyata memang sesuai yang diharapkan.

Kembali ke masalah Pilpres. Ada pesan moral yang bisa kita pelajari dari kisah di atas. Meskipun tentu Pilpres lebih ruwet, tetapi sebetulnya dari kacamata rakyat Indonesia, memilih Presiden RI itu sesederhana mengundi 2 tim TI ITB untuk maju ke LKTI UI. Bukan berarti kita menjadi acak dalam memilih pemimpin kita, tetapi poin yang kita sebagai pendukung bisa petik adalah:

1. Siapa pun calonnya, mereka itu punya keahlian masing-masing. Mereka semua tentucapable untuk menjadi pemimpin kita.

2. Siapa pun calonnya, mereka itu sudah ikhlas untuk jadi Presiden. Dikiranya enak jadi Presiden. Tidak bung, repot.

3. Siapa pun calonnya, mereka itu melakukannya untuk kepentingan Indonesia, alias demi kepentingan kita juga.

Jadi, karena semua punya kemampuan dan semua melakukannya untuk Indonesia, kita-kita sebagai pendukung jangan lantas jadi ribut. Anggap saja seperti proses undian yang diceritakan di atas. Kalau calonnya menang ya syukur. Kalau calonnya kalah? Ya anggap saja belum dapat undian, hehe. Memang kita semua punya preferensi masing-masing, dengan melihat latar belakangnya, melihat visi-misinya, dll. Tetapi ya belum tentu yang kita pilih itu yang menang. Siap menang, siap kalah juga. Lagian ya, kalau calonnya kalah apa kita lantas tidak mau dipilih oleh Presiden yang sudah dipilih oleh proses yang sah? Apa lantas kita jadi ngamuk-ngamuk?

Tidak perlu berlebihan lah. Kembali, anggap saja seperti proses undian. Waktu pemilihan tim untuk LKTI UI itu tim saya juga tidak terpilih di undian. Tetapi saya dan teman-teman yang tidak terpilih santai-santai saja. Karena kami yakin kami bisa berkarya di event lain. Kami juga ikhlas karena yang terpilih maju ke LKTI UI adalah teman-teman kami juga yang membawa nama institusi kami. Sama dengan Pilpres ini, kalau calonnya tidak menang, be positive saja. Percayalah calon Anda itu masih bisa berkontribusi untuk Indonesia dengan cara yan lain.

Yah, selama buat kepentingan Indonesia, santai-santai bae lah kowe Sonkitorang basodara 😀

Groningen, 17 Juli 2014

Jam 17:44 CEST

*lagi nunggu instalasi Latex

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s