Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Hadiah untuk Ibu

8 Comments

Sewaktu saya masih kecil, almarhumah nenek dari Bapak pernah bercerita, “dulu waktu masih muda, Ibumu pernah benar-benar menangis karena baju barunya yang sedang dijemur dicuri orang”. Setelah agak besar saya baru bisa mengerti maksud cerita beliau. Ibu adalah orang Nganjuk, dari daerah yang tandus di bagian Barat Jawa Timur. Karena saking miskinnya, kakek dan nenek dari Nganjuk mengirim Ibu sejak umur 4 tahun untuk ikut saudaranya yang sedang merantau di Semboro, Jember, di hampir ujung Timur Pulau Jawa.

Sejak kecil Ibu terpisah dari kedua orangtuanya. Karena saudara yang di Semboro juga hanyalah pedagang rawon, Ibu hanya bisa bersekolah sampai kelas 3 SD. Kemudian Ibu menikah dengan Bapak, tetangganya di Semboro. Bapak adalah seorang tamatan SD dan bekerja sebagai tukang bangunan. Bapak sering cerita kalau kehidupan di awal pernikahan mereka amatlah sulit. Jangankan memiliki sepetak sawah, untuk tempat tinggal mereka harus numpang mendirikan gubuk (literally gubuk bambu) di tanah milik saudara. Makan banyak yang di-godok (rebus) bukan karena ingin hidup sehat dengan tidak makan goreng-gorengan, tetapi karena memang tidak mampu untuk membeli minyak goreng.

Dengan kondisi seperti itu, Bapak bilang kalau membeli baju baru adalah kemewahan yang luar biasa. Belum tentu orang tua saya dulu bisa membeli baju baru setahun sekali. Bapak pernah bilang kalau dulu Ibu dengan telaten menambal celananya yang bolong karena memang tidak mampu beli yang baru. Maka, ketika pada akhirnya Bapak bisa membelikan baju baru, tentu Ibu menjadi sangat senang. Tetapi apesnya, baju yang sedang dijemur itu dicuri. Wajarlah Ibu menjadi sangat sedih sampai benar-benar menangis.

Saya bisa paham kalau Ibu menangis. Kondisi rumah tangga serba kekurangan. Sekalinya mendapat kemewahan harus hilang. Sebagaimana umumnya orang desa jaman dulu, Ibu menikah di usia yang sangat muda (kalau tidak salah 14 tahun). Jadi ketika peristiwa itu terjadi, umur Ibu baru 17-18 tahun. Saya bisa membayangkan perempuan umur segitu tentu fitrahnya masih ingin merasakan banyak hal kesenangan duniawi.

Saya sendiri tidak pernah dengar cerita ini langsung dari mulut Ibu. Beliau yang saya kenal adalah Ibu yang selalu mengajarkan bahwa kesenangan dunia itu hanyalah sementara, maka kalau ada hal yang hilang/tidak kita dapatkan, janganlah kita terlalu kecewa. Ibu adalah orang yang amat sabar (sebuah sifat yang sayangnya tidak saya warisi) yang mengajarkan anaknya untuk tidak neko-neko dan tidak terlalu banyak memiliki keinginan duniawi. Namun Ibu bukanlah orang yang pelit. Dia akan membelikan keinginan anak-anaknya sepanjang itu wajar dan tidak berlebihan.

Sampai sekarang sifat itu bertahan. Sekarang kalau diajak anak-anaknya ke supermarket/mall dan ditanya mau dibelikan apa, Ibu menjawab, “tuku opo tho le/nduk, ora usah (mau beli apa Nak, tidak perlu)”, dan memang itu karena Ibu benar-benar tidak ingin membeli sesuatu, karena keinginannya untuk memiiki sesuatu memang sangat rendah. Ibu melahirkan saya (anak ketiga) waktu beliau sudah berusia 32 tahun. Wajar jika beliau berada dalam state yang lebih stabil ketika mendidik saya, karena sudah memiliki pengalaman yang banyak sebagai seorang Ibu.

Namun, saya tahu Ibu orang yang cukup banyak menderita dan serba kekurangan dalam hidupnya. Sewaktu Mas Hari (kakak pertama) kuliah, Ibu benar-benar harus berhemat supaya kakak bisa berhasil (lihat tulisan saya, “Pendidikan yang Mengubah Segalanya”). Ibu sampai harus menganyam tikar mendong dan membuat kerupuk puli (kerupuk beras) untuk menambah pemasukan di rumah. Ibu juga harus menjual perhiasan-perhiasannya demi kuliah Mas Hari. Ketika kejadian-kejadian ini, sewaktu saya masih kecil, Ibu tidak pernah cerita atau mengeluh ke saya soal hal-hal ini, tapi saya tahu belaka. Ketika suatu saat Bapak punya rejeki lebih dan bisa membeli mobil pertamanya, Suzuki Carry, akhirnya mobil itu harus terjual lagi karena kebutuhan kuliah Mas Hari. Ibu mendorong Bapak supaya mobil itu dijual saja demi pendidikan anaknya. Lagi-lagi kesenangan Ibu harus hilang.

Maka, dengan melihat berbagai latar belakang itu, ketika sudah bekerja dan punya uang sendiri, saya menjadi agak perasa. Yah, saya memang tidak mengalami kehidupan yang tidak sebegitu enaknya. Karena setelah saya kelas 4 SD, Mas Hari sudah lulus kuliah dan setelahnya amat membantu perekonomian keluarga, setelahnya juga rejeki Bapak terus bertambah. Jadi bisa dibilang hidup saya sudah enak. Tetapi tetap saja, memori-memori susahnya hidup Ibu dulu terekam baik di otak saya.

Untuk itu, saya ingin sekali memberikan hadiah-hadiah buat Ibu, sebagai ganti apa yang beliau dulu tidak bisa dapatkan ketika masa mudanya. Tetapi kalau saya tanya ingin apa, tetap saja jawabannya, “pingin opo le, ora usah (ingin apa Nak, tidak usah)”. Dasar saya juga kurang pintar dalam mencarikan hadiah-hadiah semacam itu, maka yang bisa saya berikan adalah sebagian apa yang saya hasilkan dari pekerjaan saya, sesuai yang diajarkan oleh dua orang kakak saya. Pernah saya sekali membelikan Ibu jam tangan. Tidak mahal, seingat saya harganya 500-600 ribu. Namun Ibu agak segan memakainya, karena menurut beliau barang itu terlalu mewah. Sebetulnya waktu itu saya agak kecewa. Namun saya jadi kembali sadar kalau memang sifat Ibu seperti itu, keinginannya akan hal-hal duniawi amatlah kecil.

Ibu sekarang memang sudah tidak hidup susah lagi. Mau makan enak setiap saat insha Allah bisa, di rumah juga ada mobil yang lumayan yang siap mengantar Ibu kemana-mana. Namun tetap, suatu ketika saya masih bertanya apa yang Ibu inginkan, supaya kami anak-anaknya bisa menyenangkannya. Ibu cuma menjawab, “Opo maneh le sing tak pingini, anak-anak’e Mak’e kabeh wis mentas, Mak’e wis bangga nemen. Asal kowe kabeh dadi wong sing bener, ora lali ibadahe, bekti ning wong tuwo, lan ora neko-neko, Mak’e wis seneng banget. Mangkakno, angger mari sholat tahajjud, Mak’e mesti ndungo mugo-mugo kabeh anak’e, mantune, lan putune Mak’e selamet dunyo akhirat”. Terjemahan: “Apa lagi Nak yang Ibu inginkan, anak-anak Ibu sudah berhasil, Ibu sudah sangat bangga. Asal kamu semua jadi orang yang benar, tidak lupa ibadahnya, berbakti ke orang tua, dan tidak neko-neko, Ibu sudah sangat senang. Makanya, setiap sehabis sholat tahajjud Ibu selalu berdoa semoga semua anak, menantu, dan cucu Ibu selalu selamat dunia akhirat”. Mendengar ini saya jadi malu sendiri. Ibu masih selalu dengan tulus mendoakan saya. Padahal bisa jadi masih ada hari-hari dimana saya alpa mendoakan beliau.

Ya, saya tahu, buat Ibu, dan juga Bapak, yang hanya orang kampung miskin yang tidak pernah pernah sekolah lebih dari jenjang SD, pencapaian keempat buah hatinya sudah cukup membuat mereka senang,

  • Mas Hariyanto, S-1 Teknik Elektro UB, S-2 Teknik Industri ITS, sekarang senior engineer di pembangkit listrik terbesar di Indonesia.
  • Mbak Eni, S-1 Teknik Sipil ITS, sekarang kontraktor.
  • Saya, S-1 Teknik Industri ITB, S-2 Teknik Industri ITB, (sedang) S-3 di University of Groningen, Belanda, sekarang dosen di ITB.
  • Aan, (sedang) S-1 Akuntansi UB.

Semoga kami bisa selalu berbakti dan memenuhi amanat Ibu kami.

Groningen, 20 Juli 2014

Jam 01:24 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

8 thoughts on “Hadiah untuk Ibu

  1. saya lagi di lab, iseng baca tulisan ruly (temen SMA 🙂 )dan kena banget tulisannya, nggak terasa ini nangis haha i know it’s kinda lame 🙂
    senang, sedih, bangga … campur campur …
    saya bukan dari keluarga yang kaya raya juga, tapi alhamdulillah ortu saya masih kuat membiayai saya dan saudara saya hingga ke bangku kuliah, itu yg saya syukuri … saya ingat almarhumah ibu saya dhawuh “nduk, umi abah ora iso maringi warisan harta berlimpah, tapi warisan dari abah umi itu pendidikan saja”
    dan alhamdulillah juga saya sedang sekolah S2 di USA melalui beasiswa, nggak mungkin juga duit ortu, bapak saya cuman jualan alat sekolah anak2 SD, apalagi gaji saya juga nggak mungkin cukup 🙂 maklum gaji PNS ….
    ketika saya menengok ke belakang juga ” wah, ternyata banyak juga yg sudah saya alami ya dan alhamdulillah semoga saya lebih dewasa dan lebih baik lagi”
    saya masih ingat dulu gaji pertama saya sebagian saya belikan magic jar, sama blender philip untuk ibu saya dan sebagian lagi ditabung (saya suka banget nabung haha, maklum dari keluarga nggak punya, jadi duit itu dieman-eman) …
    well, in any case, saya malah jadi curhat pffffttt

    sukses buat ruly dan study-nya (saya juga inshaa Allah, aamiin) … semoga selalu bisa istiqomah di jalan Allah SWT,
    dan menjadi org yg lebih baik lagi di setiap waktu …. aamiin

    • iyo Mir. iling lah aku pasti karo awakmu, the brightest student at 3 IPA IV, hehe.

      Thanks sudah membaca blogku. Iya, kalau dipikir-pikir, di negara seperti Indonesia dimana pemerintah belum bisa menjamin bahwa mau sekolah apa pun pasti terjamin hidupnya, pendidikan tinggi memang jadi syarat wajib kalau mau sukses. Maka jadi salut dengan para orangtua yang mati-matian menyekolahkan anaknya. Sebetulnya aku juga gak terlalu merasakan hidup gak enak, kakak-kakakku yang lebih banyak merasakan.

      Semoga selalu sukses ya studimu di US. Doakan supaya aku kapan-kapan bisa kesana. Btw, kamu ini kerja di LIPI ya? LIPI mana? Peneliti dong, 11-12 lah pekerjaan kita :))

  2. thank you for sharing such pretty story … this punches me in the heart.
    barokalloh …
    eh, ini Mira temen SMU kamu di nJember :))

  3. allhmdllh….stelah bca tulisan ini..sayA mulai termotivasi..mmang pnddikan saya tdk mumpuni,saya tdk prnh mrasakan bangku kuliah..
    tp sy cukup bangga dg profesi saya skr..walaupun hanya sbg crew kapal saja..
    karena di daerah kmi pkrjaan sbg sailor cukup memuaskn..
    tp dlm proses bgmn cra untuk bs krja di kapal mlalui prjlanan yg luar biasa pahitnya….
    thanks jo..atas artikele..
    sbnare msh bnyk yg mau saya tulis…
    laen kali yo jo…

  4. hadiah yang mungkin sangat membahagiakan ibu adalah pergi ke tanah suci 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s