Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kehamilan minggu ke-11: membiasakan diri dengan cara pikir orang Belanda

2 Comments

Week 11 all

USG minggu ke-11 dan dokumen kehamilan

Seri Kehamilan #1

Alhamdulillah istri saya, Intan, akhirnya hamil. Kami berdua sangat senang dengan berita ini. Sebetulnya berita ini sedikit mengejutkan. Kami memang amat mengharapkan kehadiran seorang buah hati. Tetapi setelah beberapa kali mencoba dan berkonsultasi ke dokter dan mempertimbangkan latar belakang kondisi fisik kami, tidak berani terlalu berharap istri bisa hamil secepat ini. Ternyata oleh Allah SWT diberi hamil, maka tentu kami sangat bersyukur.

Kehamilan ini adalah anak yang pertama. Karena saat ini kami sedang ada di Belanda karena saya sedang S-3 di Rijksuniversiteit Groningen, tentu segala prosedur kesehatan mengikuti rambu-rambu yang sudah ditentukan dalam sistem pelayanan kesehatan di Belanda. Kami tidak ada rencana untuk melahirkan di Indonesia, di Belanda saja biar tidak repot bolak-balik. Karena semua serba baru, dan juga jauh dari tanah air, maka saya berencana untuk menulis serial artikel yang menceritakan tentang proses kehamilan di negeri kincir angin.

Oke. Jadi pertama kali sadar kalau Intan hamil dimulai pada tanggal 16 Juli 2014. Saat itu kami ke dokter karena Intan tidak kunjung datang bulan. Walaupun terakhir kali menstruasi adalah pada 6 Mei 2014, kami tidak terlalu aware soal kehamilan. Pertama, istri saya siklus menstruasinya memang tidak teratur. Kedua, siklus itu biasanya amat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikologis. Artinya, kalau dalam kondisi capek atau stress, biasanya siklusnya juga mundur, bahkan pernah mundur tiga bulan. Intan berada di Indonesia dari awal Juni untuk mengikuti aktivitas Program Kepemimpinan sebagai awardee LPDP. Aktivitas tersebut cukup menguras tenaga dan pikiran. Wajar jika kami menduga bahwa tidak kunjung datangnya menstruasi adalah karena hal tersebut.

Maka kami datang ke huisarts (dokter) tujuan awalnya adalah untuk mengecek apakah hal tersebut normal. Ini bukan kunjungan yang pertama menanyakan masalah ini. Jawaban dokternya masih sama, “normal, setiap orang bisa punya siklus yang berbeda”. Sifat dokter di Belanda dan Indonesia sangat berbeda jauh. Di Indonesia, kami akan minta supaya dilakukan pemeriksaan detail terhadap istri saya. Soalnya wajar, khawatir kan kalau ada apa-apa dengannya sehingga kami tidak bisa memiliki anak. Di Belanda, jangan harap hal itu terjadi. Huisarts dengan pedenya akan selalu bilang bahwa itu normal dan tunggu saja. Buat orang Belanda mungkin hal seperti ini biasa. Tetapi bagi orang Indonesia yang datang dengan kultur lain, hal ini agak membuat khawatir. Akhirnya dokter bilang supaya kami melakukan tes kehamilan selama dua hari berturut-turut. Jika hasilnya positif, maka berarti Intan hamil. Jika negatif, dokter akan memberikan rujukan untuk melakukan tes laboratorium. Kami pun mengiyakan. Saya mengira bahwa dokter akan memberikan dua perangkat test pack. Ternyata kami harus membeli sendiri :))

Kami pun melakukan tes yang pertama, tanpa harapan tinggi, karena yakin kalau hasilnya bakal negatif. Hal ini juga didasari bahwa Intan tidak mengalami gejala-gejala seperti kebanyakan orang hamil, yaitu muntah-muntah, pusing, dll. Ternyata hasilnya positif! Saya terkejut dan sangat senang. Tetapi Intan masih kurang percaya. Besoknya kami kembali melakukan tes dan kembali positif. Pada saat itu saya sudah yakin kalau dia memang hamil. Siangnya, Jumat tanggal 18 Juli 2014, sesuai instruksi, kami mengunjungi dokter dengan harapan dokter akan memvalidasi hasil tes kami. Seperti layaknya di Indonesia, kalau pasangan ingin meyakinkan kalau istri memang hamil, dokter akan memberikan tes tambahan. Ternyata tidak. Cara kerja dokter di Belanda berbeda. Dokter bilang bahwa kalau memang hasil test pack positif, maka memang pasti hamil. Saya tahu penjelasan itu masuk akal, saya belajar statistika. Dari hasil penelitian, tingkat kesalahan test pack adalah 3%. Artinya, peluang terjadi false positive selama dua hari berturut-turut adalah 0,0009. Tetapi, tentu sulit menjelaskan ini ke istri saya. Beberapa kali dulu mencoba untuk hamil selalu gagal. Wajar jika kondisi psikologisnya menginginkan “tes resmi” dari dokter. Untungnya dokter berbaik hati memberikan kami rujukan untuk melakuan tes laboratorium.

Oiya. Sebetulnya kalau dari awal kami mau membayar sendiri tes lab, kami bisa melakukannya. Tetapi hal itu tidak di-cover oleh asuransi dalam default penangangan kehamilan di Belanda. Segala sesuatu yang tidak cover asuransi harganya mahal, bisa ratusan Euro. Maka dari itu kami beruntung bisa mendapatkan tes lab dengan rujukan dari dokter, artinya tidak perlu membayar sendiri. Intan pun melakukan tes darah dan kami kembali ke dokter. Hasilnya memang positif karena hormon HCG-nya sudah tinggi. Waktu melakukan tes saya mengira bahwa kami perlu mengambil hasil tes untuk kemudian dibawa ke dokter, seperti layaknya di Indonesia, hehehe. Ternyata di Belanda semua serba terkomputerisasi sehingga pasien tidak perlu repot-repot. Dokter dan laboratorium, yang mana dua ini beda lembaga, sistemnya saling terhubung sehingga bisa saling akses data. Praktis dan efisien.

Dokter memberitahu bahwa untuk penanganan kehamilan di Belanda, yang menangani bukanlah huisarts, tetapi verloskundige (bidan) atau dalam Bahasa Inggris adalah midwife. Jangan harap seperti di Indonesia dokter akan mengurus arrangement dengan bidan. Kami harus melakukannya sendiri. Begitu pula bidan mana yang harus kami pilih, kami menentukan sendiri. Bidan adalah lembaga partikelir, jadi jumlahnya cukup banyak. Kami pilih saja yang paling dekat dengan rumah, yaitu Verloskunde La Vie. Toh mau pilih bidan yang mana juga sama-sama tidak membayar, karena di-cover asuransi. Bidan juga pasti sudah terstandardisasi pelayanannya. Jadi kami pilih yang aksesnya paling mudah saja.

Mengontak bidan untuk pertama kali adalah menggunakan percakapan telepon. Begitu mengetahui bahwa Intan terakhir kali menstruasi sudah lebih dari dua bulan yang lalu, maka tes ultrasound (USG) yang pertama dilakukan segera. Tes ini bertujuan untuk mengetahui usia kandungan janin. Kami mendapat jadwal untuk melakukannya pada 29 Juli 2014 di Martini Ziekenhuis (hospital). Di hari yang sama kami dijadwalkan untuk konsultasi yang pertama dengan bidan. Disini semua serba terjadwal. Kalau ada apa-apa harus bikin afspraak (janji), jadi harus terbiasa untuk disiplin mengatur dan mencatat jadwal.

Menjelang USG pertama sempat agak khawatir kalau kondisi bayi kurang sehat karena selama di Indonesia Ibunya melakukan aktivitas yang cukup berat, misal rafting, observasi ke tumpukan sampah di Bantar Gebang, dll. Begitu di-USG, bayinya beneran terlihat, bagian yang tampaknya kaki sedang bergerak-gerak. Rasanya luar biasa melihat itu. Ada makhluk hidup yang darah saya mengalir disitu sedang bergerak! Kata petugas USG kondisi bayi kami sehat. Kami sangat lega mendengarnya. Bayi kami saat ini berumur 11 minggu dan dia baik-baik saja.

Siangnya di hari yang sama kami bertemu bidan untuk pertama kali. Bidannya adalah perempuan muda berbaju kasual bernama Maaike. Orangnya sangat ramah, ceria dan mau menjelaskan segala hal. Stereotip bidan disini sangat beda dengan bidan-bidan di Indonesia yang biasanya cenderung sudah berumur, sedikit kaku dan tidak trendy :)). Sama seperti huisarts, Maaike pola pikirnya juga tidak repot. Dia bilang hamil dibawa santai saja. Ikuti ritme tubuh dan jalani dengan senang. Berikut beberapa cuplikan percakapan kami dengan Maaike tentang beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan,

Rully & Intan: We have planned to go to Italy for holiday, is it allowed?

Maaike: You totally have to go. Eat a lot of pizza!

Rully & Intan: is cycling allowed?

Maaike: you can do any kind of sports you would like to do!

Rully & Intan: sexual intercourse?

Maaike: it is totally encouraged!

Jawabannya sangat Belanda :)). Tetapi kami senang, karena jadi tidak terlalu mikir berbagai pantangan dan pamali seperti kalau hamil di Indonesia, meskipun tentu juga masih harus hati-hati. Kami berdiskusi banyak hal dengan Maaike, semuanya sangat informatif. Di akhir pertemuan dia mengukur tekanan darah Intan  dan bilang kalau istri saya is in perfect condition. Maaike memberikan rujukan untuk melakukan tes darah untuk mengecek gula darah, HIV, dll. Dia juga menjelaskan tentang tes untuk mengetahui apakah bayi kami ada kemungkinkan untuk menderita down syndrome. Karena dia menjelaskan bahwa istri saya tidak punya higher chance untuk itu, dan juga karena tes tersebut tidak di-cover asuransi, kami memilih untuk tidak melakukannya. Maaike memberitahu bahwa pertemuan berikutnya adalah empat minggu lagi dan kami sudah dibuatkan afspraak untuk pertemuan kedua itu. Dia bilang bahwa kami harus menghubungi lab USG lagi untuk bikin janji USG di minggu ke-20. Tes ini untuk mengecek apakah semua organ tubuh bayi lengkap, sekaligus bisa mengecek jenis kelamin bayi. Dia bilang jika ada apa-apa jangan ragu-ragu untuk menelepon ke nomor hotline yang siap melayani 24/7.

Well. Itulah pengalaman kami sejauh ini. Menyenangkan. Pelayanan kesehatan di Belanda bagus. Kami sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk semua tes dan konsultasi tersebut. Semua sudah masuk dalam paket asuransi. Disini saya merasa bahwa sistem seperti ini bagus. Karena tidak ada transaksi uang antara dokter/bidan/laboratorium dengan pasien, yang dipikirkan adalah pelayanan kesehatannya saja. Sepertinya semua prosedur dan paket juga ditentukan oleh pemerintah sehingga pelaksana kesehatan (dokter, bidan, laboratorium) tinggal mengikuti. Pasien juga dituntut untuk tidak manja. Sebagai contoh, untuk USG kami tidak bisa meminta setiap saat seperti di Indonesia. Hanya di periode-periode tertentu yang sudah ditetapkan, dan hal ini seragam untuk semua pasien.

Sangat terasa juga bahwa orang Belanda sangat egaliter (sama rata). Setiap kehamilan yang menangani adalah bidan. Mau orang kaya, orang berpangkat, semua ke bidan. Penanganan oleh dokter kandungan hanya kalau ada alasan medis. Menurut saya ini sangat bagus, karena equal treatment diberikan untuk semua orang tanpa memandang latar belakang (ekonomi) nya. Berbeda dengan di Indonesia dimana orang cenderung “ribut” untuk ke dokter A karena lebih oke, atau ke dokter B karena lebih terkenal, dsb. Kita jadi sedikit melupakan bahwa bidan adalah pelaksana kesehatan yang sah untuk penanganan kehamilan. Tetapi tentu hal ini bisa terjadi karena Pemerintah Belanda sudah menjamin bahwa semua bidan adalah bagus dan terstandardisasi. Jadi orang tidak perlu khawatir kehamilan ditangani oleh verloskunde.

Yah, tetapi yang paling menyenangkan tentu adalah perasaan bahwa sebentar lagi kami akan memiliki seorang buah hati. Perasaan bahwa sebentar lagi di dunia ini akan hadir darah daging kami sendiri itu luar biasa. Semua uang di seluruh dunia tidak dapat membeli perasaan itu. Rabbii hablii minash sholihiin, Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang sholih/sholihah (37 : 100). Insha Allah kamu nanti akan lahir di pertengahan Februari 2015, Nak. Saat itu sedang puncak musim dingin, tetapi pasti kehadiranmu akan menghangatkan Ayah dan Bunda 🙂

Groningen, 30 Juli 2014, jam 17:15 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Kehamilan minggu ke-11: membiasakan diri dengan cara pikir orang Belanda

  1. bgaimna cra mmpercepat supaya cepT hmil..n saya blom pny istri..mohon pnjelasannyA.matur nuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s