Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Jerman bagian Utara: belajar sejarah di Berlin

2 Comments

Brandenburg Gate

Brandenburg Gate

Kami berangkat dari Hamburg hari Kamis, 29 Mei 2014 menggunakan bis Berlin Linien yang berangkat pukul 08:00 pagi. Bis berangkat dari Hamburg Zentraler Omnibusbahnhof yang terletak di samping Hamburg Hauptbahnhof. Tiket yang kami bayarkan untuk perjalanan ini adalah 25 Euro/orang. Cukup mahal untuk moda transportasi bis yang biasanya lebih murah dari kereta. Mungkin karena ketika itu pesannya sudah agak mepet. Namun karena kalau naik kereta lebih mahal lagi, alternatif tersebut akhirnya tetap diambil. Perjalanan ke ke Berlin dari Hamburg adalah hampir sejauh 300 km dan kami sampai di Berlin Ostbahnhof pukul 11:30. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah tanah kosong dan jalan raya. Lebih baik Anda tidur untuk menghemat tenaga. Jika ingin melek, bis di dalam bis tersedia wireless internet yang cukup lancar.

Pergamon Altar

Pergamon Altar

Perut yang terasa lapar membuat kami makan siang dulu di stasiun. Pilihan jatuh ke kebab karena terpengaruh promosi dari teman kami yang di Stuttgart. Dia bilang bahwa kebab Jerman berbeda dengan Belanda. Kami pun memesan dua durum, semacam roti yang berisi daging kebab dan sayuran. Harga durum adalah 3,90 Euro/biji, lebih murah 10 sen dari di Belanda. Begitu pesanan datang, ternyata ukuran durum sekitar 40 cm, dua kali lebih besar dari yang di Belanda! Luar biasa, makanan di Jerman sangat murah. Setelah kenyang, kami membeli tiket harian untuk dipakai selama di Berlin. Sebagai ibukota Jerman, tentu transportasi di Berlin bagus. BVG sebagai penyedia jasa menyediakan situs yang bermanfaat bagi turis. Anda bisa membeli day ticket di konter di stasiun. Tidak semua orang Jerman pandai berbahasa Inggirs. Jika mereka tidak mengerti, sebutlah tageskarte. Harga tiket harian adalah 6,7 Euro/tiket. Jika berpergian lebih dari dua orang, lebih murah lagi menggunakan small group ticket yang harganya 16,7 Euro dan dapat dipakai oleh maksimum lima orang. Apa pun jenis tiketnya, harus divalidasi di mesin sebelum naik S-Bahn, U-Bahn, tram, atau bis.

Ishtar Gate

Ishtar Gate

Kami menuju hotel dengan naik U5 menuju stasiun Samariterstraße setelah ganti subway di stasiun Alexanderplatz yang merupakan salah satu pusat jalur transportasi di Berlin. Hotelnya tidak terlalu bagus. Bangunannya tua dan resepsionis tidak bisa berbahasa Inggris. Tetapi hotel bagus di Berlin mahal, maka memang itulah yang kami mampu sewa. Setelah beristirahat, kami menuju Pergamon Museum. Untuk mencapai tujuan ini bisa naik S7 dan turun di stasiun Hackescher Markt. Pergamon Museum adalah museum yang paling banyak dikunjungi di Berlin. Sangat disarankan untuk membeli tiket online yang seharga 11 Euro. Karena selain harganya lebih murah 1 Euro dibandingkan kalau membeli tiket on the spot, tiket online juga membuat kita bebas dari antrian untuk masuk museum. Saya sendiri membeli tiket online dengan harga 5,5 Euro, ada diskon khusus untuk student.

Alexander Platz

Alexander Platz

Pergamon Museum memang sepertinya amat terkenal. Waktu kami sampai disana, antrian mengular. Melihat hal itu jadi sangat bersyukur sudah membeli tiket online. Ketika masuk ke museum, ternyata isinya adalah replika peninggalan sejarah dari beberapa lokasi diantaranya dari masa Babylonia, dimana terdapat replika Gerbang Ishtar yang dibangun oleh Raja Nebukadnezar. Selain itu juga ada peninggalan dari masa Romawi, yang paling ikonik adalah Pergamon Altar. Di lantai atas terdapat peninggalan sejarah Islam. Walaupun cukup lengkap, saya tidak terlalu terpukau dengan museum ini. Mungkin karena hanya berupa replika. Walaupun begitu, pelayanan di museum ini bagus. Pengunjung diberikan headset yang ceritanya dapat didengar sesuai dengan lokasi yang sedang disinggahi.

Reichstag

Reichstag

Kami menghabiskan hampir tiga jam di museum. Kemudian kami menuju lokasi selanjutnya, yaitu Brandenburger Tor. Untuk mencapai lokasi ini, awalnya kami berjalan kaki. Cuaca Berlin ketika itu masih dingin, sehingga Intan membeli syal. Setelah berjalan beberapa saat, ternyata kami melewati pusat kota di daerah Friedrichstraße. Kami membeli beberapa suvenir disitu. Selain itu juga waktu itu kebetulan ada pameran Mercedez. Kami sempat masuk dan melihat beberapa mobil baik model lama maupun baru. Dilihat dari dekat memang pabrikan Mercedez mobil-mobilnya amat elegan. Dari pusat kota kami naik bis ke Gerbang Brandenburg. Bangunan ini sederhana, namun di kala Perang Dingin obyek ini adalah pemisah antara dua negara yang dahulunya bersaudara, Jerman Barat dan Jerman Timur.

Reruntuhan Tembok Berlin

Reruntuhan Tembok Berlin

Dari Gerbang Brandenburg kami menuju Reichstag. Bangunan klasik ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Di sepanjang perjalanan terdapat beberapa ornamen untuk memperingati Perang Dunia II. Sayang ketika itu kami tidak bisa masuk Reichstag karena sudah sore. Untuk masuk kesini tidak dipungut biaya namun harus membuat janji terlebih dahulu di semacam konter yang terletak di seberang gedung.

Tujuan selanjutnya adalah Bernauerstraße yang merupakan lokasi sisa-sisa reruntuhan Tembok Berlin. Lokasi dapat dicapai dengan naik U8. Sebagaimana kita tahu, Tembok Berlin dibangun setelah Jerman terpecah menjadi dua akibat kalah di Perang Dunia II. Jerman Barat ada di bawah kekuasaan Amerika Serikat dan Jerman Timur di bawah pengaruh Uni Soviet. Terdapat beberapa keterangan di beberapa spot di lokasi. Membaca cerita di setiap spot, hati ini jadi agak perasa juga. Betapa perang bisa memisahkan saudara hanya karena dibangunnya tembok. Tembok Berlin dulu menjadi saksi betapa banyak warga Jerman Timur yang ingin lari ke Jerman Barat yang lebih makmur. Selama perang dingin, stasiun subway Bernauerstraße ditutup, dan baru dibuka kembali setelah tembok diruntuhkan pada tahun 1990.

Toko roti di Jerman

Toko roti di Jerman

Selesai menengok Tembok Berlin hari sudah malam dan kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Besok paginya kami berkemas dan melanjutkan ke sisa obyek yang belum dikunjungi. Oiya, selama di Jerman kami mengamati bahwa roti disini lebih enak dan lebih murah daripada di Belanda. Jenisnya juga lebih banyak.

Pada pagi hari kami ke Treptower Park dengan menggunakan S8 atau S9 dan turun di stasiun dengan nama yang sama. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya bertemu juga dengan monumen yang dibangun untuk memperingati 50.000 tentara Soviet yang gugur waktu Perang Berlin di tahun 1945. Monumen ini dibuka tahun 1949. Seperti layaknya bangunan komunis, desain dari Treptower Park tampak luas dan megah. Terdapat juga simbol khas dari komunis, palu dan arit, yang melambangkan kaum buruh. Namun yang saya masih belum paham, siapakah yang membangun monumen ini, Jerman ataukah Soviet. Soalnya terdapat juga abjad-abjad Rusia di Treptower Park.

Treptower Park

Treptower Park

Tujuan terakhir adalah Potsdamer Platz. Untuk menuju kesini dari Treptower Park, perlu ganti subway dulu di Alexander Platz. Disitu kami menyempatkan untuk melihat TV tower. Bangunannya tidak begitu menarik. Malah yang menarik adalah semacam pusat keramaian di sekitar situ dimana terdapat banyak toko, termasuk toko makanan. Sayangnya waktu terbatas sehingga tidak sempat untuk mencicipi kuliner disitu.

Untuk mencapai Potsdamer Platz, bisa menggunakan U5 dan turun di stasiun dengan nama yang sama. Obyek wisata ini merupakan salah satu pusat keramaian (public square) di Berlin. Waktu Perang Dingin, lokasi ini juga merupakan salah satu yang terisolasi. Ketika kami kesana, sedang ada semacam pasar dan saya menyempatkan membeli komik Donak Bebek bekas berbahasa Jerman untuk koleksi. Banyak terdapat gedung perkantoran dan juga mall di Potsdamer Platz. Kami masuk ke salah satu pusat pertokoan untuk mencari kantor pos guna mengirimkan kartu pos, sebagaimana kebiasaan setiap kali berpergian ke luar negeri. Di mall tersebut juga terdapat banyak toko makanan dan kami membeli makan siang di sebuah restoran Asia.

Potsdamer Platz

Potsdamer Platz

Kunjungan ke Berlin pun berakhir dan kami bergegas menuju ke Berlin Zentraler Omnibusbahnhof yang dari Potsdamer Platz dapat ditempuh dengan U5 menuju stasiun Kaiserdamm. Kami puas berkunjung ke Berlin. Menurut istri saya, kotanya besar seperti Jakarta namun rapi. Sedangkan saya suka Berlin karena banyak terdapat jejak peninggalan sejarah sisa Perang Dunia II. Walaupun banyak terdapat akibat buruk dari perang tersebut, tetap sejarah harus dipelajari supaya tidak terulang di masa depan. Kami pun menunggu bis di Berlin ZOB untuk menuju tujuan berikutnya (bersambung).

Itinerary (rencana) perjalanan di Berlin (termasuk juga rencana ke Jerman bagian Utara)

Download peta transportasi publik di Berlin

Groningen, 4 Agustus jam 22:16 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Jerman bagian Utara: belajar sejarah di Berlin

  1. Salam kenal mas, seru cerita2 jalan2nya.

    Kami sendiri sekarang tinggal di Berlin. Kalo sy sendiri blm jln2 keliling eropa tp kata suami sejauh ini dari segi murah, lengkap, transportasi, dll Berlin yang terbaik.
    Setuju banget doner (durum doner maupun doner kebab) disini enak2 dan murah. Mungkin krn itu daerah wisata jd hrga durum donernya 3.9. Paling murah 3.5 euro.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s