Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Jerman bagian Utara: Hamburg, kota modern dengan arsitektur unik

2 Comments

Hamburg Town Hall

Hamburg Town Hall

Sepertinya sudah menjadi rule of thumb dari setiap mahasiswa bahwa saat tanggal merah adalah saatnya liburan. Begitu pula saat Hemelvaartsdag tanggal 29 Mei 2014 yang lalu, saya dan Intan merencanakan jalan-jalan untuk memanfaatkan momen kosong tersebut. Seperti waktu liburan ke Belgia, kami tidak bisa merencanakan liburan ini jauh-jauh hari. Hal ini dikarenakan kesibukan menyiapkan Indonesian Day 2014. Jadilah baru bisa bikin rencana sekitar dua minggu sebelumnya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk jalan-jalan ke Jerman. Sebetulnya ingin ke tempat yang agak jauh. Namun, karena sudah mepet, tiket (pesawat) harganya sudah mahal. Jadilah ke Jerman saja yang relatif dekat. Lagipula, kami berdua belum pernah ke Jerman.

Awalnya ada rencana untuk tur ke seluruh bagian di Jerman, sekaligus ingin ke Stuttgart, mengunjungi teman kami. Tetapi setelah dilihat di peta, ternyata Jerman itu luas, paling tidak empat kali Belanda. Rasanya menjadi terlalu terburu-buru kalau harus tur Jerman hanya selama empat hari. Teman kami juga bilang kalau ke Jerman lebih baik dibagi, ke Utara dulu, baru lain kali ke Selatan. Anjuran itu masuk akal juga, maka kami akhirnya menentukan rute Groningen – Oldenburg – Hamburg – Berlin – Dresden – Hannover – Bremen – Groningen. Semua ditempuh dengan jalan darat.

Bagi Anda yang memerlukan itinerary (rencana) perjalanan ke Jerman bagian utara, saya melampirkannya disini, lengkap dengan biayanya dan rencana perjalanan per kota. Kami biasanya merencanakan secara rinci jika hendak jalan-jalan. Supaya tidak kebingungan ketika sampai di tempat asing. Sekaligus supaya bisa melakukan efisiensi waktu. Semua harus dihitung, kan mahal juga toh jalan-jalan di Eropa, mahal lagi. Tetapi sekarang mudah. Asal rajin cari informasi di Google dan Google Maps, membuat itinerary itu tidak sulit.

Kami berangkat dari Groningen hari Rabu, 28 Mei 2014 ke Oldenburg menggunakan bus Public Express jam 06:15. Sengaja pilih jam paling pagi supaya tidak “rugi waktu” liburan. Selain itu juga supaya harganya murah. Pada waktu-waktu yang bukan merupakan rush/peak hours, biasanya harga tiket lebih murah, ketika itu kami dapat harga tiket Euro 7/orang. Bis Public Express adalah bis Jerman yang salah satu rute utamanya adalah jalur di Eropa Barat Laut, dari Groningen sampai ke Berlin. Bisnya bagus, bersih, dan nyaman. Ada fasilitas wireless internet gratis di dalam bus.

Stasiun Oldenburg

Kami sampai di Stasiun Oldenburg jam 08:00. Sambil menunggu kereta ke Hamburg jam 09:06, kami melihat-lihat di stasiun dan ternyata Stasiun Oldenburg sangat kecil, lebih kecil dari Groningen. Begitu melongok keluar stasiun juga sama sepinya. Wajar, Oldenburg adalah kota dengan penduduk hanya sekitar 150.000 ribu jiwa.

Dari Oldenburg kami lanjut ke Hamburg dan kali ini menggunakan kereta. Penyedia jasa kereta utama di Jerman adalah DB Bahn. Terdapat banyak alternatif layanan, ketika itu yang kami pilih adalah Länder-Tickets. Ini adalah semacam regional day-tickets yang valid untuk satu hari penuh dan berlaku untuk satu negara bagian. Jerman terdiri dari beberapa negara bagian. Oldenburg, Bremen, dan Hamburg terletak dalam satu negara bagian yaitu Lower Saxony. Jadi, tiket tersebut valid seharian penuh di negara bagian yang kami pilih. Harga satu tiket adalah 22 Euro. Namun, untuk setelahnya, hanya menambah 4 Euro saja. Jadi waktu itu kami mengeluarkan 26 Euro untuk dua orang. Tiket ini dapat digunakan sampai dengan 5 orang dengan harga 38 Euro. Sangat murah bukan, jika pergi berlima seorang hanya perlu membayar tidak sampai 8 Euro. Tiket ini juga berlaku untuk transportasi dalam kota (bus, tram, metro, dll) di negara bagian tersebut.

Hamburg Hauptbahnhof, stasiun kereta paling sibuk di seluruh Jerman

Hamburg Hauptbahnhof, stasiun kereta paling sibuk di seluruh Jerman

Kami sampai di Hamburg Hauptbahnhof pukul 11:23. Stasiun ini merupakan stasiun kereta paling sibuk di Jerman. Kereta di Jerman menurut saya lebih bagus daripada di Belanda. Fasilitasnya lebih baru dan juga kondisi di dalam gerbong lebih bersih. Selain itu, anak muda Jerman juga tidak berisik seperti anak muda di Belanda kalau di kereta. Begitu sampai Hamburg, ternyata udaranya cukup dingin, berbeda dengan ramalan cuaca yang sudah kami cek. Jadilah cukup salah kostum, terutama Intan yang hanya membawa jaket tipis.

Kami menuju ke destinasi yang pertama. Sebagai kota besar dengan penduduk hampir dua juta jiwa, Hamburg memiliki transportasi umum yang bagus yang dikelola oleh HVV. Pemerintah kota menyediakan situs transportasi umum yang sangat bermanfaat untuk turis. Seperti yang sudah disebutkan, kami memiliki Länder-tickets, jadi tidak perlu membeli tiket harian yang harganya sekitar 5,9 – 7,3 Euro/tiket berlaku seharian penuh untuk kereta bawah tanah (U), kereta komuter (S), bis, dan ferry. Tujuan pertama adalah Hamburg Town Hall. Waktu itu kami menggunakan U3 dari Hauptbahnhof dan turun di halte Rathaus yang tepat di tepat obyek tujuan. Sebetulnya bisa berjalan kaki. Namun karena cuaca dingin dan sudah ada tiket terusan, kami memilih untuk naik subway saja.

Hamburg Town Hall (inside)

di dalam Hamburg Town Hall

Hamburg Town Hall adalah gedung yang dibangun pada abad ke-19 dan sampai sekarang sebagian masih digunakan untuk aktivitas pemerintahan kota. Waktu itu di dalam sedang ada pameran sejarah polisi dan tidak ada tiket masuk. Bentuk bangunan di dalam didominasi oleh ornamen lengkungan. Kondisi di dalam gedung waktu itu tidak terlalu ramai sehingga kami bebas mengeksplorasi.

Dari town hall kami berjalan menuju Alster Lake. Dua lokasi ini terletak di sekitaran pusat kota sehingga cukup berjalan kaki saja. Salah satu sumber air Danau Alster adalah dari Sungai Elbe. Danau berukuran besar, yang tampak di foto hanyalah sebagian kecil di bagian ujungnya saja. Di sekitaran danau terdapat taman. Jika cuaca bagus, sepertinya menyenangkan duduk-duduk santai di sekitar danau. Namun karena waktu itu cuaca tidak terlalu bersahabat jadinya niat untuk duduk santai itu kami batalkan. Kami diberitahu oleh seorang penduduk lokal bahwa Hamburg terkenal sebagai salah satu “Venice of the north”, karena banyaknya kanal di kota ini, bahkan lebih banyak daripada di Amsterdam. Kami cukup takjub dengan penjelasan ini. Namun kanal-kanalnya memang tidak tampak sebanyak di Amsterdam. Mungkin tertutup oleh jalan atau tidak terlalu terlihat karena ukuran kota Hamburg yang besar.

Alster lake

Danau Alster, dari sini tampak Hamburg Town Hall

Berikutnya kami menuju ke Speicherstadt yang berarti pusat gudang. Untuk menuju kesini kami mencoba naik bis. Daerah ini dibangun pada masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Deretan gudang berjajar disini. Sebagai kota pelabuhan, tentu gudang ini memiliki arti penting sebagai sentra perdagangan. Kami menuju ke Pelabuhan Hamburg yang dapat ditempuh dengan jalan kaki dari Speicherstadt. Sebetulnya saya tertarik untuk datang kesini karena topik penelitian saya adalah di bidang pelabuhan. Hamburg adalah salah satu pelabuhan terbesar di dunia, tentu sangat menarik untuk melihat-lihat lebih jauh. Namun waktu itu angin sedang berhembus amat kerasnya di Hamburg. Apalagi di daerah pelabuhan yang di pinggir pantai hembusannya lebih terasa hebat. Jika hembusan angin seperti di Pelabuhan Tanjung Priuk masih tidak apa-apa. Tetapi ini di Eropa utara, hembusannya dingin dan cukup membuat menggigil. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel terlebih dahulu. Waktu itu kami menginap di Bedpark Stellingen. Hotelnya recommended, harganya tidak terlalu mahal dan letaknya tepat di samping stasiun kereta komuter Stellingen/Arenen yang tidak terlalu jauh dari pusat kota.

Pelabuhan Hamburg

Pelabuhan Hamburg

Setelah beristirahat, malam harinya kami menuju ke Gereja St. Michael’s, gereja yang paling terkenal di Kota Hamburg. Waktu itu sekitar pukul 18 malam tetapi masih terang karena sedang musim panas, dimana siangnya panjang. Inilah enaknya liburan di Eropa ketika summer, waktu yang kita miliki menjadi lebih banyak. Gereja ini bercorak Luther, Bapak agama Kristen Protestan. Sepertinya umumnya bangunan Protestan, tidak terlalu banyak terdapat ornamen-ornamen agama. Kami sempat masuk ke dalam gereja. Sayangnya tidak bisa masuk lebih jauh ke dalam ruang dalam karena sudah malam sehingga akses ke dalam ditutup.

Selanjutnya kami menuju Blankenese yang dapat ditempuh menggunakan S1 dan turun di halte Blankenese. Obyek ini merupakan jejeran rumah di pinggir tebing yang terletak di sisi dari Sungai Elbe. Menurut keterangan, Blankenese adalah semacam daerah khusus di Hamburg. Pemandangan disini bagus. Namun jika tidak dalam kondisi fit, tidak direkomendasikan untuk kesini karena untuk mencapai lokasi harus turun melewati anak tangga yang cukup panjang. Sepanjang jalan menuju lokasi terdapat bangunan-bangunan yang sepertinya berasal dari semacam kota lama di Hamburg.

Reeperbahn red district

Reeperbahn red district

Waktu itu hari sudah mulai gelap dan kami menuju ke obyek terakhir yaitu Reeperbahn yang merupakan red light district. Sebagaimana lazimnya di kota pelabuhan, di Hamburg juga terdapat lokalisasi untuk mengakomodasi kebutuhan para pelaut yang singgah di kota ini. Anda dapat mencapai lokasi ini menggunakan S1 atau S3 dan turun di halte Reeperbahn. Lokalisasi terdiri dari sepanjang jalan dengan warna merah yang mendominasi. Namun, jika dibandingkan dengan red district di Amsterdam, Reeperbahn masih kalah megah. Selain itu juga tidak ditemui etalase yang menjajakan para pekerja seks komersial disini. Konon, sebelum menjadi terkenal, band legendaris The Beatles beberapa kali tampil di klub di sekitar sini sewaktu periode mereka tinggal di Hamburg.

Kami kembali ke hotel sudah lewat jam 11 malam dan kemudian beristirahat untuk persiapan ke Berlin esok paginya. Secara umum Hamburg layak untuk dikunjungi. Disini terdapat suasana kota yang modern namun tetap dengan arsitektur unik khas Eropa barat. Walaupun arsitekturnya tidak secantik di Bruges, disini tetap ada sisi-sisi kota yang cantik seperti misalnya di pusat kota di daerah Rathaus (town hall). Transportasi publik juga bagus. Soal makanan, ternyata cukup banyak terdapat makanan Asia di sekitar pusat kota. Kami sempat membeli mie goreng dan ternyata harga makanan di Jerman lebih murah daripada di Belanda. Porsinya besar, cukup untuk dua orang. Hal yang cukup kami sesalkan di Hamburg adalah tidak sempat tereksplornya semua tempat, seperti keliling di Hafen city, dikarenakan cuaca yang buruk ketika itu. Kami juga tidak sempat naik ferry, kurang lebih karena alasan yang sama. (bersambung)

Itinerary (rencana) perjalanan ke Jerman bagian Utara (Nothern Germany)

Download peta transportasi publik Hamburg

Groningen, 4 Agustus 2014, jam 14:56 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Jerman bagian Utara: Hamburg, kota modern dengan arsitektur unik

  1. Wah mas…info berharga utk nanti liburan di Hamburg dan sekitarnya……thanks. Untuk kota2 lain ada nggak? Yang Belgia dulu? Soalnya aku paling nggak ahli cari info travelling…hehehe

    • Kota-kota lain sedang ditulis, Mas. Berlin, Dresden, Hannover, Brussels, Brugge, Antwerp, KL, dsb sedang menunggu giliran. Doakan saja paperku cepet beres supaya artikel jalan-jalannya segera terbit, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s