Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Jerman bagian Utara: Mengagumi indahnya Dresden dan penyesalan di Hannover

Leave a comment

Bruehls Terrace

Bruehl’s Terrace

Sewaktu kecil mungkin kita pernah membaca cerita tentang suatu tempat dengan kastil dan sungai yang indah, juga dengan burung-burung merpati yang memeriahkan suasana. Sebagai seorang yang lahir dan besar di Indonesia, gambaran seperti itu selama hanya menjadi imajinasi karena tidak pernah ditemui kenyataannya. Namun, begitu bulan Mei ke Dresden, sebagian dari potret itu terpenuhi. Kondisi itu didapati di Brühl’s Terrace. Sebuah balkon yang dulunya milik bangsawan yang menhadap Sungai Elbe yang mengalir dari Ceko sampai ke Hamburg. Teras terletak di kastil yang juga berada di lingkungan bangunan-bangunan klasik. Disitu kita bisa memandangi perahu-perahu yang hilir mudik melintasi Elbe, sungai yang dulu menjadi salah satu urat nadi transportasi di Eropa. Waktu itu cuaca sangat cerah, sehingga suasana menjadi begitu indah, kami abadikan hal itu dalam foto yang menjadi cover dari blog ini. Burung-burung merpati berdatangan dan orang-orang memberi makan dengan remah-remah roti, saya pun turut melakukannya.

Semperoper

Semperoper

Kami berangkat dari Berlin ZOB tanggal 31 Agustus 2014 jam 13:45, kembali menggunakan bus Berlin Linien. Saya membayar 9 Euro menggunakan tiket promo. Waktu memesan untuk Intan, tiket promo sudah habis. Namun untungnya, masih terdapat potongan untuk penumpang yang usianya kurang dari 26 tahun. Harga tiketnya menjadi sebesar 15 Euro. Dresden terletak sekitar 180 km di sebelah selatan Berlin. Kota dengan penduduk sekitar 500 ribu jiwa ini ada di hampir paling selatan negara Jerman. Letak geografis ini membuat pelancong biasanya melanjutkan tur ke Prague, Ceko yang dapat ditempuh kurang dari dua jam perjalanan darat dari Dresden.

Kami sampai di Dresden pukul 16:25 dan langsung menuju hotel karena pada jam 18:00 resepsionis sudah tidak ada. Sebetulnya bisa check-in di mesin, tetapi saya orang yang cenderung play save pada saat berpergian jauh, sehingga saya menghindari alternatif ini. Kami menginap di Hotel Heidenschanze. Komentar pertama terhadap hotel ini adalah aksesnya sulit. Dari Stasiun Dresden sebetulnya hanya 20 menit naik tram nomor 3 dan turun di halte Achtbeeteweg. Tetapi, dari halte tersebut masih harus berjalan 20 menit untuk mencapai hotel. Jika berjalan seperti di Belanda yang kontur alamnya datar masih enak. Dresden adalah kota yang berbukit-bukit, sebuah kondisi yang membuat tidak adanya subway underground di kota ini. Jadilah kami waktu itu harus naik turun bukit menuju hotel. Setelah belakangan diketahui kalau Intan waktu itu sudah hamil, sekarang jadi bersyukur kalau ketika itu tidak terjadi apa-apa, hehehe.

Hofkirche

Hofkirche

Transportasi umum dikelola oleh DVB, Anda bisa memanfaatkan portal mereka untuk menentukan rute perjalanan terbaik. Sebetulnya kota ini kecil, jadi kalau ingin tur dengan berjalan kaki sangat mungkin. Tetapi kami waktu itu memutuskan untuk membeli tiket harian untuk keluarga. Harganya murah, 8,5 Euro yang valid untuk dua orang dewasa dan empat anak-anak. Jangan lupa untuk memvalidasi tiket di mesin. Kalau tidak, Anda bisa kena denda sebesar 40 Euro.

Kami menuju ke halte Theaterplatz yang dilewati oleh Tram 4, 8, atau 9. Halte ini adalah pusat dari area sejarah di Kota Dresden. Dari sini, Semperoper terletak tepat di depan halte. Situs ini merupakan gedung opera yang dibangun pada akhir abad ke-19 dan masih dipergunakan sampai sekarang. Gedungnya bagus, meskipun di beberapa tempat tampak seperti kurang terawat.

Der Zwinger

Der Zwinger

Selanjutnya kami menuju ke Hofkirche yang merupakan Katedral umat Katolik di Dresden. Bangunan ini dibangun selesai pada tahun 1751 setelah dibangun selama 13 tahun. Pada Perang Dunia ke-II, Hofkirche mengalami kerusakan parah akibat terkena bom. Namun herannya, sebagai orang awam saya melihat bahwa ornamen-ornamen seperti patung, gambar santo, dll yang umum di gereja Katolik tidak nampak. Mungkin ada di dalam katedral, tetapi kami tidak masuk karena tidak ada akses. Kami sempat berjalan-jalan menyusuri Sungai Elbe dan singgah di Augustusbrücke (Augustus Bridge) dan mengagumi indahnya pemandangan.

Tujuan berikutnya adalah Der Zwinger, yang merupakan bekas dari benteng kota. Kondisi di dalamnya amat luas dan desainnya bagus berupa taman dengan beberapa air mancur. Sepertinya dulu bangunan ini sempat dipergunakan sebagai istana. Dari Zwinger kami memutar untuk menuju ke Fürstenzug.

Fuerstenzug

Fuerstenzug

Obyek ini merupakan mural yang berisi lukisan para penguasa di Saxony, sebuah negara bagian di Jerman dimana Dresden berada. Di dekat Fürstenzug cukup banyak terdapat beberapa penjual suvenir, dan kami juga membeli disini.

Dari Fürstenzug tinggal berjalan kurang dari lima menit untuk menuju salah satu ikon Dresden, Frauenkirche. Gereja Protestan ini hancur saat Perang Dunia ke-II dan pada tahun 1993 mulai dibangun kembali dengan puing-puingnya. Hal yang unik di bangunan ini adalah terdapatnya kubah yang menyerupai masjid. Pada musim dingin, di lapangan di depan Frauenkirche disulap menjadi pasar. Momen ini umum di Eropa bagian barat, termasuk di Belanda. Situs terakhir yang menjadi puncak kunjungan ke historical center di Dresden adalah Brühl’s Terrace yang terletak di belakang Frauenkirche. Disini nikmatilah pemandangan yang langka ditemukan di Indonesia.

Frauenkirche

Frauenkirche

Setelah puas berkeliling di area sekitar Sungai Elbe, kami menuju ke Yenidze. Yenidze adalah bangunan kantor yang dulunya merupakan pabrik tembakau. Arsiteturnya unik karena bernuansa Islam dengan kubah dan menara. Namun setelah dicek, ternyata dulunya pemilik pabrik tembakau adalah orang Yahudi. Selain kantor, di Yenidze juga terdapat restoran. Menurut saya bangunan ini tidak terlalu menarik sehingga kami tidak lama disini dan langsung menuju Stasiun Neustadt untuk mencari makan siang. Pilihan jatuh pada wok mie dengan tahu yang ternyata cukup populer di Jerman.

Acara di Dresden usai dan kami menuju ke Hauptbahnhof untuk kembali ke Belanda. Sepanjang perjalanan ke stasiun saya mengamati bahwa di beberapa tempat, kondisi kota agak kumuh. Mungkin karena dulunya Dresden berada di bawah pemerintahan Jerman Timur, yang ekonominya tidak sebaik saudaranya di barat. Kami naik kereta menuju ke Bremen yang transfer di Hannover. Harga tiket untuk dua orang adalah sebesar 49 Euro. Cukup murah untuk perjalanan sejauh 500 km, hampir seperti Surabaya-Bandung. Ternyata memang harga tiket kereta di Jerman pada hari Sabtu lebih murah dari hari-hari biasa. Meskipun dengan alternatif ini kami harus naik kereta selama lima jam. Untuk tiket murah kita tidak bisa menggunakan kereta cepat, biasanya menggunakan kereta regional.

Hannover Central Station

Hannover Central Station

Kereta berangkat pada pukul 15:19 dan direncakan sampai di Hannover pukul 19:23. Awalnya kami cukup kaget karena untuk nomor kereta IC 2444 keretanya sangat bagus. Ternyata itu itu adalah rangkaian kereta intercity express (ICE) dan kami harus berganti kereta di Leipzig. Hal ini cukup membingungkan karena tidak tercantum di tiket. Untungnya kami bertanya ke kondektur dan memang waktu di Leipzig kereta yang menuju ke Hannover berada tepat di platform di sebelah tempat kami turun.

Sewaktu sampai di Hannover, kami sempatkan untuk berjalan-jalan di pusat kota. Ternyata areanya menarik. Pusat kotanya kecil tetapi ditata dengan rapi dan berkesan meriah. Melihat hal ini kami jadi sedikit menyesal tidak memilih alternatif kereta dengan waktu transit yang lama di Hannover. Jika memilih waktu transit sekitar tiga jam, rasanya sudah cukup untuk mengeksplor sebagian dari Hannover dan mempunyai memori yang bagus di kota ini.

Kereta dari Stasiun Hannover berangkat pukul 20:21 dan kami sampai di Bremen pukul 21:39. Kondisi badan yang sudah lelah membuat kami tidak berminat untuk mengeksplor kota ini sembari menunggu bis Public Express pukul 23:30. Saya hanya membeli kebab dan kemudian menunggu jadwal keberangkatan bis. Untuk menuju lokasi bis, keluarlah menuju pusat kota dan seberangilah jalan sampai bertemu fly over kemudian belok kanan ke Breitenweg. Bis ada di halte nomor 6, di paling ujung. Untuk dua orang, tiket bis yang kami bayar sebesar 18 Euro. Kami sampai di Stasiun Groningen pukul 2 pagi dan setelahnya naik sepeda ke rumah karena di jam segitu sudah tidak ada bis. Sampai rumah langsung tumbang tetapi tetap senang, karena Jerman ternyata menyenangkan 🙂 (selesai)

Download itinerary (rencana) perjalanan di Dresden (termasuk juga rencana ke Jerman bagian Utara)

Download peta transportasi publik di Dresden

Groningen, 10 Agustus 2014, jam 19:53 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s