Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Italia: Milan, antara bagusnya cityscape dan kumuhnya kota

Leave a comment

Duomo di Milano

Duomo di Milano

Musim panas di Eropa adalah saatnya liburan. Pada medio Juni-Agustus, kantor-kantor akan menjadi lebih sepi biasanya, karena orang-orang mengambil zomervakantie (libur musim panas). Saya dan Intan tidak terkecuali. Pada awal Juli kami merencakan untuk liburan di pertengahan Agustus. Rentang waktu ini dipilih karena bulan Juli masih puasa Ramadhan, tentu sangat berat untuk jalan-jalan di kala musim panas di Eropa dimana matahari baru terbenam jam 22 malam. Setelah menentukan waktu, kemudian kami menentukan tujuan. Akhirnya terpilih tur ke Italia setelah sebelumnya juga mempertimbangkan untuk tur ke negara-negara di Laut Baltik. Rute yang kami ambil adalah Milan – Bologna – Florence – Rome – Venice. Sebetulnya yang paling baik adalah pulang dari Rome yang ada di selatan. Tetapi waktu itu tiket dari Rome mahal, jadilah kami memilih untuk kembali ke utara dan pulang dari Venice. Oiya, waktu membuat itinerary liburan, kami tidak tahu kalau Intan hamil. Kalau sudah tahu, mungkin akan mikir-mikir lagi, hehehe.

Piazza del Duomo

Piazza del Duomo

Penerbangan ke Italia adalah dari Bandara Eindhoven pada Jum’at, 15 Agustus 2014. Tetapi karena penerbangannya cukup pagi dan waktu sedang banyak perbaikan kereta, kami tidak berani untuk baru berangkat dari Groningen pada Jum’at pagi. Terlalu beresiko. Groningen-Eindhoven ditempuh 3 jam dengan kereta, belum lagi dengan storingen. Maka, kami berangkat hari Kamis pagi. Sekalian ke Den Haag dulu karena Intan ngidam sate padang. Setelah makan di Salero Minang, kami menuju ke Eindhoven dan sampai sekitar pukul 17 sore. Kami menggunakan dagkaart seharga 17 Euro/tiket, jadi worth it. Di Eindhoven, kami menginap di apartemen dari airbnb. Ini adalah pengalaman kami yang pertama mengunakan airbnb, dan kami mendapatkan apartemen dan tuan rumah yang amat baik.

Galleria Vittorio Emanuele II

Galleria Vittorio Emanuele II

Sebetulnya waktu itu ingin mengeksplor Eindhoven. Tetapi setelah melihat sekilas, kotanya kurang menarik. Setelah semalam beristirahat, besok paginya kami menuju ke bandara. Terdapat dua bus dengan frekuensi sering ke bandara, bus 400 dan 401. Perjalanan ditempuh sekitar 20 menit. Biaya bus sekitar 2 Euro kalau memiliki OV-chipkaart dan jika membeli paper ticket, kalau tidak salah harganya 3,5 Euro. Bandara Eindhoven cukup kecil, tetapi bersih dan nyaman. Pesawat kami waktu itu jam 10:30. Kami menggunakan Ryan Air dan tiket per orang menuju Milan Bergamo sekitar 25 Euro. Seperti halnya maskapai penerbangan murah, peraturan bagasi kabin di Ryan Air cukup ketat. Daripada repot, kami memesan bagasi sebesar 15 kg seharga 25 Euro. Setelah melihat di konter check-in, sebetulnya tidak perlu memesan bagasi dan bisa diakali dengan masing-masing membawa koper ukuran sedang yang sesuai dengan requirement Ryan Air. Koper tersebut banyak dijual dimana-mana, termasuk di Belanda.

Galeri Inter Milan

Galeri Inter Milan

Kami sampai di Bergamo menjelang pukul 12 siang. Bandara ini bukanlah benar-benar di kota Milan. Untuk ke Milan masih harus naik bus selama 45 menit. Ini adalah salah satu trik pemasaran dari maskapai penerbangan murah. Contoh, mereka menyebut Bergamo sebagai Milan-Bergamo dan Treviso sebagai Venice-Treviso. Tetapi tidak masalah juga. Shuttle bus tersedia banyak dan harganya terjangkau. Kami waktu itu menggunakan bus Autostradale setelah ditawari di pesawat. Harganya 5 Euro/orang. Bisnya bagus dan langsung menuju Milan Centrale, stasiun utama di kota Milan. Sebelumnya waktu membuat itinerary kami hendak naik Terravision, harga tiketnya juga sama. Tidak perlu untuk membeli tiket secara online. Tiket dapat dibeli secara langsung di konter di bandara.

Castello Sforzesco

Castello Sforzesco

Milano Centrale sangat ramai. Menurut saya bahkan overcrowded karena jumlah manusia yang hilir mudik terlalu banyak untuk area stasiun yang tersedia. Kami mencari makan siang tetapi alternatif makanan ternyata tidak sebanyak seperti di stasiun-stasiun Jerman. Jadilah makan Burger King. Selesai makan, kami membeli tiket harian untuk transportasi publik di Milan. Beli tiket di Italia unik. Umumnya orang membeli tiket di tabacchi atau toko yang menjual rokok. Mereka memang agen resmi dari penyedia jasa transportasi. Kami juga membeli di salah satu tabacchi di Milano Centrale. Harganya 4,5 Euro/tiket dan valid selama 24 jam sejak distempel. Tiket berlaku untuk metro, bis, dan tram. Ingat, jangan lupa untuk memvalidasi tiket, jika tidak dendanya besar. Tiket dapat divalidasi dengan memasukkan ke mesin di bus atau akan tervalidasi otomatis jika dipakai untuk melewati gerbang stasiun metro.

Castello Sforzesco (dalam)

Castello Sforzesco (dalam)

Transportasi umum di Milan Bagus. Kami menginap di bagian utara kota dan untuk menuju kesana kami naik metro dari Centrale FS ke Lanza. Dari situ tersedia bis no 57 yang berangkat tiap 10 menit sekali. Setelah menyimpan barang, kami segera menuju tujuan pertama, Piazza del Duomo. Untuk menuju kesini paling mudah adalah menggunakan metro merah atau kuning dan berhenti di hatel Duomo. Keluar halte, Anda akan disambut oleh square (semacam tempat terbuka) yang penuh dengan merpati. Hati-hati disini. Jangan menerima tawaran orang yang memberikan jagung. Anda bisa diminta membayar dengan harga tinggi.

Sebagaimana terlihat di terlihat di dua gambar paling atas, obyek utama di Piazza del Duomo adalah Duomo di Milano atau Milan Catedral. Gereja terbesar kelima di dunia ini dibangun di akhir abad ke-14 dan baru selesai hampir enam abad kemudian. Kami sempat masuk ke dalam dan interiornya memang megah, penuh dengan porselen. Untuk bisa masuk tidak dipungut biaya. Namun, Anda tidak bisa memakai celana pendek dan baju tanpa lengan.

Stadion San Siro

Stadion San Siro

Obyek berikutnya di sekitar Piazza del Duomo adalah Galeria Vittorio Emanuele II. Kita dapat masuk melalui semacam gerbang melengkung. Galeria ini adalah salah satu pusat perbelanjaan (mall) yang paling tua di dunia, dibangun pada akhir abad ke-19. Bangunannya megah dan elegan, penuh dengan toko-toko merk ternama seperti Prada, Louis Vuitton, dsb. Tetapi baik dari segi ukuran maupun kemegahan masih kalah dengan mall Grand Indonesia, hehe. Setelah berkeliling-keliling, kami menemukan toko suvenir dan membeli kartu pos dan perangko di toko tersebut. Perangko untuk ke Eropa adalah seharga 1,20 Euro. Untuk memposkan, bisa di kotak pos warna hitam dengan tulisan GPS.

Dari Galeria Vittorio Emanuele II kami berkeliling lagi dan menemukan galeri Inter Milan. Saya tidak tahu apakah ini galeri resmi dari FC Internazionale Milano atau tidak. Tetapi sebagai fans berat Inter, tentu saya senang menemukan obyek ini. Di dalamnya penuh dengan foto-foto pemain Inter. Salah satunya adalah foto Javier Zanetti dan Diego Milito setelah memenangi Liga Champions Eropa 2010. Di sekitar Duomo masih ada satu obyek lagi yaitu Museum La Scala yang juga berfungsi sebagai gedung opera. Namun kami tidak terlalu tertarik sehingga langsung menuju tujuan berikutnya yaitu Stadion San Giro

Basilika St Ambrogio

Basilika St Ambrogio

Stadion San Siro, atau juga dikenal dengan nama resminya Stadion Giuseppe Meazza adalah kandang dari dua klub sepakbola terbesar di Milan, Inter Milan dan AC Milan. Untuk menuju kesini, halte metro terdekat adalah Lotto yang dilewati metro merah menuju Rho Fieramilano. Dari Lotto bisa naik bus nomor 49 dan turun di Piazza Axum. Sepanjang perjalanan menuju ke stadion, banyak sudut-sudut kota yang kumuh dan kotor, selain itu vandalisme juga ada dimana-mana. Kami menyimpulkan bahwa kota Milan memang tidak terlalu bersih. Mungkin akibat Italia yang sedang krisis, jadi dana untuk perawatan kota berkurang. Kami sampai di stadion sudah sore dan museum sudah tutup, jadi hanya bisa berkeliling di luar stadion. Bangunannya megah dengan kapasitas sekitar 80 ribu kursi, namun berkesan kotor dan tidak terawat. Heran juga stadion seperti ini mendapatkan lisensi bintang lima dari UEFA.

Dari San Siro kami menuju ke Castello Sforzesco. Untuk menuju kesini stasiun metro terdekat adalah Cairoli atau Cadorna. Obyek ini adalah kastil yang dulu juga berfungsi sebagai gerbang kota. Dibangun pada abad ke-19, sampai sekarang kastil masih berdiri dengan megah. Jika diamati dengan lebih dekat, tampak bahwa batu-batu yang dipakai untuk membangun kastil amat besar, makin menambah kekaguman bagaimana dulu konstruksi bangunan ini di jaman yang teknologinya belum secanggih sekarang. Waktu itu sudah lewat jam 18 dan kami menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di rumput memandangi kastil. Setelahnya kami berkeliling kastil dan memang bangunannya seperti kastil-kastil yang di buku-buku cerita anak-anak. Kami juga berkeliling di Parco Sempione. Taman kota ini terletak di kompleks kastil dan cukup bagus. Disini juga ada wifi gratis. Sekitar jam 21 kami kembali ke hotel dan makan malam dulu di restoran kebab dekat hotel. Jam 23 kami sampai di hotel dan beristirahat.

Porta Genova

Porta Genova

Besoknya kami berangkat pagi-pagi setelah sarapan dan menuju ke Porta Genova, yang artinya adalah Gerbang Genoa. Obyek ini dapat dicapai dengan naik metro hijau dan turun di stasiun Porta Genova. Setelahnya berjalan sedikit sekitar 5-10 menit. Porta Genova adalah semacam kota tua di Milan dengan navigli (kanal) dan dok-dok tua. Namun, lagi-lagi daerah ini juga kurang terawat, sehingga berkesan kumuh. Sangat disayangkan. Setelah dicek, memang daerah ini adalah salah satu tempat nongkrong anak-anak muda di Milan, mungkin saja mereka yang berbuat vandalisme. Kami mengambil foto dari salah satu jembatan dan seperti dapat dilihat, kesannya tidak luar biasa.

Dari Porta Genova kami menuju ke Basilika St. Ambrogio yang hanya berjarak dua halte metro. Gereja ini adalah salah satu yang paling kuno di Milan dan dibangun pada abad ke-4 (wow!) oleh salah satu penguasa Milan yang pertama. Untuk bangunan setua itu, kondisi gereja masih cukup bagus.

Setelahnya kami kembali ke Castello Sforzesco dan kali ini bisa masuk ke dalam. Tidak ada tiket masuk ke kastil ini. Di dalam kami duduk-duduk dan makan anggur yang sebelumnya dibeli di supermarket Express di daerah Cadorna. Daerah Cadorna berkesan bersih dan bagus. Termasuk salah satu kawasan yang asri di Milan. Sambil duduk-duduk kami kembali mengamati bangunan di dalam kastil. Terdapat beberapa museum jika Anda berminat terhadap obyek-obyek kesenian.

Waktu menunjukkan sudah hampir jam 11:30 dan kami naik metro untuk menuju ke Milano Centrale dan mengejar kereta ke kota tujuan berikutnya. Kunjungan di Milan cukup berkesan, walaupun tidak wah. Utamanya karena kotanya yang kotor karena tidak dirawat (bersambung).

Groningen, 28 Agustus 2014, jam 18:06 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s