Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Italia: Mencari obyek wisata di Bologna

Leave a comment

Via Del' Indipendenza

Via Del’ Indipendenza

Setelah berkemas-kemas, kami berangkat dari Stasiun Milano Centrale dengan kereta pukul 12:35 pada hari Sabtu, 16 Agustus 2014. Perjalanan sejauh 245 km ditempuh selama 2 jam. Kami menggunakan kereta FrecciaBianca yang dikelola oleh Trenitalia, perusahaan kereta api di negeri pasta. FrecciaBianca adalah jenis kereta yang digunakan untuk jarak jauh dengan kecepatan terkecil dari jenis lain, yaitu sekitar 200 km/jam. Kereta di Italia bagus, lebih bagus dari NS-Belanda. Untuk perjalanan ini, harga tiket yang kami bayar adalah sebesar Euro 19/orang. Tentu tiket sudah kami pesan dari jauh-jauh hari.

Setelah sampai di Stasiun Bologna Centrale, karena tidak menemukan tabacchi (toko rokok yang biasanya menjual tiket) kami menuju ke pusat informasi bis untuk membeli tiket bis. Harga tiketnya 5 Euro dan berlaku selama 24 jam. Kami menuju ke Hotel Fiera, hotel tujuan menggunakan bis nomor 25 dari stasiun. Bisnya agak jelek, dan celakanya, di bus tidak ada keterangan tentang halte yang akan dilewati! Untungnya supir bisa berbahasa Inggris dan saya pun bilang kami minta diturunkan di halte Casoni. Begitu sampai, ternyata hotelnya bagus. Maklum, bintang 3. Sejauh ini adalah hotel terbaik yang pernah kami kunjungi selama di Eropa.

Portici

Portici

Setelah beristirahat sebentar kami kembali ke Bologna Centrale untuk melihat obyek-obyek tujuan. Destinasi wisata di Bologna berpusat di satu area. Untuk mencapainya mudah, dari stasiun. Jalanlah ke arah kiri (Timur) sampai bertemu perempatan besar. Dari situ, belok ke Selatan dan Anda akan sampai di ujung jalan Via Del’ Indipendenza. Pemandangan pertama yang terlihat adalah Portici. Ini adalah gang beratap dengan ornamen khas Italia. Konon, gang ini dulu dibangun oleh orang kaya di Bologna dan kalau diteruskan panjangnya sampai 40 km.

Piazza Maggiore

Piazza Maggiore

Sesungguhnya di sepanjang Via Del’ Indipendenza pun banyak yang bisa dilihat. Sepanjang jalan terdapat bangunan-bangunan kuno yang ditata dengan rapi. Di ujung jalan, kami bertemu dengan square yang besar. Inilah Piazza Maggiore, semacam alun-alun kalau di Indonesia. Area ini dibangun pada sekitar abad ke-15 dan sekitarnya terdapat berbagai obyek lain, salah satunya adalah Basilica San Petronio. Gereja terbesar di Bologna, dan terbesar ke-15 di dunia. Tetapi waktu itu kami tidak masuk ke dalam San Petronio karena sedang direnovasi.

Fontana di Nettuno

Fontana di Nettuno

Jalan sedikit dari Piazza Maggiore, kita akan bertemu dengan salah satu ikon kota Bologna, yaitu Fontana di Nettuno, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai Fontain of Neptunus. Sayang waktu itu air mancur tidak berjalan. Bagi yang hobi mobil mewah, mungkin tahu bahwa logo Maserati yang terkenal itu diilhami dari bangunan ini. Maserati berasal dari Bologna dan Neptunus dipilih sebagai ikon karena konon melambangkan kekuatan dan kejantanan. Menurut keterangan, seharusnya air mancur ini didominasi oleh perunggu. Tetapi menurut saya lebih terlihat sebagai sesuatu yang kurang terawat.

Archiginnasio

Archiginnasio

Tidak jauh dari Air Mancur Neptunus, kami menuju ke Archiginnasio. Bangunan yang dibangun sekitar abad ke-16 ini dulunya adalah salah satu bagian dari Universitas Bologna, salah satu universitas tertua di dunia (menurut saya yang tertua adalah Al-Azhar di Mesir). Bangunan ini selamat dari kehancuran waktu Perang Dunia II. Oiya, Universitas Bologna meskipun sekarang tidak masuk jajaran elit dunia, masih cukup terkenal, setidaknya di bidang science.

Montagnola

Montagnola

Selepas berkeliling, kami beristirahat dan ternyata ada wireless internet gratis di pusat keramaian publik di kota ini. Bagus juga fasilitas di Bologna. Niat hati ingin kembali ke hotel menggunakan bis dari sekitar Archiginnasio, tetapi ternyata rutenya berliku. Jadilah kami kembali jalan menyusuri Via del’ Indipendenza. Karena Intan sedang hamil, kami berjalan pelan-pelan saja. Di ujung jalan, kami mampir ke Montagnola, semacam benteng kecil. Sayangnya agak kotor dan kurang terawat.

Secara umum, menurut kami Bologna kurang menarik. Obyek wisatanya tidak terlalu berkesan. Tidak juga mempunyai nilai sejarah yang cukup menarik perhatian orang awam seperti kami. Kami pun hendak segera naik bus untuk kembali ke hotel. Tetapi ternyata melihat ada restoran makanan Cina di dekat stasiun. Jadilah makan dulu. Makannya lumayan enak. Lumayan, sebagai bekal tenaga untuk persiapan ke Florence esok harinya.

Groningen, 29 Agustus 2015, jam 22:43 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s