Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kehamilan minggu ke-19: anak lanangku sehat!

Leave a comment

USG minggu ke-19

USG minggu ke-19

Seri Kehamilan #4

Setelah membuat afspraak (janji), kami dijadwalkan untuk USG pada tanggal 22 September 2014, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Sebetulnya pada saat itu kandungan Intan baru berusia 19 minggu. Tetapi kata pihak laboratorium tidak masalah. Sama seperti waktu USG pertama, kali ini kami juga dirujuk ke Vita di Martini Ziekenhuis (rumah sakit). Oiya, sekali lagi, USG ini gratis, karena juga masuk dalam tanggungan asuransi.

Pada hari dan jam yang ditentukan kami datang ke Martini. Setelah menunggu, kami dipanggil masuk ke ruangan USG dan sudah ada dua petugas. Satu perempuan yang sudah berumur dan satu lagi masih muda, sepertinya sedang magang. USG berjalan cukup lama, karena semua organ bayi dicek dari mulai jantung, paru-paru, pembuluh darah, ginjal, dll. Petugas bilang bahwa semuanya sejauh ini normal, dan dia berharap nanti pada saat lahir juga normal. Intinya, dia tidak bisa menjamin akan tetap normal, dan apapun yang terjadi itu di luar tanggung jawab lab USG. Yah, memang bilangnya sangat blak-blakan khas orang Belanda. Tetapi yang dia bilang betul, jadi kami santai-santai saja.

Kami ditanya apakah kami ingin tahu jenis kelamin bayi? Kami jawab iya. Dia pun memberitahu bahwa di bagian selangkangan bayi ada bulatan dan tonjolan kecil, itulah penisnya. Jadi bayi kami laki-laki insha Allah. Kami senang sekali mendengar berita ini. Sebetulnya laki-laki maupun perempuan sama saja. Semua adalah titipan dan karunia dari Allah SWT.

Besoknya, kami bertemu dengan bidan untuk ketiga kalinya. Kali ini yang jaga di Gezondheidscentrum Lewenborg bernama Fenna. Kami memberitahu bahwa kami sudah menelpon Menzis, penyedia jasa asuransi Intan. Pada saat menelepon, Menzis menanyakan apa kraamzorg (jasa perawatan bayi) yang kami pakai. Kami bilang bahwa kami berencana untuk memakai Het Groene Kruis. Ternyata oleh Menzis langsung didaftarkan ke Het Groene Kruis, karena beberapa hari kemudian, kami menerima surat bukti pendaftaran dari mereka. Enak sekali, semua serba otomatis. Fenna bilang bahwa nanti kraamzorg akan menelepon di sekitar minggu kehamilan ke-24 untuk membuat jadwal wawancara dengan ibu hamil. Dia berpesan supaya kami jangan khawatir manakala kraamzorg belum menelepon. Tidak masalah katanya jika baru ditelepon pada minggu ke-27.

Dari kraamzorg kami mendapatkan daftar barang-barang yang harus disiapkan. Jumlahnya banyak dari mulai furniture, kasur, diapers. Daftar tersebut juga sangat rinci, sampai menyebutkan bahwa kami harus menyiapkan uang recehan untuk memakai kursi roda nanti di rumah sakit ketika hari kelahiran. Cerita soal kraamzorg dan persiapan barang-barang ini akan saya tulis di artikel tersendiri.

Setelah selesai menjelaskan, bidan mengukur tekanan darah istri saya. Ketika itu tekanan darah Intan sedang rendah, meskipun Fenna bilang itu masih dalam batas normal. Mungkin ini menjelaskan kenapa Intan belakangan sering merasa pusing. Fenna bilang bahwa sebaiknya Intan menambah asupan garam, misal dengan makan chips (keripik). Intan pun heran karena dia mengira selama ini tidak boleh makan chips karena banyak kandungan MSG dan pengawet yang tidak baik bagi janin. Selama hamil, Intan memang sangat menjaga makanan. Dia tidak makan mie instan, tidak memakai penyedap untuk masakan, dan selektif setiap kali mau makan. Fenna bilang boleh-boleh saja makan chips asal tidak berlebihan. Begitu mendengar penjelasan ini, sepulang dari bidan kami langsung ke supermarket dan membeli dua bungkus chips :))

Di pertemuan kali ini bidan kembali mengecek posisi dan detak jantung bayi. Bidan bilang bahwa sekarang, di usia kehamilan 19 minggu, bayi kami sudah bisa sedikit dirasakan gerakannya. Mungkin awalnya hanya berupa letupan-letupan kecil, tetapi makin lama akan makin terasa, karena bayinya makin besar. Malamnya, Intan berbaring di kamar dan berkonsentrasi, dia bilang memang terasa gerakan bayinya. Awalnya saya tidak bisa merasakan ketika saya tempelkan tangan ke perutnya. Tetapi setelah 2-3 minggu, saya pun kadang bisa merasakannya. Senang sekali bisa merasakan gerakan anak saya di perut ibunya 😀

Groningen, 23 September 2014, jam 20:52 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s