Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Stigma negatif perempuan Sunda, layakkah kita pertahankan?

77 Comments

Saya sudah lama ingin menulis soal ini. Tetapi belum menemukan cara yang baik supaya bisa ditulis in a delicate way. Tetapi terlalu lama dipikir malah bikin tidak jadi terus untuk ditulis. Oleh karena itu, coba ditulis sekarang. Sebelumnya saya mohon maaf jika ada pembaca yang tersinggung. Tulisan ini murni adalah pendapat saya. Isi tulisan ini juga tidak menggeneralisasi. Oleh karena itu, ketika saya bilang orang Jawa, tidak semua orang Jawa seperti itu, vice verse.

Ketika saya berangkat ke Bandung di tahun 2004 untuk mulai kuliah, banyak yang bilang ke saya dengan inti pesan, “nanti kalau di Bandung jangan dapat perempuan Sunda ya”. Waktu itu saya masih (agak) polos, karena itu saya iyakan saja. Sewaktu sudah di Bandung dan bertemu teman-teman kuliah, ternyata banyak teman lain dari Jawa yang juga dipesani hal yang sama oleh keluarganya. Bahkan pesan yang sama juga didapatkan teman saya dari Jakarta yang berlatarbelakang keluarga Jawa.

Delapan tahun kemudian, saya menikah. Istri saya orang Sunda asli. Lahir dan besar di Bandung. Keluarganya juga asal-usulnya dari Bandung. Tentu sempat ada sedikit pertentangan dari keluarga saya ketika kami hendak menikah. Kekhawatiran terhadap citra negatif perempuan Sunda rupanya cukup besar. Tetapi alhamdulillah, keluarga saya masih cukup moderat. Kami pun menikah dan sampai sekarang tidak ada masalah apa-apa.

Sebetulnya, apa sih stigma negatif orang Jawa terhadap perempuan Sunda itu? Coba saya paparkan komparasinya berdasarkan pengamatan saya ya

Menurut orang Jawa, perempuan Sunda itu biasanya …

  • Materialistis
  • Sukanya dandan (Jawa: macak) dan malas (Jawa: aras-arasen) mengerjakan pekerjaan rumah tangga
  • Tidak berbakti ke mertua
  • Tidak mau diajak suami hidup susah
  • dsb yang jelek-jelek

Menurut orang Sunda, perempuan Jawa itu biasanya …

  • Baik-baik saja

Kontras ya perbandingannya, hehehe. Dari sini bisa sedikit disimpulkan kalau (sebagian) orang Jawa mempunyai beberapa cap negatif ke perempuan Sunda. Sebaliknya, (sebagian) orang Sunda menganggap perempuan Jawa baik-baik saja, bahkan cenderung mereka tidak mempunyai komentar apa-apa. Memang, rata-rata orang Sunda santai-santai saja ke orang Jawa.

Pertanyaannya, apakah stigma negatif tersebut benar? Sebelum ke Belanda, saya delapan tahun tinggal di Bandung (2004-2012), berinteraksi dengan lingkungan Sunda, punya teman-teman orang Sunda, menikah dengan orang Sunda, dan otomatis ada di lingkungan sebuah keluarga besar Sunda. Menurut saya, jawabannya sangat relatif. Semua itu kembali ke pribadi dan pendidikan masing-masing. Oke, mari kita kupas satu per satu.

Materialistis. Menurut saya ini stigma negatif paling terkenal yang dilekatkan ke perempuan Sunda. Waktu hendak menikah dengan Intan, saya ditanya Ibu apakah dia rajin sholat, bagaimana ibadahnya, dsb. Saya memberi jawaban yang afirmatif. Setelahnya, Ibu saya nyeletuk, “tapi ora matre kan, Le?“, “tapi tidak matre kan, Nak?”. Entah kenapa materialistis ini lekat dengan perempuan Sunda saya juga bingung, hehe. Saudara-saudara, perempuan Sunda itu tidak matre. Hanya, mereka itu lebih terbuka cara berbicaranya daripada perempuan Jawa. Misal soal ingin beli mobil. Paling tidak di keluarga mertua saya, para perempuan akan terus-terang jika ingin punya mobil. Di keluarga saya, seperti umumnya orang Jawa, lebih implisit. Muter-muter dulu ngomongnya, tetapi intinya ya sama, ingin beli mobil. Sama saja toh. Apakah salah perempuan ingin beli mobil? Ya tidak. Manusiawi, siapa yang ingin untuk seumur hidupnya kepanasan dan kehujanan naik motor? Tetapi, apakah kalau perempuan Sunda tidak dibelikan mobil lantas marah? Ya tidak. Kalau suaminya memang belum mampu untuk membelikan mobil, mereka akan ikhlas menerima. Sama saja dengan orang Jawa kan. Jadi, dimananya yang matre?

Suka dandan dan malas. Perempuan Sunda memang terkenal cantik dan mulus. Apakah stigma ini bentuk kecemburuan dari orang Jawa? hehe. Dalam hal dandan, sama saja menurut saja. Fitrahnya perempuan memang berdandan. Bagus malah, biar terlihat cantik. Ada pepatah Jawa, “ajining rogo soko busono“, “wibawa seseorang itu dari pakaiannya”. Memang ada perbedaan gaya. Misal dalam kondangan. Perempuan Jawa cenderung akan memakai satu atau dua perhiasannya saja, meskipun dia punya banyak perhiasan. Sebaliknya orang Sunda, cenderung memakai banyak sekali perhiasannya. Dalam hal ini saya juga tidak setuju dan saya melarang istri untuk memakai banyak-banyak perhiasan. Tetapi, secara prinsip, apa salahnya memakai perhiasan milik sendiri? Asal tidak jadi saling iri. Kemudian soal malas melakukan pekerjaan rumah tangga. Wah, saya benar-benar tidak tahu cap ini muncul dari mana. Mertua saya, anaknya empat, rumah beserta pekarangan lebih dari 500 m2, semua diurus sendiri tanpa pembantu. Kalau ada acara hajatan keluarga besar, para perempuan juga turun tangan di dapur. Begitu pula dulu di dekat kosan saya, kalau ada acara juga para perempuan sibuk bekerja. Jadi, apa betul itu suka dandan dan malas?

Tidak berbakti ke mertua. Saya juga tidak mengerti isu ini datang dari mana. Intan dan teman-teman saya yang orang Sunda baik-baik saja ke mertuanya. Semua sangat tergantung pribadi masing-masing. Kalau mertuanya sudah keburu punya cap negatif ke menantunya, wajar kalau menantu tersebut jadi menjaga jarak. Mungkin ada beberapa kekhawatiran bahwa kalau menikah dengan perempuan Sunda, si suami jadi tidak bisa memberikan sebagian penghasilannya ke ibunya. Terkait hal ini, setelah menikah, Ibu saya memanggil saya dan Intan dan menasehati kami berdua. Beliau bilang bahwa semua harus terbuka. Contoh, kalau saya hendak memberikan uang ke Ibu saya, mau besar atau kecil, itu harus atas sepengetahuan istri saya, sama sekali tidak boleh sembunyi-sembunyi. Ibu saya tidak mau menerima uang anaknya sendiri tanpa persetujuan menantunya. Saya pun melakukan itu. Istri saya selalu bisa menerima. Bahkan, sewaktu kami masih berpisah Belanda-Indonesia, Intan selalu memberikan sebagian gajinya ke Ibu saya setiap bulan, tanpa saya anjurkan. Saya betul-betul kagum atas hal itu. Semua itu kembali ke bagaimana seorang suami mendidik dan memberikan pengertian ke istrinya. Jadi, apa benar bahwa perempuan Sunda tidak berbakti ke mertua?

Tidak mau diajak suami hidup susah. Saya terus terang geli dengan stigma yang satu ini, hehehe. Plis deh, perempuan mana sih yang mau hidup susah? Bukankah sangat manusiawi bahwa setiap istri ingin hidup makmur? Kembali ke soal gaya. Perempuan Sunda akan bilang terus terang kalau dia ingin hidup makmur. Apakah itu salah? Tentu tidak. Menjadi kewajiban suami untuk bekerja keras sehingga keluarganya tercukupi, tentu dengan cara yang halal. Tetapi kalau sudah berusaha tetap tidak kaya-kaya juga, apakah istri akan meninggalkan suami? Tidak kok kalau yang saya amati. Ibu mertua saya punya tiga adik perempuan. Mereka dari keluarga yang sangat berkecukupan. Ketiga bibi saya itu, menikah dengan para pria dengan asal-usul yang sangat sederhana. (Alm) kakek dan nenek mertua dengan ikhlas menerima pernikahan itu. Mereka semua memulai dari sangat bawah, dan tidak pernah meninggalkan suaminya di saat masih susah, termasuk saat beras juga masih harus dikirim dari (alm) kakek dan nenek mertua. Sekarang mereka semua sudah makmur. Kemudian ada contoh sejarah dari Ibu Inggit Garnasih, perempuan Sunda asli dari Banjaran. Beliau belasan tahun jadi istri Bung Karno dalam kondisi amat sulit secara ekonomi. Bahkan Ibu Inggit harus menjual banyak barangnya untuk mendukung karir politik suaminya. Namun, beliau setianya sangat luar biasa ke suaminya. Jadi, apa betul tidak mau diajak suami hidup susah?

Jadi, apakah benar stigma negatif yang kita lekatkan ke para perempuan Sunda? Tentu tidak, kita tidak bisa memukul rata. Sangat tergantung kondisi masing-masing. Kalau mau jujur, perempuan Jawa juga banyak kok yang mempunyai sifat-sifat jelek tersebut. Bahkan kalau mau berpikir lebih jauh, belum tentu orang-orang Jawa yang memberi stigma negatif itu pernah berinteraksi secara intens dengan para perempuan Sunda? Kalau betul seperti itu, bukankah itu namanya prasangka (prejudice) tanpa terlebih dulu ada bukti yang jelas? Terus terang saya dulu juga sempat terpengaruh dengan stigma negatif perempuan Sunda. Tetapi saya jadi ingat perkataan Pramoedya Ananta Toer, “seorang yang terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Ingatlah, prasangka itu adalah salah satu bentuk ketidakadilan di alam pikiran kita. Lambat laun pun saya tidak menerima mentah-mentah stigma itu. Saya lihat, pelajari, dan buktikan. Insha Allah saya yakin bahwa stigma negatif itu tidak bisa kita generalisasi untuk seluruh perempuan Sunda. Saya tahu ada sejarah kelam antara Sunda (Pajajaran) dan Jawa (Majapahit). Tetapi sudahlah, perlukah kita masih mempermasalahkannya?

Sebagai penutup, saya jadi ingat waktu Ibu saya datang ke rumah Intan dan bertemu dengan neneknya Intan yang biasanya kami panggil Mah Enin. Ibu saya, orang kampung dengan asal usul yang sangat sederhana, bilang ke Mah Enin, “Saya ini malu, saya ini orang tidak punya, tidak pantas besanan dengan orang kaya”. Mah Enin pun menjawab, “Eh, jangan gitu, kaya miskin itu tidak penting, di hadapan Allah semua sama”. Saya kagum dengan jawaban Mah Enin waktu itu, mencerminkan kebijaksanaan dan kelapangan hati beliau. Kalau disambungkan, Rasullah pada saat menaklukkan Mekkah pernah bersabda ke para bangsawan Quraish yang sebelumnya gengsi akan kedudukan dan hartanya amat tinggi. Begini sabdanya:

Kullukum min Adam – kamu semua berasal dari Adam

Wa Adam min turab – dan Adam dari tanah

Apakah kita masih perlu merasa bahwa suku A lebih lebih jelek dari suku kita? Apakah kita perlu merasa lebih baik dari mereka? Bukankah semua di hadapan Tuhan adalah sama? Islam mengajarkan bahwa kriteria terbesar memilih istri adalah taqwa dan ibadahnya, bukan asal-usul golongannya. Jadi, mulai sekarang, mari kita hilangkan stigma negatif itu 🙂

Groningen, 10 Oktober 2014

Jam 18:31 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

77 thoughts on “Stigma negatif perempuan Sunda, layakkah kita pertahankan?

  1. Well written, Mas Rully. Bukan karena aku merasa ada yang bela sebagai orang Sunda..hehe.. melainkan memberikan pandangan bahwa kita tidak bisa menggeneralisasi. Yang aku tahu, di sebagian orang Sunda juga ada stereotype negatif tentang suku lain, misalnya Minang (oke, ini mah blak2an aja ngomongnya hehe..) yang dinilai pelit. Tentu hal itu tidak bisa digeneralisasi juga.

    Aku sepakat bahwa perilaku dan karakter itu dipengaruhi banyak hal. Selain keluarga dan budaya, tentunya pendidikan, wawasan, dan pergaulan juga. Semakin luas wawasan dan pergaulan, pikiran kita makin terbuka dan tidak mengotak-ngotakkan orang berdasarkan label ini dan itu. 🙂 And I think the most valuable thing in this case is to have first-hand experience in dealing with various ethnics.

    • Yup. Kuncinya adalah semua ini tidak bisa digeneralisasi. Kemudian juga, setiap orang mempunyai style masing-masing. Itu tidak bisa dipukul rata.

  2. Setuju dng apa yg ka rully tulis 🙂 sama halnya ketika seorang wanita di ingatkan org tuanya “jng memilih org betawi sbg suami” dng alasan pria betawi biasa diagung2 kan oleh org tuanya, malas, tdk berwibawa bahkan banyak yg meributkan warisan dr org tua nya 🙂

  3. komen dikit soal matre yaa…
    kalo seperti penjelasan Mas Rully, memang nggak matre. cuman mungkin dlm pandangan org jawa yang serba ‘nyimpen’ blak-blakan soal materi itu hal yg gak biasa. ya itu tadi mereka terbiasa implisit, nggak blak-blakan. padahal ya sama aja, bener itu, siapa sih yg nggak pengen hidup enak..
    btw soal gak pengen beli mobil, sy termasuk yang nggak pengen beli mobil lo. tinggal mepet ibukota yg macet bikin tambah muales beli mobil

    • Iya, bisa jadi akibat perbedaan cara menyampaikan. Tetapi itu kan style, yang memang seperti itu adanya, hehe. Orang Arab juga blak-blakan ngomongnya.

      Wah, kalau saya ingin beli mobil semata-mata karena kebutuhan Win. Kasihan anak kalau kemana-mana naik kendaraan umum, dimana kita tahu kualitas transportasi publik kita masih jelek.

  4. baru sekali dapet mantan wanita sunda mas, saya putusin karena saya nilai “matre” dan yang mas bilang blak-blakan kalau minta sesuatu. Mungkin saya yang kurang terbiasa dengan blak-blakannya walau pada intinya semua orang pasti mau hidup makmur. Saat itu saya udah berfikir wanita sunda itu semtuanya materialistis, mungkin sebagai acuan laki-laki untuk mau bekerja lebih keras.Quote yang saya ambil dari artikel mas Rully ” Pramoedya Ananta Toer, “seorang yang terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Sangat bagus untuk semua kehidupan dan pola fikir 🙂

  5. menjelek2an wanita sunda, ujung2nya malah kepincut malahan sampe nikah sama wanita sunda..
    kalo bahasa sundanya (DIPOYOK DILEBOK)

    Bukan hanya lelaki jawa saja yang ingin punya istri orang sunda seluruh lelaki di Indonesia menginginkan punya istri wanita sunda khususnya mojang priangan. (survery dilapangan)

    saya adalah keturunan Ibu sunda dan ayah kalimantan,

    kakek saya pernah bilang bahwa ada satu suku di Indonesia yang keramah tamahannya sudah dikenal di Indonesia, wanitanya cantik2x.. dan mereka bertempat tinggal di Jawa.

    lalu saya berpikir , oh mungkin orang jawa…
    lalu kata kakek saya bukan, yah memang walaupun satu pulau tapi beda budaya dan mereka bertempat tinggal di jawa bagian barat, suku itu bernama suku sunda.

    makanya kalo ada org sunda datang ke kalimantan khususnya orang bandung, pasti diterima dengan senang hati.

  6. memang seharusnya kita hilangkan stigma2 negatif yang beredar di masyarakat.. tp sangat sulit mengindari pemikiran negatif tersebut.. terlebih bila kami menghadapi orang2 yg masih merasa hebat dengan daerahnya, apalagi kalo kami yang menjadi korban pemikiran negatif tersebut.. dan memang rata2 ada orang daerah tertentu yang suka menjelek2an daerah kami.. jadi kadang masih suka ada perasaan kesal dengan orang2 daerah yang suka menjelekkan daerah kami.. ini fakta saya rasakan..

  7. Ia sih memang semua wanita pengen makmur, tapi gw nggak sk aja kalau harus maksa suami untuk beli sesuatu yg kadang di kuar kemampuan, misalnya harus maksa beli perhiasan. kadang maaf, “wanita” sunda kurang mengerti keadaan suami.

    • Sy terus terang ga suka dgn kebanyakan wanita sunda. Ga smua sih, tp kebanyakan. Memang normalnya prempuan pgn hidup makmur, tp ada yg nau’in n ikhlas ap yg mnjadi rejeki suami, ada yg memaksakan diri, klo udh punya suami ya maksain suami n kbiasaan ini sy temukan pd prempuan2 sunda d lingkungan sy. Memang bnar kita ga bs mukul rata suatu suku, tp biarbagaimanapun yg namanya budaya itu pasti sdikit bnyak brpengaruh.

    • Nggak gitu juga mbak, wanita sunda seberner nya lebih mengerti keadaan suami, tapi karena tapi karena gaya hidup yang berbeda aja semua nya kayak gitu, toh bukan cuma cewek sunda kok yg kalo udah gaya hidup nya kekinian suka meminta lebih dr suami padahal keadaan suami nya tau seperti apa tapi si cewek nya gk bisa ngerti.

    • Yah kebnyakan memang sih tp ga semuanya maknya kembali ke taqwa itu sendiri jika siistri orang nya saleha pasti dia ngerti keaddan suami meskipun dr suku sunda. 😀😀😃

      • saya belum menikah, orang tua saya asli orang sunda tinggal di kota Batam, mamah saya cantik, kehidupan kita biasa biasa saja, tapi mamah saya gak pernah minta/maksa papah saya buat beliin sesuatu. sumpah demi Allah saya sakit hati dengan komentar difa ini, meskipun ada kata maafnya.

    • ibu saya dan seluruh keluarga saya kok gak gitu ya, padahal mereka orang sunda lho

  8. Mas Rully, saya keturunan boyolali, sedang berusaha mendapatkan wanita yang kebetulan sunda, cirebon khususnya.
    kita berdua udah lama sahabatan, akhirnya jd suka.
    doakan Mas(Jika ada waktu luang aja hehe) agar saya berhasil meyakinkan ortu saya.

    saya suka sm dia karena dia pekerja keras dan termasuk tulang punggung keluarganya. dan kebetulan dia sunda, Mas.

  9. Semua tergantung pada pribadi masing-masing, mau tinggal dimanapun sampai kutub utara pun pasti ada yang punya sifat baik dan buruk tidak busa dipukul rata

  10. Menurut pengalaman pribadi saya. Perempuan sunda itu sempurna untuk jadi istri…TAPI ada syaratnya. Duit harus gak boleh kurang. Kalau kamu suami yang bisa menafkahi lebih dari cukup dijamin deh istri akan super setia dan pasti ngelayani kamu kayak raja. Sebaliknya kalau uang belanja kurang siap2 aja buat bencana. Ini yang paling fatal, perempuan sunda maintenance costnya tinggi. Sangat jarang dari perempuan sunda yang “mau di ajak susah”. Istri saya sendiri juga orang sunda, tapi lahir dan besar di sumatra. Untungnya sifat2 jelek stereotypical sunda banyak terkikis. Dan dia gak seperti saudara2 nya yang kawin cerai karena masalah duit. Bahkan sebagian dari mereka justru bangga karena ” laku” biarpun jadi jaanda lebih dari sekali.

  11. Haaa ributin mojang priangan.nih kakak laki gw nikah sm cewe jawa mlh di porotin waktu seserahan harus bawa ini bawa itu harus nanggap orkes dangdut segala pokok nya habis biaya gede waktu kakak gw nikah ,orang nya pelit malas suka jajan g bs masak smpe keluarga saya g suka sm dya dan parah nya lg dah 5 thn lum punya anak.

  12. Tambah lg klo beli baju pengennya yg hrga di atas 1jt bedak pengen yg bermerek semoga kaka saya cepet cerai sm dya.

    • saya lahir di sulawesi tapi besar dibogor.. keluarga ada yg dari jawa.. setahu saya mah seserahan tuh adat sunda… dijawa ga ada yg gitu2, istilah seserahan juga ga eksis di jawa apa coba bahasa jawa nya? lamaran paling bahas hari baik macam primbon atau weton apa lah gue ga paham hehe, dulu malah keluarga saya yg sunda yg pake seserahan sampai prabot rumah tangga.. lengkap sama rumahnya.. ini sejauh pengamatan saya yg hasil kawin campur jawa sunda sama bugis-makassar…

  13. semua kembali ke individu, tingkat pendidikan, dan latar belakang keluarga masing2…. klo budaya mungkin hanya sepersekian persen, kecuali lingkungan budaya sekitar sangat kuat mempengaruhi gaya hidup dan pemikirannya…

    klo dilihat dari contoh mas yang nulis artikel ini, istrinya punya latar belakang keluarga sunda priyayi dan berpendidikan, itu yang membedakan dengan stereotype perempuan sunda umumnya yang diberikan penilaian buruk oleh orang jawa pada umumnya…cmiiw… 🙂

  14. fakta nya beda kali bro, soal nya blm ada penelitian jelas/pasti…

  15. Di Kalimantan sunda lebih diterima daripada jawa. sunda datang ke tanah orang tau diri. lah jawa datang ke tanah orang pengen jadi kepala pemerintahan biar bisa garuk SDA-nya ahaha

  16. Klo kata orang sunda “biar tekor asal kesohor”..

  17. Baru orang sunda, blum orang non indo….

  18. Assalamualaikum, saya juga salah satu yang terkena stigma negatif itu, calon mertua tidak setuju karna saya orang sunda. Semoga terketuk pintu hatinya dan dapet pencerahan, kalo ngga semua orang sunda memiliki sifat seperti itu.

  19. Memang tidak boleh generalisasi, tapi saya percaya kalau ada benarnya. Stigma muncul itu pasti ada hubungan sebab akibat. Dulu saya terjebak sama perilaku sok “politically corrct” tapi setelah terjun langsung ternyata ada benarnya.

    Tidak semua, tapi banyak, gadis sunda yg matre dan rata2 mereka tidak setia. Istilah “tidak mau hidup susah” memang siapa sih yg mau? Kita semua ga mau susah tapi cara bacanya tidak sekaku itu. Cara bacanya gini. “Tidak mau hidup susah” ala sunda itu, artinya mereka rata-rata bisa dengan sekejab berpaling ke kekasih lain (selingkuh) begitu suaminya mengalami kesusahan. Kurang loyal, tidak mau seperjuangan mencoba merintis kembali dari awal membantu sang suami menemukan lagi jalan hidup dan kekuatannya. Buktinya banyak yang saya liat dikehidupan sehari-hari. Jadi stigma jawa yg sudah muncul sejak zaman dulu pasti beralasan gak muncul gitu aja. Ini cuma masalah sifat ras. Setiap ras memang punya sifat kekhas-an. Dan sunda, dibalik sifat positif2 lain, ya juga ada negatifnya.

  20. Semua kembali kepada suami/kepala rmh tangga,.setiap perempuan apa lagi sdh jd istri semua ingin makmur tdk ada yg ingin hidup susah mau suku manapun itu fakta jelas,. Kalau kita merasa ekonomi kita sederhana harus lah bekerja lebih baik lg n harus mengetahui kemampuan kita sendiri,. Semua yg di anggap suku A, b, c dan seterusnya jelek itu bohong dan palsu belaka,.

  21. Saya dari Pati, tepatnya srikaton jaken tetangga mas Darko..
    Nasib kita ga jauh beda mas Rulli, saya dapat wanti-wanti jangan nikah sama perempuan sunda, nyatanya saya dapat istri orang sunda. Meski awalnya ada penolakan keras, namun akhirnya saya bisa meyakinkah keluarga terutama dari keluarga Bapak, mas Darko, dan keluarga guyangan-mbarisan…

  22. Tidak seratus persen benar. Tapi kalau kita buka fb dan kita perhatikan postingan teman-teman fb berjenis kelamin wanita yang asal Sunda terutama Bandung kemudian kita bandingkan dengan yang lain maka kita akan segera mengerti mengapa stigma tersebut sulit dibantah. Kalau punya akun fb, silakan dibuktikan sendiri dan silakan disimpulkan sendiri apa yang rata-rata ingin mereka tunjukkan dibalik postingan foto-foto dan kata-kata kesukaannya. Bukan sesuatu yang negatif menurut saya mah wong itu masalah selera. Jadi, gak usah dicela, dimaklumi aja lah. Selera dan cara aktualisasi kelompok manusia kan memang berbeda-beda. Dan gak harus sama.

  23. Memang ngk semua orang sunda begitu(materialistis,takut hidup susah(kalau hidup susah siap2 aj bakalan dibuang (ada uang abg disayang ngk ada uang abg ditendang)),gengsinya tinggi banget))…tp mayoritas…hehehe

  24. kalo cirebon masuk ke sunda/jawa? tp sehari2 pake bahasa sunda sih. bentar lg mau nikah ma jawa surabaya. ikutan kena stigma perempuan cirebon jg matre krn berasal dr jawa barat. hayati sedih; (

    • Cirebon kan suku tersendiri, coba liat Wikipedia. Tapi terserah kamu mau mengakunya sebagai suku apa. Asalkan jangan bilang tidak punya suku, karena itu artinya bukan warga Indonesia, karena Indonesia ada karena terbentuk oleh berbagai suku yang ada.

  25. Tergantung kepribadian masing masing aja menurut pandangan pribadi saya, kakak (jawa) saya 2x pernah mendapat cewe sunda, sekarang masih pacaran, dan jika di karifikasi Memang ada benar nya jika maaf di katakan “matre”

  26. Sya tggl dbdg 5thn krja di dealer yg kbnykn org jwa.lalu di prhotln&prbankan yg cmpur dri suku lain tp kbnykn sunda.tdk ada stu pun image negatf ttg suku lain,kcuali sya krj di dealer tmn sya mba puji sllu mnilai org sunda tuh mtre pdhl skrg dia sdh mntp dia kota pryangn.ktanya sih dri org2 jwa ny sndri udh dri snany..tp bgi sya dia gk bsa jd org yg bsa mghrgai sku lain mntp dbdg tp msh mnjlk2n suku yg dtmptny.bralih ktmn sya yg dbank natalie dia org mkasar cmpur btak gtu.dia mlh sneng tggl d lngkng sunda.ktany orgny ramah bgt welcome.kmbli ke pnddkn & lngkngn .lalu sya pndh krj ke bekasi dan jakarta hmpr smua org jkrta (btwi) & bksi (btwi,sunda) dipenuhi org jwa.smpe tmn sya yg asli btwi ngmg kurg suka yg kotany lbh bnyk org jwa krna dri segi pekrjaan mrka suka cari muka ktanya.sya gk prcya krna ke2 kk ipar sya org blora&semrg.2thn dbksi 90% kbnykn org2 mnjelk2an suku sunda dan 89% rata2 org jwa.aneh . Dan lagi2 alasan dri mrka yaitu dri kmpungny uda di pesenin sprti itu.ntah apa yg slah sya bngung pdhl sya tggl dbdg yg kbnyk org sunda sya blm prnh mndgr mrka ngmgn suku lain.tp pas dbksi & jkrta yg hmpr 50% org jwa .psti ada pmikiran dan omgn dri org2..kalo menurut sya org sunda lbh trbuka dlm sgi apapun .mau mobil lgsg blg.bgtupun cra brpkir mrka welcome sma siapapun.mkanny dblg RAMAH bgt.mf curhat ..kesel atuh da

  27. Saya Sekarang lagi menempuh pendidikan di kota S, dan memiliki teman dari beberapa suku.
    Jujur, sewaktu masih di daerah asal saya biasa-biasa saja sama suku lain. Malah Gak ada pandangan jelek apa pun.
    Namun, setelah saya di kota S. Saya suka kesel sama temen2 saya dari suku lain yang suka membandingkan dan menjelekkan daerah asal saya, apalagi membanggakan daerah mereka sendiri.
    bahkan mereka ada yang berasal dari suku di luar jawa..

    Namun, kesal tinggallah kesal. Karena rasa Kesalnya pun tidak lama, hanya ketika mereka bercuap saja.

    Sedikit memberi tau pandangan saya pribadi. Bahwa “saya tidak menilai/memadang orang dari sukunya, melainkan dari pribadinya masing2” meski pun pada kenyataannya saya tidak terlalu peduli tentang itu. Toh kita sama-sama manusia, lebih kurangnya ya tergantung masing2.. tinggal bagaimana cara kita menerimanya…

  28. saya orang sunda, ayah saya dari keluarga asal cirebon (kejawaan). ibu saya pernah cerita sama saya bahwa dulu waktu ibu saya dilenalkan sama sodara2 ayah saya yg kebanyakan tinggal di jakarta mereka waktu dilenalkan dg saudara2 ayah saya sempat disambut dg sinis malah adik2 ayah saya menertawakan ibu saya mereka mengatakan kelurga ayah saya ” kok nyari calon istri begini dan ibu saya juga mendengar ” sampai ibu saya sedih dan coba menahan untuk tidak menangis karena seilah mereka memandang rendah ibu saya. trus saudari ayah yg lain pernah ngobrol sama orang bahwa katanya disambut tidak suka orang sunda, karena gengsian dan agak pemalas (pilih pilih pekerjaan). makanya saudari ayah saya tidak mau mnerima orang sunda yg mau mengontrak rumah miliknya dijakarta. saya mendengar cerita itu juga sebernarnya sakit dan sedih. toh saya juga sdh tau bahwa antara dulu sunda dan jawa ngobrol. (no offense) pernah punya jjejak sejarah hitam dimasa jaman kerajaan kerajaan yg asalnya juga dari pihak kerajaan jawa sendiri yg merendahkan kerajan sunda. sebagian orang sunda menyebut orang jawa (jawer) atau orang cirebon (jawareh atau jawa separuh) punya tidak adalah nama jalan hayam wuruk atau gadjah mada sunda tatar pasundan ( tanah sunda). tapi saya pikir setiap suku punya kualitas baik dan buruk. termasuk jawa dan sunda.

  29. wah sama kalau gitu, ibu saya orang jawa asli surakarta, saya ikut pak lek saya kerja di jkt, ibu juga wanti2 saya “jangan sampai kecanthol perempuan sunda” katanya matre, gak bisa narimo, gak mau diajak hidup susah dikit, ini itu, maaf lho bukan jelek2in, ya saya sebagai anak, iya2in aja orang saya orang jawa yg menjujung tinggi adat sopan lan satun, tpi yg dikata orang tua juga ada benernya, saya liat temen kerja saya antara orang jawa sama sunda memang jauh, etos kerjanya masih bagusan orang jawa disiplin, ulet, rajin, lemahnya di fikiran, orang sunda emang pinter, bnyk mikirnya, tpi etos kerjanya nol, itu dari pengalaman saya,

  30. Vice verse.. saya kerja di bandung, kuliah di jogja, lahir dan besar di bengkulu dan ibu saya asli jawa.. sama, saya sebelum ke Bandung diwanti2 untuk hati2 sama perempuan sunda sama bulek di jawa, budhe dan ibu saya (alasannya karena kamu masih keturunan darah jawa).. ternyata ini ada kaitannya jaman dulu, kerajaan mataram pernah perang kerajaan pajajaran (kelihatannya masih dendam), memang orang jawa sedikit pendendam.. kalo soal matre, suka dandan dan tidak mau hidup susah memang ada beberapa perempuan sunda begitu, tapi perempuan bengkulu, palembang dan jawa juga ada..

  31. sayangnya, saya sebagai pihak ketiga yang melihat, kalo suku jawa punya sifat rasis kesukuan yang tinggi dan pendendam. hanya sebagaian orang saja yang objektif, saya sebagai suku ketiga yang melihatnya sedih.. karna sentimen kesukuan yang sangat tinggi dia punya kekhawatiran yang tinggi. atasan saya dari suku sunda seorang pekerja keras. dia ulet dalam pekerjaannya. baik mungkin mempunyai sifat yang blak-blakan, karena dia blak2an dia punya sifat yang jujur. bos saya menyukai orang yang blak-blakan dia malah dipercaya oleh bos2nya, tetapi ada beberapa teman saya yang dari suku jawa tidak menyukainya, dibilang hanya penjilat bosnya. apa memang orang jawa mempunyai rasa dendam dan iri yang tinggi terhadap suku lain? tetapi ada lagi teman saya yg dari semarang dia sangat salut kepada atasan saya karena dia jujur dan blak-blakan. berarti seseorang selalu melihat dari sisi subjektif tidak objektif. tidak bijak, pantas saja bila orang yang rasisme tinggi itu tidak maju, bagaimana bangsa ini mau maju jika banyak orang yang rasis.

  32. Kynya ngga cm suku jw aja yg punya stereotip ky gitu dulu tmn sy org ambon portugise pernah ada kerjaan di daerah sundalah… sambil bergumun org sini cantik2 ya kulitnya putih bersih2 sayangnya ngga cocok dijadiin istri jd gebetan doank cocoknya… suer kaget dengernya hehehe sy ngga tanya knp ke dia mungkin entah saudaranya pernah punya pngalaman pribadi atau entah lah.

    • Mungkin teman anda bekerja di daerah Sunda, tapi kawan2nya berasal dari Jawa sehingga stigma tersebut lambat laun menempel dipikiran kawan anda atau istilahnya brain wash.

  33. Saya cwe asli bandung, sunda…saya ga pnya pikiran gmn2 sama suku jawa tp knp ya pikiran org jawa sepicik itu…skrg qt bandingkn knp ko bs bpikiran jelek ttg org sunda pdhl qt nya sndri (org sunda) ga bpikirn jelek..mau nikah sm org suku mana aja asal org nya baik mah g masalah atuh…alhmd sy dpt in suami juga org sunda, org bdg juga…rmh tangga udh 12 thn..kead suami susah senang y nerima aja dijalani..mnta mobil y klo emg ngliat suami mampu..kead susah mobil kpaksa djual y dijalani aja…toh klo suami emg mampu n kbeli mobil lg buat siapa lg klo bkn bt istri n anak…bt org jawa ato suku manapun yg mnganggap cwe sunda matre males..salah sndri nyari nya yg ky gt…msi byk ko cwe sunda/bdg yg baik2 n pngertian..jodoh ma cerminan diri sndri..silahkn berkaca..jodoh pasti ga jauh ko ahklak n klakuan nya dr dri qt sndri…dalil nya juga jelas “yg baik dgn yg baik (ahlak nya), yg jelek dgn yg jelek (ahklak nya)

    • saya orang jawa, saya juga agak sedih ketika orang jawa kebanyakan seperti itu, tp sepertinya itu dari sejarah dahulu dan orang tua yg mewanti wanti kita..dan pemikiran seperti itu mudah mudahan segera hilang terbwa zaman..jawa sunda peace

  34. Sy asli sunda dr bogor, suami sy orang jogja, terus terang ya, sy suka sakit hati dgn stigma negatif dr orang jawa trhdp orang sunda, wkt mau menikah dl keluarga suami pun ga setuju dia menikah dgn sy krn anggapan negatif yg sepertinya mendarah daging dlm diri mrk, tp seiring wkt keluarga suami akhirnya malu sdri, krn sy ga matre, di ajak ngontrak dan hidup susah, hayu aja, di kasih gaji sm suami seikhlasnya dia, ga pernah sy minta ini itu, sy jg ga malas2an ngerjain kerjaan rmh biarpun skrng ekonomi keluarga membaik sy ttp ngerjain kerjaan rmh sdri tanpa pembantu, sy jg ga begitu suka dandan, krn tanpa dandanpun alhamdulillah Allah mengkaruniakan sy wajah cantik dan kulit putih mulus, memang mungkin kt orang sunda lebih terbuka, blak2an, apa yg ada di hati di omongin aja, tp itu justru yg suami suka dr sy, krn sy selalu jujur apa adanya, lambat laun jg keluarga besar suami makin terbuka dlm memandang perempuan sunda, krn mrk byk bergaul dgn keluarga besar sy yg asli sunda, byk sepupu, keponakan dan sdra suami yg akhirnya menikah dgn perempuan sunda, alangkah baiknya setiap orang tuh memandang seseorang bkn dr sukunya tp dr pribadi mrk masing2, terutama dr ketaqwaannya

    • Saya Pria Jawa, namun besar di lingkungan Bandung sebagian sunda sebagian lagi jawa. Sekarng saya sudah menikah dengan wanita keturunan kalimantan campuran tionghoa, mualaf.

      Mau cerita aja hub saya dgn org Bandung, suku sunda. Sy pernah berhubungan sama gadis bandung ini,cukup lama. Dia cerdas, berpendidikan tinggi, dan moderat. Jadi wkt itu sih baik2 aja. Tp berbeda dgn ortu nya yg blak2 an nanyain gaji saya dan tmpt saya kuliah pas sy pacaran, sontak sy aga shok sama kondisi ini. Pernah suatu wkt ortunya nanya ke saya, apa bs sehari dapetin uang 1 jt 😨😨.

      Menurut saya yang matre itu ortunya. Krn tingkat pendidikan yang rendah (mgkn), dan ingin anaknya bahagia.
      1 hal lg yang sy tidak sreg dengan kebiasaan keluarganya adalah, pamer… Ya, pamer. Krn setiap kumpul keluarga mrk selalu berlebih dalam memamerkan sesuatu yang bari, entah itu handphome, tas, sepatu, mobil, dll dll. Mgkn yang perlu di garis bawahi adalah, kebiasaan pamer ini bs saja jadi kebiasaan suku manapun, bukan cuma sunda. Jadi ilfill nya saya bukan dari sukunya, tp kebiasaannya. Dulu saya masih 23 tahun dan belum mapan. Jadi ortunya dulu ga restu.
      Skrg saya alhamdulillah udah berkecukupan dan aneh aja dulu baru lulus kuliah kok ditanyain apa gajinya bs sampe 30jt…. 😪😪😪

      • Masa sih mas? Saya keturunan Minang + Sunda + Jawa gak ada yang aneh dengan kakek nenek saya? Malah om saya ada yang nikah dengan Perempuan Sunda tulen, keluarganya baik2 aja. Malah orang tua tante ipar saya itu sering ngasih nasihat yg baik2 & ilmu agama.

  35. izin berkomentar..saya wanita sunda asli,ibu saya sunda asli kemudian alm.ayah saya pun sunda asli,kembali ke komentar tentang wanita sunda,ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sangat sederhana,tidak berlebihan dalam berdandan (karena alhamdullilah telah ditakdirkan Allah SWT memiliki paras dan kulit yang cantik dan bersih,beliau menemani alm.papa saya sampai akhir hayat dengan kesetiaannya,dan segala pengorbananya (walaupun itu adalah kewajiban seorang istri). Dari contoh pengalaman hidup ibu saya ini menyimpulkan bahwa tidak semua wanita sunda bersifat negatif seperti pandangan selama ini..toh keturunan keluarga saya semua wanita nya tidak ada yang seperti itu..wasallam hatur nuhun kasadayana..

  36. Kl yg campuran biasanya sifat2nya sdh banyak berkurang krn sdh terpengaruh adat lainnya…

  37. Semua suku kalau menurut saya sama ga ada bedanya di dunia ini, karena kita dari suku manapun ga ada orang yang pesan sama Tuhan saya mau jadi suku apa gitu, jadi kembali kepada individunya masing masing. dan jangan sekali sekali menjelek-jelekan suku apapun karena kita belum tentu yang paling benar, manusia itu tempatnya salah dan benar. jadi rukunlah

  38. indonesia antik dan unik..nasional dan netral..jgn salahkan yg men cap dan juga yg membela..faktax kita hidup berdampingan..apakah mau ribuan suku menyatakan atau bikin negara sendi sendiri..

  39. Biasanya bila kita menyukai seseorang, maka kita akan berfikir asosiatif atau mencari-cari kesamaan, sebaliknya bila tidak suka maka akan berfikir yang kontra asosiatif atau mencari-cari perbedaan

  40. Menurut saya sebagai campuran Betawi-Sunda, tidak ada ruginya bagi kami kalau ada yang mengatakan bahwa perempuan Sunda itu negatif, sehingga melarangnya untuk menikah dengan perempuan Sunda.

  41. Waah menarik ini, klo saya sendiri kebalikan dari mas nya, saya asli org sunda kuliah di jogja adat jawa, heem ya klo saya no komen masalah wtak atau karakter org di sni tinggal saya ambil kesimpulan nya dan menjadi diri sya sendiri sebagai wawasan : )

  42. Izin share Kang,

  43. Sy sunda… sy sdh bc knp org jw slu bilg bgtu di youtube mitos2 gk jls dn stigma gk bnr. Krn org jwa itu cmburu udh di cekokin dr jmn kerajaan dlu mjphit dn pjjaran perang…. dr kerajaan mjphit mlrg mnkh dg org sunda alsannya pmls lh matre lh suka brdnda lh…

    Pdhl logis aza lh cwok komersil jg bbyk ini itu minta di byrin. Cwex mh mndg krn cntik btuh biaya, dn wanita sunda itu yg spt org jawa bilg… sbtulnya lbh ke agama gtu dech yg di junjung. Suami bkrja istri di rumh bres2 jga ank urys suami. Mmg gk ky org jwa sepikul spenangungan dlm bkrja mncari nfkh. Dn lki2 sunda jg tdk kn mnyuruh istrinya bkrja mreka udh thu lh tugas suami apa… jd bkn mlas bkn jg matre itu mh cm mnurut org jawa krna da rs iri aza krn ggl mrbut pjjaran..

  44. Kenyataan di lapangan ga sesuai sama apa yang orang Jawa pikirin tentang orang Sunda. Kita bukan orang yang super kompetitif, cemburuan, ga mau kalah, ingin berkuasa, emosional, agresif, ngerasa superior ataupun selalu berpikiran negatif terhadap suku lain kayak orang Jawa. Kita mah welcome banget sama tiap orang, ga peduli apa sukunya. Kita selalu diajarin buat hidup “meurih” atau istilahnya hidup susah, sopan santun, berpakaian yang layak, berkata lembut dan menghargai orang yang lebih tua dari kecil. Kita juga ga pernah diajarin buat bertingkah seenaknya di tanah orang, makanya orang Sunda ga punya reputasi yang buruk di mata suku lain, kecuali … you know lah. Ditambah, mayoritas kita ngga punya jiwa perantau. Kita lebih nyaman tinggal di tanah sendiri.

  45. Stigma antar suku pasti akan selalu muncul karena perbedaan norma, sikap, cara pandang. Semua itu tak lepas dari sejarah masa lalu Nusantara, dimana kala itu antar suku masih diliputi oleh semangat kedaerahan (belum ada semangat nasionalisme). Di masa itu perkawinan lintas suku masih sangat jarang, komunikasi juga belum seterbuka sekarang, dan masing-masing keluarga biasanya mewariskan doktrin-doktrin sesuai norma yang mereka anut. Untuk bisa memahami masalah stigma, kita tidak bisa langsung membuat cap bahwa suku A ternyata lebih buruk dari suku B, atau begitu pun sebaliknya. Pengalaman empiris yang dangkal (mungkin hanya karena kita menikah dengan orang sunda atau jawa) tidak bisa menjadi sebuah rujukan yang pasti. Semua itu tentu sangat subjektif. Butuh sebuah objektivitas dalam membuat penilaian. Tidak bisa tidak, perbedaan pasti selalu akan memunculkan gesekan..tidak mudah mengubah cara pandang yang sudah ratusan tahun dianut. Sebagai generasi muda dengan arus informasi yang luas dan terbuka kitalah yang berkewajiban menyelaraskan cara pandang. Perbedaan seyogianya kita hikmahi sebagai ‘keanekaragaman’, bukan sebuah jurang. “Pertama-tama kita harus adil ‘di dalam pikiran’ baru dalam perbuatan”, begitu tutur Pram. Berawal dari cara pikir maka kita bisa lebih memahami perbedaan sebagai sebuah keindahan.

  46. kita harus mengamalkan “bhinekka tunggal ika” walaupun berbeda-beda suku,agama,dan ras tetapi tetap satu.

  47. Postingan ini sudah tidak relevan untuk di fikirkan teman2 terkesan memojokkan satu sama lain. Dan saya harap tidak ada yg terpengaruh. Saya baca isinya hujatan dan menjelek-jelekan suku lain. Kita tau itu tidak baik, & kita itu Indonesia. Semua orang punya kekurangan.

  48. Ini teh Rully TI ITB bukan?
    Saya juga Rully dulu gak boleh pacaran sama orang Jawa, atuda tara shalat tara puasa. Kata Ibu saya orang Jawa mah teu jelas agamanya. Satu keluarga bisa campur2. Ibu saya lihat keluarga suami kakaknya begitu. Jadi gak boleh saja meski pinter juga😂! Gak boleh bukan urusan materi, urusan akherat!!!
    Makanya pas saya ke sini ketemu orang2 Jawa, saya kaget mereka shalat2. Sampe nanya saya itu, kalian shalat2 ya?. Sampe nanya begitu😂.
    Saya asli meleg-meleg Sunda, kalah lah Pak Ridwan Kamil juga kalo mau ngomong Sunda lemes mah.
    Orang tua saya malah ngajarin jangan materialistis. Waktu menikah semua biaya pesta orang tua saya yang nanggung. Gak sepeserpun minta dari pihak sebelah. Maaf, kalau pesta bukan berarti ingin kelihatan gaya. Pertama, orang tua bersyukur anaknya sdh dewasa & moga2 bnyk yg mendoakan baik. Kedua, kan harus di announced ke kerabat, kolega ortu jg saya, dll. Itu kalo ada uangnya, kalo gak ada mah ya numpeng saja, cukup!
    Saya juga di tanya sama orang Jawa, bener gak orang Sunda materialistis. Saya nanya balik, ‘saya materialistis gak?’.
    Tapi saya memang gaya, sampe orang Pakistan mikir gaji dosen Indonesia gede banget. Padahal mah saya beli yang biasa2 saja cuma pantes kayaknya jadi kelihatan mahal😂.
    Saya sih paham kalo wanita Jawa gak suka wanita Sunda. Memang bener orang Sunda nya mah cuek2 saja kok.
    Orang Sunda itu kalo ngomong gak kemayu tapi juga gak cageg. Kalo ngomong selalu sambil senyum. Makanya orang merasa lebih cepet akrab karena merasa di terima. Saya akui, lebih cepet populer sekalipun harus berada di antara bule2. Jadi ya alamiah lah wanita lain merasa cemburu!
    Kalo saya milih cowok itu harus ingat pelajaran genetika. Cari yang gen nya bagus. Pinter misalkan. Biar gak nyusahin ke anak. Kalo sudah pinter alias punya potensi mah masa gak mikir harus nyari uang untuk membiayai keluarga atuh…!!!
    Makanya…, pacarannya jangan sama yang tidak di didik baik apalagi kalo gak mampu. Ya riweuh lah…, sama mau Sunda mau bukan juga.
    Kalo urusan kerja mah, saya masih mau ngosrek WC padahal pembantu saya dulu d nenek gak kurang dari 6 orang😊! Nembok bisa, bengkel sepeda/mobil bisa, masak mah boleh ditanya. Anak saya mah nangis di sekolah gara2 saya gak keburu anterin makanan karena harus nengok yg sakit. Sampe gak mau makan karena ingin pasakan mamah.
    Tapi yang jelas kalo sudah sebel (menyinggung harga diri) wanita Sunda judes & galak!!! Ngomongnya setajam silet pokoknya😂😂😂!!!

  49. Ayah dan ibu saya asli jawa, dan kebetulan dapat istri yang juga dari keturunan jawa.
    Memang benar dulu saya juga diberi wejangan soal memilih istri, ada banyak suku yang sebaiknya dihindari, karena sudah terlajur dapat cap stigma kurang bagus.
    Salah satunya ya perempuan dari sunda, stigma yg disampaikan ke saya persis seperti yg ditulis di blog ini. Suku lain yg mirip stereotypenya dengan perempuan sunda adalah perempuan dari minahasa (manado).
    Kalau cap yang lain: dari minang cenderung pelit. Itu 3 suku yang secara eksplisit dianjurkan untuk jangan dijadikan istri.
    Penyebab utamanya memang karena value / budaya / kebiasaan kami yang berbeda dalam memandang sesuatu. Ditambah lagi memang ‘fakta empiris’ yg sudah mengalami pernikahan sblmnya banyak yang dilihat dari luar menguatkan stigma tersebut. Kalau mau dilihat sisi positifnya, saya setuju sekali dengan isi blog ini. Semua kembali ke pribadi masing masing, dan tidak bisa digeneralisir.. Tapi disadari atau tidak, pengaruh budaya dan kebiasaan di mana kita tinggal memang ikut andil dalam membentuk karakter seseorang.

  50. Setuju dengan artikel di atas.
    Kakak saya punya ustri orang Sunda, asli Bandung. Kenal pas kuliah di ITB.
    Saya orang Maluku (Kep. Kai besar di Google map) tapi lahir diManado, besar di Merauke, Papua.
    Bapa saya 3 tahun sakit. Yg ngurus ibu saya dibantu kakak ipar saya yang orang Sunda.
    Saya skrg kuliah di salah 1 kampus swasta diMalang. Bapa saya pesan, selesai kuliah nnt kerja, usahakan dapat perempuan Sunda. Karna diMerauke orang Sunda itu dikenal baik budinya. Memang suka terang-terangan kalau minta hp terbaru atau perhiasan,, yh pokoknya barang mewah. Soal hidup susah, kakak saya memang kerja diperusahaan asing di Papua. Jadi kalau menurut saya, bukan matrealistis, semua orang pengen punya mobil.
    Kakak saya sj mobilnya gk ada, baru mau beli tahun ini. Semua istri sama kok. Pasti minta apa-pasti ke suami. Beda kalau istrinya selingkuh hehehehe … tapi pada intinya saya tidak setuju dengan pandangan negatif ke perempuan Sunda. Karna saya saja di anjurkan nantinya menikahi perempuan Sunda.

  51. Jika ada yg bilang golongan tertentu seperti ini, maka bukan berarti 100 persen individu dari golongan itu seperti itu. Pernah belajar distribusi gaussian ga mas? 1-2 org sampel tidak akan mewakili semesta org Sunda yg jumlahnya jutaan.
    Saya tidak mau menentang atau membela pendapat anda. Hanya saja saya yakin stigma atau stereotype eksis pasti karena alasan yg kuat

    • Memangnya ada di artikel saya tulis bahwa perempuan Sunda seperti itu? Justru saya berpendapat sebaliknya kalau Anda bisa membaca. Btw, saya dosen statistika, tentu mengerti distribusi Gaussian.

      • poin saya lebih ke generalnya mas. stigma tidak mengatakan 100% semua individual dari golongan tersebut. sehingga bisa anda patahkan dengan 1-2 orang sampel saja. apabila anda akan mematahkan stigma atau stereotype, ambil sampel dengan jumlah dan persebaran yang tepat.

        stereotype nya orang madura bersifat barbar. maksudnya adalah sebagian besar orang madura punya sifat barbar. apabila saya bermaksud mengatakan 100 persen orang madura barbar, maka saya akan menggunakan istilah fakta daripada stereotype.

        stereotype ada sebagai referensi kita untuk lebih waspada. bukan justifikasi langsung

      • didalam kepolisian, stereotype tidak bisa digunakan sebagai bukti kriminalitas atau peristiwa tertentu. tapi bisa jadi alasan kuat untuk dilakukan investigasi mendalam

        nailed it. stereotype exist because a reason.

      • Sepertinya Anda cocok untuk mengambil S-3 di bidang sosiologi. Dengan referensi utamanya adalah dari Google.

      • Apalah saya dibandingkan dengan anda dosen statistika yg pasti sudah menggunakan metode yg tepat dan dapat mewakili semesta spesimen yg ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s