Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kehamilan minggu ke-23: sebelum dan sesudah

Leave a comment

Kehamilan usia 23 minggu

Kehamilan usia 23 minggu

Seri Kehamilan #5

Banyak yang bilang kalau istri saya tidak tampak seperti orang hamil. Dalam artian, badannya tidak terlalu melar, dan perutnya tidak buncit. Anggapan ini terjadi karena Intan termasuk yang badannya agak bongsor (tinggi besar). Dia tingginya 167 cm, termasuk persentil atas untuk perempuan di Indonesia. Sebelum hamil, beratnya sekitar 67 kilo. Sekarang beratnya sudah sekitar 76 kilo. Sebetulnya naiknya sudah 9 kilo. Tapi ya itu, gara-gara memang sebelumnya sudah bongsor, jadi tidak terlalu terlihat. Coba lihat foto di bawah, kondisi waktu baru menikah dan saat usia kehamilan 20 minggu tidak terlalu tampak bedanya kan.

Tetapi, bagi saya yang tiap hari mengelus-elus perutnya, tentu tampak bedanya. Makin hari makin terlihat bertambah buncit.
Di pertemuan sebelumnya, bidan pun bilang bahwa Intan sekarang sudah punya pregnancy bump. Kalau difoto dari samping, di usia kehamilan 23 minggu sudah terlihat buncitnya.

Sebetulnya istri saya pun juga sudah merasa bahwa beberapa baju dan pakaian dalamnya sudah tidak muat. Mungkin pembaca sudah tahu bahwa selama hamil payudara perempuan membesar dari ukuran biasanya. Hus, jangan ngeres dulu. Itu buat persiapan menyusui anak kita. Bukan buat bapaknya, hehehe.

Sejak awal saya menyarankan Intan untuk mulai membeli baju-baju hamil (maternity clothes). Memang bentuknya berbeda dengan baju biasa. Misal kalau celana ada gembungan khusus di bagian perut. Sekarang yang sedang dicari adalah jaket musim dingin khusus untuk ibu hamil. Karena anak kami insha Allah akan lahir pada bulan Februari, berarti di bulan Desember-Februari perut Intan akan sedang besar-besarnya, dan periode itu bertepatan dengan musim dingin (winter). Jaket winter-nya jelas sudah tidak muat dipakai nanti. Tetapi, membeli jaket ukuran besar juga aneh, karena yang bertambah besar adalah perutnya, sedangkan tangan dan bahunya relatif sama. Setelah dicari-cari, ternyata ada jaket khusus namanya zwangerschapjassen (jaket untuk ibu hamil). Kami belum membeli karena sekarang masih Oktober.

Kiri: September 2012, waktu bulan madu perkawinan di Bali. Kanan: Oktober 2014, waktu hamil usia 20 minggu

Kiri: September 2012, waktu bulan madu perkawinan di Bali. Kanan: Oktober 2014, waktu hamil usia 20 minggu

Untuk baju-baju hamil, saya menyiapkan anggaran khusus, begitu pula untuk perlengkapan bayi (baby stuffs) ada alokasinya. Kami terbiasa untuk merencanakan segala sesuatunya dengan detail, termasuk dalam hal keuangan. Supaya nanti di belakang tidak kobal-kobol (bingung, tergesa-tergesa). Sejauh ini anggaran masih sedikit sekali terpakai, terutama untuk baby stuffs, karena alhamdulillah banyak sekali teman-teman di Groningen dan Belanda yang memberi. Cerita soal lungsuran perlengkapan bayi ini akan saya ceritakan di artikel tersendiri.

Pada bulan Oktober, kami juga kembali bertemu dengan bidan, untuk keempat kalinya. Kali ini kembali bertemu dengan Maaike. Intan bertanya apakah normal kalau batuk/bersin/tertawa sehingga sampai keluar sedikit air seni. Sebetulnya istri saya sudah membaca buku, dan tahu kalau perempuan hamil banyak mengalami hal seperti itu, tetapi baru di usia kehamilan menjelang 30 minggu. Maaike bilang bahwa itu normal kalau sekarang sudah terjadi kondisi seperti itu. Dia menyarankan supaya Intan sering-sering buang air kecil, agar kandung kemihnya selalu kosong. Selain itu dia juga menyarankan untuk melakukan senam kegel.

Intan juga bertanya mengapa sekarang pinggangnya sering terasa sakit, dan apakah aman jika saya memijat. Saya memang sering memijat istri saya, terutama di bagian kaki, pinggang, dan punggung. Bidan bilang bahwa normal kalau pegal-pegal, karena bayi bertambah besar. Dia menyarankan, jika terus-terusan pegal, sebaiknya kami menghubungi fisioterapi. Seharusnya biaya ke fisioterapi ditanggung oleh asuransi.

Bidan bilang bahwa setelah usia kehamilan 26-27 minggu, sebaiknya Intan terus memonitor pergerakan janin. Tidak perlu dihitung dengan pasti berapa kali jumlah gerakannya, karena menurut dia ritme gerakan bayi sangat berbeda satu sama lain. Bisa saja ada bayi yang biasa bergerak 100 gerakan per jam. Bisa juga ada yang gerakannya hanya 20 kali per jam. Oleh karena itu, menurut Maaike dirasa saja. Jika di satu hari gerakan bayi sangat kurang, segera menelepon bidan.

Pendekatan di Belanda memang agak berbeda dengan dengan Indonesia. Semua serba dibawa tenang, dan tidak perlu dikhawatirkan. Mungkin sesuai dengan karakter orang Belanda yang santai. Contoh, setiap kali kunjungan ke bidan, Intan tidak dicek berapa pertambahan berat badannya. Bidan hanya menekan-nekan perutnya dan memberitahu kondisi bayi kami. Bidan bilang, kurva penambahan berat badan berbeda-beda tiap ibu hamil, tidak perlu terlalu dipikirkan selama bayinya sehat. Contoh lain adalah dalam hal tes laboratorium. Maaike memberitahu bahwa Intan harus melakukan dua jenis tes lab. Tes pertama adalah mengecek lagi kadar gula, diabetes, dll. Sedangkan tes berikutnya perlu dilakukan karena rhesus Intan negatif. Kalau membaca buku memang rhesus negatif bisa membuat ada kemungkinan bayi membentuk antibodi yang dampaknya kurang baik bagi dia. Namun Maaike menenangkan dengan bilang bahwa kami tidak perlu berpikir terlalu jauh. Jalani dulu saja tesnya. Nanti kalau ada apa-apa bisa dicari jalan keluarnya. Saya senang dengan pola pikir seperti ini. Semua dilakukan satu per satu. Jadi tidak ribet, hehehe.

Kami berencana untuk liburan ke Paris selagi perut Intan belum terlalu besar. Kami bertanya ke Maaike apakah boleh melakukan perjalanan darat menggunakan bis selama 8 jam dari Amsterdam ke Paris. Dia bilang boleh, tetapi jangan melulu duduk. Kadang-kadang perlu berdiri dan sedikit berjalan di bis untuk melancarkan peredaran darah.

Setelah diskusi selesai, berikutnya, bidan melakukan prosedur normal, yaitu mengukur tekanan darah, menekan-nekan perut, dan mendengarkan detak jantung bayi. Dia bilang semua dalam kondisi normal dan baik. Alhamdulillah, sehat-sehat terus ya, Nak 🙂

Groningen, 20 Oktober 2014, jam 11:20 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s