Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Keluar dari Zona Nyaman, Belajar dari Bapak

2 Comments

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Keluarga lengkap waktu nikahan saya (2012). Dari kiri ke kanan: Aan, Mas Hari, Ibu, Saya, Intan, Bapak, Mbak Eni

Kalau dipikir-pikir lagi, keputusan Bapak saya untuk mengkuliahkan kakak yang pertama (Mas Hari) adalah tindakan yang hebat dan nekat. Kalau saya ada di posisi Bapak ketika itu, belum tentu saya bakal berani untuk mengambil keputusan yang sama.

Menurut saya pandangan ini tidak berlebihan. Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya di catatan saya, “Pendidikan yang Mengubah Segalanya”, Bapak mulai mempunyai keinginan untuk mengkuliahkan anak pertamanya sudah sejak ketika Mas Hari masih SD. Kakak saya itu lahir tahun 1970, berarti keputusan Bapak itu sudah direncanakan sejak tahun 1980-an.

Bagi mereka yang tinggal di kota, berasal dari keluarga pegawai kantoran, atau asal-usulnya dari keluarga kaya, mengkuliahkan anak di tahun 1980-an bukanlah sesuatu hal yang luar biasa. Kenapa? Tentu karena untuk yang berada di kondisi tersebut, banyak contoh dan kesempatan yang membuat orangtua bisa untuk mengkuliahkan anaknya. Tetapi Bapak saya tidak memenuhi ketiga kondisi tersebut. Bapak adalah dari keluarga petani di desa, dimana kakek dan nenek hanya bisa mewariskan sepetak tanah untuk Bapak dan saudara-saudaranya.

Tahun 1960, saat berumur 18 tahun, Bapak yang karena keterbatasan orangtuanya hanya sempat tamat SD, mencoba untuk mendaftar jadi tentara. Pilihan yang wajar. Disaat tidak punya modal (sawah) untuk jadi petani, maka menjadi abdi negara dengan penghasilan yang pasti adalah keputusan yang rasional. Namun, keinginan ini urung terlaksana karena ketika hendak mendaftar tentara, rupaya ijazah SD Bapak hilang.

Gagal menjadi abdi negara, maka Bapak beralih ke kemungkinan yang ada, yaitu menjadi buruh tani dan buruh bangunan. Bapak menjalani profesi ini selama bertahun-tahun di tanah kelahirannya, Desa Semboro, Jember. Sampai akhirnya menikah dengan Ibu dan punya anak Mas Hari, beliau juga masih menjadi buruh.

Logikanya, manusia akan suka untuk berada pada zona nyamannya dan cenderung takut untuk mengambil risiko keluar dari daerah itu. Begitu pula Bapak seharusnya senang-senang saja dengan kondisinya ketika itu. Menjadi buruh tani dan tukang sudah bisa ada penghasilan, walaupun sangat pas-pasan, hanya cukup untuk makan sehari-sehari. Saking mepetnya penghasilan, kata Ibu, sering dulu Bapak menjual jagung pipilan ke Pasar Bangsalsari untuk menambah penghasilan. Jagung itu harus di-pipili sendiri dan Bapak membawa puluhan kilo jagung dengan sepeda onthel ke Bangsalsari yang jaraknya sejauh 20 km dari Semboro.

Disaat orang lain mungkin puas dengan kondisinya, tidak demikian dengan Bapak. Sekitar tahun 1977, beberapa saat setelah Mbak Eni (kakak saya yang kedua) lahir, Bapak memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya, dengan merantau ke Surabaya. Menurut saya keputusan ini tidaklah sederhana. Ketika itu Bapak berarti berusia 35 tahun, dengan keluarga di belakangnya. Walaupun pas-pasan, tetapi sebetulnya di kampung halamannya sudah ada pekerjaan. Orang tua dan saudara-saudaranya tidak ada yang merantau. Budaya merantau juga tidak lazim bagi orang Jawa Timur di daerah Pandalungan (eks Karesidenan Besuki). Prinsip di daerah kami adalah “mangan ora mangan waton kumpul”.

Keputusan ini menurut saya hebat, karena datang dari diri sendiri di kala umur yang sudah matang, dimana orang biasanya mencari zona aman di rentang usia ini. Ibu juga tidak banyak berperan dalam pengambilan keputusan. Ibu saya orangnya sangat sederhana, beliau hanya sekolah sampai kelas 3 SD. Memang kalau dipikir sejak muda Bapak saya visioner. Saat Mas Hari masih bayi, berarti di awal tahun 1970-an, dia pernah sakit. Saat itu di Desa Semboro hanya ada mantri kesehatan, dan masyarakat masih sangat umum untuk mengobatkan anaknya yang sakit ke dukun. Tetapi Bapak tidak mau, dia menjual ayam-ayamnya untuk biaya berobat Mas Hari ke dokter. Bapak pun malam-malam membonceng Ibu yang menggendong Mas Hari ke Tanggul, ibu kota kecamatan yang jaraknya 5 km dari rumah kami. Malam-malam naik sepeda, waktu itu penerangan masih sangat minim dan kondisi jalan belum diaspal. Sepeda Bapak oleng, Ibu terjatuh dan jarinya cedera. Sampai sekarang cedera itu masih membekas.

Setelah di Surabaya, dengan keluarga ditinggal di Semboro, Bapak menyambung hidupnya dengan menjadi mandor bangunan. Mandor adalah pemborong, dimana umumnya kontraktor besar akan men-sub kan banyak pekerjaan ke para pemborong dengan harga borongan (lump-sum). Pemborong mengepalai puluhan tukang, dan keuntungan yang diperoleh adalah selisih dari harga borongan dikurangi ongkos tukang dan bahan bangunan. Ada juga pemborong yang agak nakal, yang paling umum adalah mencurangi honor tukangnya. Tetapi Bapak saya tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu. Kejujuran dalam bekerja ini ditanamkan ke anak-anaknya. Kejujuran ini juga tetap dipegang bahkan kelak di waktu-waktu Bapak dan Ibu sangat kekurangan uang karena butuh biaya untuk kuliah Mas Hari.

Dengan menjadi mandor, sebetulnya penghasilan keluarga sudah membaik. Indikatornya mudah. Bapak bisa membeli motor, radio, dan sekarang bisa membangun gubuk bambunya menjadi rumah gedung. Jika mengikuti cara berpikir orang kebanyakan yang sederhana, maka seharusnya Bapak sudah puas dengan kondisinya ketika itu, dan tidak perlu berpikir repot-repot untuk menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Sebagaimana yang lazim di desa kami ketika itu, orangtua mendidik anaknya sesuai dengan pekerjaannya. Mereka yang jadi petani menyiapkan anaknya jadi petani, yang pedagang mengkader anaknya jadi pedagang, dsb. Logika orang desa umumnya sesederhana itu saja, tidak repot-repot, yang penting bisa makan. Bapak pun normalnya seharusnya seperti itu, tinggal mendidik Mas Hari untuk menjadi mandor, toh sudah lumayan penghasilannya. Tetapi Bapak tidak berpikir linier seperti itu.

Seperti yang saya bilang di awal tulisan, jika tinggal di kota, maka kuliah itu tidak aneh, karena banyak contohnya. Tetapi di Desa Semboro di tahun 1980-an, kondisinya masih cukup terbelakang. Jalan utama masih berlubang dan becek kalau musim hujan. Juga tidak ada SMA negeri. Rasanya masih jauh ketika itu kalau ada yang berangan-angan untuk mengkuliahkan anaknya. Kalaupun ada yang kuliah, mereka bisa dihitung dengan jari, dan itupun asal-usulnya selalu seragam, kalau tidak anak petinggi Pabrik Gula Semboro, anak PNS, ya pasti anak tuan tanah. Saudara-saudara kami jangan ditanya. Dari belasan sepupu saya dari Bapak, hampir setengahnya tidak lulus SMA.

Di tengah-tengah kondisi seperti ini, Bapak mengambil keputusan yang berani, dan sekali lagi keluar dari zona nyamannya, yaitu memutuskan untuk mengkuliahkan Mas Hari. Tentu keputusan ini tidak datang sendirinya. Di Surabaya, Bapak melihat dan kagum bahwa para sarjana yang masih muda bisa mendapatkan posisi yang tinggi di tempat kerjanya. Sementara dia yang sudah bekerja belasan tahun malah menjadi bawahan mereka. Begitu kira-kira gegar budaya yang ada di alam pikirannya ketika itu. Penak yo lek sekolah duwur, uripe ora susah koyo aku.

Keputusan untuk mengkuliahkan anak memang dipandang sangat aneh ketika itu di Semboro. Bahkan ketika tidak banyak tuan tanah ketika itu yang menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi, Bapak yang hanya seorang mandor malah ingin anaknya jadi sarjana. Kira-kira begitu logika orang-orang waktu itu Semboro. Ada juga yang beranggapan Bapak saya bodoh, karena jika tidak dipakai untuk biaya kuliah Mas Hari, seharusnya Bapak bisa membeli mobil, sawah, punya rumah yang lebih besar, dll. Bapak bukannya tidak sadar dengan konsekuensi ini. Tetapi beliau bilang, “aku ora pingin sugih, sing penting anak-anakku sukses”.

Mungkin keputusan Bapak waktu itu juga dilatarbelakangi oleh fenomena, bahwa banyak orang-orang kaya di Semboro yang tidak membekali anak-anaknya dengan pendidikan. Setelah hartanya diwariskan, rata-rata anak keturunannya banyak yang malah hidup susah. Sebetulnya kakek dan nenek pun dulunya orang yang cukup berada. Mereka mempunyai sawah paling tidak lima bahu (1 bahu = 0,7 hektar), sekarang harga sawah 1 bahu di Semboro sekitar 500-600 juta rupiah. Tetapi kakek dan nenek boros dan tidak membekali Bapak dan saudara-saudaranya dengan pendidikan. Bisa jadi secara tidak sadar Bapak juga belajar dari pengalaman-pengalaman ini.

Ya, keluar dari zona nyaman memang tidak enak. Bapak pun sudah pasti merasakan tidak enaknya. Serba kekurangan saat masa kuliah Mas Hari. Ibu harus berhutang sana-sini supaya anak-anaknya di rumah bisa makan. Bahkan Bapak berujar bahwa rumah juga akan dijual misalnya waktu itu sudah tidak ada lagi biaya untuk kuliah Mas Hari. Untungnya ini tidak pernah terjadi. Mas Hari tentu juga merasakan tidak enaknya karena kuliah dalam kondisi serba kekurangan. Sebetulnya bagi Mbak Eni, saya, dan Aan (adik) tidak terlalu sulit lagi kondisinya. Ketika kami kuliah, Mas Hari sudah berhasil dan amat banyak membantu adik-adiknya.

Walaupun berat dan mungkin takut untuk keluar dari zona nyaman, melangkah keluar dan mencari peluang baru itu penting. Kalau Bapak ketika itu tidak berani untuk merantau ke Surabaya, dan kalau ketika itu Bapak tidak berani untuk yakin mengkuliahkan Mas Hari, mungkin kami berempat sekarang juga tidak ditingkatkan derajatnya oleh Allah seperti saat ini. Satu hal yang selalu saya teladani dari Bapak tentang sikap untuk selalu yakin, “Kowe kuwi kudu wani, ojo wedi. Nduwe’o ati sing ambane sak segoro, ojo mung sak kobo’an. Lek pancen niatmu apik, mesti bakal diduduhne dalan karo sing nggawe urip” (Kamu itu harus berani, jangan penakut. Punyalah hati yang luasnya seperti lautan, jangan cuma seluas kobokan. Kalau memang niatmu baik, pasti bakal ditunjukkan jalan sama Tuhan).

 

Groningen, 24 Nopember 2014, jam 16:20 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Keluar dari Zona Nyaman, Belajar dari Bapak

  1. MasyaaAllah saya salut dengan bapak nya mas Rully..
    Semoga beliau dan juga ibu mas selalu diberkahi Allah SWT 🙂
    Ternyata, memang pada akhirnya hasil yg didapat dari jerih payah orangtua akan selalu berbanding lurus dgn doa dan usaha yg dilakukan. Dan niat baik pasti akan menghasilkan hal2 yang baik pula.
    Sukses mas utk studi S3 nya di Groningen!
    Salam kenal dari Rotterdam, mas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s