Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Memanfaatkan Potensi dari Ledakan Beasiswa di Indonesia

2 Comments

Pemisahan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dari Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah masih menimbulkan keraguan di benak beberapa pihak. Namun, sepantasnya kita masih harus banyak bersyukur atas potensi yang dimiliki oleh Kemristekdikti. Mungkin tanpa banyak disadari, saat ini Indonesia sedang mengalami ledakan (booming) akan banyaknya kesempatan beasiswa untuk menempuh pendidikan lanjut magister dan doktor di mancanegara. Fase ini dimulai dari program Beasiswa Unggulan (BU) yang diluncurkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) pada tahun 2011 yang diperuntukkan untuk para calon dosen. Setahun kemudian, Bappenas dan dan beberapa kementerian lain memunculkan program beasiswa untuk pegawaianya lewat SPIRIT. Di tahun yang sama, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) membuka program beasiswa yang terbuka untuk umum. Tidak tanggung-tanggung, LPDP membidik dua ribu karyasiswa setiap tahunnya, lebih dari 80% diantaranya berangkat ke luar negeri.

Secara kebetulan, ledakan kesempatan beasiswa ini bertepatan dengan kemunduran ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat. Hal ini berdampak pada makin berkurangnya tawaran beasiswa dari dua kawasan favorit pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi tersebut. Sebagai contoh di Eropa, jika sebelumnya setiap tahun di satu grup penelitian (research group) bisa ada 5-7 lowongan S-3 dengan dana dari universitas, akhir-akhir jumlahnya menurun sangat drastis. Kalaupun ada diproritaskan untuk calon dari negara-negara Uni Eropa (EU). Nasib untuk tawaran beasiswa S-2 pun setali tiga uang, cukup banyak program beasiswa dengan dana dari Eropa yang dikurangi kuotanya, bahkan beberapa sudah dihentikan.

Dua kondisi ini, dengan cukup “cerdik” dimanfaatkan oleh universitas-universitas di Eropa. Contoh kasus, jika ada pelamar program S-3, mereka cenderung akan meminta calon karyasiswa untuk mendaftar entah ke BU, SPIRIT, LPDP atau penyedia beasiswa lain dari Indonesia. Artinya program-program beasiswa dari Indonesia dimanfaatkan sebagai media untuk menyediakan sumber daya bagi mereka. Untuk program S-2, universitas-universitas tersebut berlomba-lomba berpromosi untuk menarik mahasiswa dari Indonesia. Perlu diketahui, biaya pendidikan (tuition fee) untuk mahasiswa S-2 non-EU bisa tujuh kali lipat lebih mahal dari mahasiswa EU. Tentu ini prospek pendapatan yang sangat menggiurkan bagi mereka.

Jika cermat mengamati, beberapa universitas di Eropa mempunyai kebijakan khusus bagi mahasiswa dari Indonesia. Diantaranya adalah penyediaan fasilitas tempat tinggal yang bagus dan kelonggaran pembayaran biaya pendidikan. Hal ini adalah indikasi bahwa universitas-universitas di Eropa sudah sadar akan pentingnya berbagai program beasiswa dari Indonesia. Tentu harus jujur untuk mengakui bahwa perlakuan tersebut tidak hanya untuk mahasiswa dari Indonesia, tetapi juga mahasiswa-mahasiswa lain yang membawa dananya sendiri dari negaranya masing-masing. Salah satunya adalah para mahasiswa dari Cina, yang negaranya juga sedang menikmati pertumbuhan ekonomi yang bagus seperti di Indoenesia.

Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia belum secara optimal memanfaatkan potensi yang ada. Sebagai contoh, biaya pendidikan yang dikenakan ke mahasiswa dengan dana dari Indonesia adalah salah satu yang termahal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Jika dilihat dari kacamata anggaran, hal ini adalah pemborosan, karena dengan negosiasi yang bagus, dana pendidikan yang lebih rendah berarti makin banyak karyasiswa yang bisa diberangkatkan ke luar negeri.

Hal yang lebih penting lagi, terutama untuk karyasiswa program doktor, pada umumnya tidak ada arahan spesifik dari penyedia beasiswa di Indonesia mengenai topik penelitian yang akan dikerjakan di universitas tujuan. Kondisi ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh universitas tujuan yang umumnya meminta para karyasiswa dari Indonesia untuk mengerjakan topik yang tersedia di grup penelitian masing-masing. Jadi, Eropa bisa mendapatkan hasil penelitian untuk permasalahan mereka dengan dana dari Indonesia.

Dilihat dari skala individu, hal ini tidak ada salahnya, karena setelah lulus setiap karyasiswa akan memiliki keahlian lebih di bidang masing-masing. Namun, jika dilihat dari sudut pandang negara, ini adalah hilangnya potensi yang amat besar. Bayangkan jika Kemristekdikti bisa mengkoordinasikan keselarasan riset para karyasiswa yang studi lanjut dengan sumber beasiswa Indonesia, manfaatnya sungguh luar biasa. Apalagi jika sebelumnya dilakukan koordinasi dengan berbagai instansi, sehingga topik riset bisa sangat beragam dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Jika setiap tahun seribu mahasiswa doktor berangkat studi lanjut ke luar negeri, potensi hasil penelitian yang bisa diaplikasikan untuk Indonesia sangatlah besar.

Semoga kita menyadari akan bahaya dari terbuangnya potensi yang besar ini. Jika dinegosiasikan dengan bagus, universitas-universitas di luar negeri pasti bisa menerima skema yang Indonesia ajukan. Jangan sampai ledakan beasiswa dari Indonesia ini hanya dinikmati oleh negara-negara tujuan studi, sehingga para mahasiswa kita “hanya” menjadi tenaga kerja penelitian murah di universitas-universitas luar negeri.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Memanfaatkan Potensi dari Ledakan Beasiswa di Indonesia

  1. Halo .. salam kenal.. Tulisan yg sangat bagus Mas Rully. Pernahkah menyampaikan hal ini ke kemristekdikti ttg seharusnya ada arahan penelitian utk calon mahasiswa magister atau doktor? Krn sayang juga jika pemikiran ini tdk trsampaikan pd pengambil kebijakan..

    • Salam kenal, Zahra. Terima kasih sudah berkunjung. Saya belum pernah secara langsung menyampaikan hal ini ke Kemristekdikti. Namun, secara singkat pernah saya ulas waktu saya diundang jadi pembicara di acara PPI Belanda, waktu itu ada perwakilan dari Kemristekdikti juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s