Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Menerima Islam dengan logika, hikmah dari Omar episode ke-8

2 Comments

Saya tidak pernah menangis ketika menonton film. Tetapi ketika pertama kali melihat serial Omar episode ke-8 (bulan Ramadhan tahun 2012), air mata ini sedikit menetes. Bukan karena sedih, tetapi karena rasa haru atas dua kejadian yang dikisahkan di episode tersebut. Pertama, Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Rasulullah masuk Islam. Kedua, Umar bin Khattab, musuh Islam yang sangat ditakuti selama 6-7 tahun terakhir, mendatangi Nabi dan juga dengan sadar dan tanpa paksaan menyatakan keislamannya.

Saya bilang ke Intan, kalau kita ada di posisi para bangsawan/pemuka Quraish di jaman kerasulan, belum tentu kita bakal dengan mudah menerima ajaran Islam. Kenapa bisa seperti itu? Lihatlah serial Omar secara menyeluruh, terutama episode-episode awal. Disitu dikisahkan sebetulnya ketika itu orang-orang Mekkah berada dalam kebimbangan yang besar. Bagaimana tidak? Kota perdagangan yang sebelumnya adem-ayem dengan paganisme-nya, tiba-tiba dikejutkan dengan seruan untuk memeluk agama baru dan perintah untuk melupakan berhala-berhala dari agama warisan nenek moyang mereka.

Masalahnya, seruan yang menggoncangkan itu datangnya dari Muhammad. Seorang yang selama ini dikenal memiliki kualitas akhlak yang tidak diragukan. Seorang yang di usia muda sudah mendapatkan gelar Al-Amin (The Truthful). Gelar yang bukan sembarangan. Sejak masih muda, banyak orang Mekkah yang menitipkan uang dan hartanya ke Muhammad, karena mereka tahu bahwa beliau dapat dipercaya. Praktik ini terus berlangsung bahkan di puncak ketegangan hubungan Islam dan Quraish non-Muslim. Tentunya ini adalah salah satu bukti bahwa kualitas pribadi Nabi Muhammad SAW memang sungguh mulia. Kalau tidak, masakan orang yang bermusuhan masih mau menitipkan barang berharganya ke beliau.

Di satu sisi, orang-orang Mekkah bimbang karena mereka tahu Muhammad adalah orang yang tidak pernah berdusta. Muhammad adalah pribadi yang mulia sejak dulu. Muhammad juga tidak mempunyai tujuan duniawi seperti tahta atau wanita (kelak para Quraish non-Muslim mengonfirmasi hal ini langsung ke Nabi). Secara logika, mereka pasti punya kesadaran bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu pasti sesuatu yang benar. Namun, di sisi lain, ada hal yang membuat orang-orang Quraish tersebut enggan menerima Islam dengan tangan terbuka, yaitu rasa gengsi dan sombong.

Bukti akan hipotesis saya ini banyak, di Al-Qur’an pun disebutkan. Kira-kira begini waktu itu pikiran para bangsawan Quraish:

  • Mengapa saya harus menerima Islam dari Muhammad? Anak yatim asuhan Abu Thalib?
  • Mengapa bukan saya yang lebih kaya dari Muhammad yang ditunjuk menjadi Nabi?
  • Bagaimana mungkin Banu (klan) saya menerima Islam dimana nabinya adalah Muhammad yang berasal dari Banu Hashim? Klan mereka lebih rendah dari klan saya.
  • Bagaimana mungkin saya yang orang terpandang menerima Islam dan nanti bakal ada di satu derajat yang sama dengan Salim? Dia kan hanya seorang budak yang dimerdekakan?

Mungkin Anda yang hidup di jaman yang (relatif) egaliter heran ada orang-orang dengan pikiran seperti itu. Tetapi bayangkan. Kejadian ini di abad ke 7 masehi, 1.400 tahun yang lalu. Jaman dimana manusia masih dihargai sama seperti barang dagangan. Jaman dimana seorang majikan bisa tanpa rasa bersalah menyuruh budaknya untuk bertanding dengan binatang buas demi menghibur tamu-tamunya.

Meskipun pernah sukses dalam perdagangan, menurut riwayat, Nabi tidak pernah benar-benar kaya. Dari sisi materi apa yang beliau punya tidak ada apa-apanya dengan para saudagar Quraish. Dari sisi Banu Hashim, dimana derajat biasanya diukur dari harta para anggotanya, klan Nabi pun bukan termasuk golongan superior. Hal-hal inilah yang membutakan mata hati pemuka-pemuka Quraish. Rasa gengsi dan sombong mengalahkan logika mereka. Mereka berpikir, buat apa saya menerima ajaran Islam dimana Nabi dan klannya lebih rendah derajatnya dari saya?

Mungkin Anda berargumen, bahwa jika memang isi Al-Qur’an benar, tentu para bangsawan Quraish akan menerima Islam begitu didengarkan/dibacakan ayat-ayat Kitabullah. Memang betul, tetapi ingatlah, ketika itu, penyebaran informasi sangat terbatas. Artinya, para pemuka Quraish baru bisa mengakses Al-Qur’an ketika ada seorang Muslim yang membacakannya ke mereka. Pertanyaannya kemudian, apakah itu mungkin terjadi? Jelas tidak. Muslim waktu itu menjalankan keyakinannya dengan sembunyi-sembunyi karena takut akan massa. Mana berani mereka tiba-tiba dengan terang-terangan membacakan Qur’an di depan para non-Muslim. Di salah satu episode, Abdullah bin Mas’ud membaca surah Ar-Rahman di depan umum. Tanpa sempat mencerna kemuliaan kandungannya, orang-orang sudah menghajar Abdullah bin Mas’ud babak belur.

Suatu ketika, Allah membukan jalan untuk Nabi sehingga dapat membacakan Qur’an untuk dua pemuka Quraish. Pertama adalah Utbah bin Rabiiah, jagoan (jawara) dan orang kaya di Mekkah. Ia adalah bapak dari Hindun dan mertua Abu Sufyan. Kedua, Walid bin Mughirah, orang paling kaya di Mekkah yang setiap malam di musim haji menyembelih puluhan unta untuk sedekah. Ia adalah bapak dari Khalid bin Walid, kelak panglima Islam yang terkenal. Mereka mendatangi Nabi sebagai delegasi yang meminta Nabi untuk berhanti menyebarkan Islam. Begitu kembali ke kaumnya, mereka ditanya, bagaimana? Jawaban mereka kira-kira, “Aku tidak bisa menjelaskannya, tetapi apa yang dia (Muhammad) sampaikan (Al-Qur’an) adalah sesuatu yang sangat indah, mampu membuat jiwa merasa sangat tenang.”

Tentu kaum Quraish kaget mendengar jawaban Utbah dan Walid. Bagaimana bisa orang yang dipercaya untuk berdebat dengan Nabi malah memuji Al-Qur’an? Mereka pun menuduh bahwa Nabi menggunakan guna-guna atau sihir. Tetapi kalau mau jujur, pada titik ini sebetulnya Utbah dan Walid pasti mempunyai keyakinan bahwa Islam itu benar. Hanya karena kesombongannya saja mereka enggan menerima Islam. Pada akhirnya, mereka berdua meninggal dalam keadaan kufur. Walid menemui ajalnya sebelum hijrah, sedangkan Utbah meninggal di Perang Badar sebagai seorang musyrik. Kisah-kisah serupa pun terjadi kepada mereka yang sadar bahwa Islam itu benar tapi tidak mau mengakui karena ketinggian hatinya. Abu Jahal (Amir bin Hisham) dan Umayyah bin Khalaf adalah beberapa contohnya.

Kembali ke Umar, beliau pun sebelumnya adalah penentang utama Islam. Namun, Umar sedikit berbeda dengan musyrikin yang lain. Dalam kekafirannya, Umar tetap menunjukkan keadilan, kecerdasan dan keteguhan hati. Umar adalah orang menganjurkan supaya masing-masing banu menghukum anggotanya yang masuk Islam. Tetapi Umar tidak pernah bertindak kelewat batas seperti Umayyah yang menyiksa kaum lemah (sahabat Bilal bin Rabbah) atau Abu Jahal yang mem-bully orang di luar kaumnya (Abdullah bin Mas’ud). Sifat-sifat ini yang membuat Nabi berdoa, “Ya Allah kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau kehendaki, Amir bin Hisham (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab”.

Doa Nabi dijawab oleh Allah ketika suatu hari Umar yang sudah gelap mata membawa pedangnya untuk membunuh Nabi. Umar adalah orang yang fair. Niatan dia, kalau Muhammad sudah dibunuh, Umar akan menyerahkan dirinya ke Banu Hashim (klan Nabi) untuk merelakan kepalanya dipotong, supaya huru-hara di Mekkah selesai. Di tengah perjalanan, Umar diberitahu kawannya bahwa saudaranya, Fatimah binti Khattab, dan suaminya Zaid, secara diam-diam telah memeluk Islam. Umar marah besar mendengar berita ini. Sampai di rumah adiknya, dia menampar Fatimah begitu kerasnya sampai berdarah. Namun, begitu dia menemukan lembaran-lembaran Qur’an (Surat Thaa-Haa), dia membacanya dan langsung terbuka mata hatinya. Umar adalah orang Quraish yang pandai membaca tulis (langka ketika itu, bahkan banyak orang kaya yang buta huruf) dan menyenangi sastra Arab. Tentu dia dapat menangkap keindahan bahasa Qur’an. Umar meneteskan airmatanya. Dia sadar bahwa tidak mungkin manusia yang menciptakan kata-kata itu. Ia pun mendatangi Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Kelak beliau akan menjadi Khalifah kedua Islam yang berjasa besar dalam membangun komunitas Muslim.

Kalau memperhatikan cerita ini, maka hanya kekaguman yang pantas untuk ditujukan kepada sahabat-sahabat di awal mula Islam. Abu Bakar, Abu Ubaidah bin Jarrah, Ustman bin Affan, Umar, dll. Kemuliaan akhlak membuat mereka mampu untuk membuka mata hatinya dan menerima Islam. Mereka semua juga bangsawan dan pemuka Quraish, namun mampu mengalahkan rasa sombongnya untuk menerima seruan Allah. Bayangkan, ketika menerima Islam, mereka semua sudah berumur di atas 30 tahun. Tidak mudah di usia yang sudah matang manusia mampu menerima sesuatu yang baru. Untuk itu, menurut saya, kita yang lahir dalam lingkungan Islam harus banyak-banyak bersyukur diberikan kenikmatan berupa agama yang mulia ini.

Groningen, 17 Desember 2014, jam 20:21 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

2 thoughts on “Menerima Islam dengan logika, hikmah dari Omar episode ke-8

  1. Luar Biasa…Subhanalloh

  2. Memang keren kisahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s