Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Mencintai Allah lebih dari segalahnya, hikmah dari Omar episode ke-16

1 Comment

Pada episode ke-16, dikisahkan bahwa beberapa saat setelah Perjanjian Hudaibiyah, Khalid bin Walid bersama Amr bin al-As menyatakan keislamannya. Khalid yang pada saat itu berusia sekitar 36-37 tahun datang ke Madinah setelah mempertimbangkan dengan masak-masak ajakan saudaranya yang sudah lebih dahulu masuk Islam, Walid bin Walid. Kurang lebih sama dengan apa yang telah beliau ramalkan dulu terhadap Umar bin Khattab waktu Umar masih jadi musuh Islam, Rasulullah bilang bahwa orang dengan kualitas moral seperti Khalid akan sulit untuk melawan logikanya dalam menerima ajaran Islam yang benar. Alhamdulillah, prediksi Rasulullah tersebut tepat. Khalid menemui Nabi di Madinah dan menjadi seorang Muslim. Kelak Khalid bin Walid sangat besar jasanya bagi Islam. Dia adalah panglima yang menaklukkan seperempat dunia di bawah panji-panji Islam.

Sampai di Madinah, Khalid minta untuk diajari Al-Qur’an oleh Salim bin Abu Hudhaifah, scholar Islam yang terkenal akan kealimannya. Orang Arab di masa itu sangat menghargai hafalan. Bukan cuma terhadap hafalan Qur’an, tetapi juga terhadap syair dan cerita-cerita kuno. Oleh karena itu di jaman sebelum Islam datang banyak yang buta huruf karena mereka memandang hafalan yang kuat lebih memiliki esteem yang tinggi dibandingkan menulis atau membaca. Maka, Salim pun membacakan Al-Qur’an dan meminta Khalid mengulangi apa yang dia baca, supaya lekas hafal. Saat itu yang dibaca adalah Surat Al-Muddatstsir (74), ayat ke-11 s/d 26.

74:11 Biarkanlah aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.
74:12 Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak.
74:13 Dan anak-anak yang selalu bersama dia.
74:14 dan Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya.
74:15 kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.
74:16 Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur’an).
74:17 Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.
74:18 Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya).
74:19 Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?
74:20 Kemudian celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?
74:21 Kemudian dia memikirkan.
74:22 Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut.
74:23 Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.
74:24 Lalu dia berkata: “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu).”
74:25 Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.
74:26 Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar

Sampai di ayat ke-26, Khalid tidak kuasa membendung airmatanya, dia pun menangis. Mengapa Khalid yang perkasa itu menangis? Mengapa Khalid yang Rasulullah memberinya gelar, Syaifullah al-Masluul (Pedang Allah yang Terhunus) itu badannya gemetaran ketika membaca 15 ayat tersebut?

Tahukah Anda siapa orang yang diceritakan di Surat ke-74 ayat ke-11 s/d 26 tersebut? Dia adalah Walid bin Mughirah. Tidak lain adalah bapak kandung dari Khalid bin Walid. Walid adalah orang terkaya di Mekkah. Riwayat menyatakan dia sebagai orang yang cerdas dan berpengetahuan luas. Logika Walid bin Mughirah pun sudah membenarkan bahwa wahyu Allah yang disampaikan oleh Nabi adalah benar. Sayang, kesombongan mengalahkan logikanya, sehingga Allah melaknat Walid dan sudah menetapkan kelak dia akan dibakar oleh api Neraka Saqar.

Pertanyaannya sekarang, wajarkah Khalid menangis? Tentu sangat wajar. Bayangkan kita ada di posisi beliau. Kita membaca sebuah pernyataan dengan tingkat kebenarannya mutlak, dan disitu dinyatakan bahwa orangtua kita kelak akan dibakar di api neraka oleh Tuhan. Siapa yang tidak trenyuh berada dalam kondisi seperti ini. Walaupun orangtuanya kafir, tetap saja sebagai seorang anak Khalid pasti memiliki rasa kasih sayang terhadap bapak kandungnya. Khalid tentu sedih bapak yang sudah mengasihi dirinya kelak di akhirat bakal mendapatkan siksa yang abadi akibat kesombongannya di dunia.

Kisah ini mengajarkan bahwa sepatutnya hanyalah Allah yang menjadi sumber utama dari cinta seorang manusia. Bahkan melebihi cinta terhadap orangtua. Logika seperti ini yang waktu itu belum bisa dicerna oleh Safwan bin Ummayah dan Ikrimah bin Abu Jahal. Mereka tidak bisa serta merta menerima ajaran Islam karena orangtua keduanya pun telah dilaknat oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Mereka bilang, “Bagaimana mungkin kami bisa menerima Islam sementara kami harus membaca Al-Qur’an yang melaknat bapak-bapak kami?”

Islam mengajarkan bahwa kebenaran itu sifatnya mutlak. Tidak tergantung keturunan, tidak tergantung siapa yang membawa, tidak tergantung orangtua kita dahulu. Maka dalam hal menerima ajaran Islam, sungguh sangat mengagumkan kualitas iman para sahabat di jaman Nabi. Mereka rela mengorbankan segalanya demi agama yang mereka cintai. Mengorbankan hubungan dengan orangtua, walaupun demi agama, tidaklah mudah. Namun, indahnya Islam adalah bahwa meskipun orangtua kita berbeda keyakinan, kita dilarang untuk berbuat kasar terhadap mereka. Bahkan, kita tetap harus merawat mereka dengan kasih sayang. Disini terasa betul kemuliaan agama Islam. Tidak ada kompromi soal aqidah. Namun, dalam hal hubungan antar manusia, compassion itu harus selalu menjadi prioritas, tidak peduli latar belakang orang yang kita hadapi.

Kisah-kisah lain pun msaih banyak. Misal Ustman bin Affan yang tidak bisa menemui ibunya selama bertahun-tahun karena ibu tersebut marah anaknya masuk Islam. Ketika Perang Uhud, Abdurrahman bin Abu Bakar (ketika itu masih kafir), jawara dari Quraish, seperti pada umumnya di perang-perang bangsa Arab, menantang mubarizun (jagon) dari pasukan Muslim untuk berduel (hidup-mati). Tahukah Anda siapa yang pertama kali menjawab tantangan duel itu? Abu Bakar as-Shiddiq, bapak kandungnya sendiri! Sungguh sangat mengagumkan rasa cinta Abu Bakar terhadap Allah pastinya sungguh luar biasa. Demi menegakkan agama Allah dia rela jika harus menghabisi anaknya sendiri. Pada akhirnya, Rasulullah melarang Abu Bakar berduel dengan anaknya. Namun, jika sampai Abdurrahman terbunuh oleh bapaknya sendiri, apakah Abu Bakar tidak akan sedih? Pasti dia akan sedih, Abu Bakar juga manusia biasa. Tetapi cinta terhadap Allah tetap harus yang paling utama.

Kita juga tidak boleh melupakan bahwa Rasulullah pun sebetulnya juga mempunyai kisah yang kurang lebih sama. Abu Talib bin Abdul Muttalib, pamannya yang amat dicintainya, paman yang selalu melindungi Nabi dari ancaman kaum Quraish, sampai ajalnya tidak bisa menerima Islam. Sebagai manusia biasa, Rasul pun sangat sedih dan bahkan berdoa kepada Allah untuk mengampuni Abu Talib. Allah menegur perbuatan Nabi ini. Hidayah datang dan ditentukan oleh Allah, Nabi hanyalah sebagai utusan.

Dengan kisah-kisah ini, semoga kita selalu istiqomah untuk selalu menempatkan Allah sebagai sumber utama cinta kita. Semoga kita selalu dapat meniatkan segalanya untuk Allah. Aamiin.

Groningen, 20 Desember 2014, jam 11:28 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Mencintai Allah lebih dari segalahnya, hikmah dari Omar episode ke-16

  1. terimakasih ceritanya bagus sekali 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s