Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Tahun 2014 dalam catatanku

Leave a comment

Alhamdulillah wa syukurillah. Kalau melihat perjalanan sepanjang tahun 2014 yang sebentar lagi hampir berakhir, tiada kalimat lain yang pantas diucapkan kecuali rasa syukur yang dalam kepada Allah SWT. Berbagai berkah dan rasa nikmat yang tidak terhingga harus saya ucapkan untuk berbagai hal yang sudah Tuhan limpahkan di tahun 2014 ini.

  1. Tidak bekerja di akhir pekan. Di awal tahun, ini adalah salah satu resolusi saya. Kelihatannya sepele, tetapi sulit untuk dilaksanakan. Istri saya yang mendorong saya untuk mencanangkan target akan hal yang satu ini. Sebelumnya, selama ini ada saja hal terkait pekerjaan yang selalu saya lakukan di kala weekends. Setelah dipikir-pikir, kalau menuruti pekerjaan tidak akan ada habisnya. Luangkanlah waktu 2 hari full untuk keluarga. Meskipun masih beberapa kali kerja di akhir pekan, tetapi secara umum resolusi ini tercapai.
  2. Mendapatkan SK PNS. Sebelumnya saya sudah sangat beruntung karena di akhir tahun 2012, pada usia ke-26, sebelum berangkat S-3 ke Belanda saya diterima menjadi CPNS dosen di Teknik Industri ITB. Sesuatu yang harus disyukuri karena antrian jadi CPNS dosen di Indonesia itu sulit diprediksi. Bahkan ada yang menunggu sampai bertahun-tahun. Setelah sampai di Belanda, saya beberapa kali menunda panggilan Diklat Pra-Jabatan (salah satu syarat untuk merubah status CPNS menjadi PNS), karena kesibukan kuliah. Pada bulan Maret 2014, saya akhirnya pulang untuk prajab. Setelahnya mengurus administrasi. Semuanya dimudahkan sampai akhirnya SK terbit di bulan Juni 2014. Sekarang status saya sudah firm di ITB. Tinggal terus konsisten supaya cepat naik jabatan fungsional.
  3. Akan mempunyai bayiAlhamdulillah Ya Rabb. Berita ini kami ketahui di bulan Juli 2014 dan kami benar-benar bersyukur mendapatkan karunia ini. Kabar baik benar-benar mem-boost up semangat saya untuk bekerja dan menjadi orang yang lebih baik. Bantuan dari berbagai pihak terkait akan hadirnya si jabang bayi juga datang tiada hentinya. Perasaan akan diberikan Tuhan seorang momongan itu sungguh luar biasa. Semua uang di seluruh dunia tidak mungkin bisa membeli perasaan itu. Nak, Ayah dan Bunda tidak sabar menanti kehadiranmu 🙂
  4. Lulus kuliah DISC (Dutch Institute for Systems and Control). Sejak memulai kuliah S-3 di bulan Desember 2012, bisa lulus kuliah dari DISC adalah hal yang sangat saya khawatirkan. Meskipun latar belakang saya di Teknik Industri ITB adalah dari bidang minat optimisasi yang banyak bergelut dengan pemodelan matematika, kuliah-kuliah yang diberikan di DISC berbeda jauh. Kuliah-kuliah semacam Multi-agent systems, Linear matrix inequalities, dsb asing bagi saya sebelumnya. Metodenya juga banyak terkait dengan mathematical proof, hal yang sama sekali baru. Alhamdulillah pada bulan September 2014 jika ditotal saya sudah lulus 28,5 ECTS dari 27 ECTS yang dipersyaratkan. Padahal awalnya saya mengira saya baru bisa lulus di awal tahun 2015.
  5. Mendapatkan grant penelitian. Sejak awal memutuskan karir menjadi dosen, saya menetapkan target ke diri sendiri bahwa membangun networking itu sangat penting. Untuk itu, saya mengontak Indonesia Port Corporation (IPC), karena saya tahu komitmen mereka terhadap pendidikan. Kebetulan dulu saya pernah memberikan training untuk BUMN yang satu ini. Saya coba-coba mengajukan proposal riset, alhamdulillah diterima. Meskipun mengurus administrasinya cukup lama, akhirnya beres di bulan September 2014. Grant ini penting artinya, karena sebagai karyasiswa DIKTI, sulit bagi saya untuk mendapatkan akses penelitian ke industri. Padahal, keselerasan antara teori dengan praktik di lapangan sangatlah penting.
  6. Selesai paper pertama. Sesuai dengan yang telah dijadwalkan, pada bulan Oktober 2014 saya menyelesaikan paper pertama yang dikirimkan ke European Control Conference (ECC) 2015. Topiknya tentang alokasi posisi sandar dan derek dermaga untuk kapal-kapal yang datang ke pelabuhan. Ini adalah pengalaman pertama menulis paper di Eropa. Ternyata sangat “luar biasa”, hehe. Standar kualitas yang ditetapkan pembimbing saya sangat tinggi. Capek sih, karena harus bolak-balik revisi. Tetapi begitu melihat hasilnya, ternyata bagus juga ya, hehe.
  7. Selesai mengemban amanah menjadi Ketua PPIG. Sebetulnya saya tidak berminat menjadi Ketua PPI Groningen. Tetapi karena dorongan teman-teman, akhirnya pada akhir tahun 2013 saya terpilih untuk memimpin PPIG. Kegiatan PPIG agak berbeda dengan organisasi-organisasi yang saya ikuti selama ini. Anggotanya yang dengan rentang umur 16-50 tahun membuat kegiatannya penuh warna. Dari mulai acara konsuler, budaya, kuliner sampai olahraga. Alhamdulillah atas dukungan berbagai pihak semua dapat berjalan dengan lancar. Saya juga mendapatkan manfaat dengan menambah relasi, misal teman-teman dari KBRI Den Haag. Pada bulan Oktober 2014, akhirnya saya menyudahi kepemimipinan saya di PPIG.
  8. Masih bisa jalan-jalan. Bulan Mei, kami jalan-jalan ke Jerman. Bulan Agustus, kami jalan-jalan ke Italia. Terakhir di bulan November, kami liburan selama lima hari ke Paris (belum ditulis artikelnya). Selain itu juga mengunjungi beberapa tempat di Belanda seperti Keukenhof, Madurodam, dan Den Haag. Kami berdua memang meniatkan bahwa selama di Eropa harus jalan-jalan se-ekstensif mungkin. Bukannya menjadi orang yang boros, tetapi kesempatan ini belum tentu bisa terulang lagi nanti kalau sudah di Indonesia. Maklum, penghasilan dosen ITB tidak tinggi-tinggi amat, hehe.
  9. Akan membangun rumah. Detailnya lain waktu akan saya tuliskan di artikel tersendiri. Dulu, saya mengira bahwa dengan penghasilan seorang dosen, saya baru akan lunas mempunyai sebuah rumah di Bandung pada umur 40 tahun. Bahkan dulu saya tidak terbayang bagaimana bisa saya mendaftar KPR, lha wong gaji saya kecil. Saya dan Intan punya 2 unit angkot di Bandung, awalnya itu nanti bakal kami jual di tahun 2016 untuk nambah-nambah buat DP rumah. Ternyata, Allah membukakan jalan di awal tahun 2015 insha Allah kami bisa mulai membangun rumah di Bandung, dan bakal selesai di tengah tahun 2015. Lebih bersyukurnya lagi, kami tidak perlu menjual dua angkot itu, tidak perlu KPR, dan bebas dari hutang.

 

Kalau melihat semua ini, maka makin kesini saya makin menyadari bahwa sungguh besar nikmat Allah yang dicurahkan. Harus banyak-banyak bersyukur kepada-Nya. So, what Lord’s blessings would you deny?

Groningen, 23 Desember jam 13:53 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s