Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Analisis penghasilan lulusan ITB (baca secara menyeluruh)

1 Comment

Saya sama sekali tidak mengira bahwa tulisan tentang “Gaji lulusan ITB“, sampai dengan saat ini telah dibaca sampai lebih dari 19.000 kali dalam waktu kurang dari seminggu. Banyak yang mendiskusikan. Banyak juga terdapat pertanyaan. Hal ini membuat saya merasa perlu untuk membuat lanjutan tulisannya supaya sebiasa mungkin tidak ada yang salah paham. Sebelumnya, saya mohon pembaca untuk membaca tulisan ini secara hati-hati, detail dan menyeluruh. Jangan hanya membaca secara sepotong-sepotong. Supaya kelak tidak muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak diperlukan.

Tujuan saya menulis artikel “Gaji lulusan ITB” sifatnya hanyalah kasual. Just for fun, karena saya memang suka menulis. Saya sendiri dosen di ITB (jurusan Teknik Industri). Saya juga alumni dari jurusan yang sama. Tetapi, tulisan saya sama sekali tidak mewakili ITB (institusi). Tulisan “Gaji lulusan ITB” dan juga tulisan ini adalah aspirasi saya secara pribadi. Menurut saya, setiap orang berhak untuk menulis, sepanjang memenuhi dua kaidah utama. Pertama, jujur dalam menyampaikan berita. Kedua, tidak menjelekkan dan merugikan siapa pun.

Kemudian, saya menekankan hal yang terpenting. Baik dalam artikel “Gaji lulusan ITB” maupun artikel ini, bahan utama yang saya pakai adalah laporan hasil tracer study tahun 2013 (angkatan masuk ITB tahun 2006) dan tahun 2014 (angkatan 2007). Link untuk mengunduh kedua laporan telah saya berikan baik di artikel ini maupun artikel sebelumnya. Sebelum berkomentar, saran saya bacalah terlebih dahulu kedua laporan ini.

Oiya. Saya tidak ikut menyusun laporan tracer study tersebut. Saat kedua laporan tersebut dibuat (dan juga sampai dengan saat ini), saya sedang ada di Belanda, karena saya sedang studi doktoral.

Oke. Supaya lebih mudah dicerna, seperti di banyak tulisan, saya akan memaparkan dalam bentuk tanya jawab (Q & A). Mari kita kupas beberapa poin.

Apakah tracer study ITB hanya membahas soal penghasilan alumninya?
Jelas tidak. Dengan acuan dari laporan tahun 2014, ada beberapa hal penting yang disurvei ke alumni. Diantaranya adalah rataan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di hal. 40, pekerjaan utama (apakah bekerja, wiraswasta, tidak bekerja, atau studi lanjut) di hal. 43. Kepuasan alumni akan fasilitas kuliahnya dulu disajikan di hal. 50. Kesesuaian program studi dengan pekerjaan saat ini ditampilkan pada hal. 53. Kategori tempat kerja alumni ditampilkan pada hal. 84. Dan masih banyak lagi hal yang lain.

Kalau begitu, kenapa saya hanya menampilkan aspek gaji di tulisan ini?
Lha itu terserah saya, hehe. Hal paling prinsip yang harus diingat adalah setiap orang bebas menuliskan apa yang ia suka. Saya tidak munafik, bahwa meskipun hasil tracer study itu sangat luas, penghasilan itu adalah variabel yang sangat menarik untuk didiskusikan. Estimasi penghasilan itu banyak menjadi pertanyaan dari calon mahasiswa dan juga para orangtua mereka. Menurut saya, ini adalah hal yang amat manusiawi. Salah satu tujuan kita kuliah adalah untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Tidak cuma saya yang menampilkan snapshot gaji lulusan ITB, ada juga alumni yang menuliskan hal yang kurang lebih sama di blognya, dapat dilihat disini.

Nanti gaji akan menjadi variabel paling penting dalam menentukan jurusan?
Jika Anda sampai pada kesimpulan itu setelah membaca tulisan ini, tanpa membaca laporan tracer study ITB yang lengkap, maka itu risiko Anda sendiri. Tulisan ini adalah opini pribadi. Laporan resmi Anda tetap harus merujuk ke ITB. Tambahan lagi, apakah salah jika orangtua meminta anaknya untuk masuk jurusan dengan prospek kerja yang lebih baik? Jelas tidak. Sebagian besar mahasiswa kuliah atas biaya pribadi, maka adalah hak masing-masing untuk memilih jurusan yang prospeknya bagus. Tetapi, tidak selamanya gaji itu menjadi faktor utama. Orang-orang yang idealis akan tetap ada.

Nanti alumni ITB memilih pekerjaan hanya karena gajinya yang besar?
Tidak masalah, itu adalah hak masing-masing. Sebagai seorang dosen, saya selalu mengingatkan para mahasiswa agar mereka kelak selalu berkontribusi ke masyarakat, dalam bentuk apa pun. Tetapi apakah semua orang harus idealis seperti itu? Apakah semua orang harus jadi PNS dan tidak boleh kerja di multinational company? Kalau semua mahasiswa ITB kuliah dibiayai negara, baru boleh kita berpikiran seperti itu. Kenyataannya kan tidak.

Saya tidak yakin dengan hasil tracer study ini. Apakah hasilnya valid?
Jawaban akan pertanyaan ini panjang. Mengingat tujuan awal tulisan ini hanya untuk fun, sebetulnya saya agak malas menjelaskan. Tetapi, saya coba sebisanya memberikan pemahaman ya. Sebelumnya, silakan lihat Tabel 1. Berikut saya tuliskan kembali penghasilan (gaji+bonus) angkatan 2007 (dari “Gaji lulusan ITB“). Saya tambahkan rangkuman penghasilan (gaji+bonus) angkatan 2006, dari hasil tracer study tahun 2013. Oiya, ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan tabel di WordPress. Jadi mohon maaf kalau hasilnya jelek.

Tabel 1. Rangkuman rataan penghasilan per bulan (gaji+bonus) angkatan 2006 & 2007

No. Program Studi Angkt. 2006 (Rp/bulan) Angkt. 2007 (Rp/bulan)
1 Arsitektur 8.334.955 7.257.169
2 Astronomi #N/A 10.889.744
3 Biologi 5.668.482 8.698.611
4 Desain Interior 5.554.798 6.622.080
5 Desain Komunikasi Visual 8.285.971 8.422.483
6 Desain Produk 6.876.461 6.224.265
7 Farmasi Klinik 5.754.103 5.529.490
8 Fisika 6.967.072 7.588.215
9 Kimia 7.440.262 7.641.755
10 Kriya 5.202.000 4.946.818
11 Manajemen 12.191.723 13.536.300
12 Matematika 8.435.052 8.612.096
13 Meteorologi #N/A 8.843.750
14 Mikrobiologi 6.316.731 6.526.389
15 Oseanografi 5.416.667 7.537.745
16 Perencanaan Wilayah dan Kota 7.234.313 8.305.831
17 Sains dan Teknologi Farmasi 6.336.049 7.400.576
18 Seni Rupa 4.570.833 4.143.750
19 Sistem dan Teknologi Informasi #N/A 13.895.834
20 Teknik Elektro 14.982.639 16.528.734
21 Teknik Fisika 8.502.003 12.943.352
22 Teknik Geodesi dan Geomatika 6.979.028 9.770.108
23 Teknik Geofisika 13.988.995 15.309.259
24 Teknik Geologi 11.912.262 13.770.218
25 Teknik Industri 11.442.404 13.550.512
26 Teknik Informatika 9.413.489 11.151.712
27 Teknik Kelautan 8.908.832 10.537.616
28 Teknik Kimia 13.870.897 13.564.000
29 Teknik Lingkungan 10.495.125 10.373.951
30 Teknik Material 10.269.109 11.052.346
31 Teknik Mesin 13.227.829 13.061.677
32 Teknik Metalurgi 11.665.043 20.403.125
33 Teknik Penerbangan 9.419.709 9.799.924
34 Teknik Perminyakan 18.435.402 20.564.663
35 Teknik Pertambangan 18.477.016 13.444.197
36 Teknik Sipil 10.924.409 11.007.053
37 Teknik Telekomunikasi 11.667.419 11.178.504
38 Teknik Tenaga Listrik 10.691.833 16.228.731

Bagaimana cara ITB melakukan sampling?
Mulai dari pembahasan ini, mari kita reviu sedikit ilmu Statistika. Mohon dimaafkan bilamana penjelasan saya tidak memadai, karena memang kemampuan saya di bidang Statistika masih pas-pasan. Metodologi lengkap dapat dilihat pada hal. 28 s/d 34. ITB tidak melakukan sampling, tujuan pertama mereka adalah sensus untuk mendapatkan profil satu angkatan. Artinya, ITB melakukan cacah jiwa untuk semua anggota populasi, dalam hal ini adalah angkatan 2006 untuk survei tahun 2013, dan angkatan 2007 untuk survei tahun 2014. Artinya, yang disurvei adalah mereka dengan masa kerja 2-3 tahun. ITB menggunakan basis data alumni dari institusi. Kemudian, data tersebut diberikan ke surveyor yang bertugas untuk memonitor perkembangan survei. Surveyor dipilih dari perwakilan tiap prodi. Saya pun dulu adalah salah satu surveyor untuk Teknik Industri 2004 (survey tahun 2012).

Tetapi tidak semua alumni mengisi kuesioner tuh?
Memang betul. Dapat Anda lihat pada hal. 37, hanya 80,20% (2.268 orang) alumni angkatan 2007 yang mengisi survei. Untuk angkatan 2006, hanya 72% (1.902 orang) alumni yang mengisi. Kemudian, ITB juga menyajikan data response rate tiap program studi. Contoh di angkatan 2007; untuk Prodi Teknik Perminyakan sebesar 47,14% (33/70), Prodi Teknik Telekomunikasi 80,70% (46.57), Prodi Teknik Industri 72,46% (121/167), dst.

Apakah penentuan sampelnya dedicated?
Sudah saya bilang, tujuan awal ITB adalah melakukan cacah jiwa. Artinya, semua alumni angkatan 2006 dan angkatan 2007 disurvei. Tidak peduli mereka yang kerja di oilgas, tidak peduli mereka yang jadi ibu rumah tangga, dsb. Bahwa tidak 100% yang mengisi survei, bukan berarti ITB telah menentukan sampel. Itu karena memang ada yang tidak mengisi survei. Kenapa ada yang tidak mengisi? Ya mana kita tahu. Mungkin saja sedang sibuk dengan pekerjaan/keluarganya. Tugas surveyor hanyalah mengingatkan teman-teman seangkatannya untuk tidak lupa mengisi kuesioner tracer study. Tetapi, pasti bakal ada saja yang terlewat.

Dengan hanya sekian persen yang mengisi kuesioner, apakah hasilnya bisa disimpulkan untuk populasi ITB?
Dalam ilmu Statistika, definisi populasi itu sangatlah penting. Pada survei tahun 2013, populasi adalah alumni angkatan 2006. Untuk tahun 2014, populasinya adalah angkatan 2007. Artinya, populasinya sangat spesifik. Hanya untuk dua populasi tersebut kita bisa simpulkan hasil surveinya. Mengenai persentase responden, menurut saya angka 80,20% sudah cukup bagus. Prodi dengan respon terendah adalah Teknik Perminyakan sebesar 47,14% (33/70). Namun sisanya, rata-rata nilainya di atas 65%.

Bagaimana cara ITB menanyakan penghasilan?
Oke. Bagian ini sangat menarik untuk didiskusikan. Hati-hati dalam membacanya. Jangan sampai salah interpretasi. Saya menggunakan acuan laporan tahun 2014. Mari kita cek.

  • Cek hal. 91. Dari mereka yang mengisi kuesioner, ITB menghitung berapa orang yang mempunyai penghasilan (bekerja, wirausaha, kombinasi). Contoh, Teknik Industri angkt. 2007 populasinya 167 orang, yang mengisi kuesioner 121 orang, yang mempunyai penghasilan 92 orang.
  • Mereka yang tidak berpenghasilan (29 orang) dikarenakan sedang studi lanjut atau memang tidak bekerja karena alasan masing-masing.
  • ITB membuat rataan gaji per bulan hanya untuk mereka yang berpenghasilan. Contoh, untuk TI, angka Rp 10.290.551/bulan/orang itu adalah rataan untuk 92 orang yang mempunyai penghasilan. Jadi bukan rataan untuk 121 orang yang mengisi kuesioner.
  • Cek hal. 94. Selain gaji, komponen penghasilan yang lain adalah bonus. Seperti yang kita semua tahu, banyak perusahaan (terutama BUMN) yang memberikan bonus ke karyawannya.
  • Dari mereka yang mempunyai penghasilan, ITB menghitung berapa orang yang mempunyai bonus tahunan. Contoh, TI yang berpenghasilan 92 orang, yang mempunyai bonus tahunan sebanyak 64 orang.
  • ITB membuat rataan bonus per tahun hanya untuk mereka yang mempunyai bonus. Contoh, untuk TI, angka Rp 39.119.531/tahun/orang itu adalah rataan untuk 64 orang yang mempunyai bonus. Bukan rataan untuk 92 orang yang berpenghasilan, apalagi rataan untuk 121 orang yang mengisi kuesioner.

Sudah jelas. Sekarang, darimana angka di Tabel 1?
Itu adalah hasil perhitungan saya sendiri berdasarkan atas data di tracer study. Mari kita bahas.

  • Saya membuat formula, rataan penghasilan per bulan = rataan gaji per bulan + rataan bonus per bulan.
  • Contoh untuk TI, rataan gaji per bulan sebesar Rp 10.290.551/bulan/orang. Rataan bonus per tahun Rp 39.119.531/tahun/orang. Berarti, rataan bonus per bulan = Rp 39.119.531 / 12 = Rp 3.259.961 bulan/orang.
  • Maka, rataan penghasilan per bulan = Rp 10.290.551 + Rp 3.259.961 = Rp 13.550.512. Angka inilah yang saya tuliskan di Tabel 1.

Kalau kritis, maka Anda akan menanyakan kenapa rataan bonus tahunan Rp 39.119.531 itu langsung saya bagi 12? Kenapa sebelumnya tidak dikalikan dengan 64/92? Kan tidak semua yang berpenghasilan mendapatkan bonus. Alasannya adalah karena saya ingin mendapatkan estimasi secara kasar saja. Toh, rataan penghasilan juga tidak dihitung untuk semua yang mengisi survei.

Apakah hasilnya valid?
Soal validitas, itu kembali ke masing-masing responden. Ada yang bilang bahwa kecenderungan anak ITB untuk megalomaniacs membuat survei ini rawan kalau mereka over-estimate. Menurut saya kok tidak ya, hehe. Untuk apa juga kita membanggakan pendapatan kita pada saat surveinya adalah tipe tertutup. Kalau ada yang seperti itu, saya juga menyesalkan karena jadi mengurangi validitas hasil survei. Dapat dilihat di hal. 108. Disitu disebutkan rataan penghasilan (sepertinya bulanan), dan nilainya masuk akal menurut saya. Tetapi, nilai maksimumnya memang patut dipertanyakan. Saya tidak tahu, apakah memang ada BUMN yang menggaji karyawannya dengan masa kerja 2-3 tahun sebesar 61 juta rupiah per bulan? Atau mungkin ini respondennya salah isi?

Apakah hasilnya konsisten?
Jika validitas sulit diukur, maka konsistensi bisa dilihat. Walaupun baru dua kali dilakukan survei, tetapi bisa kita bandingkan hasilnya di Tabel 1. Tanpa memperhitungkan inflasi, menurut saya hasilnya cukup konsisten untuk setiap prodi, terutama dari bidang Sains dan Seni. Hal ini mungkin dikarenakan mereka yang di bidang Sains dan Seni lapangan pekerjaannya relatif definitif. Sedangkan mereka yang di bidang teknik, karena relatif bisa kerja lintas bidang, rataan penghasilannya bisa sangat bervariasi antar angkatan. Beberapa yang hasilnya berbeda cukup jauh antara angkatan 2006 dan 2007 adalah Teknik Tenaga Listrik, Teknik Metalurgi, Teknik Pertambangan, dan Teknik Fisika. Mengenai kesesuaian antara bidang studi dengan bidang pekerjaan, dapat dilihat di hal. 53.

Apakah kalau saya kuliah di Teknik Industri, saya pasti bisa mendapatkan penghasilan sesuai dengan yang tertera di Tabel 1?
Tidak, Bos! Bagaimana sih Anda ini, hehehe. Namanya juga rataan, bisa lebih kecil, bisa juga lebih besar. Bisa saja ada alumni Teknik Industri yang kerja di Chevron (oilgas), dan alumni Teknik Perminyakan nyasar kerja di Bank Mandiri. Kemungkinan dalam kasus ini penghasilan alumni TI bakal lebih besar dari alumni TM. Semua tidak bisa dipukul rata. Jurusan tidak selamanya menentukan penghasilan Anda. Saya dan istri sama-sama alumni TI. Karena saya dosen dan istri saya (dulu) kerja di BUMN, gaji saya sebagai PNS gol. III/b juga cuma 1/4 gaji istri saya. Gaji loh ya, kalau penghasilan itu rahasia, hehe. Jadi santai saja. Rejeki itu sudah ada yang mengatur. Yang paling penting, kita selalu bersyukur dan enjoy dengan pekerjaan kita 🙂

Tautan-tautan terkait:

Groningen, 28 Desember 2014, jam 11:32 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Analisis penghasilan lulusan ITB (baca secara menyeluruh)

  1. mantab informasinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s