Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Hemat energi di Belanda

Leave a comment

Hidup di Belanda mengajari kita untuk hemat energi. Mahal sekali soalnya energi disini. Coba bandingkan. Listrik di Indonesia (non-subsidi) Rp 1.300/kWh, gas setahu saya kurang dari Rp 3.000/m3. Di Belanda, dengan kurs sekarang, rata-rata penyedia jasa energi mematok harga listrik Rp 3.400/kWh, gas Rp 9.500/m3. Dengan dipotong heffingskorting energiebelasting (tax credit/subsidi) yang diberikan pemerintah sebesar Euro 385/rumah/tahun, per rumah masih harus mengeluarkan biaya untuk listrik dan gas sekitar Euro 100-130 (Rp 1,5-1,9 juta) per bulan.

Memang sih, harga segitu masih bisa dijangkau dengan pendapatan minimal di Belanda. Pelayanannya juga prima. Tidak ada cerita listrik mati hidup seperti di beberapa daerah di Indonesia. Seingat saya, selama 2 tahun disini, saya baru mengalami sekali mati listrik. Itu pun jadwal pemadamannya diberitahukan sebelumnya.

Tetapi, harga energi segitu masih terasa mahal, apalagi dengan mindset saya yang datang dari Indonesia. Maka, orang-orang disini terbiasa berhemat dalam memakai energi, misalnya:

  1. Mencuci baju (dengan mesin cuci) hanya saat weekend. Karena tarif listrik di hari Sabtu-Minggu lebih murah. Sebetulnya nyuci malam-malam (jam 23-07) juga murah. Tapi yo iso diseneni tanggane, hehe. Disini kalau bikin keributan setelah jam 22, maka tetangga bisa memanggil polisi.
  2. Pakai pemanas ruangan seperlunya. Biasanya hanya di malam hari dengan suhu maksimal 18 derajat. Di atas suhu itu, konsumsi gas meningkat drastis. Lebih mending investasi untuk selimut yang tebal (kalau saya di kala winter pakai warm class no. 5) daripada bayar gas mahal-mahal. Kalau pertama kali datang dari negara tropis, suhu 18 derajat bakal terasa dingin, tetapi lama-lama bakal terbiasa. Lagian kalau terlalu lama memakai penghangat tidak enak rasanya bagi kulit. Orang Belanda lebih ekstrim lagi. Paling mereka hanya menyalakan penghangat selama 2-3 jam. Setelahnya dimatikan.
  3. Menghangatkan makanan dengan microwave itu lebih murah daripada memanaskan makanan dengan kompor. Harga gas jauh lebih mahal dibanding harga listrik.
  4. Makan makanan panas sebisa mungkin hanya waktu makan malam. Sarapan dan makan siang cukup dengan makanan dingin (roti, sandwich, keju, dll). FYI, orang Belanda sangat umum melakukan hal ini. Mungkin terdengar pelit. Tetapi hal ini sudah diajarkan sejak mereka duduk di bangku SD loh. Mereka sadar bahwa Belanda tidak punya sumber daya energi, oleh karena itu harus berhemat.
  5. Investasi untuk panci presto tidak ada ruginya. Orang Indonesia suka masak rendang, rawon, bistik dll. Memasak dengan panci biasa memang enak, bumbu bisa meresap. Tetapi bisa jebol rekening gas kalau kompor dinyalakan sekian lama.
  6. Kalau mandi jangan terlalu lama. Mandi di Belanda tidak mungkin pakai air dingin. Pasti pakai air panas. Saat musim panas saja kadang saya tidak kuat kalau pakai air dingin. Mandi air panas itu menghabiskan tiga sumber energi; air, listrik, dan gas. Oiya, kalau orang Belanda sih jarang mandi. Paling 3-4 kali sehari. Saya tidak sanggup kalau seperti itu. Paling kalau lagi malas cukup mandi sekali dalam dua hari, hehe.

 

Dengan cara seperti itu, selama tahun 2014 kemarin kami membayar rekening listrik 107 Euro/bulan. Cukup murah jika dibandingkan dengan teman-teman Indonesia lain yang di Groningen. Pada awal tahun 2015, setelah pemakaian dihitung, kami mendapat pengembalian sekitar 30 Euro. Lumayan, tidak perlu nombok. Disini sistemnya adalah bayar di muka. Jika ternyata pemakaian lebih besar dari yang sudah dideposit, maka ya harus menambah pembayarannya. Tetapi kalau sebaliknya, kita bisa dapat pengembalian uang.

Dari semua poin di atas, saya dan istri pun belum bisa melakukan semua. Kalau no. 1 & 2 gampang itu. No. 3 dan 4 ini yang kadang sulit, terutama saya, hehehe. Lha wong perutnya masih perut Indonesia (namanya juga orang Semboro, Jember). Tapi hikmahnya, hidup disini mengajari kami untuk sebisa mungkin tidak menjadi orang yang boros. Sesuai ajaran agama toh, boros itu kurang baik. Energi bukan cuma buat kita, tetapi buat generasi-generasi setelah kita.

Groningen, 2 Januari 2015, jam 21:22 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s