Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Kebetulan yang sudah diatur

10 Comments

Kinan usia 3 minggu

Kinan usia 3 minggu

Setiap orang tua pasti mengharapkan bayinya lahir dalam keadaan sehat. Setiap orang tua juga pasti tidak menginginkan ada kekurangan apa pun pada bayinya. Terlebih lagi, sudah pasti tidak ada orang tua yang ingin bayinya lahir dengan satu penyakit, yang mana dokter di seluruh dunia belum bisa menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut.

Itulah kondisi ideal yang selama ini kita ketahui. Tetapi, Allah SWT tidak memberikan skenario itu kepada saya dan istri.

Tanggal 25 Januari 2015, lahirlah buah hati kami tercinta. Putera pertama yang sudah kami nanti-nantikan kedatangannya. Putera yang hadir di usia pernikahan kami yang hampir memasuki tahun ketiga. Jeda waktu ini bukan tanpa alasan. Hanya setelah 2,5 bulan menikah, Intan saya tinggal di Indonesia hampir setahun lamanya, karena saya harus studi doktoral ke Belanda di bulan Desember tahun 2012. Dia pun ketika itu masih menyelesaikan kontrak di tempat kerjanya.

Setelah hidup bersama di Groningen, kehamilan tidak datang secepat yang diharapkan. Dokter memberitahu bahwa kondisi fisik kami membuat kehamilan mungkin tidak semudah datangnya pada pasangan dengan kondisi normal.

Pada bulan Juli 2014, kami baru tahu kalau Intan sudah hamil selama 11 minggu. Tentu kami sangat senang. Ketika itu istri saya sebetulnya sudah mendapatkan beasiswa LPDP untuk mengikuti program master di University of Groningen yang akan dimulai pada bulan September 2014. Namun, karena LPDP tidak mengizinkan untuk menunda kuliah di tahun 2015, Intan pun melepas kesempatan untuk studi lanjut. Sebetulnya cukup disayangkan. Istri saya adalah a bright student sejak jaman S-1. Dia lulus cum laude dari ITB, dimana hanya 6% dari teman seangkatannya yang nilainya lebih tinggi dari dia. Agak disesali kalau orang dengan kapasitas seperti dia tidak bisa studi lanjut. Namun, waktu itu saya berpikir bahwa timeline kehamilan dan studinya sama sekali sulit untuk disesuaikan. Maka, kami berusaha untuk ikhlas. Ketika itu saya bilang ke Intan; “Setinggi-tingginya nominal beasiswa yang diberikan LPDP untuk kamu adalah Rp 500 juta. Masa anakmu cuma kamu hargain segitu.”

Kami berdua pun menjalani periode kehamilan dengan perasaan suka cita dari hari ke hari. Semua hasil tes, USG, dan kontrol selama hamil menunjukkan bahwa janin kami dalam kondisi sehat. Istri saya pun sangat menjaga asupan gizinya selama hamil.

Aktivitas saya sebagai seorang PhD student membuat waktu terasa cepat berjalan. Tidak terasa HPL/due date tanggal 15 Februari 2015 sudah sebentar lagi. Namun, pada tanggal 23 Januari jam 03:15, air ketuban Intan sudah pecah. Warnanya cerah. Tetapi, karena waktu itu usia janin masih 36 minggu lewat 5 hari, oleh bidan kami segera dirujuk ke Martini ziekenhuis (hospital). Hal ini karena janin masih dalam kondisi prematur. Oiya, bagi yang belum tahu, janin normalnya lahir pada usia 40 minggu, tetapi mulai 37 minggu sudah tidak digolongkan lagi sebagai janin prematur.

Di Martini ziekenhuis, Intan diobservasi oleh dokter spesialis kandungan. Karena Intan belum merasakan kontraksi, dan juga karena janin masih dalam kondisi sehat, maka jika kondisi ini terus berlangsung, dokter menunggu sampai tanggal 25 Januari untuk mengeluarkan janin, supaya tidak lahir prematur. Ternyata memang kondisi ini terjadi selama kami dua hari di rumah sakit. Selama itu Intan tidak merasakan kontraksi. Selama itu juga air ketuban terus keluar berwarna cerah. Detak jantung dan pergerakan bayi pun sehat.

Tanggal 25 Januari pagi, sudah genap janin berusia 37 minggu. Karena Intan masih tidak ada kontraksi, dia pun diinduksi jam 9:30 pagi. Proses persalinan secara normal berjalan dengan lancar. Jam 16:58 lahir putera kami dengan berat 3,16 kg. Kami memberinya nama Kinansyah Zahid Cahyono.

Ketika lahir, Kinan respon fisiknya sangat bagus. Nilai Apgar-nya 9 dari 10. Namun, ada yang aneh. Kulitnya mengelupas sekujur tubuh dari kepala sampai kaki. Kulit adalah bagian paling luas dari tubuh. Dikhawatirkan kulit yang terbuka dapat membuat bayi dehidrasi, kehilangan suhu tubuh, atau infeksi. Maka, hanya 5 menit setelah dipeluk ibunya, Kinan langsung dibawa ke inkubator.

Tim dokter menganalisis bahwa kondisi ini gawat. Kinan pun segera dirujuk ke Universitair Medisch Centrum Groningen (UMCG). Malam itu juga dia dibawa oleh ambulans ke UMCG. Momen dimana inkubator Kinan lewat di depan kamar bersalin dan kami memandanginya dari pintu kamar, tidak akan pernah saya lupakan. Hati ini rasanya teriris-iris melihat putera yang disayangi, yang baru bertemu kurang dari dua jam, berada dalam kondisi seperti itu, dan kami cuma bisa memandanginya dari balik kaca inkubator.

Setelah beberapa hari di ICU UMCG, kami mendapatkan penjelasan bahwa Kinan lahir dengan “collodion baby” (silakan dicari di Google). Sebuah kondisi lahir yang sangat langka terjadinya. Sindrom ini biasanya diakibatkan oleh faktor genetis (keturunan). Jadi, kemungkinan besar saya dan Intan sama-sama carrier/pembawa gen penyebab collodion. Karena terjadinya sangat langka, sangat sulit untuk mendeteksi kasus ini selama hamil.

Hal yang menggembirakan adalah, dibalik kulitnya yang abnormal, Kinan tetap seperti bayi normal. Dia minum, menangis, buang air, bergerak seperti bayi normal. Pertumbuhan badannya pun bagus.

Pengalaman selama di rumah sakit cukup panjang. Lain kali akan saya tuliskan dalam artikel terpisah. Singkat cerita, setelah 10 hari, membran collodion Kinan sudah banyak yang mengelupas. Kami pun dipersilakan kembali pulang ke rumah sambil menunggu pertemuan berikutnya dengan tim dokter.

Namun, permasalahan tidak berhenti sampai disini. Kami tahu bahwa hanya 10% “collodion babies” yang bakal memiliki kulit normal. Sisanya, 90% akan mempunyai penyakit bernama Ichtyosis (silakan dicari di Google). Penyakit yang membuat tekstur kulit menyerupai kulit ikan, dan membuat kulit terus menerus scaling (mengelupas).

Sekarang belum bisa dipastikan bakal seperti apa pastinya kulit Kinan. Namun, kami bisa melihat dengan jelas bahwa sekarnag kulit barunya, di bagian muka, kepala, punggung tangan, kaki, dada, dan punggung, terus-menerus mengelupas. Kadang membaik, kadang juga memburuk. Tentu kami masih khusnudzon kepada Allah bahwa kulit Kinan bisa menjadi normal. Namun, kami juga sudah harus menyiapkan mental bila memang dia menderita Ichtyosis.

Sangat sulit melihat kondisi kulit putera kami seperti itu dari hari ke hari. Lebih sulit lagi karena kami tahu sampai sekarang Ichtyosis belum ada obatnya di seluruh dunia. Berbeda dengan panu atau eksim yang sebabnya karena faktor eksternal (misal karena air kotor), Ichtyosis pada umumnya terjadi karena faktor genetis. Tentu sulit mencari obatnya. Tidak mudah juga menghadapi fakta bahwa Ichtyosis pada umumnya akan berlangsung seumur hidup.

Tidak mudah menghadapi kondisi seperti ini. Kami hanya bisa tawakkal. Saya percaya bahwa ciptaan Allah apapun bentuknya tidak mungkin salah. Allah telah menitipkan Kinan kepada kami. Tentu Allah punya maksud tertentu. Tentu juga Allah percaya bahwa kami adalah orangtua yang bisa dititipi untuk merawat Kinan yang spesial.

Saya adalah orang yang sangat rasional. Namun, jika dipikir mendalam, kejadian ini memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Pertama, saya dan Intan berjodoh. Menjelang proses lamaran kami saling memantapkan hati dengan shalat istikharah. Jika memang Allah memberikan jodoh kepada kami berdua, tentu kelahiran putera kami ini memang sudah diatur.

Kedua, kami bersyukur kejadian ini terjadi di Belanda, dimana pelayanan kesehatan adalah salah satu yang terbaik di dunia. Begitu juga dengan masalah coverage biayanya. Saya tidak bisa membayangkan jika ini terjadi di Indonesia yang mana health care system nya tidak sehandal di Belanda. Selain itu, meskipun sebagai seorang PNS saya memiliki asuransi kesehatan, tetap saja rasanya bakal banyak biaya yang harus saya keluarkan.

Jika dipikir, saya bisa ada di Belanda karena pekerjaan saya sebagai dosen. Dulu saya sering agak bimbang, karena sebagai dosen, secara materi tidak bisa seperti teman-teman yang kerja di multinational company. Namun, dengan kejadian ini, saya benar-benar bersyukur atas pilihan pekerjaan saya sebagai dosen.

Ketiga, masih terkait poin kedua. Kalau dipikir sungguh pas Allah menetapkan kejadian ini ketika saya menjadi mahasiswa S3, dimana waktu saya relatif fleksibel untuk mengurus Kinan. Tidak terbayang kalau terjadinya di Bandung. Dimana kewajiban pekerjaan di kantor menumpuk.

Keempat, masih terkait poin kedua. Dulu saya diterima S3 di Busan, Korea. Waktu itu saya lebih condong ke Busan. Ternyata saya pergi ke Belanda.

Kelima. Di Belanda pun saya ketika itu mempertimbangkan untuk S3 di Amsterdam atau Rotterdam. Lagi-lagi, Groningen menjadi alternatif terakhir. Ternyata, dokter bilang bahwa Center for Skin Disease itu ada di UMCG, Groningen. Artinya, kalau ketika itu saya jadi sekolah di Amsterdam/Rotterdam, saya tetap harus bolak-balik ke Groningen untuk mengurus penyakit Kinan. Subhanallah.

Keenam. Masih terkait poin kelima. Siapa yang mengira bahwa Center for Skin Disease di UMCG adalah salah satu yang menjadi rujukan dunia. Kinan is now in good hands. Subhanallah.

Ketujuh. Dulu Intan kecewa harus resign dari Antam untuk ikut saya ke Belanda, padahal saat itu peluang karirnya terbuka lebar. Dia juga kembali kecewa saat tidak bisa S-2 karena hamil. Sekarang, kami sangat bersyukur Allah memilihkan jalan tersebut untuk kami, sehingga Intan bisa total merawat Kinan yang tersayang.

Kedelapan. Di Belanda ini kami tidak punya sanak famili. Menjelang kelahiran, keluarga pun tidak ada yang kesini karena memang awalnya kami yang berencana pulang ke Indonesia di kala musim panas tahun ini. Namun, teman-teman disini memberikan bantuan yang tidak kunjung henti. Di tengah negara yang dingin, perhatian itu memberikan kehangatan.

Semua rangkaian kejadian itu membuat saya percaya bahwa Allah memang sudah menakdirkan semua ini. Saya sedikit belajar statistika. Saya bisa membuktikan bahwa jika dihitung, peluang semua kejadian itu terjadi secara berbarengan paling besar hanyalah 0,00006. Angka ini terlalu kecil kalau manusia yang mengatur. Jadi pasti sudah ditetapkan oleh-Nya, maka dari itu kami harus selalu tawakkal.

Sekarang proses pengobatan Kinan terus berjalan. Pelan-pelan kami membiasakan dengan kondisi putera kami. Insha Allah kami akan berusaha untuk menjadi orangtua yang kuat dan sabar. Supaya Kinan tidak merasa menjadi anak yang dibedakan. Dia adalah anak yang normal, hanya dengan kulitnya yang berbeda dengan kita.

Oiya, Kinan berarti tempat anak panah, bisa juga diartikan sebagai “sumber kekuatan”. Syah berarti “yang baik”. Zahid berarti “rendah hati”. Cahyono adalah nama saya. Belakangan saya baru tahu bahwa artinya adalah “yang menginspirasi”.

Semoga buah hati kami sesuai dengan doa yang kami panjatkan pada namanya. Semoga dia adalah sumber kekuatan, tidak hanya untuknya, tetapi juga bagi orangtuanya dalam menghadapi semua ini.

Semoga dia menjadi seorang yang selalu rendah hati. Termasuk juga dengan segala kerendahan hati selalu sadar bahwa apapun yang diputuskan Allah untuk makhluk-Nya, pastilah tersembunyi tujuan yang terbaik.

Semoga dia selalu menginspirasi kami untuk selalu memberikan cinta kami yang berlimpah untuknya.

 

Groningen, 24 Februari 2015, jam 17:40 CET

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

10 thoughts on “Kebetulan yang sudah diatur

  1. Amien..amien, smoga sehat wal afiat begitu juga ayah dan ibunya.
    Salam kenal Pak Rully dari Ingelheim

  2. Allaahumma yufaqqihu fiddiin
    Jadi anak shalih dik Kinan, agar kelak menjadi penyejuk hati dan mata kedua orang tuamu serta menjadi penyelamat mereka di hari kiamat ❤

  3. Amin yaa Rabb, … Assalsmualaikum, Saya terharu membaca kisah anda, apa yang anda rasakan pernah saya alami dan sangat mirip dengan yang tergambar dalam kisah anak anda, Kinan.
    Bilal Abdurahman anak laki2 saya yang lahir awal oktober 2014 juga mengalami kelainan lahir terbungkus membran ‘Collodion baby’, hanya saja saya berada di daerah (kalimantan) dengan sistem pelayanan kesehatan yang belum begitu baik bahkan dokter yang menangani kelahiran putra saya tidak mengetahui apa yang dialami anak saya waktu lahirnya. Kalau anda tidak keberatan, dapatkah selanjutnya berkomunikasi via email, saya sangat senang jika anda dapat membantu saya memahami kelainan yang diderita oleh anak2 kita.
    Wassalam.

  4. Wa’alaikum salam wr. wb. Terima kasih sudah berkunjung Pak Nasrullah. Alhamdulillah, senang sekali tulisan saya ini dapat bermanfaaat dan dapat menjalin silaturahim dengan teman yang juga mengalami kisah yang serupa. Insha Allah komunikasi akan kita sambung ya, Pak. Salam.

  5. Amin.. Amin.. Amin..

    “Karena Allah menghendakinya seperti itu. Tak cukupkah itu buatmu?”

    Itu yang selalu kuingat dalam keadaan sulit. Salah satunya: belum dikaruniai anak hingga tahun ke-5 pernikahan, umur sudah 40 tahun.

    Aku pun ikut senang Kinan lahir di Belanda.

  6. Ass…saya jg pernah punya pengalaman yg sama..anak saya lahir dg kondisi colodion baby…sempat putus asa dan mencoba menyalahkan diri sendiri…tp alhamdulillah anak saya skrg sehat dan udah berusia 5th. Smg bisa slg sharing ttg perkembangan anak colodion baby.thankyou

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s