Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Cara orang Jawa (jaman dulu) memberi nama anaknya

Leave a comment

Saya iseng-iseng mencari hari pasaran kelahiran anak saya. Setelah dicek, ternyata weton Kinan jatuh pada hari Minggu Wage. Sambil bercanda saya bilang ke Intan, “Untung anak kita lahirnya di Belanda. Kalau lahirnya di Semboro (Jember), namanya bukan Kinansyah, tapi Kinan Wagiman, Kinan Wagiran, atau Kinan Wagiso”. Hehehe.

Orang Jawa (dan juga Bali) mengenal hari-hari pasaran, atau disebut juga Pancawara. Hari-hari tersebut adalah Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi. Dalam penanggalan Jawa, penyebutan hari selalu sepasang. Misal hari kelahiran saya Senin Pon, atau kakak dan adik saya yang sama-sama lahir pada hari Senin Wage.

Bagi orang Jawa jaman dahulu, weton cukup berperan penting. Contoh sederhana; waktu masih tinggal dengan orang tua, saya tidak pernah merayakan ulang tahun (saya lahir 5 Januari 1986). Tetapi, Ibu justru cukup sering membuatkan nasi bancakan kecil-kecilan untuk syukuran setiap hari weton saya tiba (Senin Pon). Sampai sekarang pun, Pakdhe (Sunda: Uwak) saya pun jadwal memupuk jeruknya pun tiap hari pasaran (kalau tidak salah setiap Selasa Pahing). Bukan karena alasan mistis, semata karena kebiasaan saja.

Dalam tataran yang lebih filosofis, weton dipakai untuk meramalkan nasib. Setiap hari pasaran ada hitungannya. Contoh, kalau ada pasangan yang hendak menikah, maka masing-masing ditanya hari kelahirannya dulu. Masing-masing hari kelahiran dihitung angkanya, kemudian saling dicocokkan. Bakal ketemulah prediksi nanti pasangan itu bakal seperti apa kalau menikah. Kalau hasi prediksi kurang baik, bisa jadi orang tua tidak merestui. Untuk yang ini, saya tidak pernah percaya. Keluarga besar saya pun tidak terlalu memegang teguh tradisi ini. Kami percaya bahwa semua itu Allah yang mengatur.

Kembali ke masalah nama. Weton biasanya dipakai oleh orang Jawa jaman dahulu untuk menentukan nama buat anaknya. Contoh, saya punya saudara namanya Wagiman dan Leginah. Bisa ditebak, keduanya lahir ketika hari pasaran Wage dan Legi. Paklik (Om) saya dari Ibu, namanya Ponidi, dia lahir ketika Pon. Mertua kakak saya, namanya Senin, dia memang lahir hari Senin. Setelah berkeluarga, dia menambahkan nama Arjono. Jadilah namanya sekarang Senin Arjono.

Kalau Anda bertanya ke orang Jawa jaman dulu, terutama yang di desa, pada umumnya mereka tidak tahu tanggal lahirnya. Mereka hanya tahu hari pasaran. Bapak dan Ibu saya pun seperti itu. Mereka hanya tahu tahun dan hari pasaran ketika lahir. Tanggal mereka tidak tahu, lha wong ketika lahir tidak dicatat oleh orang tuanya, hehe. Jangankan Bapak dan Ibu. Kakak pertama saya, Mas Hari, tanggal lahirnya adalah 16 September 1970. Tetapi itu adalah tanggal karangannya sendiri. Ketika akan lulus SD, Mas Hari harus mengisi tanggal lahirnya di ijazah. Bertanya ke Bapak dan Ibu, mereka tidak tahu, hanya ingat bulan dan tahun kelahiran. Jadilah tanggal 16 itu dipilihnya sendiri. Menurut Mas Hari, ketika itu teman-teman sekolahnya yang lain pun juga sama, tidak tahu tanggal lahir sendiri. Belakangan ketika sudah kuliah, Mas Hari bikin program komputer untuk mengkonversikan tanggal Masehi ke hari pasaran Jawa. Ternyata 16-09-1970 itu bukan hari Senin Wage (hari pasarannya). Berarti memang benar dia ketika itu mengarang, hehe.

Cerita yang lain. Dulu waktu masih kecil, saya punya kucing betina. Kucing saya ini hobi kawin, sehingga anaknya banyak. Ibu saya, namanya juga orang kampung, memberi nama anak-anak kucing itu dengan cara sederhana. Ada yang namanya Senin, Seloso, Rebo, Wage Ireng, Wage Putih, dsb.

Selain berdasarkan weton, orang Jawa jaman dulu memberikan nama anaknya biasanya dengan cara yang sederhana. Misal, dengan pola tertentu. Di keluarga Bapak saya, nama tiga anak pertamanya adalah Rustam, (almh) Rusti, Rukiyat. Di keluarga Ibu saya, nama anak kedua s/d keempat adalah Tarisah, Tarmi, Tasri. Sederhana kan, yang satu dengan pola “Ru”, yang lain memakai “Ta”.

Terkait dengan nama saudara-saudara saya, ada cerita lucu. Kakek dan Nenek dari Bapak itu anaknya banyak sekali, seperti umumnya orang desa jaman dulu. Konon anaknya sampai belasan, meskipun yang hidup tinggal lima. Padahal kakek baru punya anak pertama kali ketika umur 65 tahun loh (kakek meninggal usia 110 tahun). Ketika adiknya Bapak lahir, berarti adalah Paklik (Om) saya, Kakek dan Nenek rupaya sudah capek punya bayi lagi. Jadilah anaknya diberi nama “Tamat”, dengan harapan, setelah ini tidak punya anak lagi. Eh, ternyata masih punya dua anak lagi setelahnya, hehehe. Mereka diberi nama Tamah dan Tamaji. Masih mengikuti pola kan, kali ini “Tam”.

Tamaji berasal dari “tambah siji” yang artinya “tambah satu”. Waktu kecil, Tamaji ini sakit-sakitan. Orang Jawa punya kepercayaan bahwa nama anak yang tidak cocok atau nama yang terlalu berat, bisa membuat anak sakit. Untuk itu, kadang nama harus diganti. Jadilah Paklik saya itu namanya sekarang Kadar. Saya pun dulu ketika kecil sakit-sakitan. Menurut Ibu, nama “Rully” mungkin terlalu berat atau modern buat orang kampung. Jadilah Ibu bikin bubur merah putih dan mengganti nama saya menjadi “Didik”. Ternyata saya sakitnya tidak lama. Jadilah saya kembali bernama “Rully”. Untung saja, soalnya nama Rully lebih keren kan dibanding Didik, hehe.

Selain mengikuti pola, bisa juga nama diberikan berdasarkan kejadian ketika lahir. Kakak saya yang paling tua, namanya Hariyanto. Nama itu asal-usulnya dari waktu kelahiran dia saat fajar hari. Ada juga yang diberi nama Ribut, mungkin karena sedang angit ribu. Biasanya juga nama adalah doa. Tetapi tetap yang sederhana. Misal “Seger”, “Waras”, atau diberi ada yang diberi nama “Prihatin” supaya hidupnya kelak tidak neko-neko. Almarhum kakak saya dulu namanya “Sugeng”, artinya adalah “hidup”, karena dari lahir sudah kelihatan kalau dia kurang sehat. Ternyata oleh Allah dia dipanggil duluan ketika masih bayi.

Itulah cara orang Jawa memberi nama anaknya. Unik dan menarik bukan. Tetapi itu untuk orang jaman dulu dan biasanya dari asal-usul yang sederhana. Makanya, saya mengamati bahwa orang tua teman-teman sebaya saya di kampung pun biasanya namanya hanya satu kata. Sedangkan anak-anaknya, sudah memiliki nama dengan dua atua tiga kata. Dari sini saya juga menyimpulkan, bahwa jika orang Jawa yang lahir tahun 1960 atau 1970an dan memiliki nama dengan dua atau tiga kata, kemungkinan besar dia berasal dari asal-usul orang kaya, ningrat, priyayi (pegawai negeri/tentara), atau keluarga berpendidikan tinggi. Apalagi jika namanya mengandung kata-kata Jawa dengan makna yang bagus, semisal Wibisono, Wiseso, Ismoyo, dll. Biasanya tebakan saya ini betul.

Yah, hanya sekedar intermezzo di hari libur (hari ini di Belanda libur). Yang jelas, nama anak kami adalah Kinansyah Zahid Cahyono. Bukan Kinan Wagiman atau Kinan Wagiyo, hehehe.

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s