Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Cerita buku tabungan dan biaya kuliah yang tinggi

1 Comment

Menjelang lulus S-1 di tahun 2008, saya mencetak buku tabungan. Dari awal masuk kuliah tahun 2004 saya tidak pernah melakukan print out karena semua transaksi hanya lewat ATM. Karena tidak pernah dicetak selama 4 tahun, maka ditampilkanlah ringkasan (summary) debet dan kredit selama periode tersebut. Saya cek, nilainya ternyata sekitar Rp 200 juta. Berarti, sekurang-kurangnya biaya yang diberikan oleh keluarga untuk saya kuliah adalah 200 juta rupiah. Saya sebut minimal, karena selama itu juga ada uang yang diberikan lewat cash dan juga dikirim ke rekening yang lain. Uang tersebut dipakai untuk biaya SPP (tuition fee) di ITB, uang buku, uang kos, biaya hidup, transportasi pulang Bandung-Jember pp, dll. Dengan ekuivalensi harga emas, maka uang 200 juta di periode itu sekarang di tahun 2015 kira-kira setara dengan 400 juta rupiah, atau 800 gram emas murni. Saya biasa membandingkan nilai mata uang ke satuan emas murni, karena menurut saya nilai emas murni relatif konstan. Sedangkan kalau hanya dari nilai nominal uang, tentu terpengaruh inflasi dan sulit kita konversi ke dalam net present value. Kalau mengingat hal ini, maka ada beberapa hal yang bisa kita renungkan:

  1. Biaya pendidikan tinggi itu mahal. Rp 400 juta dalam periode 4 tahun bukan nominal yang kecil. Orang tua dan keluarga kita setengah mati mencari biayanya. Saya sendiri kuliah dominan dibiayai oleh kakak yang pertama, Mas Hariyanto. Meskipun berkecukupan, dia juga punya keluarga yang harus dihidupi. Tetapi Mas Hari amanah dan ikhlas menjalankan pesan kedua orangtua untuk membantu pendidikan adik-adiknya. Maka saya jadi menyesal kalau mengingat momen dimana saya sedang malas kuliah dan dapat nilai jelek. Untuk adik-adik yang masih kuliah, jangan pernah bermalas-malasan.
  2. Begitu sadar bahwa saya sudah menghabiskan uang sebanyak itu, sejak lulus S-1 saya sama sekali tidak mau menerima uang dari orang tua, bahkan di saat uang di rekening tinggal sedikit. Termasuk juga ketika hendak menikah di tahun 2012, saya tidak mau meminta bantuan biaya. Pernah sekali saya pinjam uang ke orang tua di tahun 2009 untuk bayar kos. Setelah punya uang, uangnya saya kembalikan. Sudah cukup keluarga mengeluarkan biaya untuk pendidikan. Menurut saya, laki-laki itu harus bisa mandiri.
  3. Biaya pendidikan yang tinggi membuat terasa “wajar” kalau tidak semua siswa yang pintar melanjutkan kuliah. Bagi yang berasal dari keluarga mampu mungkin tidak masalah. Tetapi bayangkan, bagi seorang buruh tani di desa, apa tidak kaget begitu tahu biaya kuliah itu habis 400 juta. Meskipun banyak beasiswa, rasa takut dan minder itu pasti akan muncul terlebih dulu. Saya lahir dan besar di desa. Saya ingat, dari semua teman SD seangkatan, hanya saya yang kuliah. Keluarga saya sendiri juga dari asal-usul sederhana, karena beruntung saja kami semua sekeluarga bisa kuliah (baca tulisan saya sebelumnya disini).
  4. Maka dari itu, kita yang punya kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi harus banyak-banyak bersyukur. Saya sering bilang ke mahasiswa, “Anda jangan terlalu bangga bisa masuk kampus gajah. Anda itu bisa masuk ITB bukan cuma karena Anda pintar. Pintar itu paling cuma berpengaruh 10%. Tetapi, 90% itu karena Anda punya kesempatan. Banyak siswa-siswa di daerah yang sama pintarnya dengan Anda, tetapi mereka tidak memiliki kesempatan yang sama”. Kalau dilihat, makin kesini memang yang kuliah di PTN besar itu didominasi kelas ekonomi menengah ke atas.
  5. Untuk itu, kita harus jadi orang yang berempati. Tidak semua orang itu seberuntung kita. Belajarlah untuk menempatkan diri di posisi orang-orang yang kurang beruntung. Kita tidak memilih untuk lahir di keluarga yang berada. Begitu pula mereka tidak bisa memilih untuk lahir dari keluarga yang kurang mampu.
  6. Wujud dari empati adalah turut membantu mereka yang membutuhkan. Level bantuan yang paling rendah adalah mendoakan. Jika mempunyai rezeki, sisihkanlah untuk mereka. Angkatan saya, TI ITB 2004 membuat program kecil-kecilan. Setiap orang yang bersedia bisa menyumbang Rp 50-100 ribu rupiah setiap bulannya. Lumayan, sampai saat ini kami bisa menyekolahkan 8-10 adik asuh. Nilainya tidak banyak, tetapi jika dikoordinasi ternyata cukup besar. Itu baru dari satu angkatan dengan jumlah populasi 150 orang. Bayangkan jika lebih banyak orang yang terlibat.
  7. Selain bantuan berupa materi, jangan lupa bahwa motivasi adalah bantuan yang tidak kalah berharganya. Saya punya satu orang teman, namanya mas Imam Santoso. Dia senior saya di ITB yang juga berasal dari Jember. Dia secara rutin mendorong adik-adiknya dari Ambulu, salah satu kecamatan di Jember, untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Luar biasa, dari semula yang dari Ambulu ke ITB belum tentu ada 1 orang per tahun, sekarang SMA di daerah tersebut bisa konsisten mengirim 5-10 alumninya ke kampus gajah tiap tahunnya.
  8. Kemudian, setelah sekarang jadi orang tua, ternyata menyiapkan pendidikan yang bagus untuk anak itu juga bukan perkara yang sederhana. Asumsikan kita punya waktu 17 tahun untuk mengumpulkan 800 gram emas (Rp 400 juta), maka setiap bulan kita harus bisa menabung sekitar 4 gram emas (Rp 2 juta) selama periode 17 tahun. Nilai segini kan tidak enteng juga bagi saya yang PNS, hehe. Meskipun rejeki pasti ada saja, tetap fakta ini harus kita pikirkan, karena anak adalah prioritas.
  9. Poin sebelumnya bukanlah wujud rasa pesimis saya. Bukan pula wujud rasa kekhawatiran yang berlebihan. Saya percaya sepenuhnya bahwa rejeki itu sepenuhnya diatur oleh Allah SWT. Wujud rasa percaya yang paling tinggi adalah ikhtiar semaksimal mungkin untuk dapat memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak. Sadar (aware) dengan biaya pendidikan yang tinggi adalah salah satu bentuk ikhtiar tersebut. Dengan kesadaran, kita akan mempunyai target dan rencana (planning) untuk mencapainya.

Groningen, 28 Mei 205, jam 13:22 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

One thought on “Cerita buku tabungan dan biaya kuliah yang tinggi

  1. widih asik nih blognya mas, saya juga anak jember,tanggul yang ingin sekali bisa lolos di itb , minta do’anya ya mas, semoga kita bisa bertemu di itb. kalau tidak keberatan boleh sharing tips untuk lolos sbmptn itn nih mas .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s