Substansi

Ingin jadi sastrawan dan wartawan, malah nyasar jadi dosen ITB

Saat Kinan pertama kali digendong Bunda

Leave a comment

Kinan dikeluarkan dari inkubator untuk pertama kalinya selama satu jam

Kinan dikeluarkan dari inkubator untuk pertama kalinya selama satu jam

This is one of my favorite pictures. Diambil pada tanggal 28 Januari 2015, di hari keempat Kinan berada di rumah sakit. Ketika itu Kinan untuk pertama kalinya digendong oleh Bunda.

Karena kondisinya yang kritis ketika lahir, Kinan berada di inkubator selama 8 hari. Selama dia di inkubator, dokter dan suster tidak pernah mewajibkan, tetapi selalu menganjurkan saya dan Intan untuk terlibat aktif dalam merawat Kinan. Mereka bilang, “ruang neonatologie (ICU) ini buka 24 jam sehari, kamu sangat dipersilakan kalau mau datang kesini sering-sering menengok anakmu”.

Awalnya agak aneh mendengar anjuran itu. Karena selama ini yang saya tahu, kalau bayi di inkubator, orang tua tidak gampang untuk selalu menengok. Orang tua biasanya hanya melihat dari luar ICU dan “tahu beres” nanti ketika bayinya sudah sembuh.

Di Belanda tidak seperti itu. Orang tua selalu di-encourage untuk ikut merawat bayinya yang ada di ruang super steril. Mulai dari mengelus-elus kepala, ganti popok, memompa ASI di samping inkubator, menimang, memberi pacifier (empeng), dll. Itu semua kami lakukan di ICU dengan bantuan suster dan dokter.

Awalnya tidak mudah untuk ikut terlibat aktif merawat Kinan, apalagi dengan kondisi kulitnya ketika itu yang mengelupas sekujur tubuh. Hati ini rasanya tidak tega. Tetapi karena didorong terus oleh dokter dan suster, lama-lama terbiasa juga.

Setiap kali orangtua datang merawat, hal itu dicatat dalam logbook oleh suster. Disini saya merasa bahwa di Belanda memang sudah secara prosedural orang tua terlibat aktif dalam merawat bayinya yang kritis.

Belakangan, saya pun mengonfirmasi hal ini ke salah satu suster. Dan dia membenarkan dugaan saya. Memang di Belanda seperti inilah caranya. Dia bilang, keterlibatan aktif orangtua dalam merawat bayinya yang sakit ada alasannya:

  1. Metode dimana orangtua hanya bisa melihat dari luar ruang ICU dan “tahu beres” itu sudah kuno.Secara medis, dokter dan suster bisa memberikan perawatan yang terbaik. Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan perhatian orangtua kepada anak kandungnya.
  2. Dengan selalu didatangi, disentuh, dan dirawat orangtuanya, anak akan mendapatkan dorongan psikologis yang sangat kuat. Ini dapat berimbas juga ke kesehatannya.
  3. Jika setiap saat bertemu dengan anaknya yang sakit, seberapa parah pun kondisinya, lama-kelamaan orangtua akan terbiasa. Itu anak kalian yang sempurna apa pun keadaannya. Apa pun kondisinya, rawatlah dia dengan penuh kasih sayang.

 

Selain terus mendatangi dan merawat Kinan, kami juga selalu diajak aktif untuk meeting dan diskusi dengan dokter dan suster membahas perkembangan anak kami.

Disini saya merasa, di negara dimana orang-orangnya terkenal individualis, ternyata jsutru sangat manusiawi dalam mengatur hubungan antara orangtua dengan anaknya yang sakit. Prosedur sudah disiapkan supaya mental orangtua siap dalam merawat bayinya yang spesial.

Kembali ke foto. Setelah 4 hari, kondisi Kinan pelan-pelan membaik. Dokter pun memutuskan untuk mencoba mengeluarkan Kinan dari inkubator selama sejam jam 20:30 dan melihat kondisi dia setelahnya.

Siang harinya, suster bilang, “Nanti malam kami akan coba mengeluarkan Kinan selama satu jam dari inkubator. Kalian mau datang dan ikut gendong dia”? Lihat, kalimat mereka berupa anjuran kan, bukan suatu kewajiban.

Kami pun datang di malam hari dan hasilnya adalah di foto ini, untuk pertama kalinya Bunda menggendong Kinan. Waktu itu Kinan masih tersambung ke panel-panel monitor dan infus, tetapi bisa dilihat bahwa ekspresinya gembira. Saya pun juga merasa seperti itu. Setelah berhari-hari sendiri di inkubator, digendong ibunya tentu dia senang.

Kelak kalau sudah dewasa dan melihat foto ini, Kinan dan kami harus banyak-banyak bersyukur. Kondisi dia sekarang sudah jauh lebih baik dari ketika waktu lahir.

Groningen, 29 Mei 2015 jam 09:22 CEST

Author: Rully Cahyono

Pengajar yang terus belajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s